Chapter Thirty Seven
Toga
(POV Abi)
Kelas dua belas lewat kayak kertas masuk mesin fotokopi: masuk pelan, keluar cepet, isinya padat.
Kalau dirangkum: pensi sukses besar (sound nggak ngadat sekali pun; band tamunya sampai minta nomorku, kutolak halus, Cynthia bangganya kayak istri pejabat). Reno lulus jadi guru les paling laris se-kompleks — muridnya dari tiga bocah jadi sebelas, piano Om-nya Cynthia hidup lagi tiap Minggu sore, dan tuts F-nya sehat karena ada teknisi langganan yang dibayar pakai transferan plus makan siang. Laras jadi ketua angkatan urusan wisuda, ya jelas. Aku dan Cynthia lewat masa ujian dengan sistem barter jilid dua: dia nyulap semua pelajaran jadi bahasa bengkel, aku jadi alarm hidup yang mastiin dia tidur cukup. Nilainya dia tetap di langit. Nilaiku... di atas genteng lah. Lumayan. Genteng juga tinggi.
Terus tiba-tiba: toga.
Aula yang biasa kupanjat rigging-nya disulap jadi lautan kursi. Sound system-nya — ini lucu — tetap aku yang nge-set, jam lima pagi, pakai kemeja wisuda dilapisi wearpack biar nggak kotor. Koh Aseng yang nganter, Pak Yon yang bantuin angkat, dua-duanya nggak diundang panitia tapi merasa wajib hadir dari subuh, “anak sendiri wisuda masa nggak nonton sound-nya.”
Jam delapan, aula penuh. Dan di deretan orang tua, ada pemandangan yang bikin aku hampir salah nyolok kabel:
Eyang Uti sama Mama Cynthia. Duduk bersebelahan.
Bukan kebetulan — belakangan kutahu itu hasil lobi dua arah yang udah jalan berminggu-minggu lewat jalur yang nggak kuketahui keberadaannya: mereka berdua ternyata udah saling kirim makanan sejak ultah Mama. TANPA SEPENGETAHUAN KAMI BERDUA. Ada jalur logistik rahasia antar-rumah. Rendang ketemu ayam bakar madu di tengah jalan.
Sepanjang acara mereka kayak temen lama: Eyang komentarin toga (“kayak daster kok mahal”), Mama ketawa, tuker-tukeran tisu pas sesi sambutan yang nyentuh, dan pas namaku dipanggil ke panggung—
Ini bagian yang kudengar dari Cynthia, karena dari panggung mana kelihatan detail:
—pas namaku dipanggil, Eyang berdiri. Sendirian, di tengah kursi orang tua yang duduk semua, badan kecilnya tegak, tepuk tangannya paling kenceng se-aula. Dan Mama Cynthia, sedetik kemudian, ikut berdiri di sebelahnya. Dua orang. Buat anak fotokopian yang naik panggung dengan sepatu hadiah dan telinga merah.
Kata Cynthia — dia nontonnya dari barisan siswa, dan dia yang paling heboh cerita — Mama sempet nunduk ke pergelangan tangan Cynthia dulu sebelum berdiri. Ke jam itu. Jam yang dari pagi dicocokin dua kali padahal udah cocok. Mama natap jam suaminya di tangan anaknya, terus natap anak yang lagi jalan di panggung, terus berdiri.
“Habis itu Mama bisik apa, coba,” kata Cynthia sorenya, sambil nahan senyum.
“Apa?”
“’Jam papamu milih duluan sebelum kamu, ya.’”
Aku nggak bisa jawab apa-apa waktu itu. Sampai sekarang juga kalau inget masih nggak bisa.
Habis prosesi, halaman sekolah jadi studio foto raksasa: toga dilempar, bunga-bunga, tangis-tangisan, guru diserbu.
Dan aku — yang bertahun-tahun punya refleks menghindar tiap ada kamera, yang di album pensi cuma ada punggungnya, yang “kalian aja, aku angkat kabel dulu” — hari itu difoto...
Semuanya. Sama semuanya.
Sama Dimas (dia nangis, DIA YANG NANGIS, sambil merangkul leherku: “gue kuliah di luar kota, Bi, siapa yang benerin idup gue nanti” — “kamu udah lulus, benerin sendiri” — “TUH KAN GUE MAKIN SEDIH”). Sama Sinta dan geng kelas. Sama Laras — foto berdua yang rapi, jarak sopan, dua-duanya senyum beneran; dia lulus terbaik ketiga, kuliah keguruan, “biar jadi wali kelas yang nutupin absen anak-anak yang kerja,” katanya, dan aku tahu itu bukan bercanda. Sama Reno sekeluarga. Sama Bu Ratna yang masih nggak percaya nilai matematikaku naik. Sama Koh Aseng dan Pak Yon yang masuk frame sambil bawa-bawa tas kabel, nggak mau naruh, “ini properti kami.”
Terus foto inti. Eyang Uti di tengah. Mama Cynthia sebelahnya. Aku dan Cynthia mengapit. Tukang fotonya Sinta, yang ngasih aba-aba “yang mau difoto MERAPAT—“
Dan aku merapat.
Kedengerannya kecil ya. Buatku itu... tahun lalu, kalimat itu bakal kubalas “duluan aja” sambil mundur megang kabel. Hari itu aku merapat, ngerangkul Eyang dari belakang, dan pas jepretan ketiga Cynthia tiba-tiba noleh nyium pipiku — DI DEPAN SEMUA ORANG, DI DEPAN MAMA, DI DEPAN EYANG — dan jepretan keempat mengabadikan: aku kaget total, Eyang ngakak, Mama geleng-geleng senyum, Cynthia menang.
Foto keempat itu yang sampai sekarang dipajang. Di mana majangnya — sabar. Tempatnya belum dibangun di bab ini.
Sorenya, pas halaman udah sepi, kami berdua duduk di tangga belakang. Anak tangga ketiga. Masih pakai kemeja wisuda, toga udah dilipat, sepatu hadiah itu kulonggarin talinya.
“Jadi,” kata Cynthia, nyenderin kepala ke bahuku, “mulai bulan depan: aku anak DKV. Kamu anak kelas malam plus kuli profesional. Nggak sekelas lagi. Nggak ada bekal tiap hari. Nggak ada jemput tiap sore.”
“Kedengerannya jelek ya kalau diurutin gitu.”
“Iya makanya jangan diurutin.” Dia ngangkat kelingking. “Perjanjian baru. Ketiga, kalau nggak salah itung. Isinya: ritme boleh ganti, kita enggak. Deal?”
Kelingkingku nyantol. “Deal.”
“Sama satu lagi.” Dia tegak, natap aku, matanya serius campur... campur yang biasanya. “Kamu lagi nyiapin sesuatu kan. Jangan bohong. Setahun terakhir kamu nabungnya beda — lebih galak. Sama kadang kamu ngelamun ngeliatin ruko kosong depan pasar. DUA KALI kupergokin.”
Sistem alarmku bunyi. Kupadamkan pelan-pelan. Belum. Belum waktunya — barangnya belum jadi bentuk, masih sketsa, masih angka-angka di buku, dan aku nggak mau ngasih dia barang setengah jadi.
“Iya,” jawabku akhirnya. Jujur separuh — separuh yang boleh dulu: “Lagi nyiapin sesuatu. Belum bisa cerita. Bukan disembunyiin — belum jadi aja. Kalau udah jadi bentuknya, kamu orang pertama. Janji.”
Dia natap aku lamaaa. Nimbang. Aku tahu dia inget arc kemarin — “dikasih semuanya kecuali isi kepalanya” — dan aku tahu permintaanku ini nginjek garis yang sama tipisnya.
“...Oke,” katanya akhirnya, pelan. “Aku percaya. Sekali ini sistem ’nanti’-mu kupercaya.” Terus dia nunjuk mukaku, dekat banget: “Tapi Abimanyu. Kalau ’belum jadi’-mu itu berubah jadi ’menghilang pelan-pelan’ — inget-inget ya kamu pernah lihat aku marah kayak apa. Yang kemarin itu belum versi penuh.”
“...Yang kemarin belum penuh?”
“Belum.” Senyumnya manis banget. Ancaman kok manis. “Yang kemarin masih ada ampunnya.”
Kami ketawa, terus diem, terus nontonin lapangan kosong yang tiga tahun jadi saksi semuanya — dan nggak ada satu pun dari kami yang tahu bahwa kalimat bercanda sore itu, dua tahun kemudian, bakal ditagih.
Hampir persis. Kata per kata.