Chapter Thirty Nine
Menghilang Pelan-pelan
(POV Cynthia)
Aku pernah bilang ke diri sendiri: kalau pola itu balik lagi, aku bakal langsung tahu.
Ternyata bener dua-duanya. Polanya balik. Dan aku langsung tahu.
Yang nggak kuduga: tahu itu nggak bikin nggak sakit.
Catatannya kumulai tanpa sadar — kebiasaan lama, otak intel nggak bisa pensiun:
Minggu pertama: Kamis batal. “Ada janji sama orang, orderan.” Oke. Wajar. Dia emang lagi banyak orderan.
Minggu kedua: Selasa dipendekin — dia dateng, tapi jam sembilan udah “Cyn, maaf, besok subuhnya ada tambahan.” Matanya merah kurang tidur. Kusuruh pulang duluan; dia nolak, nemenin sampai aku dijemput, sambil ketiduran duduk. Aku pulang bawa perasaan campur: sayang banget, sama... itu tadi. Denging.
Minggu ketiga: chat-nya mulai pendek. BUKAN pendek yang jutek — pendek yang hemat. “Iya.” “Udah makan kok.” “Besok ya ceritanya.” Dan yang paling kental: dia mulai typo. Abi. Typo. Sensor kurang-tidurnya nyala.
Minggu keempat: aku “kebetulan lewat” fotokopian hari Sabtu — dan tokonya dijaga Koh Aseng SENDIRIAN. “Abi izin, Nak. Ada urusan katanya. Nggak bilang ke kamu?” Nggak, Koh. Nggak bilang.
Malamnya kutanya santai: “Sabtu tadi ke mana?” Jawabannya dateng sepuluh menit kemudian — SEPULUH MENIT, dia mikir dulu, aku bisa lihat typing-nya nyala-mati-nyala — “Nemuin orang, Cyn. Urusan yang itu. Yang belum jadi. Bentar lagi kok. Maaf ya.”
Yang itu. Yang belum jadi. Bentar lagi.
Aku naruh HP, tiduran, natap langit-langit — dan langit-langit kamarku, yang udah nemenin aku mikirin cowok itu dari jaman botol air, malam itu muterin film lama yang paling nggak pengin kutonton ulang:
“Minggu ini agak padet ya, banyak orderan.” — setahun lalu. Sebulan sebelum kalimat pemecah itu.
“Kamu duluan aja.” — belasan kali.
Senyum yang rapi. Nada yang dilatih. Pintu yang dikunci dari dalam sambil dielus-elus dari luar.
Polanya. Persis. Ngasih makin rajin — minggu-minggu ini dia RAJIN BANGET ngirimin hal-hal kecil: fotoin langit subuh tiap hari (“langitnya bagus, kamu pasti suka warnanya”), nitipin martabak lewat Koh Aseng, benerin tas kampusku yang resletingnya... yang resletingnya NGGAK RUSAK — sambil badannya makin nggak ada. Memberi sambil mundur. Jurus tua itu.
Dan ketakutan lama bangun dari tidurnya, ngulet, terus duduk di dadaku dengan berat yang kuhafal:
Apa aku mulai dilepas... lagi?
Apa “yang belum jadi” itu sebenernya kalimat perpisahan yang lagi disusun? Dia kan tukang nyusun. Tiga hari yang dulu itu — sekarang udah sebulan. Sebulan cukup buat nyusun yang lebih rapi.
Kupeluk guling. Botol air pudar di rak natap aku dari tempatnya, kayak nanya: serius, Cyn? Semua yang udah dilewatin, dan kamu masih ke situ mikirnya?
Dua hari aku perang sama diri sendiri, dan yang menang — untungnya, UNTUNGNYA — bukan yang dulu.
Karena gini. Cynthia yang setahun lalu bakal nunggu. Nelen. Senyum rapi balik, tanding rapi-rapian, sampai salah satu meledak. Udah pernah. Hadiahnya: sebulan sakit dada dan satu malam hujan-hujanan yang untung berakhir bener.
Tapi setahun ini aku belajar — dari tangga belakang, dari daftar empat puluh empat poin, dari mulutku sendiri yang pernah teriak “jangan diem-dieman, capek”. Masa iya gurunya nggak lulus-lulus.
Dan satu lagi. Ini yang bikin aku akhirnya bangkit dari kasur malam itu, ganti baju, dan nyamber kunci:
Kupikir-pikir lagi datanya. Data itu nggak bohong kalau dibaca dengan kepala dingin — dan kepala dinginku bilang ada SATU perbedaan besar antara pola yang dulu sama yang sekarang:
Yang dulu, matanya redup. Senyumnya rapi tapi lampunya mati — aku inget persis, itu yang paling serem dari masa itu.
Yang sekarang? Yang sekarang tiap ketemu — dikit, pendek, capek — matanya nyala. Nyala banget malah. Kayak orang yang lagi ngejar sesuatu, bukan lari dari sesuatu. Orang yang lari dari aku nggak akan motoin langit subuh tiap hari. Nggak akan benerin resleting yang sehat.
Jadi salah satu dari dua: pola lama kambuh — atau ada hal lain yang bentuknya mirip tapi isinya beda, dan dia, DASAR DIA, lagi ngulangin kesalahan klasiknya: mikul sendirian sambil senyum.
Dua-duanya cuma bisa dipastikan dengan satu cara. Bukan nunggu. Bukan chat. Bukan nyusun-nyusun kalimat — itu penyakit DIA, jangan ketularan.
Dateng. Langsung. Malam ini.
Kubilang ke Mama aku keluar sebentar, penting, urusan pacar — Mama, yang entah tahu apa dari jalur logistik rendang-ayam-bakar itu, cuma jawab: “Bawain termos. Anak itu pasti belum makan bener.” IBUKU. UDAH HAFAL DIA. Termos disiapin BELIAU SENDIRI.
Di jalan, dalam mobil, kupegangin termos anget itu di pangkuan dan kususun ulang niatku biar nggak belok jadi nuduh:
Kalau bener dia lagi lari — aku tagih janji tangga belakang, dan kali ini versi penuh, nggak ada ampunnya.
Kalau bener dia lagi mikul sendirian — ...ya itu juga ditagih sih. Bedanya sambil dipeluk.
Bengkel Pak Yon udah gelap pas kulewatin. Fotokopian tutup. Tapi Koh Aseng — kutelpon di jalan, satu-satunya orang yang selalu tahu — cuma bilang, dengan nada yang aneh, kayak nahan senyum:
“Nak Cynthia. Coba ke ruko depan pasar. Yang kosong itu. Eh — yang katanya kosong.”
Ruko depan pasar.
Ruko yang dia lamunin. Yang kupergokin dua kali.
Dan sepanjang sisa jalan itu, pelan-pelan, satu per satu, data sebulan nyusun ulang dirinya jadi bentuk yang beda total — dan tanganku yang megang termos mulai gemeteran, bukan karena takut.
Abimanyu. Kamu tuh ya.
KAMU TUH.