Chapter Forty One
Papan Nama
(POV Abi)
Aku bangun jam lima subuh di kursi kerja, dengan jaket nyampir di bahu yang seingatku semalam masih nyampir di kursi, leher protes keras, dan wangi samar yang nggak mungkin salah — wangi yang kalau lewat sedetik pun, sistemku hafal.
Terus mataku jatuh ke meja. Ke termos yang bukan punyaku. Ke tulisan ijo di kertas denah.
“Ketahuan. — C.”
Aku duduk tegak dengan kecepatan yang bikin leherku makin protes, baca dua kali, tiga kali, baca P.S.-nya, ngecek jam — dan sisa subuh itu kuhabiskan dengan pembagian yang adil: separuh panik, separuh... lega. Lega yang gede banget, yang baru kerasa gedenya pas dateng: sebulan mikul rahasia itu ternyata berat, dan beratnya baru kehitung pas ada yang nyolong separuhnya diam-diam, tengah malam, sambil ninggalin termos.
Bubur di termos masih anget dikit. Ayamnya disuwir searah.
Kumakan sambil senyum-senyum sendirian di ruko setengah jadi, jam lima subuh. Kalau ada yang lihat, pasti dikira ruko ini berhantu. Hantunya bahagia.
Jam empat sore. Dia dateng.
Bawa map — MAP, dia yang bawa map sekarang — jalan masuk lewat pintu samping kayak udah hafal, berdiri di tengah ruangan, dan natap aku yang udah berdiri gugup di sebelah meja kerja kayak terdakwa nunggu hakim.
“Duduk,” katanya.
“Ini kursinya baru satu—“
“Ya udah kamu duduk, aku yang mutusin sambil berdiri. Lebih enak gitu malah.”
Aku duduk. Sidang dibuka.
“Dakwaan satu.” Dia ngangkat jari. “Sebulan. Bohongnya nggak ada — aku cek, semua alasanmu beneran ada barangnya. Tapi nyembunyiin sambil jujur itu tetep nyembunyiin, Abimanyu. Kamu ngilang pelan-pelan dan bikin aku — SEBULAN — mikir yang jelek-jelek. Kamu tahu persis pola apa yang keinget di kepalaku. Kamu TAHU. Ngaku.”
“...Ngaku.” Nggak ada pembelaan. Emang nggak ada. “Aku kepikiran itu terus, Cyn. Tiap mau cerita, mikir: bentar lagi jadi, bentar lagi bisa kutunjukin barangnya sekalian. Terus ’bentar lagi’-nya manjang. Maaf. Beneran maaf.”
“Dakwaan dua.” Jari kedua. “Dan ini yang berat. Kamu inget nggak perjanjian wisuda? Ritme boleh ganti, kita enggak. Terus inget nggak yang tangga belakang, jaman Laras: nggak diem-dieman lagi. Terus yang paling gede — yang hujan-hujan itu: larinya KE SINI, bukan ke sana.” Dia nunjuk dadanya sendiri. “Kamu nggak lari ke sana sih, itu kemajuan. Tapi kamu juga nggak lari ke sini. Kamu lari ke—“ dia muterin tangan ke seisi ruko, “—ke SINI-nya yang salah. Ke bangunan. Abi. Aku sayang bangunan ini. Tapi bangunan ini harusnya kita pikul BERDUA dari kemarin-kemarin, bukan jadi tempat kamu ngumpet sambil bangun kado.”
Tiap katanya masuk, bener semua, nggak ada yang bisa dibantah — dan anehnya nggak ada satu pun yang nyakitin. Marah yang isinya sayang semua itu bunyinya beda. Sekarang aku bisa bedain.
“Jadi vonisnya,” dia narik napas, buka map yang dia bawa, “ini.”
Dikeluarinnya kertas-kertas. Ditaruh di meja kerjaku, di sebelah denahku.
Aku ngeliatin. Lama.
Itu... desain. Desain papan nama. Beberapa alternatif, digarap serius — serius level tugas akhir: pilihan huruf, warna, ukuran, mockup ditempel di foto ruko ini yang entah kapan dia foto. Terus lembar kedua: logo. Lembar ketiga: kop nota, kartu nama, cap. SEMUANYA. Satu identitas lengkap, rapi, hangat, kuat — dan di semua desain itu, di tempat nama yang di denahku masih kotak kosong bertanda tanya, udah keisi satu kata.
TERIMA.
Di bawahnya, kecil: servis & rakit — apa saja, sejak subuh.
“...Cyn. Ini—“
“Vonisnya: kamu nggak boleh mikul sendirian lagi, DIMULAI SEKARANG, dan aku nggak nerima banding.” Suaranya masih galak, tapi matanya udah basah, dan tangannya yang nunjuk-nunjuk kertas itu gemeteran dikit. “Kamu bagian mesin, aku bagian muka. Kamu bangun dalemnya, aku bangun kelihatannya. Tugas kampusku semester ini branding UMKM — dosenku udah ACC, ini objeknya, nilaiku dipertaruhkan di toko kamu, jadi kamu NGGAK BISA NOLAK karena nolak berarti nilaiku hancur. Kujebak. Sengaja. Pelajaran dari yang terbaik.”
Sistem barter. Struk fotokopi. Jebakan nilai kampus. Anak ini arsip semua senjataku dan make-nya lebih jago dari aku.
“Sama satu lagi.” Suaranya turun, pelan, dan galaknya luntur di kalimat ini: “Namanya. TERIMA. Aku mikirnya seminggu — udah dari sebelum ketahuan, aku... aku udah lama nebak kamu mau bikin apa, Bi. Aku cuma nunggu kamu cerita. Sebulan. Nunggunya di situ sakitnya.” Dia ngelap mata cepet, lanjut: “TERIMA itu — satu, terima servis, terima jadi, bahasa bengkel, orang pasar langsung ngerti. Dua...” dia natap aku, “...dua, biar tiap pagi, pas kamu buka rolling door, kata pertama yang kamu baca hari itu — kata itu. Yang paling susah kamu lakuin seumur hidup. Dipajang gede-gede di atas kepalamu. Tiap hari. Biar nggak lupa lagi.”
Ruko sepi. Lampu servis nyala. Mesin-mesin Pak Yon diem di balik terpal, nyimak.
Aku berdiri dari kursi, jalan ke dia, dan meluk — nggak pakai antre sistem, nggak pakai patah-patah, udah lancar dari dulu-dulu sebenernya kalau urusannya dia — dan di bahunya aku ngomong satu-satunya vonis balasan yang kupunya:
“Diterima. Semuanya. Papannya, jebakannya, vonisnya.” Napas. “Sama... partnernya.”
“...Partner?” Dia narik muka dari bahuku, matanya melebar.
“Lima puluh lima puluh sih enggak, modalnya kan—“
“ABI.”
“BECANDA. Iya. Partner. Dari sekarang semua hitungannya kelihatan dua orang, semua keputusannya dua orang, semua beratnya—“ kutempelin jidatku ke jidatnya, “—dua orang. Nggak ada ’bentar lagi jadi’ lagi. Prosesnya jelek-jelek sekalian kamu lihatin. Puas?”
“Puas.” Dia senyum lebar banget, terus buru-buru nambahin: “Eh tapi soal warna kursi tunggu nggak ada nego ya. Biru. Udah final. Ada di berkas.”
Tiga bulan kemudian — tiga bulan yang isinya cat, ngamplas, izin usaha, koperasi yang akhirnya ngasih pinjaman kecil dengan bunga waras, Pak Yon mindahin mesin sambil pura-pura nggak terharu, Koh Aseng nyumbang kursi tunggu bekas toko yang dia cat biru SENDIRI tanpa bilang-bilang, Reno dateng bawa amplop yang KUTOLAK dan diganti jadi “ya udah gue jadi pelanggan pertama, ini DP servis ampli, nggak boleh ditolak, ini transaksi” (licik; sekolahnya sama) — tiga bulan kemudian, di suatu sore yang langitnya kebetulan bagus:
Kami berdua berdiri di depan ruko, di tangga lipat, masang papan itu.
TERIMA.
Bautnya delapan. Aku yang ngebor, dia yang megangin, Eyang Uti sama Mama Cynthia nonton dari bawah sambil komentar nggak membantu (“miring dikit, Le” — “nggak miring, Yang, itu kepala eyang yang miring”), dan pas baut terakhir kenceng, pas kami berdua turun dan mundur beberapa langkah buat ngeliat—
Persis. Persis kayak gambar kecil di pojok denah itu. Dua orang, berdiri di depan ruko. Yang satu pakai wearpack. Yang satu kuncirannya miring.
Cynthia nyenderin kepala ke bahuku. “Bi.”
“Hm?”
“Fotoin nggak nih? Momen bersejarah.”
“Nggak usah.” Kupandangin papan itu, terus dia, terus papan itu lagi. “Udah kegambar dari dulu. Tinggal dijalanin.”
Dia ketawa. Lampu papan nyala pertama kalinya — kuning anget, warna lampu botol rooftop, dia yang milih — dan huruf-huruf itu terang di sore yang mulai gelap:
TERIMA.
Empat tahun kemudian, papan itu masih di situ. Hurufnya udah kena panas hujan, udah pernah kucat ulang dua kali, dan di bawahnya udah nambah satu papan kecil lagi yang isinya—
Eh. Nggak. Sabar.
Empat tahun itu ceritanya mulai bab depan.