← Chapters Ch. 17 / 52

Chapter Seventeen

Lima Jari

(POV Abi)

Minggu pertama pacaran, kami menemukan masalah teknis yang nggak pernah dibahas di lagu-lagu romantis mana pun: jarak jalan.

Jadi gini. Dulu, sebelum resmi, kalau jalan bareng — ke kantin, ke fotokopian, sepayung — jaraknya ya sewajarnya, kadang deket kadang nggak, nggak ada yang mikirin. Sekarang? Sekarang jarak tiga puluh senti itu jadi perkara negara. Kedeketan, aku salting. Kejauhan, dia nyindir (“kamu jalan sama aku apa sama pager?”). Pas di tengah-tengah, tangan kami suka nggak sengaja kesenggol — dan tiap kesenggol, dua-duanya pura-pura nggak terjadi apa-apa sambil sama-sama panik dalam senyap.

Empat hari begitu. EMPAT HARI. Dua manusia dengan total nilai matematika lumayan, nggak ada yang bisa menyelesaikan soal sesederhana: kalau mau gandengan, ya gandengan.

Yang akhirnya menyelesaikan — seperti biasa, seperti sudah tradisi hubungan ini — bukan aku.

Jumat sore, pulang sekolah, kami jalan ke fotokopian bareng (dia “kebetulan mau fotokopi”, alasan yang bahkan udah nggak diusahakan lagi kualitasnya). Di trotoar depan toko bangunan, ada tumpukan pasir proyek makan setengah jalan, jadi orang lewatnya gantian. Aku otomatis geser, kasih dia jalan duluan, tanganku ngarahin dikit di belakang punggungnya biar dia nggak keserempet motor—

Dan pas tumpukan pasirnya lewat, pas harusnya tanganku balik ke tempatnya masing-masing, dia NANGKEP.

Ditangkep. Tanganku. Digenggam. Jari-jarinya masuk nyela jari-jariku, mantap, satu gerakan, nggak pakai ragu — kayak orang nangkep kembalian sebelum jatuh.

Aku berhenti jalan.

“Jalan,” katanya. Nggak noleh. Kupingnya merah. “Biasa aja.”

“I-iya.”

Kami jalan. “Biasa aja”, katanya. BIASA APANYA. Laporan kondisi dari dalam badanku saat itu: jantung pindah ke telinga, telinga pindah ke penggorengan, dan seluruh sistem saraf memusatkan diri ke satu telapak tangan sampai-sampai kalau ada yang nyolek bahuku mungkin nggak bakal kerasa.

Dan di tengah kekacauan sistem itu, dia — masih nggak noleh — ngomong pelan:

“Tanganmu kasar.”

Deg. Refleks lamaku langsung nyaut duluan sebelum mikir: “Eh— maaf—“ Kutarik dikit—

Genggamannya malah dikencengin. Nahan.

“Siapa suruh minta maaf.” Sekarang dia noleh. Dan senyumnya itu, ditambah sore, ditambah lampu toko-toko yang mulai nyala, harusnya dilarang undang-undang. “Aku suka. Tangan orang yang kerja.”

Trotoar depan toko bangunan, Jumat sore, rame, bau semen. Aku inget semua detailnya. Soalnya di tempat sejelek itu, untuk pertama kalinya, ada orang megang bagian diriku yang paling sering kuumpetin — telapak yang ketebalan kapalan, jari yang ada bekas kena gerinda, kuku yang garis olinya nggak pernah bersih total — dan bilang suka. Bukan maklum. Bukan “nggak papa kok”. Suka.

“...Kamu tuh ya,” kataku akhirnya, suara setengah ketelen, “kalau ngomong suka mikir dulu nggak sih.”

“Mikir. Lama malah.” Dia ngayun tangan kami dikit, santai banget, sementara aku masih mode robot. “Yang nggak mikir tuh kamu. Minta maaf. Sama tangan sendiri. Kurang ajar tau nggak sama tangan yang udah ngidupin jam Papaku.”

“...Iya. Maaf.”

“Tuh minta maaf lagi!”

“MAAF— eh—“

Dia ketawa sampai bungkuk, genggamannya nggak lepas, dan aku berdiri di sebelahnya kayak papan reklame yang tersambung listrik. Orang-orang lewat pada senyum. Abang toko bangunan ikut senyum. PASIRNYA KAYAKNYA IKUT SENYUM.


Senin, gandengan itu resmi masuk jadwal tetap: dari gerbang sampai kelas.

Dan di sinilah aku menemukan fakta ilmiah baru tentang diriku: berjalan sambil gandengan itu ternyata MENGUBAH CARA JALAN. Kaki kanan-kiriku, yang tujuh belas tahun bekerja tanpa keluhan, mendadak lupa urutannya. Bahuku kaku sebelah. Dimas bilang aku jalannya “kayak lemari dipindahin”. Sinta bilang lebih spesifik: “kayak pengantin pria di undangan yang fotonya nggak siap.”

Cynthia? Cynthia menikmati SEMUA ITU dengan kebahagiaan yang nggak dia sembunyikan sama sekali. Makin aku kaku, makin lebar senyumnya. Kadang dia sengaja: pindahin genggaman dikit, atau ngayun lebih tinggi, cuma buat ngetes sistemku hang apa nggak. Hang. Selalu hang. Penelitiannya selalu berhasil.

“Bi,” katanya suatu pagi, di koridor, di tengah eksperimen. “Kamu tahu nggak sih, dari semua yang udah kejadian — bekal, jam, sketsa, kasir — yang paling bikin aku yakin tuh malah ini.”

“Ini apa?”

“Ini.” Dia ngangkat tangan kami yang gandengan. “Lima bulan aku merhatiin kamu ngasih apa-apa ke semua orang pakai tangan ini. Ringan banget kan kamu kalau ngasih. Nggak pake mikir.” Dia nurunin tangan kami lagi, nada mainnya turun dikit, jadi setengah serius. “Terus sekarang tangan yang sama gandengan sama aku, kaku kayak gini, keringetan, panik. Tau artinya apa?”

“...Sarafku ada masalah?”

“ARTINYA INI BUKAN NGASIH.” Dia nyubit lenganku pakai tangan yang satunya. “Ini kamu lagi NERIMA. Makanya kagok. Bego.”

Dibilang bego kok rasanya kayak dipuji.

Kami sampai depan kelas. Sebelum masuk, ada protokol baru yang terbentuk sendiri entah sejak kapan: genggamannya ngelepas pelan — jari-jarinya narik diri satu-satu, nggak langsung — terus dia bilang “nanti istirahat” kayak janji, padahal ya pasti ketemu, orang sekelas.

Pagi itu, pas jarinya udah lepas semua, telapakku masih anget bekas bentuknya.

Dan aku inget mikir, sambil masuk kelas dengan cara jalan lemari-dipindahkan: dulu tanganku cuma tahu dua kerjaan — benerin barang, ngasih kembalian.

Ternyata ada kerjaan ketiga.

Yang ini nggak ada tarifnya, nggak masuk sistem barter, nggak bisa diimpas-impasin.

Dan untuk pertama kalinya seumur hidup, aku nggak nyari cara ngelunasinnya.