Chapter Five
Detektif Paling Salah Fokus
(POV Abi)
Hari keempat, bekal masih terus datang, dan aku resmi membuka penyelidikan.
Perlu digarisbawahi dulu, biar nggak salah paham kayak seisi sekolah: aku menyelidiki BUKAN karena ge-er ada penggemar rahasia. Aku menyelidiki karena mau MENGEMBALIKAN. Ada bedanya. Bedanya jauh.
“Nggak ada bedanya,” kata Dimas.
“Beda, Dim. Aku cuma mau tahu orangnya siapa, biar bisa kuganti semua biayanya, terus bilang ke dia nggak usah repot-repot lagi.”
“...Bi, lo sadar nggak sih itu kedengarannya kayak orang mau MUTUSIN orang yang bahkan belum jadian sama lo?”
Kuabaikan. Penyelidikan dimulai.
Langkah satu: analisis waktu. Bekal selalu sudah ada di tasku sebelum jam istirahat pertama. Tasku kutinggal di kelas pas pelajaran olahraga dan pas aku dipanggil bantu-bantu (dan aku sering dipanggil bantu-bantu). Artinya jendela waktunya lebar. Pelakunya sabar dan tahu jadwalku. Mengerikan.
Langkah dua: analisis barang. Tiga kotak bekal, tiga-tiganya beda, tiga-tiganya bagus. Artinya pelakunya... punya banyak kotak bekal. Oke, langkah dua kurang berhasil.
Langkah tiga: interogasi.
“Bu Kantin tahu nggak, kira-kira anak sini yang suka masak?”
“Yang suka makan sih ibu hafal semua.”
Gagal.
“Pak Har lihat nggak, ada yang masuk kelas XI-3 pagi-pagi selain anak piket?”
Pak Har, satpam sekolah, berpikir keras. “Yang bawa-bawa rantang gitu?”
“Nah! Iya!”
“Nggak ada.”
GAGAL.
Langkah empat, yang nggak kurencanakan: kasus ini bocor.
Salahnya Dimas. Dia cerita ke anak kelas sebelah, anak kelas sebelah cerita ke grup angkatan, dan dalam dua hari, “Bekal Misterius XI-3” jadi topik nasional tingkat sekolah. Ada yang bikin polling tersangka. POLLING. Kandidatnya sebelas orang, termasuk Bu Kantin (masuk akal), Laras (dia langsung bilang “bukan aku” dengan muka datar, dan entah kenapa habis itu jadi pendiam), dan — ini yang paling nggak masuk akal — SAYA SENDIRI. Teorinya: aku sengaja naruh bekal di tas sendiri biar terkenal. Yang bikin teori ini kuseret ke kantin dan kutraktir es teh sambil kukasih kuliah singkat tentang fitnah.
Anak baru itu — Cynthia — ikut nimbrung sekali waktu gosip lagi panas-panasnya di kelas. Dia ngangkat tangan kayak lagi diskusi ilmiah dan bilang, “Mungkin dari ibu-ibu kompleks yang korannya dianter Abi? Kan katanya dia suka nolongin orang.”
Satu kelas langsung riuh — masuk akal, masuk akal banget — dan teori itu bertahan jadi teori terkuat selama dua hari, sampai aku mematahkannya sendiri: ibu-ibu kompleks kalau ngasih itu terang-terangan, dicegat di depan pagar, pakai acara maksa. Sudah kubuktikan bertahun-tahun. Ngumpet-ngumpet bukan gaya mereka.
“Yaaah,” kata Cynthia waktu teorinya patah, dengan nada kecewa yang — sekarang kalau kuingat-ingat lagi — sedikit berlebihan untuk orang yang cuma iseng nebak.
Waktu itu aku nggak mikir apa-apa. Ya iyalah. Dari semua tersangka di daftar pollingku, anak baru justru yang paling nggak mungkin: dia baru seminggu di sini, mana tahu dia jadwalku, mana kenal dia sama aku.
Detektif macam apa aku ini.
Hari keenam, aku pasang jebakan.
Subuh itu rute koran kukebut — maaf ya Bu Sari, pisangnya lain kali — dan jam enam kurang seperempat aku sudah duduk manis di kelas yang masih gelap, di pojok belakang, sarapan roti sambil menunggu seperti pemburu di film dokumenter.
Jam enam: anak piket datang, kaget lihat aku, kutitipin salam ke pel.
Jam setengah tujuh: kelas mulai ramai.
Jam tujuh: nggak ada kejadian mencurigakan.
Jam istirahat: kubuka tas dengan kemenangan di dada — dan menemukan kotak bekal baru, isinya nasi uduk, di dalam tasku, yang seingatku NGGAK PERNAH LEPAS DARI PUNGGUNGKU KECUALI...
...kecuali pas upacara. Empat puluh lima menit. Tas seangkatan numpuk semua di kelas.
Aku duduk, menatap nasi uduk itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidup merasakan hormat yang tulus kepada lawan.
“Dim.”
“Hm.”
“Orang ini pinter banget.”
“Bi, gue mau ngomong sekali aja dan tolong dengerin.” Dimas menatapku serius. “Enam hari. Enam bekal. Lo belum makan SATU PUN, semuanya lo kasih orang atau lo bawa pulang buat eyang lo, terus lo cuciin kotaknya sampe kayak baru. Menurut gue ya, siapa pun dia, sekarang tuh dia bukan lagi berjuang ngasih lo makan. Dia lagi perang. Perang harga diri.”
“Terus aku harus gimana? Makan bekal orang nggak dikenal?”
“Lah terus kenapa kotaknya lo cuciin bersih-bersih tiap hari kalau lo nggak peduli?!”
Aku terdiam.
“...Ya kan kotornya nggak enak dilihat.”
“BUKAN GITU— ya udahlah.” Dimas mengangkat kedua tangannya, pasrah ke alam semesta. “Gue cuma penonton. Lanjutin aja perangnya. Seru kok.”
Perang, katanya.
Oke. Kalau memang perang, malam itu aku menyusun strategi baru sambil mengelap kotak nasi uduk yang baru kucuci: aku bakal balas lewat jalur yang sama. Besok, kotak ini kukembalikan TIDAK kosong. Kuisi. Masakanku memang cuma level nasi goreng kecap, tapi setidaknya pesannya sampai: kita impas, dan kamu boleh berhenti.
Aku tidur dengan perasaan seorang jenderal yang yakin menang.
Besoknya, kotak berisi nasi goreng kecapku memang diambil. Tapi di tempat yang sama muncul kotak lain — lebih besar — plus sebotol teh manis dingin, plus, untuk pertama kalinya, secarik kertas kecil.
Tulisannya rapi, hurufnya bulat-bulat:
“Nasi gorengnya enak. Tapi kamu pikir bisa bikin aku berhenti? Lucu.”
Aku menatap kertas itu lama.
Lama banget.
Dan di tengah bingung, kesal, sama — anehnya — pengin ketawa, satu hal jadi jelas: lawanku bukan cuma pintar dan sabar.
Lawanku menikmati ini.