Chapter One
Tanggal Sembilan
POV: Aditya
Ada satu hal yang tidak pernah orang tahu tentang menjadi orang baik: kau harus bangun lebih pagi.
Pukul setengah tujuh, aku sudah berdiri di depan pagar rumah Bu Yuli dengan obeng di tangan dan wajah yang sudah kupasang sejak sebelum keluar rumah. Bukan senyum yang berat. Justru ringan sekali. Aku sudah lima tahun berlatih.
“Astaga, Mas Adit, saya kan cuma nitip pesan di grup.” Bu Yuli muncul dari balik pintu, masih dengan daster motif bunga matahari dan rambut yang dijepit asal. “Nggak usah buru-buru gitu.”
“Ibu nulisnya jam sepuluh malam, pakai huruf kapital semua, terus dikasih emoji nangis tiga.” Aku menggeser gerbangnya sedikit supaya bisa masuk. “Kalau itu bukan darurat, saya nggak tahu lagi apa yang darurat.”
“Ih, itu mah karena huruf kecil saya nggak kelihatan.”
“Nah, itu masalah kedua. Nanti kita atur ukuran fontnya.”
Bu Yuli tertawa, dan aku ikut tertawa, dan pagi itu resmi dimulai seperti ratusan pagi lain sebelumnya.
Masalahnya ternyata router yang perlu dicolok ulang. Butuh empat puluh detik. Aku menghabiskan dua puluh menit di sana karena Bu Yuli menceritakan anak keduanya yang katanya sudah dekat dengan seseorang tapi belum berani bawa pulang, dan aku mendengarkan sambil sesekali mengangguk, sambil diam-diam mengecek bahwa kabel di belakang lemari itu tidak tertindih kaki meja.
“Mas Adit ini emang beda,” katanya waktu aku mau pamit. “Orang-orang komplek tuh cuma ngomong. Mas Adit yang dateng.”
“Aman, kok, Bu. Kebetulan lagi senggang.”
Aku selalu senggang. Itu bagian dari desainnya.
Dulu aku IT Senior Architect. Dulu kalendarku penuh sampai jam sebelas malam dan aku bangga tentang itu, bangga dengan cara yang bodoh, cara orang yang mengira kesibukan adalah bukti bahwa hidupnya berarti. Sekarang aku menerima pekerjaan lepas secukupnya, dari klien di zona waktu yang tidak peduli aku bangun jam berapa, dan sisa harinya kuisi dengan hal-hal seperti router Bu Yuli.
Recruiter masih menelepon. Kadang satu bulan sekali, kadang dua. Aku selalu tertawa dan bilang aku sudah malas rapat, dan mereka selalu bilang sayang sekali, dan aku selalu setuju bahwa memang sayang sekali.
Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali aku menutup telepon itu, aku merasa sedikit lebih tenang. Seperti orang yang baru saja membayar sesuatu.
Kayla datang jam sembilan, seperti biasa, dengan sepeda roda tiga yang sudah kekecilan untuk badannya.
“Om Adit!”
“Kayla.” Aku jongkok di teras, menurunkan tinggiku sampai sejajar dengan matanya. Aku selalu jongkok. Entah kapan itu jadi kebiasaan. “Kenapa? Sepedanya bunyi lagi?”
“Bukan. Ini.” Dia menyodorkan sesuatu. Gelang karet yang putus. “Bisa dibenerin nggak?”
“Bisa dong. Om kan tukang benerin.”
“Tukang benerin apa aja?”
“Apa aja yang ada bautnya.” Aku menerima gelang itu. “Ini nggak ada bautnya, tapi Om coba.”
Dia tertawa, terlalu keras untuk lelucon sekecil itu, dengan cara anak enam tahun tertawa. Lalu dia duduk di ubin teras tanpa diminta, dan mulai bercerita tentang temannya di sekolah yang katanya bisa menahan napas selama satu jam.
Aku menyimpul ulang gelang karetnya sambil mendengarkan. Tanganku bekerja, kepalaku ada di tempat lain. Dia enam tahun sekarang. Bulan depan tujuh, katanya, dan dia sudah menghitung mundur sejak Februari.
Aku menyerahkan gelang itu kembali. Dia memakainya, mengangkat tangannya, memeriksanya di bawah cahaya.
“Makasih, Om.”
“Sama-sama.”
Dia berdiri. Untuk sepersekian detik, tanganku bergerak—refleks yang tidak pernah benar-benar mati—dan aku menahannya sebelum sampai. Kubiarkan tergantung di sisi tubuh sampai dia naik ke sepedanya sendiri dan mengayuh pergi.
Aku tidak pernah menggendongnya. Tidak sekali pun, dalam tiga tahun dia bolak-balik ke teras ini.
Aku tidak pernah menjelaskan itu pada siapa pun, karena tidak ada yang pernah bertanya.
Rumahku terlalu rapi untuk rumah yang ditinggali satu orang.
Itu komentar Bram, tiga tahun lalu, waktu dia mampir dan berdiri di ruang tamu dengan ekspresi orang yang salah masuk rumah. Lo ini tinggal di sini apa lagi nyewain buat pemotretan? Aku menjawab bahwa aku punya banyak waktu luang dan tidak punya hobi, dan dia menerima itu, karena itu memang benar.
Yang tidak dia lihat waktu itu adalah pintu di ujung lorong.
Aku melewatinya delapan, sepuluh, dua belas kali sehari. Kamar mandi ada di sebelahnya, jadi tidak ada cara untuk tidak melewatinya. Pintu putih biasa, gagang biasa, tidak dikunci. Kalau ada tamu, mereka akan mengira itu gudang.
Setiap Minggu pagi aku membukanya.
Aku menyedot debu. Aku melap ambang jendela. Aku mengganti seprai yang tidak ditiduri siapa pun, melipat yang lama, memasukkannya ke mesin cuci bersama pakaianku sendiri. Butuh empat puluh menit. Aku melakukannya dengan urutan yang sama persis setiap minggu, dan aku tidak pernah menyalakan lampunya, karena tirainya kubuka dan cahaya jam delapan pagi cukup.
Lalu aku keluar, dan menutup pintunya, dan hari Minggu berjalan seperti hari Minggu.
Ruangan itu ruangan paling bersih di rumah ini. Aku sadar betapa anehnya itu. Aku juga sadar bahwa berhenti melakukannya akan jauh lebih aneh, jadi aku tidak berhenti.
Di rak bawah lemari ruang kerja ada laptop lama. Model 2018, engselnya sudah agak longgar. Aku tidak pernah membukanya. Tapi setiap dua minggu aku menancapkan chargernya, membiarkannya selama beberapa jam, lalu mencabutnya lagi.
Isinya foto. Ribuan, mungkin. Aku tidak tahu persisnya karena aku tidak pernah membukanya.
Aku hanya tidak sanggup membiarkan baterainya mati.
Tanggal sembilan.
Aku tahu tanggal itu tanpa perlu melihat kalender, sama seperti tubuh tahu kapan harus bernapas. Tapi aku tetap melihat kalender setiap pagi, karena ada perbedaan besar antara mengetahui sesuatu dan mengizinkan diri mengetahuinya.
Aku hafal ulang tahun dua belas orang di komplek ini. Bu Yuli tanggal empat Maret. Pak Herman tanggal dua puluh Juni. Kayla tanggal tujuh belas September. Aku mengingat semuanya dengan sengaja, aku menuliskannya, aku menyalakan pengingat—supaya ada tanggal-tanggal lain di kepalaku. Supaya kalender di kepalaku tidak cuma berisi dua angka.
Tidak berhasil, tentu saja. Tapi aku tetap melakukannya.
Setiap tanggal sembilan, aku membeli bunga.
Lima tahun, enam puluh kali. Selalu di tempat yang sama, di Toko Bunga Melati dekat perempatan, milik Pak Uung yang tidak pernah bertanya apa-apa dan yang selalu tahu pesananku sebelum aku selesai mengucapkannya. Itu satu-satunya alasan aku bertahan di sana selama itu. Bukan karena bunganya lebih bagus. Karena dia tidak bertanya.
Siang itu aku sampai di sana pukul setengah satu dan menemukan rolling door-nya turun. Ada kertas ditempel, sudah agak lepas di satu sudut.
Toko pindah ke Cimahi. Terima kasih atas kepercayaannya selama 22 tahun.
Aku berdiri di depan pintu itu lebih lama dari yang masuk akal untuk sebuah pengumuman lima belas kata.
Konyol, sebenarnya. Aku bisa saja ke toko lain. Ada belasan di kota ini. Aku bisa saja pesan lewat aplikasi, dikirim, selesai. Tapi ada sesuatu yang goyah di dadaku dengan cara yang tidak sebanding dengan situasinya, dan aku berdiri di sana sampai ada motor lewat dan klaksonnya membangunkanku.
Aku kembali ke mobil. Menyalakan mesin. Tidak jalan.
Tanganku di setir, dan aku memperhatikan bahwa jari-jariku mengetuk-ngetuk plastik dengan pola yang tidak kusadari. Aku menghentikannya. Lalu mengambil ponsel, mengetik toko bunga terdekat, dan memilih yang paling dekat tanpa membaca ulasannya.
Kembang Kata. Dua koma satu kilometer.
Tokonya kecil, terjepit di antara laundry kiloan dan tempat servis jam. Kanopi hijau tua, rak-rak bertingkat di teras depan yang penuh tanaman dalam pot, dan papan nama kayu yang tulisannya jelas ditulis tangan oleh seseorang yang memang bisa menulis tangan dengan baik.
Aku memarkir mobil. Duduk sebentar. Memasang wajahku.
Ini bagian yang orang tidak pernah percaya kalau kuceritakan—bukan karena tidak masuk akal, tapi karena aku tidak pernah menceritakannya. Ada jeda yang kubutuhkan. Setengah detik, kadang satu. Seperti menyalakan lampu di ruangan yang gelap sebelum tamu masuk.
Lalu aku turun, dan aku sudah jadi orang yang biasa mereka lihat.
Bel di atas pintu berbunyi. Bagian dalam toko lebih dingin daripada yang kuduga, dan baunya—aku tidak siap dengan baunya. Tanah basah, batang yang baru dipotong, sesuatu yang manis dan hijau.
Aku menahan napas selama tiga langkah pertama. Itu juga kebiasaan.
“Selamat siang.”
Perempuan di balik meja kasir mengangkat wajahnya dari setumpuk kertas cokelat. Dia tinggi—itu hal pertama yang kusadari, cara dia harus sedikit menunduk waktu berdiri dari kursinya. Rambutnya diikat asal ke belakang dengan beberapa helai yang lolos. Ada tanah di punggung tangannya, dan dia tidak buru-buru membersihkannya.
“Siang,” kataku. “Ini toko bunga, kan?”
Dia melirik ke sekeliling, ke rak-rak berisi bunga, ke ember-ember berisi bunga, ke dinding yang tergantung bunga kering.
“Kayaknya sih iya,” katanya. “Tapi saya juga baru empat tahun di sini, jadi belum yakin.”
Aku tertawa. Itu keluar dengan mudah, dan itu memang lucu, dan itu juga sudah cukup untuk memasang pijakan.
“Aman. Berarti kita sama-sama nggak yakin.” Aku maju ke meja. “Saya mau beli bunga.”
“Kebetulan sekali.”
“Kan? Rezeki.” Aku menyandarkan sedikit tanganku di tepi meja, lalu memindahkannya ke saku. Lalu ke kunci mobil. Aku memutar kunci itu sekali di jari, lalu berhenti. “Yang putih, ada?”
“Ada banyak yang putih.” Dia keluar dari balik meja. “Mau yang mana?”
“Bebas.”
“Bebas itu susah, Mas.”
“Serius, bebas. Yang penting putih.” Aku mengangkat bahu. “Saya orangnya nggak ribet.”
Dia berhenti di depan ember besar berisi krisan, memiringkan kepalanya sedikit. “Oke. Krisan putih, ya. Tujuh tangkai—“
“Sembilan.”
Aku mengucapkannya terlalu cepat. Aku mendengar diriku sendiri mengucapkannya terlalu cepat, dan aku tahu persis bagaimana itu terdengar, dan aku sudah menyiapkan penutupnya bahkan sebelum dia sempat menoleh.
“Angka favorit,” kataku, sambil tersenyum. “Saya sedikit takhayul.”
Dia tidak langsung menjawab.
Itu yang membuatku sadar dia memperhatikan. Kebanyakan orang akan langsung mengisi jeda itu—oh, iya, saya juga, atau tertawa sopan, atau apa saja. Dia tidak. Dia hanya menatapku sedetik lebih lama dari yang perlu, dan sesuatu di belakang matanya bergerak, dan lalu dia berbalik ke ember itu seolah tidak terjadi apa-apa.
“Sembilan, siap.”
Dia mulai memilih. Bukan asal ambil dari atas—dia menarik satu, memutarnya, mengembalikannya, mengambil yang lain. Tangannya cepat tapi tidak terburu-buru. Sesekali dia mematahkan daun yang menguning di pangkal dengan kuku ibu jarinya, gerakan kecil yang jelas sudah dilakukan puluhan ribu kali.
Aku menonton dari jarak satu meter, tanganku sekarang memegang struk kosong yang ada di meja, melipatnya jadi dua, lalu empat.
“Bagus, ya,” kataku. “Yang itu.”
“Yang mana?”
“Yang lagi Mbak pegang.”
Dia mengangkatnya sedikit. “Ini masih agak muda. Bagusnya besok lusa.”
“Nggak bisa nunggu.”
Kalimat itu keluar lebih datar dari yang kumaksud. Aku mendengarnya menggantung di udara toko yang dingin itu, dan aku merasakan sesuatu di dalam dadaku berdiri terlalu tegak.
“Maksud saya,” aku menambahkan, cepat, “saya orangnya nggak sabaran. Kalau disuruh nunggu dua hari, saya lupa. Besok lusa saya udah beli hal lain. Panci, mungkin.”
“Panci.”
“Saya punya lima panci, Mbak. Nggak ada yang saya butuhkan.”
Dia tertawa. Tawanya pendek, sungguhan, dan aku merasa lega dengan cara yang seharusnya tidak sebesar itu.
“Lima panci.”
“Lima. Satu buat mi instan, satu buat air, terus tiga lagi entah kenapa ada.”
“Mas beli?”
“Nggak inget.” Aku mengangkat bahu. “Itu masalahnya. Kalau orang punya lima panci dan cuma inget beli satu, berarti tiga sisanya masuk sendiri. Itu horor, sebenernya.”
“Atau ada yang naruh.”
“Nah. Itu lebih horor.”
Dia menggeleng pelan sambil tersenyum, lalu kembali ke embernya. Ada satu tangkai lagi yang dia tarik, periksa, kembalikan.
“Beneran nggak mau saya sisipin yang lain?” katanya. “Baby’s breath, biar nggak terlalu polos.”
“Nggak usah.”
“Murah, kok. Lima ribu.”
“Bukan soal harga.” Aku menggulung struk yang tadi kulipat, membukanya lagi, melipatnya lagi. “Cuma... putih aja. Biar rapi.”
Dia mengangguk. Tidak menawar lagi, tidak bertanya kenapa, tidak menaikkan alis. Hanya mengangguk dan melanjutkan.
Dan entah kenapa justru itu yang membuat sesuatu di bahuku turun sedikit.
Aku sudah terlalu terbiasa dengan orang yang bertanya. Bukan karena mereka jahat—justru sebaliknya. Orang-orang bertanya karena peduli, dan aku harus menjawabnya, dan menjawabnya berarti memilih versi mana yang akan kuberikan hari itu, dan memilih itu melelahkan dengan cara yang tidak bisa kujelaskan pada siapa pun.
Perempuan ini tidak bertanya. Dia cuma memotong pangkal batang dengan gunting yang sudah tumpul di satu sisi, dan membiarkan aku berdiri di sana tanpa menjadi apa pun.
Dia membawa sembilan tangkai itu ke meja, membentangkan kertas cokelat, mulai membungkus. Aku berdiri di seberangnya dan tidak menyentuh bunganya sama sekali. Aku memuji warnanya. Aku bertanya berapa lama tahannya kalau ditaruh di luar. Aku bilang tokonya wangi. Aku tidak mengulurkan tangan sekali pun sampai dia selesai mengikat talinya.
“Enam puluh tiga ribu.”
Aku membayar. Dia memberi kembalian. Aku memasukkannya ke saku tanpa menghitung.
“Makasih, ya,” kataku, mengangkat buket itu. “Kayaknya saya bakal balik lagi.”
“Bulan depan?”
Aku berhenti.
Setengah langkah dari pintu, dengan bel yang belum sempat berbunyi, aku berhenti—dan sesuatu di tengkukku terasa dingin.
Aku menoleh. Dia sedang merapikan gulungan kertas cokelat, tidak menatapku, wajahnya biasa saja.
“Kenapa bulan depan?”
“Nggak apa-apa.” Dia mengangkat bahu, masih tidak menatapku. “Biasanya orang yang beli sembilan krisan putih itu punya jadwal.”
Ada beberapa jawaban yang bisa kuberikan. Aku sudah menyiapkan sebagian besarnya bertahun-tahun lalu, disimpan rapi seperti kunci cadangan di laci.
Yang keluar cuma:
“Aman, kok.”
Dan aku tersenyum, dan bel di atas pintu berbunyi, dan aku keluar ke panas siang Bandung dengan sembilan tangkai krisan putih di tanganku dan jantung yang berdetak seperti orang yang hampir ketahuan.
Perjalanan ke pemakaman butuh dua puluh menit.
Aku selalu memarkir di tempat yang sama, di bawah pohon yang bayangannya jatuh di jalur ketiga. Aku selalu berjalan dengan kecepatan yang sama. Aku tahu berapa langkah dari mobil ke sana, dan aku tidak pernah menghitungnya dengan sengaja, tapi aku tahu.
Dua nisan. Bersebelahan.
Aku berjongkok—selalu jongkok, selalu sejajar—dan membagi sembilan tangkai itu. Lima di kiri. Empat di kanan. Tidak pernah sama rata. Aku tidak pernah bisa menjelaskan kenapa, bahkan pada diriku sendiri.
Lalu aku duduk di rumput dan tidak mengatakan apa-apa.
Orang mengira orang berbicara di kuburan. Aku tidak. Aku sudah mencoba, di tahun pertama, waktu aku masih percaya kata-kata bisa dikirimkan ke suatu tempat. Sekarang aku cuma duduk sampai bayangan pohon bergeser, lalu berdiri, lalu membersihkan celanaku dari rumput.
Matahari mulai turun waktu aku sampai di mobil.
Aku masuk. Menutup pintu. Memasang sabuk pengaman. Menyalakan mesin.
Lalu aku mematikannya lagi.
Dan aku duduk di sana, di dalam mobil yang diam, di pelataran pemakaman yang mulai sepi, dengan kedua tangan di setir dan wajah yang tidak perlu dipasang untuk siapa pun.
Dua puluh menit. Mungkin lebih.
Ponselku bergetar di kursi penumpang. Bram, di grup, mengirim tiga pesan berturut-turut tentang rencana futsal Sabtu yang sudah dibatalkan empat kali. Aku membacanya. Aku mengetik balasan. Aku menghapusnya. Aku mengetik yang lebih lucu.
Layar menyala di wajahku, dan aku bisa melihat pantulanku sendiri di kaca depan—orang yang sedang tersenyum sambil mengetik lelucon di dalam mobil yang mesinnya mati di pelataran pemakaman.
Aku mengirimnya. Bram membalas dengan emoji tertawa.
Aku menyalakan mesin lagi, dan pulang, dan di sepanjang jalan aku memikirkan perempuan di toko bunga itu, dan cara dia tidak mengisi jeda, dan satu kalimat yang tidak berhenti berputar.
Biasanya orang yang beli sembilan krisan putih itu punya jadwal.
Lima tahun. Enam puluh kali. Dan tidak ada satu orang pun yang pernah menghitungnya.
- 1 Tanggal Sembilan reading
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu