Chapter Four
Sesuatu yang Hidup
POV: Aditya
Tanggal sembilan jatuh di hari Rabu.
Aku bangun pukul lima, seperti biasa, karena tubuhku sudah lama berhenti meminta izin. Aku membuat kopi. Aku membalas dua email klien yang tidak mendesak. Aku menyapu teras yang tidak kotor.
Pukul tujuh aku sudah kehabisan hal untuk dilakukan, dan tokonya baru buka jam sembilan.
Itu bagian yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun: bukan tanggal sembilannya yang berat. Tanggal sembilan justru punya bentuk. Ada urutannya, ada langkahnya, ada tempat yang harus kutuju. Yang berat adalah dua jam kosong sebelum semuanya boleh dimulai.
Jadi aku melakukan apa yang selalu kulakukan dengan waktu kosong.
Aku mengetik di grup RT: Pak, yang lampu jalan depan nomor 12 mati, saya cek ya.
Tidak ada yang membalas jam tujuh pagi. Aku tetap mengeceknya. Ternyata cuma fitting yang longgar. Butuh sepuluh menit.
Masih ada seratus sepuluh menit.
Aku pulang, dan berdiri di ruang tamu, dan mencari sesuatu yang rusak.
Tidak ada yang rusak. Itu masalah rumah yang ditinggali orang yang punya terlalu banyak waktu—semuanya sudah dibetulkan, dua kali, sebelum sempat rusak. Engsel pintu kamar mandi sudah kuminyaki bulan lalu. Keran dapur sudah kuganti karetnya. Bahkan colokan di belakang televisi sudah kurapikan kabelnya dengan pengikat, padahal tidak ada yang pernah melihat ke sana.
Aku duduk di sofa. Berdiri lagi setelah empat menit.
Lalu aku melakukan hal yang sebenarnya sudah kutahu akan kulakukan sejak bangun tidur: aku berjalan ke ujung lorong, dan berdiri di depan pintu putih itu.
Hari itu bukan Minggu.
Aturannya Minggu. Aku membuat aturan itu sendiri, di tahun kedua, waktu aku sadar bahwa tanpa aturan aku akan masuk ke sana tiga kali sehari dan tidak akan pernah keluar dari sana sebagai orang yang bisa bekerja.
Aku berdiri di depan pintu itu selama—entah. Cukup lama sampai lututku terasa.
Lalu aku kembali ke dapur dan mencuci gelas kopi yang sudah bersih.
Ini yang orang tidak mengerti kalau mereka membayangkan kesedihan: mereka membayangkan seseorang menangis di lantai. Kesedihan yang sudah tua tidak begitu. Kesedihan yang sudah tua itu logistik. Dia soal cara mengisi seratus sepuluh menit tanpa membiarkan diri sendiri sendirian bersama seratus sepuluh menit itu.
Pukul delapan lewat empat puluh aku menyerah dan berangkat, walaupun perjalanannya cuma dua belas menit, dan aku sudah tahu aku akan sampai terlalu pagi.
Aku sampai di Kembang Kata pukul sembilan lewat empat.
Rolling door-nya sudah naik penuh. Tari sedang menyiram rak teras dengan selang, dan begitu melihatku, dia berteriak ke dalam tanpa menoleh:
“TEH, YANG SEMBILAN DATENG!”
Aku berhenti di trotoar.
Yang sembilan.
Ada dua hal yang terjadi di dalam dadaku secara bersamaan, dan keduanya tidak nyaman. Yang pertama: mereka membicarakanku. Yang kedua, yang jauh lebih aneh: aku punya sebutan di suatu tempat. Ada dua orang di kota ini yang, kalau menyebut yang sembilan, langsung tahu siapa yang dimaksud.
Lima tahun aku beli bunga di tempat Pak Uung. Dia tidak pernah tahu namaku.
“Pagi, Mas Aditya!” Tari mematikan selangnya, terlambat, sehingga sepatuku kena sedikit. “Aduh. Maaf.”
“Aman.”
“Teh Clara udah siapin dari kemarin. Beneran deh, dia sampai nyisihin yang bagus-bagus, terus aku mau ambil buat pesanan lain nggak boleh.”
“Tari.”
Clara sudah di ambang pintu, dengan celemek dan tangan yang basah.
“Aku cuma laporan.”
“Kamu selalu cuma laporan.”
Tari mengangkat bahu dan kembali menyiram, dan Clara menggeser sedikit supaya aku bisa masuk.
Aku menahan napas di tiga langkah pertama. Lalu, sekitar langkah keempat, aku menyadari bahwa aku menahannya—dan melepasnya.
Krisannya memang bagus.
Aku bukan orang yang tahu apa-apa soal bunga, tapi bahkan aku bisa lihat bedanya. Kepala bunganya rapat, tidak ada yang sudah mulai membuka terlalu jauh, batangnya lurus-lurus.
“Ini dari petani langsung,” kata Clara, sambil menata sembilan tangkai itu di meja. “Kemarin sore baru turun. Yang minggu lalu udah lewat tiga hari.”
“Saya nggak akan tahu bedanya.”
“Saya tahu.”
Dia mengucapkannya tanpa nada apa pun—bukan sombong, cuma fakta—dan entah kenapa aku harus menunduk sebentar dan pura-pura mengecek ponsel.
Karena begini masalahnya: dia menyisihkan yang bagus untuk seseorang yang tidak pernah dia tanyai untuk siapa.
Dia tidak tahu apa-apa. Dia cuma tahu ada seseorang yang datang tanggal sembilan dan meminta sembilan tangkai putih dan tidak mau menyentuh bunganya sampai dibungkus.
Dan dia menyisihkan yang bagus.
“Mas kerjanya dari rumah, ya?” tanyanya, sambil mulai memotong pangkal batang.
“Kok tahu?”
“Jam sembilan pagi Rabu.”
“Bisa aja saya lagi cuti.”
“Bisa.” Gunting. “Tapi orang cuti nggak beli bunga jam segini. Orang cuti bangun jam sebelas.”
“Itu data dari Tari?”
“Itu data dari saya.” Sudut bibirnya naik sedikit. “Tari punya divisi sendiri.”
Dari teras, suara Tari: “AKU DENGER!”
“Ya emang biar denger.”
Aku tertawa. Tawanya keluar sendiri, lagi, tanpa kuurus dulu—dan aku sempat mencatat itu di sudut kepalaku, cara orang mencatat bahwa lampu indikator di dashboard menyala warna baru.
“Freelance,” kataku. “Software. Klien saya di Singapura sama Australia, jadi jam kerjanya agak bebas.”
“Enak.”
“Enak banget.” Aku memutar kunci mobil di jari. Berhenti. Memasukkannya ke saku. “Kadang saya bangun, buka laptop, nggak ada apa-apa, terus ya udah.”
“Terus ngapain?”
“Ya cari kerjaan lain.”
“Kerjaan apa?”
“Kerjaan orang.” Aku mengangkat bahu. “Lampu jalan komplek mati, saya benerin. Pompa air tetangga rusak, saya benerin. Kemarin ada yang mobilnya nggak mau nyala, ternyata cuma akinya kendor.”
Clara berhenti menggunting.
Cuma sebentar. Setengah detik, mungkin kurang. Lalu dia melanjutkan.
“Sibuk juga, ya, buat orang yang katanya nggak ada kerjaan.”
“Nah, itu.”
“Enam puluh tiga,” katanya.
Aku menyerahkan uang pas. Dia menerimanya, dan jari-jarinya menyentuh telapak tanganku selama mungkin setengah detik.
Kami berdua tidak bereaksi.
Itu bagian yang aneh. Tidak ada yang menarik tangan buru-buru, tidak ada yang berdeham. Dia memasukkan uang itu ke laci, aku memasukkan tanganku ke saku, dan percakapannya berlanjut ke topik lain seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi sepanjang perjalanan pulang aku masih tahu persis di sebelah mana tanganku dia sentuh, dan itu membuatku merasa seperti orang yang sangat, sangat bodoh.
Aku sudah setengah berbalik ke pintu waktu dia bilang, “Bentar.”
Dia menghilang ke gudang belakang. Kembali membawa pot kecil—diameter mungkin dua belas sentimeter, tanah gelap, dan sesuatu berdaun tebal yang aku tidak tahu namanya.
“Ini buat Mas.”
“Buat saya?”
“Sansevieria. Lidah mertua.” Dia meletakkannya di meja, di antara kami. “Bonus.”
“Saya nggak—“
“Nggak usah bayar.”
“Bukan itu.”
Ada jeda.
Aku bisa mendengar selang Tari di luar. Aku bisa mendengar kipas angin di sudut. Aku bisa mendengar diriku sendiri tidak menyelesaikan kalimat, yang tidak pernah terjadi, karena aku selalu menyelesaikan kalimat.
“Ini yang paling susah dibunuh,” kata Clara, mengisi jeda itu untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya. “Serius. Nggak usah disiram tiap hari. Dua minggu sekali juga hidup. Kalau lupa sebulan juga masih hidup.”
“Kenapa dikasih ke saya?”
“Karena Mas sering ke sini.” Dia mengangkat bahu. “Dan karena kalau ada orang yang tiap bulan beli bunga potong doang, biasanya rumahnya sepi.”
Dia tidak bermaksud apa-apa dengan itu. Aku yakin sekali dia tidak bermaksud apa-apa. Itu kalimat penjual, kalimat basa-basi, jenis kalimat yang diucapkan seratus kali sehari di seratus toko.
Tapi ada sesuatu yang jatuh di dalam dadaku, dari ketinggian, dan tidak berhenti-berhenti jatuh.
Aku mengulurkan tangan ke pot itu.
Dan tanganku bergetar.
Bukan gemetar besar. Bukan yang kentara. Cuma getaran halus di ujung jari, jenis yang biasanya bisa kusembunyikan dengan menggenggam sesuatu—kunci, ponsel, apa saja—dan aku tidak sempat menggenggam apa-apa karena kedua tanganku sedang menuju ke pot itu.
Aku menariknya kembali.
Dan untuk sekitar tiga detik, aku tidak ada di sana.
Aku tahu itu terjadi. Aku selalu tahu waktu itu terjadi. Ada tempat yang tubuhku tuju kalau aku lengah sedikit saja, dan tempat itu punya bau rumah sakit dan bunyi mesin dan seorang perawat yang menjelaskan sesuatu dengan sangat sabar tentang cedera kepala pada anak usia empat tahun dan bagaimana dua hari adalah waktu yang cukup lama untuk berharap tapi tidak cukup lama untuk—
“Mas Aditya?”
Aku kembali.
Clara berdiri di seberang meja, tangannya masih di sisi pot, dan wajahnya tidak menunjukkan panik sama sekali. Itu yang menyelamatkanku. Kalau dia panik, aku tidak akan bisa memasangnya lagi secepat itu.
“Maaf.” Senyum. Nyala. “Kelilipan.”
“Kelilipan.”
“Serbuk. Dari yang tadi.” Aku menggosok mata kananku dengan buku jari, yang sama sekali tidak perlu digosok. “Ini nih kenapa saya nggak pernah punya tanaman. Alergi ringan.”
“Sansevieria nggak ada serbuknya.”
“Nah, berarti aman.”
Aku mengambil pot itu—tanganku sudah tenang, aku sudah menggenggam kunci mobil dengan tangan kiri, sistemnya sudah menyala kembali—dan mengangkatnya sedikit seperti orang menimbang buah.
“Berat juga.”
“Tanahnya basah.”
“Oke.” Aku mengangguk ke arahnya, ke arah Tari yang sudah muncul di ambang pintu entah sejak kapan, ke arah toko secara umum. “Makasih ya. Beneran.”
“Mas Aditya.”
Aku berhenti.
Aku sudah tahu, di detik itu, persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku sudah mengalaminya ratusan kali dalam lima tahun. Orang bertanya. Nada mereka turun setengah nada. Mereka bilang kamu nggak apa-apa? dengan wajah yang sudah menyiapkan kesedihan untukku, dan aku akan menjawab dengan sangat baik, dan mereka akan pergi merasa sudah bertanya, dan aku akan pulang dengan hutang yang bertambah sedikit.
Aku sudah menyiapkan jawabannya. Sudah tersusun. Tinggal ambil.
Clara berkata:
“Kalau daunnya mulai lembek di pangkal, itu kebanyakan air. Jangan ditambahin. Malah dikurangin.”
Hening.
“Oke,” kataku.
“Orang biasanya kebalik. Lihat daunnya jelek, terus disiram lebih banyak.” Dia menutup laci kasir. “Padahal itu yang bikin mati.”
Dan itu saja.
Aku keluar dari toko itu membawa sembilan krisan putih dan satu pot lidah mertua, dan aku duduk di mobil selama beberapa menit sebelum menyalakan mesin, dan aku tidak bisa memutuskan apakah aku baru saja lolos atau baru saja ketahuan.
Nisan sebelah kiri: Nayara Wisesa.
Nisan sebelah kanan: Bumi Arsanta Wisesa.
Tanggalnya berdempetan. Dua hari selisih. Orang yang lewat mungkin mengira itu salah cetak.
Aku berjongkok dan membagi sembilan tangkai itu. Lima di kiri. Empat di kanan.
Aku sudah lima tahun tidak bisa menjelaskan kenapa selalu begitu. Kalau dipikir-pikir dengan logika mana pun, seharusnya Bumi yang dapat lebih. Dia yang paling kecil. Dia yang paling tidak mengerti apa yang sedang terjadi padanya. Dia yang bertahan dua hari sendirian di ruangan yang dingin sementara aku duduk di kursi plastik di luar dan menandatangani formulir.
Tapi tanganku selalu memberi lima ke kiri.
Aku pernah mencoba membaliknya, sekali, di tahun ketiga. Aku berjongkok dan sengaja meletakkan lima di kanan, dan aku duduk di sana selama empat puluh menit dengan perasaan yang begitu salah sehingga akhirnya aku menukarnya kembali sebelum pulang.
Aku tidak pernah mencobanya lagi.
Matahari naik. Rumputnya baru dipotong—ada tukang yang lewat setiap dua minggu, aku sudah hafal jadwalnya, aku memberi uang rokok setiap kali bertemu.
Namanya Pak Salim. Dia sudah dua belas tahun di sini. Dulu, di tahun pertama, dia yang menemukan aku duduk di sini jam sepuluh malam dan mengantarku ke gerbang tanpa mengatakan apa-apa, dan besoknya menyapaku seperti tidak terjadi apa-apa, dan sampai sekarang tidak pernah menyinggungnya.
Ada banyak orang di hidupku yang tidak pernah menyinggung apa pun. Aku memilih mereka. Bukan dengan sengaja, tapi aku memilih mereka—orang-orang yang punya kebiasaan tidak bertanya, dan aku merapat ke mereka seperti orang mencari tempat teduh.
Pak Uung, dua puluh dua tahun jualan bunga, tidak pernah bertanya.
Bu Yuli, yang tahu seluruh isi RW, tidak pernah bertanya.
Bram bertanya sekali, lima tahun lalu, dan tidak pernah lagi.
Aku sudah membangun seluruh lingkaran hidupku dari orang-orang yang, karena berbagai alasan mereka sendiri, memutuskan untuk membiarkanku.
Dan sekarang ada satu orang yang tidak bertanya karena alasan yang sama sekali berbeda, dan aku belum tahu apa alasannya, dan itu membuatku tidak bisa duduk tenang.
Ponselku bergetar. Bram, di grup, mengirim foto anaknya yang katanya baru dapat bintang di buku tulis. Empat orang membalas dengan emoji tepuk tangan.
Aku mengetik: wah, calon insinyur nih. Awas jangan kayak bapaknya.
Terkirim. Bram membalas dengan tiga emoji marah, yang berarti dia tertawa.
Aku memasukkan ponsel ke saku dan menatap dua nisan itu dan tidak mengatakan apa-apa, karena aku sudah lama berhenti mengatakan apa-apa di sini.
Cuma, hari itu, ada satu kalimat yang terus kembali.
Kalau ada orang yang tiap bulan beli bunga potong doang, biasanya rumahnya sepi.
Dia tidak bermaksud apa-apa.
Aku tahu dia tidak bermaksud apa-apa.
Pot itu kutaruh di ambang jendela dapur.
Bukan di ruang tamu. Bukan di teras, di mana semua orang bisa lihat dan bertanya. Di dapur, di ambang jendela yang menghadap ke halaman belakang yang seluruhnya disemen, di tempat yang cuma aku yang lewat.
Malamnya aku makan mi instan sambil berdiri, seperti biasa, dan pot itu ada di sana di ujung penglihatanku.
Aku menatapnya cukup lama.
Lima tahun aku tidak punya satu pun benda hidup di rumah ini. Tidak ada tanaman, tidak ada ikan, tidak ada apa-apa yang butuh diingat. Itu bukan kebetulan. Aku tidak pernah menyusunnya sebagai aturan di kepalaku, tapi aku tahu persis bahwa itu aturan, cara orang tahu tanpa pernah membaca bahwa dia tidak boleh menginjak sesuatu.
Karena benda hidup itu punya cara tertentu untuk membuktikan sesuatu tentangmu.
Dia menunggu. Dia tidak mengeluh. Dia tidak bilang apa-apa waktu kau lupa. Dia cuma diam-diam mulai membusuk di bagian yang tidak kelihatan, dan waktu akhirnya kau sadar, kau tidak bisa lagi bilang bahwa kau tidak tahu.
Kau cuma bisa bilang bahwa kau tidak melihat.
Dan itu, ternyata, sama sekali bukan pembelaan.
Aku mencuci mangkuk mi-ku. Aku mengelap meja yang tidak kotor. Aku mematikan lampu dapur.
Lalu, dari ambang pintu, dalam gelap, aku berkata pada pot itu:
“Dua minggu sekali, ya.”
Dan aku merasa bodoh sekali, dan aku tetap menyiramnya keesokan paginya, dan aku sudah tahu—dengan cara yang sama seperti aku tahu tanggal tanpa melihat kalender—bahwa aku tidak akan membiarkan benda itu mati.
Bahkan kalau harus mati aku duluan.
- 1 Tanggal Sembilan
- 2 Yang Tidak Kutanyakan
- 3 Titipan Bu Yuli
- 4 Sesuatu yang Hidup reading
- 5 Hal-Hal yang Kubiarkan
- 6 Delapan Puluh Tangkai
- 7 Yang Datang Tanpa Alasan
- 8 Kursi Plastik
- 9 Enam Puluh
- 10 Tiga Hari
- 11 Gudang
- 12 Tangan Kosong
- 13 Rantai Dingin
- 14 Boleh, Kok
- 15 Hari Minggu
- 16 Kata Ganti
- 17 Yang Tidak Ada di Rumah Itu
- 18 Empat Porsi
- 19 Bulan Oktober
- 20 Adik Ipar
- 21 Yang Kamu Simpan
- 22 Cimahi
- 23 Surat dari Pak Haji
- 24 Yang Tidak Aku Betulkan
- 25 Empat Meter Kali Delapan
- 26 Giliran Aku
- 27 Dua Hari di Jakarta
- 28 Malam yang Tidak Aku Hitung
- 29 Sepeda Baru
- 30 Laptop
- 31 Yang Aku Pilih
- 32 Turunan
- 33 Sebelas Hari
- 34 Jarak
- 35 Daftar
- 36 Alasan yang Masuk Akal
- 37 Toko Tetap Buka
- 38 Yang Tersisa
- 39 Kasihan Dia
- 40 Panggilan dari Kemang
- 41 Laporan
- 42 Sesi Ketiga
- 43 Musim Sepi
- 44 Nay
- 45 Kursi Plastik Hijau
- 46 Syarat
- 47 Titik
- 48 Empat Lubang Paku
- 49 Semarang Datang
- 50 Tanggal Sembilan, Lagi
- 51 Yang Aku Minta
- 52 Yang Tak Pernah Layu