← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Twenty Six

Giliran Aku

POV: Aditya


Bulan November masuk dan tidak membawa apa-apa, dan itu sendiri sudah aneh.

Oktober selalu punya bentuk. November tidak pernah punya bentuk apa pun—cuma bulan yang lewat di antara dua hal, tempat aku biasanya kembali ke ritme yang sudah kubangun dan menunggu Desember.

Tahun ini November penuh.

Ada bongkaran meja beton di Cikutra. Ada rak yang harus dicat ulang karena empat tahun kena matahari sore. Ada pengukuran, daftar, dan satu sore di mana Tari dan aku menghabiskan tiga jam menghitung berapa banyak ember yang muat di bak mobil dan sampai pada jawaban yang salah dua kali.

Ada juga hal-hal yang bukan urusan pindahan.

Malam Sabtu di rumah, dengan bola yang tidak kami perhatikan. Pasar bunga jam tiga pagi, dua kali dalam sebulan, dengan Pak Endang yang sekarang memanggilku Mas Teman dengan nada yang jelas dimaksudkan sebagai lelucon panjang. Mi ayam di trotoar.

Dan satu perubahan yang tidak dibicarakan siapa pun: Clara mulai tidur di mobil.

Bukan tidur lama. Sepuluh menit, lima belas, di perjalanan pulang. Kepalanya bersandar ke jendela, lalu perlahan turun ke arah bahuku kalau tikungannya benar.

Aku menyetir lebih pelan waktu itu terjadi.

Aku menyetir lebih pelan di seluruh sisa perjalanan, dan aku tidak menyalakan radio, dan aku tidak pernah menyebutkannya.


Aku menyadari sesuatu tentang diriku sendiri di awal November, dan aku menyadarinya sambil mengangkat karung tanah.

Aku tidak lagi menghitung.

Bukan berhenti sepenuhnya. Mesinnya masih ada, dan masih menyala kalau ada pemicunya—kalau ada anak umur empat tahun, kalau ada seseorang memujiku, kalau seseorang memberiku sesuatu yang tidak bisa kubalas.

Tapi ritme dasarnya berubah.

Dulu, setiap tindakan punya kolom di sebelahnya. Angkat karung: satu cicilan. Betulkan pompa: satu cicilan. Antar pulang: setengah.

Sekarang, sebagian besar hari, kolomnya kosong.

Aku mengangkat karung tanah karena karungnya berat dan aku ada di sana.

Aku memikirkan itu selama beberapa hari sebelum menyadari bahwa aku sedang takut.

Karena kalau kolomnya kosong, tidak ada yang sedang dicicil.

Dan kalau tidak ada yang sedang dicicil, hutangnya tidak berkurang.

Dan kalau hutangnya tidak berkurang, dan aku tetap bahagia—

Aku berhenti di situ. Setiap kali. Selama sekitar dua minggu, setiap kali sampai ke titik itu, aku berhenti dan mengerjakan sesuatu.


Clara mulai menyimpan sesuatu di sekitar minggu kedua.

Aku tahu bentuknya sekarang. Aku sudah punya seluruh katalognya: ritme potong yang patah, rak yang disusun ulang tiga kali, ponsel yang dibalik telungkup di meja alih-alih diletakkan biasa.

Dan satu yang baru: dia mulai bertanya tentang Cikutra dengan cara yang aneh.

“Kamu suka yang Cikutra?”

“Bagus.”

“Bukan bagus. Suka nggak?”

“Aku bukan yang mau jualan di sana.”

“Aditya.”

“Suka.” Aku meletakkan kuas cat. “Terasnya bagus. Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Dan dua hari kemudian:

“Menurut kamu berapa lama sampai orang lama pindah ke sana?”

“Enam bulan?”

“Enam bulan itu lama.”

“Kamu yang bilang empat puluh persen dari orang lewat. Berarti sisanya orang tetap. Orang tetap pindah lebih cepat.”

“Iya,” katanya, dan tidak melanjutkan.

Dan tiga hari kemudian, sambil membongkar rak:

“Kalau seandainya aku nggak pindah ke Cikutra, kamu bakal gimana?”

Aku berhenti membongkar.

“Maksudnya nggak pindah gimana? Kamu udah tanda tangan.”

“Iya, aku tahu.” Dia mengibaskan tangan. “Ini pertanyaan bodoh. Lupain.”

Dan dia pergi ke gudang, dan aku berdiri di depan rak setengah bongkar itu dengan obeng di tangan.


Ini yang kupikirkan malam itu di rumah, dan yang membuatku duduk di ruang tamu sampai jam satu.

Ada dua hal yang bisa kulakukan.

Yang pertama: bertanya. Duduk di kursi plastik hijau dan bilang Ra, kamu nyimpen sesuatu, dan aku pengen tahu apa.

Aku punya hak untuk itu. Kami sudah tiga setengah bulan. Orang bertanya pada pacarnya. Itu hal paling normal di dunia.

Yang kedua: menunggu.

Dan aku duduk di ruang tamu dan menyadari bahwa alasanku memilih yang kedua tidak sepenuhnya mulia.

Sebagian dari alasannya memang benar: dia sudah memberiku hal yang sama. Tiga setengah bulan dia tidak bertanya. Dia menunggu sampai aku siap, setiap kali, tanpa satu pun tenggat.

Tapi ada bagian lain.

Bagian lain berkata: kalau kamu tidak bertanya, kamu tidak perlu mendengar jawabannya.

Aku sudah cukup lama mengenal diriku sendiri untuk tahu bahwa aku sangat, sangat ahli dalam menemukan alasan mulia untuk hal-hal yang sebenarnya kulakukan karena takut.

Jadi hari Kamis aku bertanya.


“Ra.”

“Hm.”

“Kamu nyimpen sesuatu.”

Dia meletakkan guntingnya.

Kami di teras. Jam setengah delapan. Tari sudah pulang. Lampu jalan menyala dan anak-anak di lapangan seberang sudah bubar sejak setengah jam lalu.

“Iya,” katanya.

“Aku nggak maksa.”

“Aku tahu.”

“Aku cuma mau bilang aku tahu ada.” Aku memutar gelas kopi di tangan. “Dan aku mau bilang—“

Aku berhenti.

Karena kalimat berikutnya sudah tersusun dan kalimat berikutnya adalah dan aku nggak akan nanya, dan itu adalah kalimat yang tepat, dan itu adalah kalimat yang sudah kupikirkan sepanjang malam Selasa, dan aku baru menyadari di detik itu bahwa aku tidak memercayai diriku sendiri saat mengucapkannya.

“Sebenernya nggak,” kataku.

“Nggak apa?”

“Aku mau nanya.” Aku meletakkan gelasnya. “Aku mau nanya, Ra. Aku pengen banget nanya. Dan aku hampir bilang ’aku nggak akan nanya’ karena itu kedengerannya lebih baik.”

Clara menatapku.

“Terus?”

“Terus aku sadar itu bukan kebaikan,” kataku. “Aku cuma lagi ngasih diri aku sendiri izin buat nggak denger.”

Ada bunyi motor lewat.

Dan lalu Clara berkata sesuatu yang membuat seluruh dadaku dingin:

“Aku dapet tawaran kerja.”


“Di Jakarta,” lanjutnya. “Dari Bu Ratna. Dosen pembimbing praktik aku dulu.”

Aku tidak bergerak.

“Dia punya studio di sana. Lima puluh acara sebulan, klien korporat, hotel, wedding besar.” Clara menggenggam gelasnya dengan dua tangan. “Dia nawarin partner. Bukan karyawan.”

“Kapan?”

“Emailnya masuk sepuluh hari lalu.”

Sepuluh hari.

Aku menghitungnya sebelum bisa menghentikan diriku, dan hitungannya mendarat di suatu tempat di dadaku dan tinggal di sana.

“Aku belum jawab,” katanya cepat.

“Oke.”

“Aditya.”

“Iya, aku denger.” Aku menarik napas. “Angkanya berapa?”

Dan dia menyebutkan angkanya.

Aku duduk di kursi plastik hijau dan mendengar angka itu dan langsung tahu, dengan bagian kepalaku yang tidak pernah berhenti bekerja, bahwa itu angka yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun yang baru saja kehilangan rukonya dan naik sewa tiga belas juta setahun.

“Itu bagus,” kataku.

“Iya.”

“Itu bagus banget, Ra.”

“Iya.”

Dan kami duduk di teras itu untuk waktu yang cukup lama.


“Kenapa kamu nggak cerita sepuluh hari?” tanyaku akhirnya.

Dan Clara, yang selama tiga setengah bulan selalu punya jawaban yang tepat, duduk di kursi plastik dan berkata:

“Karena aku takut kamu bakal seneng buat aku.”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Aku takut kamu bakal bilang itu bagus.” Dia tidak menatapku. “Aku takut kamu bakal bantuin aku mikirin logistiknya. Aku takut kamu bakal nawarin nganterin aku pas hari pindahan.”

Dia menelan.

“Karena kamu emang bakal ngelakuin itu,” katanya. “Kamu bakal ngelakuin semuanya dengan sangat baik. Dan kamu nggak akan sekali pun bilang kamu nggak mau aku pergi.”

Ada sesuatu yang naik di tenggorokanku.

“Ra.”

“Dan aku bakal berangkat,” lanjutnya, dan suaranya mulai tidak rata, “dan aku bakal sampe Jakarta, dan aku bakal buka kotak pertama, dan baru di situ aku sadar kamu nggak pernah minta aku tinggal.”

Anak kucing dari ruko sebelah lewat di teras. Ada bunyi rolling door diturunkan di suatu tempat di jalan.

“Aku baru sadar itu tiga hari lalu,” katanya. “Bahwa aku bukan nyimpen ini karena aku belum mutusin. Aku nyimpen ini karena aku takut sama reaksi kamu.”

“Reaksi apa?”

Dan Clara menoleh, dan matanya basah, dan dia berkata:

“Aku takut kamu bakal lega.”


Aku berdiri.

Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan waktu aku berdiri. Aku cuma berdiri, dan Clara juga berdiri, dan kami berdiri di teras toko bunga di Jalan Sukaluyu jam delapan kurang dua puluh malam dengan satu meter di antara kami.

“Aku nggak lega,” kataku.

Suaraku keluar salah.

“Aditya—“

“Dengerin.” Aku menutup jarak itu dan memegang kedua bahunya. “Waktu kamu bilang ’aku dapet tawaran kerja’, hal pertama yang aku rasain itu bukan lega. Hal pertama yang aku rasain itu—“

Aku berhenti, karena aku harus jujur, dan karena jujur membutuhkan waktu.

“Hal pertama yang aku rasain itu ’nah, akhirnya’,” kataku.

Clara menatapku.

“Bukan lega,” lanjutku. “Lebih jelek dari lega. Kayak orang yang udah lama nunggu tagihan dateng dan akhirnya dateng.”

“Aditya—“

“Aku udah bilang ke kamu bulan September,” kataku. “Aku bilang aku ngumpulin alasan buat pergi. Dan aku ngumpulin terus, Ra, tiap hari, tiga setengah bulan. Dan barusan kamu ngasih aku alasan yang paling bagus yang pernah ada.”

Tanganku masih di bahunya.

“Alasan yang masuk akal,” kataku. “Alasan yang bisa aku ceritain ke Bram tanpa keliatan pengecut. Dia dapet kesempatan bagus di Jakarta, ya udah, masa aku halangin.

Aku menelan.

“Aku bisa lihat seluruh bentuknya. Aku bisa lihat aku ngomong kalimat itu ke Bram di kafe. Aku bisa lihat mukanya waktu dia percaya.”

Clara mulai menangis dengan benar sekarang.

“Terus kenapa kamu cerita ini ke aku?” katanya.

Dan aku menariknya ke dalam pelukan dan bicara ke rambutnya.

“Karena kamu tiga setengah bulan lalu bilang sesuatu ke aku,” kataku, “dan aku nggak pernah lupa. Kamu bilang kamu ngeluarin tiap kali dia masih kecil, walaupun malu-maluin.”

Dia menggenggam kemejaku di punggung.

“Jadi ini,” kataku. “Ini punya aku. Ini yang aku simpen. Aku ngeluarin sekarang mumpung masih kecil.”


Kami tidak menyelesaikan apa-apa malam itu.

Itu yang ingin kucatat dengan jujur: tidak ada yang selesai. Clara tidak bilang dia akan tinggal. Aku tidak bilang dia harus tinggal. Tidak ada satu pun keputusan yang diambil di teras itu.

Kami menutup toko jam sembilan. Aku mengangkat rak. Dia menurunkan rolling door.

Di mobil, dia tidak tidur.

Di depan gerbang kos, dia tidak langsung turun.

“Aditya.”

“Hm.”

“Aku mau minta satu hal.”

“Boleh.”

“Kalau aku mutusin buat pergi—“ Dia berhenti. “Kalau. Aku belum mutusin apa-apa.”

“Iya.”

“Kalau aku pergi, aku mau kamu minta aku tinggal.”

Aku menoleh.

“Bukan supaya aku tinggal,” katanya cepat. “Aku mungkin tetep pergi. Aku beneran nggak tahu. Tapi aku mau denger kamu mintanya.”

“Kenapa?”

Dan Clara menatapku dengan mata yang masih basah dan berkata:

“Karena kamu belum pernah minta apa-apa ke siapa pun seumur hidup kamu.”


Aku pulang jam sepuluh.

Aku menyalakan lampu satu per satu. Aku berdiri di dapur. Aku menyiram sansevieria yang tidak butuh disiram.

Lalu aku pergi ke ruang kerja dan membuka laci di bawah dokumen rumah.

Map cokelat itu ada di sana. Persis di tempatnya. Debunya sudah kubersihkan tiga minggu lalu tanpa membukanya, yang merupakan hal paling tidak masuk akal yang pernah kulakukan dan yang tetap kulakukan.

Aku mengeluarkannya.

Aku meletakkannya di meja.

Aku duduk di depannya.

Dan aku berkata, keras-keras, ke ruangan kosong:

“Kalau dia pergi, aku bakal buka ini.”

Aku mendengar diriku sendiri mengatakannya dan langsung tahu apa yang baru saja kulakukan.

Aku baru saja menawar.

Lima tahun aku tidak berdoa dengan benar sekali pun, dan malam itu aku duduk di ruang kerja rumahku sendiri dan menawar dengan sesuatu yang bahkan tidak kupercaya ada.

Aku memasukkan map itu kembali ke laci.

Dan aku tidur jam satu, dan aku bermimpi tentang hujan untuk pertama kalinya dalam sangat lama, dan aku bangun jam empat dan tidak bisa tidur lagi.