Chapter Forty Nine
Memperbaiki yang Terakhir
(POV Abi)
Dua hari aku disuruh istirahat total — “disuruh” dalam artian: Cynthia ambil cuti sehari, ngambil alih komando workshop, nelpon Reno DI DEPAN MUKAKU (“Reno. Deadline mundur seminggu. Alasannya: bosnya tumbang karena penyakit lama yang kamu udah tahu. Iya. ITU. Oke makasih.” — Reno cuma jawab, kedengeran dari speaker: “AKHIRNYA ADA YANG NELPON. Seminggu? Ambil dua.”), ngerekrut Pak Yon yang dateng satu jam kemudian sambil ngomel bahagia (“mesin itu emang harusnya aku yang pegang, bocah sok kuat”), dan menjadwalkan Rio-yang-udah-sembuh plus Galih-divisi-mulut (“kamu bagian nemenin, ngecek, sama ngadu. Ngadu itu sekarang tugas resmi, digaji”).
Empat puluh unit sisa itu kelar dalam empat hari. Empat hari. Rame-rame.
Sebelas hari aku sendirian ngerjain delapan puluh sambil hampir mati.
Matematika itu kupelototin lama banget dari kasur lipat, dan nggak butuh Cynthia buat ngartiin: mikul sendirian itu bukan cuma nyakitin — mikul sendirian itu, ternyata, LAMBAT. Nggak efisien. Buruk secara teknis. Seumur hidup kupikir sendirian itu harga kekuatan; ternyata itu cuma mesin satu silinder yang sok-sokan narik beban truk.
Hari kedua istirahat, aku ke rumah. Eyang Uti udah tahu semuanya — jalur logistik, jangan tanya — dan nggak ngomel. Itu yang bikin was-was.
Beliau nyuruh aku duduk di teras, bikinin teh, duduk di kursi kecilnya — formasi lama, formasi obrolan penting — dan buka percakapan dengan kalimat yang khas beliau: nggak pakai pemanasan.
“Le. Cincinnya udah jadi?”
TEH-KU NYEMBUR DIKIT.
“E-eyang tahu dari—“
“Koh Aseng.” Beliau nyeruput teh, santai. “Dua minggu lalu. Kami kan satu grup— eh.” Beliau batuk. “Kami kan sering ketemu.”
SATU GRUP. ADA GRUPNYA. ORANG-ORANG TUA INI ADA GRUPNYA.
“Jawab. Udah jadi?”
“...Tinggal poles, Yang.”
“Terus rencananya gimana? Cerita. Lengkap.”
Kuceritain rencana yang udah kususun berbulan-bulan: kejutan besar. Rooftop disulap lagi, lampu botol edisi khusus, makanan, mungkin Dimas dan yang lain sembunyi bawa kamera, terus di puncaknya aku berlutut, buka kotak, dan ngasih dia cincin terbaik yang pernah dibuat tangan ini, momen sempurna, nggak ada cacat, dia tinggal dateng dan nerima—
Eyang ngangkat tangan. Berhenti.
“Le. Dengerin baik-baik hitungan eyang.” Beliau naruh gelas. “Kamu mau ngasih dia: kejutan yang kamu siapin sendirian. Acara yang kamu atur sendirian. Cincin yang kamu bikin sendirian, diem-diem, sampai tumbang — iya, itu juga eyang tahu, sebelas malem di Sinar Jaya itu kamu pikir nggak kehitung?” Matanya nusuk pelan. “Terus di puncak acaranya, kamu BERLUTUT — posisi paling rendah — buat NGASIH. Lagi. Yang paling gede. Biar dia terima.”
Beliau diem sebentar, biar hitungannya masuk.
“Le. Itu bukan lamaran. Itu bab tiga puluh empatmu, dikasih baju bagus.”
Aku kena tepat di tengah.
“Menerima, kamu udah belajar. Bertahun-tahun, eyang nonton, kamu lulus.” Suara beliau turun, jadi lembut, jadi suara yang dulu ngajarin aku jalan: “Sekarang pelajaran pamungkas, yang lebih berani dari nerima: MEMINTA. Nerima itu pintu diketok orang, kamu bukain. Berani, iya. Tapi meminta — meminta itu kamu yang jalan ke pintu orang, ngetok, berdiri di situ dengan tangan kosong, dan bilang: aku butuh. Nggak ada kado buat sembunyi di belakangnya. Nggak ada acara buat jadi tameng. Cuma kamu, sama butuhmu, kelihatan semua.” Beliau nyeruput teh terakhir. “Bapakmu nggak sempet belajar yang itu. Kamu sempet. Bedanya generasi kalian cuma di situ, dan itu bedanya udah cukup.”
Angin gang lewat. Lama kami diem.
“...Yang. Kalau aku ngetok... terus mintanya kegedean gimana. Seumur hidup loh itu mintanya.”
“Le.” Eyang berdiri, ngangkat kursi kecilnya, dan sebelum masuk, naruh tangannya di kepalaku — tangan kecil, tua, paling kuat sedunia: “Anak yang nyimpen botol bekasmu sembilan tahun, kamu takut dia keberatan dimintain nemenin? Hitunganmu, Le. Servis hitunganmu. Yang lain udah bagus semua.”
Malamnya aku bongkar laci bawah, ngeluarin buku sketsa yang lama — yang stok Sinar Jaya, yang pernah disandera — udah balik ke aku bertahun-tahun lalu (“dipinjemin,” kata penyanderanya, “statusnya tetep sitaan”), dan kubuka dari halaman satu.
Pelan-pelan. Urut.
Tangan Pak Yon megang kunci inggris. Eyang ketiduran depan TV. Mesin fotokopi dibedah. Kucing di atas HVS. Terus dia mulai muncul: kotak pensil, koridor, tangga, kursi tunggu. Terus makin rame: rooftop, sawah, toga, ruko. Sembilan tahun gambar, dan kalau dibuka cepet kayak buku flip, kelihatan satu gerakan besar: awalnya aku gambar dia dari jauh. Terus makin deket. Terus di gambar-gambar akhir, sudut pandangnya udah dari sebelahnya.
Dari jauh, ke sebelahnya. Sembilan tahun.
Tinggal satu langkah lagi, dan langkah itu — Eyang bener, semua orang bener dari dulu — nggak bisa ditempuh pakai ngasih. Jalur ngasih udah mentok di “sebelahnya”. Sisanya cuma bisa dibuka pakai kata yang satu itu. Yang paling pendek. Yang paling berat.
Kuambil pensil. Halaman kosong pertama setelah gambar terakhir.
Nggak gambar. Nulis. Draft pertama dari kalimat yang bakal kuucapin — dan kali ini nyusunnya beda dari yang tiga-hari jaman dulu: yang dulu disusun biar rapi, biar nggak kelihatan isinya. Yang ini kususun biar JUJUR. Ternyata lebih susah. Coret, ulang, coret. Kegedean gayanya, coret. Kepanjangan, coret. Ada “nggak papa”-nya, CORET, JELAS.
Jam satu malem, sisanya tinggal dua kalimat. Pendek. Telanjang. Nggak ada tamengnya sama sekali.
Kubaca ulang, dan tanganku dingin cuma dari BACA.
Bagus. Berarti bener.
“Aku nggak bisa janji selalu kuat.
Boleh nggak... kali ini aku yang minta ditemenin terus?”