← Chapters Ch. 21 / 52

Chapter Twenty One

Obat dari Orang Lain

(POV Abi)

Aku jarang sakit. Bukan sombong — nggak sempat aja. Badan yang tiap hari dipakai kayaknya paham sendiri jadwalnya nggak muat buat tumbang.

Tapi minggu itu musim hujan lagi jahat-jahatnya, tiga hari berturut-turut aku kehujanan (dua di rute koran, satu gara-gara payung dipinjam anak kelas sebelah — jangan tanya kenapa kupinjamkan, kalian sudah kenal aku dua puluh bab), dan Kamis subuh, pas bangun, aku langsung tahu dari bunyi kepalaku sendiri: wah. Kena.

Panas. Ngilu semua. Tenggorokan kayak habis nelen amplas nomor kasar.

Tapi ya... koran nggak bisa nunggu. Bang Jali cuma punya aku buat rute itu. Jadi kubungkus badan pakai jaket dobel, kuselesaikan rute dengan kecepatan tujuh puluh persen, kutolak pisang goreng Bu Sari dengan kalimat yang kayaknya nggak nyambung (beliau sampai natap aku aneh), dan berangkat sekolah dengan tekad satu: jangan kelihatan. Duduk anteng, nggak usah banyak gerak, pulang cepat, tidur. Besok sembuh. Sistem lama, teruji.

Sistem itu bertahan sampai jam kedua.

“Abi.”

Aku ngangkat kepala dari lipatan tangan — kayaknya sempat ketiduran — dan Laras udah berdiri di sebelah mejaku, buku absen kepeluk, natap aku dengan tatapan memeriksa.

“Eh. Laras. Kenapa? Absen?”

“Kamu demam.”

“Nggak—“

“Bibirmu pucat, matamu berat, dari tadi kamu nelen ludah terus — tenggorokan ya?” Dia naruh sesuatu di mejaku. Plastik kecil dari koperasi: obat penurun panas, madu sachet, air anget dalam botol — botol yang kayaknya dia isi sendiri dari dispenser guru. “Yang tabletnya itu, bukan yang kapsul. Kamu yang kapsul suka mual, dulu pernah pas kelas sepuluh. Minum abis ini, jangan nunggu istirahat. Terus jam olahraga nanti kamu kubilangin izin ke Pak Guntur.”

Semuanya diucapkan datar, cepat, urut — kayak beliau baca pengumuman — terus dia balik ke mejanya tanpa nunggu jawaban, nyatet sesuatu di buku absennya.

Aku natap plastik itu. Sistem penolak otomatisku sebenarnya udah mau jalan — nggak usah, Laras, nanti kuganti, berapa ini — tapi demam bikin sistemnya lemot, dan sebelum sempat protes, otakku yang setengah mateng cuma sempat mikir satu hal, polos, tanpa curiga:

Laras hafal banget ya aku mual sama kapsul. Kelas sepuluh itu kapan... lama banget.

Kuminum obatnya. Tenggorokanku bilang makasih.

Dan aku nggak lihat — demam, bangku pojok, mata berat, semuanya jadi alasan — aku beneran nggak lihat bahwa dua meja di barisan tengah, ada orang yang sedari tadi merhatiin seluruh adegan itu dari awal sampai akhir tanpa berkedip.


Cynthia hari itu, dari pagi, sebenarnya udah gerak duluan.

Ini kutahunya belakangan, ya — dari cerita Sinta, dari Dimas, dari potongan-potongan yang kususun ulang pas semuanya udah lewat. Jadi kuceritain sekarang biar kalian nggak sebuta aku waktu itu:

Pagi itu Cynthia bawa termos. Isi bubur. Masak subuh-subuh — dia udah curiga dari chat semalam yang balasanku pendek-pendek dan ada typo (aku nggak pernah typo, katanya; dia hafal). Rencananya jam istirahat: bubur, terus maksa aku ke UKS, terus entah apa lagi, pokoknya udah disusun.

Terus jam kedua kejadian.

Dia nonton — dari dua meja — orang lain sampai di aku duluan. Bukan cuma duluan: lengkap. Obat yang bener, plus catatan kaki medis (yang kapsul kamu mual, dulu kelas sepuluh), plus urusan izin olahraga yang udah dibereskan sebelum aku sadar butuh izin. Semua yang dia siapkan semalaman, udah ada versi lebih cepatnya, lebih hafalnya, lebih bertahun-tahunnya.

Jam istirahat, dia tetap dateng ke mejaku bawa termos. Senyum. Nyuapin bubur — aku inget itu, buburnya enak, ayamnya disuwir searah. Aku inget bilang “kok kamu tahu aku sakit” dan dia jawab “tahu aja” dengan nada yang... yang waktu itu kupikir datar karena khawatir.

Aku inget dia nanya, sambil ngadukin bubur: “Tadi... obatnya udah diminum?”

“Udah. Dikasih Laras. Untung dia, aku nggak kepikiran ke koperasi.”

“...Iya. Untung.”

Nadanya jatuh. Dua-duanya. Un-tung. Turun tangga.

Dan aku — pemegang gelar detektor nada satu-satunya se-sekolah, penemu teori nada-papa-turun, orang yang bisa dengar pulpen macet dari tiga meja — nggak dengar apa-apa. Demam 38 koma sekian derajat ternyata cukup buat matiin satu-satunya bakatku di momen paling dibutuhkannya.

Dia nyuapin sampai buburnya habis. Ngerapiin termos. Nyuruh aku tidur di lipatan tangan sampai bel. Semua dilakukan dengan bener, lembut, nggak ada yang salah satu pun.

Cuma satu yang beda, dan ini kutahunya juga belakangan: hari itu, untuk pertama kalinya sejak jadian, dia pulang duluan tanpa nunggu aku di gerbang.


Tiga hari kemudian aku sembuh total. Sistem lama teruji: tidur, madu, obat, badan nurut.

Dan pas sembuh, pas sensor-sensorku nyala semua lagi, baru kebaca ada yang nggak beres di tempat lain:

Cynthia masih senyum. Masih bekal. Masih gandengan dari gerbang. Masih semua.

Tapi bunyinya beda.

Chat malamnya jadi pendek. Nggak ada lagi laporan absurd jam sepuluh malam (“aku nemu video kucing jatuh dari kulkas, penting, tonton”). Di fotokopian dia tetap duduk di kursi kesayangannya, tapi ngeliatnya ke jendela, bukan ke aku kerja. Ketawanya keluar di tempat yang bener, berhentinya kecepetan — pola lama, pola hari Kamis-tangga-belakang dulu.

Dan tiap aku nanya “kamu kenapa?”, jawabannya bukan “nggak papa”.

Jawabannya: “Capek dikit. Minggu ini banyak tugas.”

Yang mana lebih serem. Soalnya itu bukan bohong yang nadanya turun. Itu bohong yang disiapin.

Malam Minggu, habis dia pulang dari fotokopian — pulangnya lebih awal lagi, alasan tugas lagi — aku duduk di depan buku sketsa, mau gambar kayak biasa buat ngerapiin kepala.

Nggak keluar apa-apa. Setengah jam, kertas kosong.

Baru kali itu aku ngerasain: ada yang rusak, aku tahu ada yang rusak, kedengeran jelas bunyinya — tapi pas dibuka, aku nggak nemu di mana. Semua barang yang pernah lewat tanganku, rusaknya selalu ketemu. Ini enggak.

Dan yang paling bikin nggak bisa tidur: perasaan bahwa rusaknya itu... ada hubungannya sama aku. Entah di bagian mana.