← Chapters Ch. 22 / 52

Chapter Twenty Two

Peka ke Semua, Kecuali Ini

(POV Abi)

Senin, aku membuka penyelidikan. Lagi.

Bedanya sama kasus bekal misterius: kali ini nggak ada yang lucu.

Data yang terkumpul: Cynthia “capek, banyak tugas” — tapi tugasnya kucek diam-diam ke Sinta, minggu ini malah lagi longgar. Pola tidurnya normal (nggak ada mata sembab). Jam papanya tetap dipakai, tetap dicocokin tiap pagi — berarti bukan soal rumah, karena kalau lagi kepikiran Mamanya atau Papanya, kebiasaan jam itu yang pertama berubah, kuhafal itu. Nafsu makan normal. Nilai normal.

Kesimpulan sementara: semua indikator sehat, kecuali satu — arah. Dia masih ngelakuin semua hal yang biasa, tapi kayak... dipantulin. Dulu semuanya ngarah ke aku. Sekarang ngarahnya ke “hubungan yang berjalan baik”. Beda tipis. Kerasa jauh.

Hipotesis satu: dia sakit tapi nggak mau bilang. Maka Selasa kubawain madu sachet, vitamin, sama jeruk dari Bu Sari (akhirnya kepakai juga jalur pisang goreng itu). Dia nerima, senyum, bilang makasih — nadanya naik, jujur — terus pas kupikir kasus selesai, sorenya bunyinya balik redup lagi.

Hipotesis dua: dia capek kegiatan. Maka Rabu aku standby lebih niat: jemput sampai depan kelasnya tiap pindah jam, bawain tasnya (direbut balik: “aku nggak patah tangan, Abi”), beliin es teh manis-dikurangin tanpa diminta. Kamis kubenerin rak lokernya yang miring — nggak dia keluhkan, tapi kulihat miring, ya kubenerin.

Dan di sinilah kejadian yang bikin aku makin nggak ngerti: makin aku merhatiin, makin dia... goyah. Pas nerima es teh itu, dia natap gelasnya lamaaa banget, kayak mau nangis sama minuman. Pas lihat rak lokernya udah rata, dia diem, terus bilang “makasih” dengan suara yang ketahan di tengah. Sinyalnya kacau: kayak seneng dan sakit di frekuensi yang sama persis.

“Dim,” kataku putus asa hari Jumat, di kantin. “Kamu ngerti cewek nggak.”

“Sedikit pun tidak,” jawab Dimas bangga. “Tapi gue ngerti lo. Cerita.”

Kuceritain semua data. Dimas ngunyah baksonya sampai habis, mikir, terus nanya satu:

“Mulainya kapan?”

“Habis aku sembuh. Eh—“ kuitung mundur, “—habis aku sakit.”

“Pas lo sakit ada kejadian apa aja?”

“Ya nggak ada. Aku duduk doang seharian. Dikasih obat sama Laras, disuapin bubur sama—“

Dimas berhenti ngunyah.

Natap aku.

“...Apa?” kataku.

“Bi.” Dia naruh sendok. “Gue mau nanya pelan-pelan. Lo dikasih obat. Sama. Siapa?”

“Laras. Kenapa? Obatnya bener kok, aku emang mual kalau kapsul—“

“Dan yang nyuapin bubur, yang masak subuh-subuh, yang notabene PACAR LO, dateng belakangan dan nemuin urusan lo udah beres semua sama orang lain.”

“...Iya. Untung kan? Jadi Cynthia nggak perlu repot—“

Dimas menghela napas paling panjang dalam sejarah persahabatan kami. Panjaaaang. Sampai kupikir baksonya bakal dingin.

“Bi. Lo pernah bilang ke gue, lo bisa tau proyektor rusak apa cuma dari ngeliat dalemannya lima detik.”

“Iya.”

“Sekarang gue kasih lo mesin yang lebih gampang. Dengerin: cewek yang berjuang LIMA BULAN buat jadi orang nomor satu di hidup lo, nyaksiin — pake mata kepala sendiri — bahwa pas lo tumbang, yang paling tau harus ngapain bukan dia.” Dimas ngangkat lima jarinya, satu-satu: “Bukan. Dia.”

Aku diem.

“Diagnosanya apa, Pak Teknisi?”

Aku masih diem. Otakku muter — dan pelan-pelan, satu-satu, data yang seminggu ini nggak nyambung mulai nyari colokannya masing-masing: kenapa goyahnya justru tiap aku makin perhatian (makin kelihatan aku hafal dia, makin kerasa ada yang lebih dulu hafal aku). Kenapa “untung”-nya turun nada. Kenapa pulang duluan hari itu. Kenapa pertanyaan dua bulan lalu di fotokopian — dia hafal jadwal Dimas? jadwal Sinta? sampai level itu? — yang kujawab dengan SOLUSI NULIS JADWAL kayak orang bagi brosur.

“...Dim.”

“Nah.”

“Ini dari kejadian jadwal itu... udah lama ya bunyinya. Aku salah denger terus.”

“Bukan salah denger.” Dimas nusuk bakso terakhirnya, nadanya tumben halus. “Lo denger kok, Bi. Lo kan denger semuanya. Lo cuma nggak berani ngasih nama sama bunyinya. Soalnya kalau dikasih nama—“ dia ngunyah, santai, kayak nggak lagi ngomongin hal yang bakal kuinget bertahun-tahun, “—artinya ada orang cemburu gara-gara sayang sama lo. Dan otak lo tuh, sampe detik ini, masih belum percaya ada yang bisa sayang segitunya sama lo. Kan?”

Kantin rame. Bakso dingin. Aku duduk diem dengan rasa kayak habis dibuka casing-nya di tempat umum.

“...Sejak kapan kamu pinter.”

“Dari dulu. Ketutupan ganteng doang.”


Sorenya, fotokopian, tutup toko. Dia bantuin gulung terpal kayak biasa — semuanya kayak biasa, itu masalahnya — dan sebelum dia pamit, kuberaniin:

“Cyn.”

“Hm?”

“Kamu... bukan capek tugas, kan.”

Tangannya berhenti di terpal. Sebentar. Terus lanjut lagi. “Kok tiba-tiba?”

“Bunyimu beda. Udah seminggu. Aku nyoba nyari rusaknya di mana, muter-muter, salah terus — dan kayaknya barusan aku baru nemu colokannya.” Kutarik napas. “Tapi aku nggak mau nebak-nebak buat urusan yang ini. Salah nebak, tambah rusak. Jadi aku nanya.”

Dia natap aku. Lampu toko setengah redup, tinggal kami berdua, dan untuk pertama kalinya seminggu ini dia nggak masang senyum yang rapi itu.

“...Kalau kubilang nggak papa?”

“Nadanya bakal turun. Kita berdua tahu.”

Dia ketawa kecil — pendek, capek — terus nunduk, mainin ujung terpal.

“Bener. Bakal turun.” Dia diem lama. “Bi. Aku belum siap ceritanya sekarang. Bukan nggak mau. Belum bisa nyusun kalimatnya biar nggak kedengeran... jelek. Aku nggak mau kedengeran jelek di depan kamu.”

“Kamu nggak akan—“

“Bakal. Yang ini bakal.” Dia ngangkat muka, matanya udah setengah basah tapi ditahan mati-matian, dan senyum yang muncul kali ini bukan yang rapi — yang miring, yang jujur. “Besok. Tangga belakang, pulang sekolah. Aku cerita. Janji. Sekarang pulang dulu ya, dijemput.”

Dia jalan ke pintu. Di ambang, berhenti, nggak noleh:

“Bi.”

“Iya?”

“Makasih udah nanya. Bukan nebak.” Jeda. “Sama... jangan bawa es teh besok. Bawa kupingmu aja.”

Bel pintu bunyi. Mobilnya jalan.

Aku ngunci toko, naik sepeda, pulang lewat jalan yang sama kayak biasa — dan sepanjang jalan cuma satu yang kuulang-ulang di kepala, kayak nyetel torsi baut biar besok nggak kelupaan:

Jangan bawa solusi. Jangan bawa jadwal. Jangan bawa apa-apa.

Besok tugasku cuma satu: nerima ceritanya. Utuh. Tanpa nyari cara ngembaliin.

Kedengerannya gampang ya.

Buatku itu kayak disuruh benerin mesin pakai tangan diiket. Tapi ya udah. Kalau itu yang dia butuh, ya itu yang kubawa.