← Chapters Ch. 43 / 52

Chapter Forty Three

Yang Dulu Papan Setrika

(POV Abi)

Sabtu pagi, workshop belum buka, dan kami lagi nurunin stok botol dari motor pas Cynthia tiba-tiba ketawa sendiri.

“Kenapa?”

“Nggak. Inget aja.” Dia nunjuk pakai dagu ke arah aku — ke tanganku, yang lagi santai aja megang pinggangnya, mindahin dia geser dikit dari jalur troli, otomatis, nggak pakai mikir. “Dulu. Yang gandengan aja jalanmu kayak lemari dipindahin. Sekarang mindah-mindahin orang seenaknya.”

“Itu jalur troli.”

“IYA MAKSUDKU—“ dia gemes sendiri, “—maksudku, liat kamu sekarang. Santainya.”

Dan karena hari itu Sabtu, toko belum buka, magang belum dateng — kubales aja sekalian: kutarik dia pelan, kupeluk dari depan, lengkap, nggak pakai antre sistem, dagunya pas di bahuku, dan kubilang ke kupingnya: “Gini maksudmu?”

“...Ih.” Kupingnya merah. KUPINGNYA YANG MERAH SEKARANG. “Belum mandi udah berani.”

“Yang meluk duluan tujuh tahun lalu siapa.”

“ITU BEDA, ITU INVESTASI JANGKA PANJANG, DAN LEPASIN DULU BOTOLNYA KEJEPIT—“

Botol selamat. Pagi itu tercatat sebagai kemenangan telak kubu papan setrika.


Perkembangan tujuh tahun, kalau mau jujur diinventaris:

Yang berubah dari aku: meluk duluan, bisa. Gandeng duluan, refleks. Bilang sayang duluan — masih milih momen, tapi bisa, dan tiap kubilang duluan dia masih kaget dikit sampai sekarang, dan kekagetan itu kukoleksi. Nerima hadiah: lancar. Ulang tahunku kemarin dia beliin jam tangan — jam beneran, bagus — dan aku nerimanya cuma pakai satu kalimat: “makasih, kupakai tiap hari,” TANPA nanya harga, TANPA nyusun rencana balasan. Dia sampai meriksa jidatku, dikira demam.

Yang berubah dari dia: nggak banyak, dan itu bagus. Masih nyolong momen di depan mataku (folder HP-nya yang isinya fotoku diam-diam itu kutemukan tahun lalu, namanya “INVENTARIS” — INVENTARIS), masih galak yang isinya sayang, masih nyocokin jam papa tiap pagi. Yang nambah: dia sekarang punya versi capek-kantor yang pulangnya cuma pengin diem — dan kami udah nemuin sistemnya: dia duduk di kursi biru, aku kerja, nggak ada yang ngomong, radio nyala pelan. Sejam gitu, baterainya keisi lagi sendiri. “Kamu tuh charger,” katanya suatu kali. “Bukan powerbank ya. Charger. Yang nempel di dinding. Diem tapi ngisi.”

Aku nggak ngerti itu pujian apa hinaan. Kuterima dua-duanya.

Yang nggak berubah: Rabu dan Sabtu suci. Boncengan tetep sepeda. Bekal — sekarang gantian; aku udah naik level dari nasi goreng kecap ke tiga menu (ayam bakar madu warisan resep Eyang termasuk), dan tiap aku yang masak, dia makannya pelan banget, sengaja, “biar lama.”


Sorenya, kejadian yang bikin bab ini kuinget persis.

Ada pelanggan baru — mas-mas seumuran kami, nganter kipas angin rusak — dan sambil nunggu, dia ngobrol basa-basi sama Cynthia yang lagi di meja depan. Basa-basinya normal, orangnya sopan. Terus pas mau pulang, di pintu, dia nyeletuk ke aku, becanda, suara pelan ala cowok-ke-cowok:

“Mas, istrinya cantik banget. Awas loh ditikung.”

Dia pergi. Nggak ada maksud apa-apa. Becandaan warung biasa.

Tapi aku berdiri di situ megang kipas rusak, dan nyadar dua hal barengan:

Satu: dibilang “istrinya”, aku nggak ngoreksi. Nggak kepikiran ngoreksi. Kata itu lewat kayak kata yang emang udah di rumahnya.

Dua: kata “ditikung” itu — yang tujuh tahun lalu bisa bikin aku nyusun kalimat tiga hari dan hampir ngebuang hidupku sendiri — sekarang mental. Nggak masuk. Kayak air di daun talas. Aku nyari-nyari rasa cemburu lamaku di dada, iseng, kayak nyari bekas luka: masih ada bekasnya, tapi udah nggak sakit dipencet.

Cynthia, yang ternyata denger, nyamperin sambil senyum miring. “Denger tuh. Awas ditikung.”

“Udah pernah ada yang nyoba lebih niat. Sepuluh tahun nyiapin diri. Kalah sama toolbox.”

“IH SOMBONGNYA.” Dia ngeplak lenganku, ketawa, terus — nadanya turun, jadi setengah serius: “Tapi bener deh, Bi. Kamu beda banget soal gituan sekarang. Dulu... dulu aku bisa liat kamu ngitung tiap ada cowok deketin aku. Kelihatan, di matamu, kayak kalkulator jalan. Sekarang kosong. Ke mana kalkulatornya?”

Kupikir bentar. Jawabannya ternyata udah lama jadi, tinggal diucapin:

“Dulu aku ngitung karena mikir kamu bisa kapan aja sadar salah pilih. Jadi tiap ada pembanding, aku buru-buru ngukur.” Kutaruh kipas rusak di meja. “Sekarang tujuh tahun, Cyn. Kamu udah liat aku versi paling jelek — yang nyusun kalimat tiga hari, yang ngilang sebulan, yang sepatunya jebol, semuanya — dan kamu masih di kursi biru itu tiap Rabu. Data tujuh tahun ngalahin teori. Kalkulatornya nggak kubuang sih. Udah nggak ada yang perlu diitung aja.”

Hening.

Dia natap aku dengan tatapan yang... yang dulu, jaman SMA, selalu berakhir dia buang muka atau nutup pakai buku. Sekarang enggak. Sekarang dia natapnya lurus aja, lamaaa, terus bilang pelan:

“Kamu tuh ya. Ngomong gitu sambil megang kipas rusak. Di toko. Jam empat sore.”

“Tempat sama jamnya salah?”

“ENGGAK. Justru—“ dia geleng-geleng, nyerah, ketawa kecil, “—justru itu. Kamu tuh romantisnya selalu di tempat-tempat yang baunya oli. Tujuh tahun, settingnya nggak naik kelas: fotokopian, bengkel, trotoar toko bangunan, sekarang sebelah kipas rusak. Untung aku—“

Dia berhenti sendiri.

“Untung kamu apa?”

“Nggak jadi.” Dia buang muka — NAH ITU DIA GERAKAN LAMANYA — dan jalan balik ke meja depan sambil ngedumel, “kerja, kerja, kipasnya benerin, ditunggu orang.”

Kubenerin kipasnya sambil senyum-senyum. Kapasitornya doang. Sepuluh menit.

Malemnya, jam sebelas, HP-ku bunyi. Satu chat:

“Untung aku betahnya emang di tempat yang baunya oli. Udah. Gitu doang. Jangan dibales. Tidur.”

Kubales: “Poin 187. Kucatet.”

“MASIH NAMBAH AJA ITU DAFTAR?!”

“Pake tinta.”

Dia read doang. Tapi besoknya, Minggu pagi, pas boncengan ke pasar, pelukannya dari belakang lebih kenceng dari biasanya, dan di polisi tidur favoritnya dia ketawa paling lepas se-tahun itu.

Data tujuh tahun. Ngalahin teori. Tiap hari.