Chapter Forty One
Laporan
POV: Aditya
Map itu berisi sembilan lembar.
Aku tidak tahu ada sembilan. Aku pikir ada dua, mungkin tiga. Lima setengah tahun aku membayangkan benda itu sebagai satu lembar kertas dengan satu kalimat di dalamnya, dan setiap kali aku memikirkannya, kalimat itu selalu berbunyi sama.
Sembilan lembar.
Lembar pertama: berita acara. Nomor register, tanggal, waktu, lokasi. Cadas Pangeran KM sekian. Pukul 20.47.
Aku menatap angka jam itu lebih lama daripada yang seharusnya.
Aku tidak pernah tahu jamnya.
Lima setengah tahun, dan aku tidak pernah tahu jamnya, karena aku menandatangani kertas ini tanpa membaca dan lalu melipatnya empat dan memasukkannya ke saku.
Jam delapan lewat empat puluh tujuh malam.
Aku sedang di kantor jam delapan lewat empat puluh tujuh malam. Aku tahu itu tanpa perlu mengecek apa pun, karena aku selalu di kantor jam segitu di hari kerja waktu itu.
Aku sedang duduk di kursi kantor di lantai sembilan, mungkin sedang minum kopi ketiga, mungkin sedang berdebat dengan seseorang tentang arsitektur cache.
Aku meletakkan lembar pertama menghadap ke bawah.
Lembar kedua dan ketiga: kondisi kendaraan.
Aku membacanya dua kali.
Ban belakang kanan, ukurannya, mereknya, kondisi kembangannya—masih tebal, seperti yang selalu dikatakan orang tentang ban yang meledak, seperti yang kukatakan pada Bu Yuli setahun lalu di depan mobilnya sambil menekan dinding ban dengan ibu jari.
Ditemukan retakan memanjang pada dinding samping (sidewall) sepanjang ± 6 cm.
Diperkirakan telah terjadi sebelum peristiwa.
Enam sentimeter.
Aku duduk di ruang tamu yang gelap dan menatap dua kata itu—sebelum peristiwa—dan menyadari bahwa selama lima setengah tahun aku sudah menghukum diriku sendiri untuk kalimat yang kupikir tertulis di sana, dan kalimat yang tertulis di sana jauh lebih tenang daripada yang kubayangkan.
Tidak ada tuduhan.
Tidak ada satu kata pun yang menunjuk siapa pun.
Cuma pengukuran, dilakukan oleh seseorang yang pekerjaannya mengukur, yang mungkin sudah pensiun sekarang dan yang tidak akan pernah ingat kasus ini.
Lembar keempat sampai keenam: keterangan saksi.
Ada dua.
Yang pertama pengendara di belakang, laki-laki, tiga puluh empat tahun waktu itu. Dia bilang mobilnya melaju “tidak cepat, sekitar 40-50,” dan bahwa dia melihat bagian belakang mobil “tiba-tiba turun dan bergeser ke kanan.”
Empat puluh sampai lima puluh.
Aku menutup mataku.
Naya menyetir pelan. Naya selalu menyetir pelan. Aku dulu menggodanya tentang itu—aku bilang dia menyetir seperti orang yang membawa telur, dan dia bilang aku menyetir seperti orang yang belum punya anak, dan itu adalah percakapan yang kami ulang mungkin lima puluh kali selama lima tahun pernikahan.
Empat puluh sampai lima puluh, di jalan turun, dalam hujan, dengan anak di belakang.
Dia melakukan semuanya dengan benar.
Saksi kedua penjaga warung di seberang tikungan. Dia bilang hujan deras dan bahwa di titik itu sudah dua kali ada kejadian dalam setahun terakhir.
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Sudah dua kali ada kejadian dalam setahun terakhir.
Dan aku tidak merasakan apa pun tentang itu, yang membuatku sadar sesuatu tentang diriku sendiri: aku tidak sedang mencari pembelaan. Kalau aku sedang mencari pembelaan, kalimat itu akan berarti sesuatu.
Kalimat itu tidak berarti apa-apa.
Aku membalik halamannya.
Lembar ketujuh berjudul Keterangan Pihak Keluarga.
Dan namaku ada di sana.
ADITYA WISESA, 27 tahun, wiraswasta/karyawan swasta, suami dari korban.
Aku duduk sangat tegak.
Keterangan diambil di RSUD [nama], tanggal [tanggal], pukul 11.20 WIB.
Hari berikutnya. Jam sebelas lewat dua puluh pagi.
Bumi masih hidup jam sebelas lewat dua puluh pagi hari itu. Bumi masih hidup selama dua puluh sembilan jam lagi.
Dan aku memberikan keterangan kepada polisi.
Aku tidak ingat.
Aku benar-benar tidak ingat. Aku sudah lima setengah tahun mengulang dua hari itu di kepalaku setiap minggu, kadang setiap malam, dan tidak ada satu pun bagian di mana aku duduk berhadapan dengan petugas dan menjawab pertanyaan.
Aku mulai membaca.
Dan sebelum sampai ke paragraf keempat, aku menemukan satu kalimat yang membuatku berhenti.
Yang bersangkutan dalam kondisi tenang dan kooperatif.
Tenang.
Aku duduk di ruang tamu yang gelap dan menatap kata itu.
Tiga puluh jam tanpa tidur. Istriku di kamar jenazah. Anakku di ruangan lain dengan alat bantu napas. Dan seorang petugas menuliskan bahwa aku tenang dan kooperatif.
Dan aku tahu itu benar.
Itu yang paling buruk. Aku tidak perlu mengingat pagi itu untuk tahu bahwa itu benar, karena aku tahu persis apa yang kulakukan di ruangan-ruangan seperti itu. Aku mengurus. Aku menjawab. Aku menandatangani. Aku bertanya apakah ada berkas lain yang perlu dilengkapi.
Lima setengah tahun kemudian orang-orang masih berkata Mas Adit kuat ya, dan aku selalu mengira itu dimulai setelah semuanya.
Ternyata sudah dimulai di jam kesebelas.
Sebagian besarnya administratif. Hubungan dengan korban. Kepemilikan kendaraan. Tujuan perjalanan.
Dan lalu, di paragraf keempat, ada kalimat yang membuat seluruh ruangan itu terasa miring.
Yang bersangkutan menerangkan bahwa istrinya pernah menyampaikan adanya bunyi/getaran pada bagian belakang kendaraan kurang lebih 10 (sepuluh) hari sebelum kejadian, dan yang bersangkutan menyatakan akan membawa kendaraan tersebut ke bengkel namun belum sempat dilaksanakan.
Aku membacanya.
Lalu aku membacanya lagi.
Lalu aku meletakkan kertas itu di meja dan berdiri dan berjalan ke dapur dan berdiri di depan wastafel dan tidak melakukan apa-apa selama mungkin empat menit.
Aku sudah mengatakannya.
Hari berikutnya. Jam sebelas lewat dua puluh pagi. Dengan Bumi masih hidup di ruangan lain dan aku belum tidur tiga puluh jam.
Aku duduk di depan seorang petugas polisi dan aku mengatakannya, seluruhnya, sukarela, tanpa ditanya—karena tidak ada pertanyaan yang akan menghasilkan jawaban itu, karena tidak ada petugas yang bertanya apakah Anda sudah tahu tentang ban itu sebelumnya.
Aku memberikannya sendiri.
Dan petugas itu menulisnya, dengan bahasa yang sangat sopan dan sangat administratif, dan memasukkannya ke berkas, dan menyerahkan kertasnya untuk kutandatangani.
Dan aku menandatanganinya.
Dan lalu aku melipatnya empat dan memasukkannya ke saku dan menghabiskan lima setengah tahun berikutnya percaya bahwa aku adalah satu-satunya orang di dunia yang tahu.
Aku duduk di lantai dapur.
Bukan kursi. Lantai, dengan punggung ke lemari bawah, di depan wastafel.
Dan aku tertawa.
Aku ingin menuliskannya dengan jujur karena itu terjadi: aku tertawa, sendirian, di lantai dapur rumahku sendiri jam tujuh malam, dan bunyinya mengerikan.
Karena bangunan itu—bangunan yang kubangun selama lima setengah tahun, dengan halaman yang disemen dan enam puluh kilometer per jam dan pekerjaan yang ditolak dan pintu putih di ujung lorong—
Seluruh bangunan itu berdiri di atas satu fondasi.
Fondasinya adalah: tidak ada yang tahu.
Kalau tidak ada yang tahu, hukumannya milikku. Kalau hukumannya milikku, akulah yang menentukan kapan selesai. Dan aku tidak pernah menentukan kapan selesai, karena selama tidak selesai, aku masih melakukan sesuatu.
Dan ternyata semua orang tahu.
Polisi tahu, tertulis, dengan stempel. Bram tahu—dia berdiri di belakang bahuku waktu aku menandatangani ini. Sarah tahu bagian bannya. Ibu Naya mungkin tahu.
Dan tidak ada satu pun dari mereka yang melakukan apa pun dengan pengetahuan itu.
Tidak ada yang menuntutku. Tidak ada yang berhenti bicara denganku. Ibu Naya memelukku setiap tahun di pintu dan menangis di bahuku.
Lima setengah tahun aku menunggu pengadilan yang tidak akan pernah digelar, karena berkasnya sudah ditutup di hari kedua dan tidak ada satu orang pun yang menganggapnya perkara.
Kecuali satu.
Aku membaca dua lembar terakhir.
Lembar kedelapan: kesimpulan sementara. Kecelakaan tunggal. Faktor kendaraan dan kondisi jalan. Tidak ditemukan unsur pidana.
Lembar kesembilan: tanda tangan.
Tanda tanganku ada di sana.
Bentuknya berbeda dari tanda tanganku sekarang. Lebih besar, lebih cepat, dengan ekor yang panjang. Tanda tangan orang berumur dua puluh tujuh tahun yang belum belajar bahwa tanda tangan bisa jadi benda yang menakutkan.
Aku menatapnya cukup lama.
Lalu aku merapikan sembilan lembar itu, dan memasukkannya kembali ke map cokelat, dan meletakkan mapnya di meja ruang tamu.
Bukan di laci.
Di meja.
Aku membaca pesan Clara jam sepuluh malam.
Aku belum membacanya sejak masuk dua hari lalu. Aku melihat notifikasinya hari Jumat malam dan menutup ponselnya dan tidak membukanya lagi, karena aku tahu apa yang akan terjadi kalau aku membacanya.
Malam itu aku membukanya.
Aku nggak jadi ke Jakarta. Aku nggak ngasih tau kamu buat minta apa-apa. Aku cuma nggak mau kamu tahunya dari orang lain.
Aku membacanya delapan kali.
Dan lalu aku membuka kolom balasan dan mengetik empat versi.
Ra, selamat ya. Kamu bikin keputusan yang bener.
Hapus.
Makasih udah kasih tau.
Hapus.
Ra, aku
Hapus.
Dan lalu aku duduk di sofa dengan ponsel di tangan dan menyadari sesuatu yang membuatku meletakkannya menghadap ke bawah di meja.
Setiap versi yang kutulis adalah versi orang yang sedang membalas.
Bukan versi orang yang mau kembali.
Kalau aku membalas malam itu, aku akan membalas dengan sangat baik—dengan kalimat yang hangat dan pantas dan tidak menuntut apa pun—dan Clara akan membacanya, dan sesuatu di dalamnya akan bergerak sedikit, dan lalu tidak akan ada apa-apa lagi selama berminggu-minggu.
Dan aku akan merasa lebih baik. Aku akan merasa sudah melakukan sesuatu.
Itu cicilan.
Aku sudah kenal bentuknya sekarang. Aku sudah kenal bentuknya dengan sangat baik.
Dia bilang di teras itu, empat bulan lalu, dengan sangat jelas:
Kalau kamu balik, balik sebagai orang yang mau tinggal. Jangan balik buat benerin apa-apa.
Aku tidak membalas.
Aku tidak tidur malam itu.
Aku duduk di ruang tamu dengan map cokelat di meja dan ponsel biru Naya di sebelahnya dan aku memikirkan satu kalimat yang diucapkan Sarah di pagar rumahku empat hari lalu.
Yang satu itu kecelakaan. Yang satu lagi itu kebiasaan.
Dan aku duduk di sofa jam tiga pagi dan mencoba, untuk pertama kalinya dalam lima setengah tahun, memisahkan keduanya.
Kecelakaan: ban pecah di jalan turun waktu hujan pada pukul 20.47.
Aku tidak bisa mengubah itu. Aku tidak menyebabkannya dengan tanganku. Aku tidak ada di sana. Dan tidak ada satu pun tindakan yang bisa kulakukan selama lima setengah tahun ini yang mengubah satu detik pun dari pukul 20.47.
Kebiasaan: aku bilang minggu depan.
Dan istriku memutuskan untuk tidak mendesakku karena kasihan.
Dan adik iparku memutuskan untuk tidak bertanya karena kasihan.
Dan sahabatku berhenti bertanya di tahun kedua.
Dan seorang anak berumur enam tahun bertanya lima kali dan mendapat besok lima kali.
Itu bukan kecelakaan.
Itu berlangsung setiap hari, selama bertahun-tahun, di depan mata semua orang, dan itu masih berlangsung sampai malam ini.
Dan itu satu-satunya bagian yang bisa kuperbaiki.
Dan lima setengah tahun aku menghabiskan seluruh tenagaku menghukum diri sendiri untuk bagian yang tidak bisa kuubah, sambil membiarkan bagian yang bisa kuubah berjalan tanpa disentuh.
Matahari naik jam setengah enam.
Aku masih di sofa.
Dan aku mengambil ponsel—bukan untuk membalas Clara—dan aku membuka pencarian, dan aku mengetik nama seseorang yang kudatangi dua kali di tahun pertama dan yang ruangannya berbau lavender.
Prakteknya masih ada.
Alamatnya berubah. Nomor teleponnya sama.
Dan aku duduk di sofa dengan ponsel di tangan sampai jam delapan pagi, karena prakteknya buka jam delapan, karena aku sudah cukup lama mengenal diriku sendiri untuk tahu bahwa kalau aku menunggu sampai siang aku akan menemukan tiga alasan yang semuanya benar.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan reading
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu