← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Twenty Four

Yang Tidak Aku Betulkan

POV: Aditya


Dia cerita hari Kamis, jam setengah delapan, setelah Tari pulang.

“Aditya.”

“Hm.”

“Aku udah selesai mikirin.”

Aku meletakkan gunting.

Clara mengambil amplop cokelat dari laci meja kasir dan meletakkannya di meja di antara kami. Sudutnya lecek. Sudah dibuka dan dilipat berkali-kali.

“Pak Haji mau jual rukonya,” katanya. “Suratnya dateng Selasa dua minggu lalu. Kontrak aku habis bulan Maret.”

Aku menghitung.

“Empat setengah bulan.”

“Iya.”

“Dia sakit?”

“Februari kemarin masuk rumah sakit.” Clara duduk di kursi plastik satunya. “Anak-anaknya yang nyuruh. Dia bilang kalau dia masih sehat, dia nggak akan jual.”

Aku mengambil amplop itu. Aku tidak membukanya. Aku cuma memegangnya.

Dan aku bisa merasakan seluruh mesin di dalam kepalaku menyala sekaligus, dengan cara yang sama seperti dulu waktu ada laporan insiden masuk jam dua pagi.

Berapa harganya. Siapa yang jual. Berapa banyak pembeli potensial di area ini. Apakah bisa dibeli. Berapa cepat bisa dicairkan. Ada berapa ruko kosong dalam radius satu kilometer. Siapa yang punya. Siapa yang bisa dihubungi.

Semuanya, dalam waktu mungkin empat detik.

“Aku udah nyari,” katanya. “Ada dua di gang Nangka, satu di deket pasar. Yang deket pasar bagus tapi tujuh puluh lima juta setahun.”

“Sekarang kamu bayar berapa?”

“Empat puluh dua.”

Aku mengangguk.

Dan aku membuka mulutku untuk bicara.


Ini yang hampir keluar, dan aku ingat kalimatnya dengan sangat persis karena kalimatnya sudah lengkap tersusun sebelum aku selesai mengangguk:

Ra, aku bisa bantu. Aku punya tabungan yang nggak kepake. Kita beli aja rukonya, atas nama kamu, nanti kamu cicil ke aku tanpa bunga, atau nggak usah dicicil sama sekali—

Aku menutup mulutku.

Bukan dengan halus. Aku benar-benar menutupnya, di tengah tarikan napas, dan Clara melihatnya.

“Kamu mau ngomong sesuatu.”

“Iya.”

“Ngomong.”

“Nggak.”

“Aditya.”

Dan aku duduk di kursi plastik hijau dengan amplop cokelat di tangan dan berkata:

“Aku mau nawarin uang.”

Hening.

“Aku mau nawarin uang,” ulangku, “dan aku udah nyusun kalimatnya, dan kalimatnya bagus. Aku bahkan udah nyiapin bagian di mana aku bilang kamu boleh nyicil supaya kamu ngerasa itu bukan pemberian.”

Clara tidak berkata apa-apa.

“Dan aku nggak akan ngomong itu,” kataku. “Bukan karena aku nggak mau bantu. Aku pengen banget bantu, Ra. Ini bikin dada aku sakit.”

“Terus kenapa nggak?”

Aku meletakkan amplop itu di meja.

“Karena aku udah tahu bentuknya,” kataku. “Kalau aku transfer, dalam dua minggu ini bakal berhenti jadi masalah kamu. Terus aku bakal jadi orang yang nyelametin toko kamu. Terus tiap kali kita berantem, itu bakal ada di ruangan walaupun nggak ada yang nyebut.”

Aku menggosok wajahku.

“Dan yang paling jelek: aku bakal ngerasa lunas.”


Clara berdiri.

Dia berjalan ke arahku, dan aku pikir dia akan duduk di kursi satunya, tapi dia tidak.

Dia berjalan melewatiku ke rak dan mengambil dua gelas dan mulai membuat kopi.

Dan aku duduk di sana selama sekitar dua menit mendengarkan bunyi air, bunyi sendok, bunyi laci, sambil merasakan sesuatu yang tidak nyaman naik di tenggorokanku.

Karena aku baru saja melakukan sesuatu yang benar dan itu terasa seperti sedang kejam.

Dia kembali dengan dua gelas dan menyerahkan satu.

“Makasih,” katanya.

“Buat apa?”

“Buat nggak transfer.”

Dan lalu, sambil duduk:

“Dan buat bilang kamu pengen.”


Kami menghabiskan dua jam berikutnya dengan kalkulator.

Ini yang tidak kuduga akan terjadi, dan yang ternyata jauh lebih baik daripada apa pun yang bisa kuberikan dengan rekening bank.

“Yang deket pasar tujuh puluh lima,” kataku. “Kenapa mahal?”

“Karena ada dua pintu.”

“Kamu butuh dua pintu?”

“Nggak.”

“Berarti kamu bayar buat pintu yang nggak kamu pake.”

“Iya, tapi yang satu pintu di area situ udah nggak ada.”

Aku mengambil buku catatannya dan membalik ke halaman kosong.

“Oke. Coba kita pisahin.” Aku menggambar dua kolom. “Yang mana yang harus, yang mana yang enak-kalau-ada.”

“Maksudnya?”

“Kamu bilang omzet kamu empat puluh persen dari orang lewat. Berarti orang lewat itu harus.” Aku menulis. “Terus apa lagi yang harus?”

“Air. Harus ada air yang gede, aku ganti ember tiap hari.”

“Oke. Terus?”

“Terus tempat buat mobil bak berhenti sepuluh menit tanpa diklaksonin.”

Aku menulis itu juga.

“Terus?”

Clara berpikir lama.

“Terus... aku pengen ada tempat buat dua kursi,” katanya.

Aku berhenti menulis.

“Itu masuk mana?”

Dia melihat ke arah teras, ke dua kursi plastik yang berdiri di sana dengan satu kaki yang lebih pendek dan tulisan nama warung yang sudah pudar.

“Harus,” katanya.

Dan aku menulis dua kursi di kolom kiri, di bawah air dan orang lewat, dan aku tidak mengangkat kepalaku selama beberapa detik lebih lama daripada yang dibutuhkan.


Kami keluar hari Sabtu.

Enam tempat dalam satu hari. Aku menyetir, Clara membawa buku catatan, Tari ikut di kursi belakang karena—dengan kata-katanya sendiri—“kalau aku nggak ikut, nanti Teteh milih yang salah.”

Tempat pertama di gang Nangka. Sempit, gelap, dan pemiliknya menyebut angka yang jelas dinaikkan lima belas persen begitu melihat mobil.

“Nggak,” kata Clara di trotoar.

“Karena harganya?”

“Karena dia bilang ’buat perempuan mah cocok jualan bunga’.”

“Oh.”

“Iya.”

Tempat kedua bagus tapi tidak ada air.

Tempat ketiga ada air, ada orang lewat, dan ada bau dari tempat pembuangan di belakang yang menurut pemiliknya “cuma kalau angin dari timur.”

“Angin di Bandung dari mana?” tanya Tari.

“Timur,” kata Clara.

Tempat keempat kami tidak sempat masuk karena sudah ada yang menyewa dua hari sebelumnya.

Tempat kelima terlalu mahal.

Tempat keenam, jam empat sore, di Jalan Cikutra bagian bawah.


Ruko itu bekas fotokopi.

Masih ada bau tinta. Lantainya keramik putih yang sudah kuning di sela-selanya. Ada meja beton di tengah yang jelas dibangun permanen dan harus dibongkar.

Tapi ada teras.

Teras beton selebar dua meter, menghadap jalan, dengan atap yang sudah ada.

Clara berdiri di teras itu selama hampir lima menit tanpa berkata apa-apa.

Tari dan aku berdiri di belakangnya.

“Berapa, Pak?” tanya Clara akhirnya.

“Lima puluh delapan, Neng. Setahun.”

“Airnya?”

“Ada, tapi pompanya rusak.”

“Rusak kenapa?”

“Nggak tahu. Yang dulu bilang nggak nyala.”

Dan aku, tanpa sempat memutuskan apa pun, sudah berjalan ke belakang.

Pompanya di sudut belakang, di balik pintu yang engselnya sudah lepas satu. Aku berjongkok. Kabelnya sudah getas di sambungan, dan ada kapasitor yang menggembung di bagian atas—yang berarti pompanya tidak rusak, cuma butuh kapasitor lima belas ribu.

Aku sudah mengeluarkan ponsel untuk memfoto nomor serinya waktu aku berhenti.

Dan aku berjongkok di sudut belakang ruko bekas fotokopi di Cikutra selama beberapa detik dengan ponsel di tangan, menatap kapasitor yang menggembung, sambil mengerti persis apa yang sedang kulakukan.

Aku memasukkan ponsel ke saku.

Aku berdiri.

Aku kembali ke depan.

“Gimana, Mas?” tanya Clara.

Dan aku bilang:

“Aku nggak lihat.”


Dia menatapku.

“Kamu ke belakang.”

“Iya.”

“Terus kamu nggak lihat?”

“Aku lihat.” Aku memasukkan kedua tangan ke saku. “Terus aku berhenti lihat.”

Clara berdiri di teras beton itu dengan buku catatan di tangan, dan aku bisa melihat dia mengerti, dan aku bisa melihat momen dia memutuskan untuk tidak membicarakannya di depan pemilik ruko.

“Pak, kalau pompanya saya betulin sendiri, sewanya bisa turun?” tanyanya.

“Bisa. Lima puluh lima.”

“Boleh saya bawa tukang dulu buat lihat?”

“Boleh, Neng.”

Dan Clara menulis sesuatu di bukunya, dan kami pulang.


“Kamu marah?” tanyaku di mobil.

“Nggak.”

“Ra.”

“Aku beneran nggak marah.” Dia menatap ke luar jendela. “Aku lagi mikir.”

Tari, dari kursi belakang, dengan volume yang jelas dimaksudkan untuk didengar: “Aku nggak ada di mobil ini.”

“Tari.”

“Aku turun di perempatan.”

“Kamu masih dua kilometer dari rumah kamu.”

“Aku suka jalan.”

Kami menurunkannya di depan gang kosnya, dan dia turun sambil bilang “AKU NGGAK DENGER APA-APA” cukup keras sehingga dua orang di warung menoleh.

Lalu tinggal kami berdua.

“Aku mikirin gini,” kata Clara, setelah beberapa menit. “Kalau kamu tadi betulin pompanya, itu bakal jadi hal bagus.”

“Iya.”

“Itu bakal hemat aku tiga ratus ribu dan dua hari.”

“Iya.”

“Dan aku bakal seneng.”

“Iya.”

“Terus kenapa kamu berhenti?”

Aku memegang setir dengan dua tangan.

“Karena aku ngitung,” kataku.

“Ngitung apa?”

“Aku berjongkok di sana dan aku ngeliat kapasitornya, dan hal pertama yang muncul di kepala aku bukan ’ini gampang dibetulin’.” Aku menelan. “Yang muncul itu ’ini bakal bikin dia butuh aku dua hari lebih lama’.”

Clara diam.

“Dan aku nggak tahu itu dari kapan,” lanjutku. “Aku nggak tahu apakah itu udah lima tahun atau tiga bulan. Aku nggak tahu berapa banyak hal yang aku betulin di komplek aku selama lima tahun yang sebenernya bukan buat mereka.”

Kami sampai di lampu merah.

“Aku pikir aku orang baik, Ra.”

Dia menoleh.

“Kamu orang baik.”

“Aku nggak yakin.” Aku menatap lampu merah. “Orang baik itu nolongin karena orangnya butuh. Aku nolongin karena aku butuh ditolongin dari sesuatu.”

Lampu hijau.

Aku memindahkan gigi dan kami jalan lagi, dan Clara tidak mengatakan apa-apa selama mungkin satu kilometer.

Lalu dia berkata:

“Kamu tahu apa yang paling aku suka dari hari ini?”

“Apa?”

“Kamu tetep ke belakang buat lihat.”

Aku melirik ke arahnya.

“Kamu tetep pengen,” katanya. “Kamu cuma nggak jadi. Itu dua hal yang beda banget, dan yang kedua itu jauh lebih susah.”


Malam itu, di depan gerbang kos, dia tidak langsung turun.

“Aditya.”

“Hm.”

“Aku mau minta sesuatu.”

“Boleh.”

“Besok Minggu, betulin pompanya.”

Aku menoleh.

“Ra—“

“Dengerin dulu.” Dia berbalik menghadapku. “Aku nggak minta kamu betulin karena aku nggak bisa bayar tukang. Aku bisa bayar tukang. Tiga ratus ribu itu berat tapi bukan mustahil.”

“Terus kenapa?”

“Karena kalau kamu berhenti ngelakuin semua hal yang kamu bisa, kamu bukan lagi sembuh.” Dia menggenggam tanganku. “Kamu cuma pindah hukuman.”

Aku menatap tangannya.

“Dan aku mau kamu betulin pompanya sambil tahu bahwa aku nggak akan berutang apa-apa,” katanya. “Itu bedanya. Bukan kamu berhenti ngasih. Kamu ngasih terus, tapi nggak ada tagihannya.”

“Gimana caranya aku tahu itu?”

Dan Clara mengangkat bahu, dan tersenyum, dan berkata:

“Kamu nggak akan tahu. Kamu harus percaya.”

Dia mencium pipiku dan keluar dari mobil.


Hari Minggu aku ke Cikutra jam sepuluh pagi.

Aku sudah mengerjakan pintu putih itu jam enam.

Kapasitornya lima belas ribu di toko listrik dekat pasar. Kabel sambungan tujuh ribu. Waktu pengerjaan empat puluh menit, sebagian besarnya membersihkan lumpur kering dari rumah pompa.

Pompanya menyala di percobaan pertama.

Aku berdiri di sudut belakang ruko bekas fotokopi itu sendirian, dengan bunyi pompa yang mengisi tandon, dan aku mengirim pesan berisi video sepuluh detik.

Balasannya masuk dalam dua puluh detik.

Bunyinya kenceng banget.

Emang gitu. Nanti kalau tandonnya penuh dia berhenti sendiri.

Aditya.

Hm?

Makasih.

Dan aku duduk di lantai teras beton yang belum jadi apa-apa itu, di ruko yang belum tentu jadi tokonya, dengan bunyi pompa di belakang.

Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku selesai membetulkan sesuatu untuk seseorang dan tidak merasakan apa pun turun di neraca mana pun.

Cuma bunyi pompa.

Cuma seseorang yang bilang makasih.

Aku duduk di sana sampai tandonnya penuh, dan pompanya berhenti sendiri seperti seharusnya, dan aku pulang.