← Yang Tak Pernah Layu

Chapter Twenty

Adik Ipar

POV: Clara


Dia cerita hari Sabtu.

Bukan di toko. Kami di warung sate di daerah Cikutra, meja paling pojok, jam delapan malam, dan dia meletakkan tusuk satenya dan berkata:

“Ra, aku pernah nikah.”

Aku sudah tahu.

Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena kalau tidak, seluruh reaksiku jadi bohong: aku sudah tahu. Aku sudah tahu sejak entah kapan. Aku sudah menyusun bentuknya berminggu-minggu lalu dan menolak menyelesaikan kalimatnya, dan sekarang seseorang menyelesaikannya untukku, dan yang kurasakan bukan kaget.

Yang kurasakan adalah lega yang begitu besar sampai memalukan.

“Iya,” kataku.

“Kamu—“

“Aku nggak tahu. Tapi aku nebak.”

Dia mengangguk.

“Namanya Naya,” katanya. “Nayara.”

Ada bunyi kipas angin. Ada bunyi tukang sate mengipasi arang. Ada tiga meja lain yang sedang ribut karena satu di antaranya baru saja tumpah es teh.

“Kami punya anak,” katanya. “Namanya Bumi. Umurnya empat tahun.”

Aku meletakkan sendokku.

“Kecelakaan,” lanjutnya. “Lima tahun lalu. Hujan, jalan turun, mobil hilang kendali.” Dia mengucapkannya dengan sangat rata, dengan urutan yang jelas sudah dilatih, seperti orang membacakan pengumuman. “Naya meninggal di tempat. Bumi bertahan dua hari.”

Aku tidak berkata apa-apa.

Aku tidak berkata apa-apa karena tidak ada satu pun kalimat di seluruh bahasa Indonesia yang tidak akan membuat semuanya lebih buruk.

Aku mengulurkan tanganku ke atas meja, telapak menghadap atas.

Dia meletakkan tangannya di sana.

Dan kami duduk seperti itu di warung sate di Cikutra sampai satenya dingin.

Setelah beberapa saat, dia mulai bicara lagi.

Tidak tentang kecelakaan. Tentang hal lain.

“Bumi itu nggak mau makan kulit ayam,” katanya. “Harus dilepas dulu. Kalau ada satu potong kulit nempel, dia nggak mau makan seluruh piringnya.”

Aku tidak berkata apa-apa. Aku takut kalau aku bersuara, dia akan berhenti.

“Terus dia suka banget sama kata ’sebentar’.” Ada sesuatu di wajahnya yang bergerak. “Dia baru belajar kata itu, dan dia pakai buat semuanya. Disuruh mandi, ’sebentar’. Disuruh tidur, ’sebentar’. Dipanggil makan, ’sebentar’. Padahal dia nggak lagi ngapa-ngapain.”

Dia mengambil tusuk satenya, lalu meletakkannya lagi.

“Naya itu keras kepala,” katanya. “Orang kira dia kalem. Dia nggak kalem. Dia cuma nggak teriak.”

“Kalau marah gimana?”

“Diem.” Dia tersenyum, dan senyum itu keluar sendiri, dan aku menyadari bahwa aku belum pernah melihat versi ini sebelumnya. “Diem tiga hari. Terus tiba-tiba masak sesuatu yang ribet banget, terus taro di meja, terus nggak ngomong juga.”

“Terus?”

“Terus aku yang harus minta maaf duluan. Selalu.” Dia menggeleng pelan. “Lima tahun nikah, aku nggak pernah menang sekali pun.”

Dan lalu dia tertawa.

Sungguhan. Pendek, tapi sungguhan.

Dan dua detik kemudian wajahnya berubah, dan tawanya berhenti di tengah, dan dia menunduk ke arah piringnya.

“Sori.”

“Kenapa sori?”

“Nggak tahu.”

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Cerita lagi,” kataku.

Dia menatapku.

“Beneran?”

“Cerita lagi.”

Dan dia cerita—tentang gigi Bumi yang tumbuh terlambat, tentang Naya yang tidak bisa parkir mundur, tentang liburan ke Pangandaran yang seluruhnya hujan—selama mungkin dua puluh menit, dengan tanganku di tangannya, di warung sate yang sudah mulai membereskan kursi.

Dan setiap kali dia tertawa, ada dua detik sesudahnya di mana dia berhenti dan minta maaf.

Delapan kali. Aku menghitungnya tanpa bermaksud menghitung.


Yang tidak dia ceritakan, aku sadari sesudahnya, adalah kenapa.

Dia bilang mobil hilang kendali. Dia tidak bilang siapa yang menyetir. Dia tidak bilang kenapa mereka di jalan itu malam itu. Dia tidak bilang di mana dia sendiri berada.

Dan aku tidak bertanya.

Kami pulang jam sembilan. Di mobil dia menyalakan radio dan tidak bicara, dan di depan gerbang kos dia menciumku lebih lama dari biasanya, dan waktu dia melepas dia berkata:

“Makasih.”

“Buat apa?”

“Buat nggak nanya lanjutannya.”

Dan aku masuk ke kamar dan duduk di kasur dan menyadari bahwa kalimat itu memberitahuku dua hal sekaligus: bahwa ada lanjutannya, dan bahwa dia tahu aku tahu ada lanjutannya.


Sarah datang hari Rabu.

Aku tidak tahu itu Sarah. Aku bahkan belum pernah mendengar nama itu.

Yang aku lihat adalah perempuan sekitar akhir dua puluhan masuk ke toko jam dua siang, sendirian, dengan tas selempang dan sandal yang jelas dipilih untuk berjalan jauh.

“Selamat siang.”

“Siang, Mbak. Cari apa?”

Dia berdiri di tengah toko dan melihat sekeliling.

Bukan cara orang melihat toko bunga. Orang yang mau beli bunga melihat ke bunga. Dia melihat ke rak, ke meja kasir, ke kursi plastik di teras, ke gudang di belakang.

Dia sedang membaca ruangan.

“Ini Kembang Kata, ya?”

“Betul.”

“Mbaknya yang punya?”

“Iya.”

Dia mengangguk pelan.

“Mbak Clara?”

Dan sesuatu di perutku turun.


“Maaf,” katanya, dan senyumnya sopan sekali. “Saya Sarah.”

“Oh. Iya. Halo.”

“Saya adiknya Naya.”

Ada beberapa detik di mana aku benar-benar tidak tahu harus berdiri bagaimana.

Tari muncul dari gudang dengan ember, melihat kami berdua, dan mundur kembali ke gudang dengan kecepatan orang yang instingnya jauh lebih baik dari kelihatannya.

“Duduk, Mbak,” kataku. “Saya bikinin—“

“Nggak usah. Saya nggak lama.”

Dia tetap berdiri.

Dan aku berdiri di belakang meja kasirku sendiri, di toko yang kubangun sendiri selama empat tahun, dan merasa seperti orang yang sedang dinilai.

“Mas Adit tahu Mbak ke sini?” tanyaku.

“Nggak.”

“Oh.”

“Saya nggak akan cerita.” Dia meletakkan tasnya di kursi tapi tidak duduk. “Saya cuma pengen lihat.”

“Lihat apa?”

“Tempatnya.”

Dia berjalan ke rak dan menyentuh daun monstera—yang akhirnya laku bulan lalu, ini yang baru—dengan ujung jari.

“Dari Bu Yuli?” tanyaku.

Dia menoleh. Sedikit terkejut, lalu tidak lagi.

“Dari Bram,” katanya.


Sarah tidak marah.

Itu yang paling sulit dihadapi. Aku sudah menyiapkan diri untuk marah—aku pernah menghadapi ibu-ibu yang marah karena bunganya layu di hari ketiga, aku bisa menghadapi marah.

Sarah sopan. Sangat, sangat sopan.

“Mbak Clara udah lama kenal Mas Adit?”

“Sekitar tiga bulan.”

“Tiga bulan.” Dia mengangguk. “Mas Adit sering ke sini?”

“Cukup sering.”

“Berapa kali seminggu?”

Aku berhenti.

“Maaf,” katanya cepat, dan tangannya naik sedikit. “Itu nggak sopan. Saya minta maaf.”

“Nggak apa-apa.”

“Nggak, itu nggak sopan.” Dia menghela napas dan akhirnya duduk di kursi plastik. Bukan kursi Aditya—kursi satunya. “Saya latihan di jalan tadi. Saya udah nyusun kalimatnya dari Cimahi. Terus begitu masuk, semuanya hilang.”

Aku mengambil dua gelas.

Dia tidak menolak kali ini.


“Mas Adit itu,” katanya, setelah minum, “orangnya baik banget.”

“Iya.”

“Bukan baik yang biasa.” Dia memegang gelasnya dengan dua tangan. “Waktu Naya masih ada, Mas Adit yang nganterin saya ke kampus tiap hari selama setahun. Kampus saya nggak searah sama kantornya. Dia berangkat empat puluh menit lebih awal.”

Aku diam.

“Waktu bapak saya sakit, dia yang nginep di rumah sakit. Bukan saya, bukan Ibu. Dia.” Sarah menatap gelasnya. “Dan dia nggak pernah cerita ke Naya kalau dia capek. Saya tahu karena Naya pernah nanya ke saya, Mas Adit kelihatan capek nggak sih menurut kamu? Dan saya bilang nggak.”

Ada bunyi motor lewat.

“Saya bilang nggak,” ulangnya.

Dan lalu, tanpa mengubah nada sama sekali:

“Mbak Clara, saya mau nanya sesuatu dan saya nggak punya hak buat nanya ini.”

“Tanya aja.”

“Mas Adit udah cerita?”

“Sebagian.”

“Sebagian yang mana?”

Aku menimbang.

“Bahwa dia pernah nikah. Nama istrinya. Nama anaknya.” Aku menelan. “Bahwa ada kecelakaan lima tahun lalu.”

Sarah mengangguk.

“Terus?”

“Terus itu aja.”

“Dia nggak cerita malam itu?”

“Nggak.”

Dan sesuatu di wajah Sarah berubah.

Bukan lega. Bukan juga marah.

Sesuatu yang lebih mirip capek.


“Mbak.”

“Iya?”

“Saya nggak ke sini buat ngelarang apa-apa.” Dia meletakkan gelasnya. “Saya mau bilang itu dulu, biar jelas. Kakak saya udah meninggal lima tahun. Saya bukan orang yang mau Mas Adit sendirian selamanya. Saya nggak sejahat itu.”

“Saya nggak mikir gitu.”

“Mbak mikir gitu. Nggak apa-apa.” Dia tersenyum sedikit, dan senyumnya lelah. “Semua orang mikir gitu. Ibu saya juga mikir gitu. Makanya saya nggak bilang ke siapa-siapa saya ke sini.”

Dia menatap ke arah teras.

“Yang bikin saya ke sini itu hari Jumat kemarin.”

“Tahlilan?”

“Mbak tahu?”

“Saya nggak tahu itu apa. Saya cuma tahu dia ada acara.”

Sarah tertawa satu embusan, tanpa senang sama sekali.

“Nah, itu.”

Dia menggeser posisi duduknya.

“Lima tahun, Mbak. Lima kali. Dan lima-limanya, Mas Adit dateng jam lima sore dan nggak pernah duduk sekali pun.” Suaranya mulai tidak rata. “Tahun pertama dia duduk. Tahun kedua dia duduk. Tahun ketiga dia mulai ngurus parkir. Tahun keempat dia nyuci gelas. Tahun kemarin dia ngurus speaker, dan speaker itu nggak rusak, Mbak. Saya yang ngecek paginya. Nggak rusak.”

Aku memegang gelasku lebih erat.

“Dan semua orang di ruangan itu bilang, Mas Adit hebat ya, kuat ya, ikhlas ya.” Sarah menggeleng. “Lima tahun, Mbak. Lima tahun saya jadi satu-satunya orang yang lihat, dan saya nggak bisa ngomong apa-apa, karena kalau saya ngomong berarti saya nuduh dia nggak sedih. Dan dia sedih. Dia sedih banget. Cuma—“

Dia berhenti.

“Cuma nggak pernah di depan orang,” kataku.

Sarah menoleh.

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk, dia benar-benar melihatku.

“Mbak juga lihat,” katanya.

“Iya.”

“Dari kapan?”

“Dari hari pertama.”


Sarah diam cukup lama setelah itu.

Lalu dia berkata, pelan: “Saya kira Mbak nggak tahu.”

“Kenapa?”

“Karena kalau Mbak tahu, dan Mbak tetap—“ Dia mencari katanya. “Karena orang biasanya nggak tahan.”

“Saya belum tentu tahan.”

Aku mengucapkannya sebelum sempat menyaringnya, dan begitu keluar aku menyadari bahwa itu hal paling jujur yang kuucapkan sepanjang minggu.

Sarah menatapku.

“Bagus,” katanya.

“Bagus?”

“Kalau Mbak bilang pasti tahan, saya nggak akan percaya.” Dia mengambil tasnya. “Yang bilang pasti tahan itu biasanya yang belum lihat apa-apa.”

Dia berdiri.

“Mbak Clara.”

“Iya.”

“Saya mau minta maaf.” Dia menggantungkan tasnya di bahu. “Tadi waktu masuk, saya berdiri di sini dan saya nilai Mbak. Saya ngukur toko Mbak, saya ngukur umur Mbak, saya ngitung ini serius apa nggak.”

“Nggak apa-apa.”

“Ada apa-apanya,” katanya. “Itu bukan hak saya. Saya bukan siapa-siapa buat Mas Adit sekarang. Saya cuma orang yang kebetulan adiknya orang yang udah meninggal.”

Dan lalu suaranya pecah, cuma sekali, di tengah kalimat terakhir.

Dia langsung menutupnya. Dia menarik napas dan menegakkan bahunya dan mengeluarkan senyum sopan yang persis sama seperti waktu masuk.

Dan aku melihat gerakannya, dan aku mengenalinya, dan sesuatu yang dingin naik di punggungku.

Sarah melakukan hal yang sama persis.

Persis. Jeda yang sama, senyum yang dinyalakan dengan cara yang sama, kalimat yang langsung dialihkan.

Lima tahun di ruangan yang sama dengan orang itu.


Di ambang pintu, dia berhenti.

“Mbak.”

“Iya?”

“Boleh saya minta satu hal? Dan Mbak boleh bilang nggak.”

“Boleh.”

“Kalau nanti Mas Adit cerita—“ Sarah menggenggam tali tasnya. “Bukan yang sebagian. Yang lengkap.”

“Iya?”

“Tolong jangan bilang bahwa itu bukan salah dia.”

Aku mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Karena semua orang udah bilang itu.” Sarah menatapku dengan mata yang merah tapi kering. “Saya udah bilang. Ibu saya udah bilang. Bram udah bilang. Ustaz udah bilang. Psikolog yang cuma dia datengin dua kali juga pasti udah bilang.”

Dia menelan.

“Dan tiap kali ada yang bilang gitu, dia bilang makasih, terus dia nutup satu pintu lagi.”

Ada bunyi ojol lewat di depan.

“Terus saya harus bilang apa?” tanyaku.

“Saya nggak tahu, Mbak.” Sarah membuka pintu. “Saya beneran nggak tahu. Kalau saya tahu, lima tahun ini nggak akan kayak gini.”

Dan dia keluar.


Aku berdiri di belakang meja kasir selama beberapa menit setelah bel pintu berhenti bergoyang.

Tari keluar dari gudang.

“Teh.”

“Hm.”

“Aku dengerin dari tadi.”

“Aku tahu.”

“Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

Dia berdiri di sebelahku. Tidak menyapu, tidak mengambil apa-apa, cuma berdiri.

“Teh Clara.”

“Hm.”

“Itu tadi adiknya istrinya Mas Aditya?”

“Iya.”

Tari diam beberapa saat.

“Berarti Mas Aditya punya istri.”

“Punya.”

“Terus istrinya—“

“Iya.”

Dan Tari, dua puluh dua tahun, yang tiga bulan lalu bertanya Mas dulu nikah? di teras dan langsung menyesalinya seumur hidup, menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Ya Allah,” katanya. “Ya Allah, Teh. Aku—“

“Tari.”

“Aku nanya di depan mukanya.”

“Tari, dengerin.”

“Aku nanya sambil ketawa—“

“Tari.”

Dia berhenti.

“Dia nggak marah,” kataku. “Dia nggak akan pernah marah. Itu bagian dari masalahnya.”

Dan Tari berdiri di sebelahku di belakang meja kasir dengan mata yang mulai basah, dan aku memeluknya sebentar, dan lalu menyuruhnya menyapu teras, dan dia pergi.

Aku menutup toko jam delapan.

Di kos, sebelum tidur, aku membuka aplikasi catatan dan melihat satu-satunya catatan yang tersemat di sana.

Kalau kamu mulai ngumpulin lagi, bilang.

Aku menatapnya lama sekali.

Lalu aku mengetik catatan kedua, di bawahnya:

Jangan bilang itu bukan salah dia.

Dan aku menutup aplikasinya dan mematikan lampu dan berbaring di kegelapan sambil memikirkan seorang perempuan yang lima tahun jadi satu-satunya orang yang melihat, dan yang belajar tersenyum dengan cara yang sama persis seperti orang yang dilihatnya.