← Chapters Ch. 14 / 52

Chapter Fourteen

Keputusan

(POV Cynthia)

Buka catatan lama di HP: MISI: BALAS DENDAM (versi baik).

Sudah lima bulan sejak catatan ini dibuat. Waktunya evaluasi.

Aturan nomor satu: jangan sampai ketahuan. — GAGAL. Gagal total. Ketahuan jam enam pagi dengan tangan masih di dalam tas orangnya, terus panik sampai ngomong “anggap aja kamu nggak lihat”. Sampai sekarang kalau ingat itu aku masih pengin ngubur diri di lapangan upacara.

Aturan nomor dua: mulai dari yang paling dasar. — BERHASIL. Terlalu berhasil. Dari bekal, sekarang sudah berkembang jadi: makan bareng tiap istirahat, sistem barter resmi dengan jaminan seumur hidup (dia sendiri yang bilang SEUMUR HIDUP, kucatat, ada saksinya: Dimas), jatah sepayung tiap Rabu hujan, kursi tetap di fotokopian, dan — pencapaian tertinggi kuartal ini — satu buku penuh gambar aku yang sekarang disandera di laci mejaku, kubaca tiap malam sebelum tidur kayak orang baca buku agenda, padahal isinya itu-itu aja, padahal hafal.

Aturan nomor tiga: kalau nanti misinya selesai... boleh nggak sih aku nggak berhenti?

Nah.

Aturan nomor tiga ini yang bikin aku sekarang duduk bersila jam sebelas malam, natap botol air pudar di rak, sambil mikir keras.


Perkembangan kasus, biar rapi, kususun kayak Abi nyusun penyelidikan bekalnya dulu (iya, aku niru gayanya, bodo amat):

Temuan satu. Cowok itu menggambar aku. Sebelas kali. Dari minggu pertama — MINGGU PERTAMA — sebelum bekal, sebelum fotokopi kamus, sebelum semuanya. Waktu kutanya kenapa, jawabannya “nggak tahu”. Dan anehnya, jawaban “nggak tahu” dari Abi itu nilainya seribu kali lipat dari “kamu cantik banget” yang biasa kudengar dari cowok lain. Soalnya cowok lain selalu tahu kenapa. Alasannya selalu siap, mengkilap, tinggal sebut. Abi nggak tahu. Abi cuma... gambar. Tangannya jujur duluan sebelum otaknya sadar.

Temuan dua. Dia hafal aku. Bukan hafal yang gimana — hafal yang detailnya nggak masuk akal. Es teh manisnya dikurangin. Nada ’papa’ yang turun. Aku nggak suka diliatin pas makan (dia selalu pura-pura sibuk sama kotaknya sendiri lima menit pertama — DIA PIKIR AKU NGGAK SADAR). Dan waktu aku sebel soal Laras, dia nggak ngerti kenapa aku sebel... tapi dia sadar aku sebel dalam waktu tiga detik. Tiga detik, dari nada satu kata.

Temuan tiga — dan ini yang bikin aku harus mengambil keputusan. Laras.

Aku nggak bodoh. Perempuan tahu. Dua bulan sekelas juga aku sudah tahu, jauh sebelum kejadian jadwal itu: dari arah duduknya, dari botol air yang dulu pernah kulihat dia taruh di meja Abi tanpa berhenti melangkah, dari caranya nggak pernah — nggak pernah sekali pun — ikut bercandaan anak-anak soal aku dan Abi. Orang yang nggak peduli itu ikut ketawa. Orang yang peduli, diam.

Makanya sore itu, di depan fotokopian, aku berhentiin dia dan bilang makasih.

Dia nanya, “buat apa?” Aku bilang, “banyak.” Nggak bisa kujelasin tanpa buka-bukaan — makasih karena udah jagain dia bertahun-tahun pakai cara yang nggak minta apa-apa, makasih karena bikin absennya aman dan alerginya nggak kambuh di acara kelas, makasih karena jadi orang baik duluan, jauh sebelum aku datang.

Laras diam agak lama. Terus dia senyum — rapi banget senyumnya, sampai sakit lihatnya — dan cuma jawab:

“Jangan lama-lama. Dia nggak bakal mulai duluan. Bukan nggak mau. Nggak bisa.”

Terus kami berdua nunduk hampir barengan, kayak dua orang habis tanding, dan aku pulang dengan dada yang penuh sesuatu yang campur: menang, kalah, hormat, sedih. Semuanya satu gelas.

Jangan lama-lama.

Iya. Aku juga sudah sampai di kesimpulan yang sama.


Karena begini. Lima bulan ini aku pelan-pelan paham cara kerja cowok itu, dan pahamnya bikin gemas sekaligus bikin pengin nangis:

Abi bisa memberi apa aja ke siapa aja. Tapi meminta? Nol. Bahkan mimpi pun kayaknya dia nggak berani minta. Dan perasaan — perasaan itu barang yang cuma bisa jalan kalau ada yang berani minta duluan: boleh nggak aku jadi orang yang spesial buat kamu? Kalimat model gitu nggak akan pernah, sampai kiamat, keluar dari mulut Abimanyu. Bukan karena dia nggak sayang. Justru — dan ini teoriku, nanti kubuktikan — karena kalau sayang, dia makin nggak berani. Orang yang merasa nggak boleh nerima apa-apa, mana berani minta hati orang.

Jadi kalau ditunggu, aku bakal nunggu selamanya. Sepayung berdua selamanya. Makan bareng selamanya. Digambar diam-diam selamanya. Status: langganan servis.

Enak sih.

TAPI AKU MAUNYA LEBIH. Ya ampun. Masa harus ngaku di catatan HP sendiri.

Oke. Tarik napas.

Keputusan diambil malam ini, kuketik biar resmi:

MISI BARU: PENEMBAKAN.

Syarat satu: aku yang maju. Jelas. Sudah dibahas di atas.

Syarat dua: caranya harus bikin dia nggak bisa kabur ke mode “nggak usah repot-repot”. Jadi jangan pakai hadiah, jangan pakai surat wangi, jangan pakai apa pun yang bisa dia tolak-sopan terus balikin. Harus lewat jalur yang dia NGGAK BISA tolak.

Dan jalur yang nggak bisa ditolak Abi cuma satu di dunia ini.

Kerjaan.

Dia nggak pernah nolak pelanggan. Nggak pernah nolak transaksi. Kalau ada yang dateng bawa kerjaan, sekecil apa pun, seaneh apa pun — fotokopi satu lembar resep ayam suwir, misalnya, ehem — dia bakal terima, kerjain bener, kasih kembalian pas.

Kembalian.

Aku duduk tegak. Ide itu datang utuh, bulat, sempurna, dan aku sampai harus nutup mulut pakai bantal biar nggak ketawa kedengeran Mama.

Dia yang selalu ngasih kembalian ke semua orang. Uang receh nggak pernah diambil. Semua dikembaliin, dibalikin, dilunasin, nggak mau nyisa utang seperak pun ke dunia.

Ya udah.

Berarti aku tinggal bikin satu transaksi yang kembaliannya nggak bisa dia kasih pakai uang.

Kubuka laci, kuambil kertas, kucoba-coba dulu tulisannya di kertas buram — tanganku gemetar dikit, norak banget, untung nggak ada yang lihat — sampai ketemu kalimat yang paling pas. Pendek aja. Nggak usah puitis. Sama Abi mah jangan puitis, nggak bakal nyampe; harus jelas, satu lembar, hitam di atas putih, kayak nota.

Besok Sabtu. Dia jaga toko seharian. Koh Aseng ada — bagus, saksi. Rame — bodo amat, biar sekalian nggak bisa mundur, dua-duanya.

Kulipat kertas buram itu, kutaruh di bawah botol air pudar di rak — biar sejarahnya lengkap, dari botol sampai kertas — terus rebahan, natap langit-langit, dan senyum-senyum sendiri kayak orang nggak waras sampai hampir jam satu.

Aturan nomor tiga, ternyata jawabannya dari dulu udah ada ya.

Nggak akan berhenti. Mau ditolak juga nggak akan berhenti. Emang dari awal misinya seumur hidup.

Eh. Tapi nggak bakal ditolak sih.

...Nggak kan?

ADUH. Tidur. TIDUR.