← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Twenty Five

Empat Meter Kali Delapan

POV: Clara


Aku menandatangani kontrak Cikutra hari Selasa.

Lima puluh lima juta setahun, dibayar dua tahap, mulai bulan Maret. Pemiliknya bapak-bapak berumur enam puluhan yang dulu punya usaha fotokopi dan berhenti karena, dengan kata-katanya sendiri, “sekarang orang nggak ngeprint lagi, Neng, semuanya di HP.”

Aku menandatanganinya di rumahnya, di ruang tamu, dengan teh manis yang terlalu manis dan istrinya yang keluar tiga kali untuk memastikan aku sudah minum.

Waktu keluar dari rumah itu, aku duduk di motor selama sekitar dua menit sebelum menyalakan mesin.

Bukan sedih. Aku sudah selesai dengan bagian sedihnya, sebagian besar, di dua minggu sebelumnya.

Cuma: aku baru saja memutuskan sesuatu yang akan berlaku sampai tahun depan, dan aku memutuskannya sendirian, dan itu terasa seperti berdiri di ruangan yang bergema.


Aku memberi tahu Tari sore itu.

“CIKUTRA?”

“Iya.”

“Yang bekas fotokopi?”

“Iya.”

“Yang lantainya kuning?”

“Bisa dipoles.”

“Yang ada meja beton di tengah?”

“Bisa dibongkar.”

Tari duduk di kursi plastik dan menatap langit-langit selama beberapa detik.

Lalu dia berkata, dengan suara yang jauh lebih kecil: “Berarti aku nggak jadi ke gudang ekspedisi?”

Dan aku menyadari, dengan cara yang membuat dadaku sakit, bahwa dia sudah menyiapkan dirinya untuk pergi selama dua minggu terakhir.

“Kamu nggak jadi ke gudang ekspedisi,” kataku.

“Beneran?”

“Sewanya lima puluh lima, Tari. Naik tiga belas juta setahun. Itu berat tapi bukan mustahil kalau omzetnya nggak turun lebih dari lima belas persen.”

“Aku nggak ngerti angka.”

“Artinya kamu nggak jadi ke gudang ekspedisi.”

Dan Tari menangis.

Tidak lama—mungkin dua puluh detik—dan dia langsung marah pada dirinya sendiri karena menangis, dan dia berkata “ini karena aku belum makan,” dan pergi ke gudang, dan kembali empat menit kemudian dengan wajah yang sudah dicuci dan berpura-pura tidak ada apa-apa.

Aku membiarkannya berpura-pura.

Kami semua punya cara masing-masing.


Yang tidak kuperhitungkan adalah bahwa berita itu menyebar.

Dua hari setelah aku tanda tangan, Bu Rahma—pelanggan Jumat, empat tahun, tidak pernah sekali pun telat bayar—masuk ke toko dengan wajah orang yang membawa kabar duka.

“Neng, ini bener toko mau tutup?”

“Nggak tutup, Bu. Pindah.”

“Ke mana?”

“Cikutra bawah. Dekat perempatan.”

“Aduh, jauh.”

“Tujuh menit dari sini, Bu.”

“Iya, tapi kan bukan yang ini.”

Dan dia berdiri di tengah toko dan melihat sekeliling dengan cara yang membuat sesuatu di dadaku menyempit.

“Bu Rahma.”

“Iya, Neng?”

“Ibu bakal tetep beli, kan?”

“Ya iyalah.” Dia mengibaskan tangan. “Ibu kan bukan beli rukonya.”

Dan dia membeli tiga ikat seperti biasa dan pulang, dan aku berdiri di belakang meja kasir selama sekitar satu menit sambil mencoba tidak menjadi orang yang menangis di jam kerja.

Sorenya, Tari datang dengan buku catatan.

“Teh, aku bikin daftar.”

“Daftar apa?”

“Pelanggan tetap. Yang harus dikabarin.” Dia membuka bukunya. “Ada empat puluh satu.”

Aku menatap bukunya.

“Kamu ngitung dari mana?”

“Dari buku pesanan. Aku balik ke belakang setahun.” Dia menunjuk kolomnya. “Yang pesen tiga kali atau lebih dalam setahun. Empat puluh satu.”

“Kamu ngerjain ini kapan?”

“Kemarin. Sampe jam sebelas.”

“Tari.”

“Aku nggak bisa tidur.” Dia mengangkat bahu, tidak menatapku. “Jadi mendingan ngerjain sesuatu daripada mikir.”

Dan aku menatap karyawanku yang berumur dua puluh dua tahun dan yang dua minggu lalu sudah menyiapkan dirinya untuk pergi ke gudang ekspedisi, dan yang tidak bisa tidur, dan yang mengerjakan sesuatu supaya tidak berpikir.

Aku sudah kenal bentuk itu.

Aku sudah kenal bentuk itu dengan sangat baik sekarang.

“Tari.”

“Iya?”

“Duduk dulu.”

“Aku nggak capek.”

“Aku nggak nanya kamu capek.”

Dan dia duduk, dan aku membuat dua gelas teh, dan kami minum di belakang meja kasir jam empat sore tanpa mengerjakan apa pun selama sekitar dua puluh menit.

Dia protes tiga kali. Aku tidak menggubris.


Aditya datang hari Rabu membawa meteran.

“Buat apa?”

“Ngukur.”

“Ngukur apa?”

“Cikutra.” Dia meletakkan meteran di meja. “Kamu bilang mau bikin rak yang sama kayak di sini. Kalau ukurannya beda, raknya nggak muat.”

“Aku belum bilang gitu.”

“Kamu bilang minggu lalu.”

“Aku bilang ’kayaknya raknya masih bisa dipake’.”

“Nah.”

Dan dia sudah keluar ke teras dan mulai mengukur rak besi yang kubeli bekas dari orang di Cimahi empat tahun lalu.

Aku berdiri di ambang pintu dan menontonnya.

Ini yang berubah sejak hari Minggu itu: dia masih melakukan segalanya. Dia tidak berhenti. Dia masih membawa meteran, masih membetulkan pompa, masih memindahkan karung.

Yang berubah adalah dia berhenti minta izin lewat barang.

Dulu dia datang membawa engsel karena engsel adalah tiket masuk. Sekarang dia datang membawa meteran karena dia memang mau mengukur.

Bedanya tipis sekali dan aku tidak yakin bisa menjelaskannya pada siapa pun.

Tapi aku merasakannya di seluruh tubuhku.


Kami ke Cikutra hari Kamis untuk mengukur.

Empat meter kali delapan, sama persis seperti Sukaluyu. Aku sudah menduganya; ruko-ruko di Bandung dibangun dengan ukuran yang sama seperti roti dibuat dengan cetakan yang sama.

Yang beda cuma terasnya. Dua meter, beton, dengan atap.

“Kursinya bakal muat,” kata Aditya, sambil menggulung meteran.

“Aku tahu.”

“Aku ngukur.”

“Aku tahu kamu ngukur.”

“Aku cuma bilang.”

Dan aku tertawa, dan dia tersenyum ke arah jalan, dan kami berdiri di teras beton berdebu itu jam empat sore.

“Ra.”

“Hm.”

“Coba ke tengah.”

“Kenapa?”

“Coba aja.”

Aku berjalan ke tengah ruangan kosong itu. Bau tinta. Lantai keramik kuning di sela-selanya. Meja beton yang harus dibongkar.

“Tutup mata.”

“Aditya.”

“Bentar aja.”

Aku menutup mata.

“Sekarang taruh di mana kasirnya.”

Dan aku berdiri di tengah ruko bekas fotokopi di Cikutra dengan mata tertutup, dan aku menunjuk ke kiri.

“Ember?”

Aku menunjuk ke belakang kanan.

“Gudang?”

“Nggak ada gudang.”

“Ada. Yang di pojok itu bisa disekat.”

Aku menunjuk.

“Rak teras?”

Aku menunjuk ke luar.

“Bunga potong?”

“Deket pintu. Biar keliatan dari jalan.”

“Nah.”

Aku membuka mata.

Dia berdiri di ambang pintu dengan meteran di tangan.

“Udah ada di kepala kamu,” katanya. “Dari kapan?”

“Dari hari Sabtu waktu kita pertama ke sini.”

“Kamu diem lima menit di teras.”

“Iya.”

“Aku kira kamu lagi mikirin harganya.”

“Aku lagi mindahin toko,” kataku.


Kami tidak langsung pulang.

Ada warung kopi di seberang—warung beneran, bukan kedai, dengan bangku kayu panjang dan kopi tubruk dan indomie—dan kami duduk di sana sampai jam tujuh.

“Ra.”

“Hm.”

“Kamu ngerasa apa?”

“Maksudnya?”

“Soal pindah.” Dia mengaduk kopinya. “Aku nggak nanya kamu sedih apa nggak. Aku nanya kamu ngerasa apa.”

Dan aku memikirkannya sungguh-sungguh, karena pertanyaannya dibuat dengan cara yang tidak bisa dijawab dengan nggak apa-apa.

“Aku ngerasa kayak orang yang pindah kos,” kataku akhirnya.

“Bukan pindah rumah?”

“Bukan.” Aku memegang gelas. “Rumah itu punya kamu. Kos itu tempat yang kamu tinggalin sebaik mungkin biar orang berikutnya nggak susah.”

“Kamu udah empat tahun di sana.”

“Iya.”

“Itu lama.”

“Iya.” Aku menatap ke seberang jalan, ke ruko kosong yang tiga bulan lagi akan penuh ember. “Tapi aku nggak pernah lupa itu bukan punya aku.”

Aditya tidak berkata apa-apa selama beberapa saat.

Lalu: “Kamu selalu gitu?”

“Gimana?”

“Ngitung mana yang punya kamu.”

Aku menoleh.

“Iya,” kataku. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa.” Dia mengangkat bahu. “Cuma sekarang aku ngerti kenapa kamu nggak pernah nanya.”


Dia mengantarku pulang jam delapan.

Di depan gerbang kos, dia menahan tanganku sebelum aku turun—bukan menahan keras, cuma tidak melepas.

“Ra.”

“Hm.”

“Kamu udah ngasih tahu orang tua kamu?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena Papa bakal nawarin uang.” Aku mengangkat bahu. “Dan dia nggak punya.”

Aditya diam.

“Dan kalau aku bilang nggak usah, dia bakal ngerasa gagal.” Aku melihat ke luar jendela. “Jadi lebih gampang kalau dia tahunya nanti, waktu udah selesai.”

“Kakak kamu?”

Aku berhenti.

Dan Aditya, karena dia sudah tiga bulan lebih memperhatikanku dengan cara yang sama seperti aku memperhatikannya, langsung mundur.

“Sori,” katanya. “Nggak usah dijawab.”

“Nggak apa-apa.”

“Ra—“

“Aku belum kasih tahu Kak Rendy,” kataku. “Dan aku nggak tahu apakah aku bakal kasih tahu. Dan itu udah dua minggu aku pikirin.”

Dia menggenggam tanganku lebih erat.

“Kenapa susah?”

“Karena kalau aku kasih tahu, itu berarti aku minta sesuatu.” Aku menelan. “Dan aku nggak berhak minta apa-apa dari dia.”

“Kamu adiknya.”

“Aku adik yang datang ke kosnya bawa daftar.”

Dan kami duduk di mobil di depan gerbang kos itu selama beberapa saat.

“Ra.”

“Hm.”

“Kamu tahu apa yang aku pelajarin dari Cimahi?”

“Apa?”

“Bahwa orang yang aku pikir bakal marah sama aku itu udah lima tahun nyediain pintu buat aku masuk.” Dia menatap ke depan. “Dan aku nggak pernah masuk sekali pun. Dan aku pikir itu sopan.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Aku nggak bilang kamu harus telepon dia,” katanya. “Aku nggak punya hak buat bilang gitu, dan aku baru sekali ngelakuinnya dan itu pun karena kamu.”

“Karena aku?”

“Aku ke Cimahi karena kamu cerita soal Kak Rendy,” katanya. “Bukan karena Sarah dateng ke toko. Karena kamu cerita soal daftar itu.”

Aku menoleh.

“Kamu bilang kamu kehilangan kakak kamu tanpa ada yang meninggal,” lanjutnya. “Dan aku pulang malem itu dan aku mikir, aku juga lagi ngelakuin itu ke Sarah. Pelan-pelan. Lima tahun.”

Dia melepaskan tanganku dan menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Jadi ya,” katanya. “Kamu duluan, sebenernya.”


Aku masuk ke kamar jam setengah sembilan.

Dan aku duduk di kasur dengan ponsel di tangan selama mungkin dua puluh menit sebelum membuka chat Kak Rendy.

Terakhir: bulan lalu. Kak, apa kabar?Baik, Ra. Kamu gimana? Toko ramai?

Dan balasanku waktu itu: Ramai kok Kak. Kakak sehat?

Dan balasannya: Sehat. Salam buat kamu.

Tiga baris. Selesai.

Aku mengetik: Kak, toko aku pindah bulan Maret. Yang punya ruko mau jual.

Aku menatapnya.

Lalu aku menghapus yang punya ruko mau jual dan menggantinya dengan panjang ceritanya.

Lalu aku menghapus itu juga dan mengembalikan yang pertama.

Aku mengirimnya jam sembilan lewat.

Dan aku meletakkan ponsel di kasur dan pergi mandi supaya aku punya alasan untuk tidak melihatnya selama lima belas menit.


Waktu aku keluar, ada tiga pesan.

Ya Allah, Ra.

Kamu udah dapet tempat?

Butuh bantuan apa?

Aku duduk di ujung kasur dengan handuk masih di kepala.

Udah dapet, Kak. Di Cikutra. Tanda tangan kemarin.

Alhamdulillah.

Sewanya naik berapa?

Tiga belas juta setahun.

Dan lalu ada jeda yang cukup lama, dan aku bisa melihat mengetik... muncul dan hilang tiga kali.

Yang akhirnya masuk:

Ra, Kakak bisa bantu sebagian. Nggak banyak. Tapi bisa.

Dan aku duduk di ujung kasur dan menangis dengan handuk masih di kepala seperti orang bodoh.

Bukan karena uangnya.

Karena selama enam tahun aku percaya bahwa satu-satunya yang tersisa di antara kami adalah kesopanan, dan bahwa kesopanan itu adalah hukuman seumur hidup yang sudah kujatuhkan pada diriku sendiri di kamar kosnya enam tahun lalu.

Aku mengetik: Nggak usah, Kak. Aku bisa.

Lalu aku menghapusnya.

Dan aku mengetik: Boleh, Kak. Makasih.

Dan aku mengirimnya sebelum sempat berubah pikiran.


Emailnya masuk tiga hari kemudian.

Aku hampir tidak membukanya. Aku sudah bertahun-tahun tidak menggunakan email itu untuk apa pun kecuali tagihan dan promo yang tidak pernah kuberhentikan.

Pengirimnya: Ratna Wijayanti.

Subjeknya: Clara — ada waktu ngobrol?

Bu Ratna dosen pembimbing praktikku waktu semester enam. Perempuan yang mengajariku bahwa bunga potong itu bisnis logistik yang menyamar jadi bisnis estetika. Yang bilang di depan kelas bahwa kalau aku serius, aku tidak boleh berhenti di toko.

Yang enam tahun lalu pindah ke Jakarta dan sekarang punya studio yang mengerjakan lima puluh acara sebulan.

Aku membukanya di kamar kos jam sepuluh malam.

Isinya empat paragraf.

Aku membaca paragraf pertama tiga kali sebelum melanjutkan ke paragraf kedua, dan waktu sampai paragraf ketiga aku harus meletakkan ponselnya di kasur dan berdiri dan berjalan ke jendela.

Di ambang jendela kamarku ada tiga tanaman.

Aku merawat semuanya dengan baik.

Dan aku berdiri di sana untuk waktu yang cukup lama sebelum kembali ke kasur dan membaca paragraf keempat, yang cuma satu kalimat dan yang isinya adalah angka.