← Chapters Ch. 9 / 52

Chapter Nine

Jam Tangan Papa

(POV Abi)

Sabtu sore itu hujan lagi, dan Cynthia datang ke fotokopian bukan dengan langkah biasanya.

Biasanya dia masuk kayak pemilik saham: bel pintu bunyi, “haaai”, langsung nyelonong ke kursi tunggu, kadang bawain gorengan buat Koh Aseng biar diizinin ganggu aku kerja (Koh Aseng, pengkhianat, selalu terima). Sore itu beda. Dia masuk pelan. Payungnya ditutup lama banget di depan pintu, kayak lagi mengulur waktu. Terus dia berdiri di depan kasir, dua tangannya megang sesuatu yang dibungkus saputangan.

“Bi.”

“Hm?” Aku lagi jongkok ngisi tinta.

“Aku bawa... barang rusak.”

“Tumben ngomongnya pelan. Biasanya kamu nyodorin barang sambil ngarang cerita dulu.”

Dia nggak bales bercandaanku. Nah, itu yang bikin aku berdiri.

Di atas meja kasir, dia buka saputangannya pelan-pelan. Isinya jam tangan. Jam tangan laki-laki, tali kulit yang sudah pecah-pecah, kacanya buram di pinggir, casing-nya kusam — tapi kusamnya bukan kusam barang murahan. Ini barang bagus yang sudah lama banget berhenti dirawat. Atau lebih tepatnya: sudah lama banget nggak ada yang tega nyentuh.

“Ini beneran rusak,” katanya. “Bukan kayak senter kemarin.”

“Senter kemarin emang kenapa?”

“Fokus, Abi.”

“Iya. Maaf.” Kuangkat jam itu hati-hati. Berat. Mesinnya mesin mekanik, bukan baterai. Digoyang pelan, nggak ada suara rotor. Mati total, dan dari kondisi jarum yang berhenti plus karat halus di sela casing... “Ini matinya udah lama. Bertahun-tahun?”

“Enam tahun.” Dia diam bentar. “Punya Papaku.”

Kuangkat mata. Dia lagi natap jam itu, bukan aku.

“Papa meninggal waktu aku SMP kelas satu. Ini jam yang dia pakai tiap hari — tiap hari, Bi, sampai mandi aja kadang lupa dilepas, Mama sampai sebel.” Dia senyum dikit, jenis senyum yang nggak sampai ke mana-mana. “Habis Papa nggak ada, jamnya masih jalan. Aku yang nyetel tiap pagi. Terus suatu hari dia berhenti, dan... udah. Aku bawa ke tiga tempat servis. Dua bilang nggak bisa, spare part-nya udah nggak ada. Yang ketiga bilang bisa, tapi mesinnya diganti mesin baru semua.” Dia akhirnya natap aku. “Itu kan artinya bukan jam Papa lagi.”

Di luar hujan makin rapat. Koh Aseng, yang biasanya suka nimbrung, entah sejak kapan sudah menghilang ke belakang bawa-bawa alasan ngecek stok.

“Boleh kubuka?”

Dia ngangguk.

Kubawa ke meja kerjaku di pojok, kunyalakan lampu servis, kupasang kaca pembesar. Casing belakang kubuka pelan — dan mesinnya kelihatan: mekanik tua, buatan bagus, tapi kondisinya persis dugaanku. Oli keringnya sudah jadi kerak. Ada bekas rembesan air lama — mungkin kejadian “lupa dilepas pas mandi” itu — yang ninggalin karat halus di beberapa titik. Pegas utamanya... kutes pelan... masih hidup. Roda giginya utuh, cuma satu yang aus di giginya, itu pun kecil.

“Gimana?” Suaranya dari belakang punggungku, nahan-nahan.

“Yang bilang nggak bisa itu nggak bohong,” kataku jujur. “Spare part jam ini udah nggak diproduksi. Kalau nunggu part orisinal, nggak bakal ketemu.”

“...Oh.”

“Tapi yang bilang harus ganti mesin juga salah.” Kuputar kursiku ngadep dia. “Mesinnya nggak minta diganti. Mesinnya cuma minta dibersihin, diolinya lagi, sama satu gigi yang aus itu... nggak perlu part baru. Giginya masih bisa diselamatin, dirapiin manual, satu-satu. Cuma butuh waktu. Lama. Dan aku belum pernah ngerjain jam sehalus ini, jadi aku bakal pelan-pelan banget.”

“Berapa lama?”

“Seminggu? Dua minggu? Aku nggak mau janji cepat terus buru-buru. Ini bukan barang yang boleh dikerjain buru-buru.”

Cynthia natap aku lama. Terus ngangguk, satu kali, kayak orang nyerahin sesuatu yang lebih besar dari jam.


Dua minggu itu, tiap ada waktu kosong — habis tutup toko, malam habis PR, subuh sebelum rute koran — aku duduk sama jam itu.

Bongkar penuh. Tiap komponen kufoto dulu posisinya pakai HP butut (fotonya burem, tapi cukup), kurendam yang boleh direndam, kusikat halus pakai kuas cat air yang bulunya kupotong, kukeringkan, kuolesi oli jahit setetes-setetes pakai jarum. Gigi yang aus kukikir manual di bawah kaca pembesar, sepersekian mili, sambil nahan napas. Salah gores dikit, selesai sudah — nggak ada part gantinya di dunia ini.

Dan sepanjang ngerjain itu aku mikirnya gini: enam tahun jam ini mati. Enam tahun anak itu bawa-bawa jam mati — pindah rumah, pindah kota, pindah sekolah — nggak dibuang, nggak dipajang jadi kenangan, tapi terus dicariin tukang servis. Orang nyimpen barang kenangan itu biasa. Orang enam tahun nggak nyerah nyalain lagi barang kenangan — itu beda. Itu bukan nyimpen jam.

Itu nungguin.

Hari keempat belas, subuh, habis komponen terakhir terpasang, aku mutar kenop pemutarnya pelan-pelan — sekali, dua kali, tiga kali —

tik.

tik. tik. tik.

Aku duduk sendirian di meja kerja, jam lima pagi, dengerin bunyi paling kecil sedunia, dan nyengir sendiri kayak orang gila.


Sorenya dia datang. Kuletakkan jam itu di meja kasir, di atas saputangan yang sama, dalam keadaan hidup — jarumnya sudah kucocokin, detiknya jalan tenang, kacanya sudah kupoles sampai bening lagi.

Cynthia nggak langsung nyentuh.

Dia berdiri aja dulu, natap jarum detik yang gerak itu, lama, kayak lagi mastiin matanya nggak bohong. Terus tangannya maju, pelan banget, ngangkat jam itu, ditempelin ke telinganya.

Dan pecah.

Bukan nangis yang heboh. Lebih serem: air matanya turun aja gitu, banyak, tanpa suara, sementara dia berdiri meluk jam tangan bapaknya di depan kasir fotokopian, dan aku — yang bisa benerin apa aja — berdiri di seberang meja tanpa tahu harus benerin situasi ini pakai obeng yang mana.

“Cynthia. Kamu— eh— itu— kalau ada yang kurang pas nanti bisa kusetel lagi—“

Dia geleng-geleng kenceng, masih nggak bisa ngomong.

“—atau talinya? Talinya emang belum kuganti soalnya takut kamu mau tali aslinya—“

“Abi.” Suaranya akhirnya keluar, berantakan, setengah ketawa setengah yang satunya. “Diem dulu. Bentar. Ini bukan nangis sedih. Kamu nggak usah benerin apa-apa.”

Jadi aku diem. Susah, tapi diem. Hujan lagi di luar, mesin laminating bunyi pelan, dan seorang anak perempuan berdiri di toko fotokopi sambil dengerin detik jam yang enam tahun dia tungguin.

Pas udah tenang, dia ngelap muka pakai lengan — udah kayak anak kecil — terus natap aku, matanya masih merah, dan bilang:

“Berapa pun yang kamu minta, nggak akan cukup. Kamu tahu itu, kan.”

“Nggak minta apa-apa. Ini masuk sistem barter. Kamu udah bayar pakai bekal—“

“Abi.”

“—bulan ini aja udah delapan belas kotak, jadi secara hitungan justru aku yang—“

“Abimanyu.” Dia motong, dan senyumnya waktu itu — campuran mata bengkak, hidung merah, dan sesuatu yang nggak bisa kunamain — bikin kalimatku bubar di tengah jalan. “Untuk sekali ini aja. Nggak usah dihitung. Aku cuma mau bilang satu hal, dan kamu tugasnya cuma nerima. Bisa?”

Aku nelen ludah. “...Bisa.”

“Makasih.” Dia meluk jam itu ke dadanya. “Makasih udah ngidupin lagi jantungnya Papaku.”

Dan telingaku nggak panas.

Itu yang aneh. Biasanya kalau dikasih sesuatu — barang, traktiran, bahkan pujian — badanku langsung nyalain alarm: telinga panas, otak ngitung, kaki pengin kabur. Sore itu nggak. Kata makasih-nya masuk aja, pelan, ke satu tempat di dada yang aku nggak tahu ada, dan bukannya berat kayak tagihan — malah anget. Kayak nasi baru mateng.

Harusnya di situ aku sadar ada yang mulai berubah. Dalam pembelaanku: aku kan baru pertama kali. Mana kutahu rasa diterima dengan benar itu begitu.

Yang jelas malam itu, pertama kalinya seumur hidup, aku susah tidur bukan karena mikirin utang.