← Chapters Ch. 31 / 52

Chapter Thirty One

Memberi Sambil Mundur

(POV Abi)

Cemburu itu, kata orang, bentuknya marah. Ngambek. Nyindir. Ngeliatin HP pasangan. Versi-versi yang ada suaranya.

Punyaku nggak bersuara. Punyaku bentuknya... rajin.

Minggu-minggu itu, siapa pun yang nonton dari luar bakal bilang aku lagi jadi pacar terbaik sedunia. Hadiah kecil makin sering: gantungan kunci kububut dari baut bekas, jepit rambut kubenerin per-nya plus kutambah ukiran kecil, kotak pensilnya yang engselnya goyang kuservis tanpa diminta sampai dia bingung (“perasaan nggak rusak deh?”). Jemput makin rajin — rapat panitia bubar jam berapa pun, sepedaku udah di depan aula. Bekal kubalas masak dua kali (nasi goreng kecap, menu andalan satu-satunya, dia tetap habisin sambil bilang enak — bohong yang nadanya naik, dia emang aneh).

Ngasih, ngasih, ngasih. Itu tangan kananku.

Tangan kiriku, di saat yang sama, pelan-pelan narik semua yang lain.

“Bi, Sabtu panitia mau nonton bareng referensi festival di rumah Reno, proyektornya gede. Ikut yuk, kamu kan bagian teknis juga—“

“Sabtu toko rame, Cyn. Kamu duluan aja.”

“Minggu depan Mama ulang tahun. Acara keluarga, di rumah. Kamu... mau kuajak. Udah waktunya kan, kamu ketemu Mama.”

“Eh— minggu depan ya. Kulihat dulu jadwal— rute Minggu soalnya baru nambah—“

“Foto panitia sama tim teknis buat dokumentasi, Bi! Sini!”

“Kalian aja. Aku angkat kabel dulu.”

Satu-satu kelihatannya wajar. Ada alasannya semua, dan alasannya beneran ada — toko emang rame, rute emang nambah (aku yang nambahin, tapi kan nambah). Ditumpuk sebulan, polanya cuma kebaca sama yang ngalamin: dia dapet aku versi paling lengkap di dunia kami — sepeda, toko, tangga belakang — dan versi paling kosong di dunia dia. Undangan masuk ditolak halus. Pintu keluar kubukain lebar-lebar, sambil senyum, sambil bawain tasnya.

Kamu duluan aja. Kalimat itu, kalau dihitung, bulan itu keluar dari mulutku belasan kali.

Dan Cynthia — Cynthia bingungnya kelihatan. Bukan marah; bingung. Beberapa kali dia natap aku lamaaa habis kalimat “kamu duluan aja” itu, kayak orang ngecek terjemahan: ini artinya apa ya. Sekali dia nyoba nanya, hati-hati banget: “Bi. Kamu... nggak papa kan? Bukan capek?” Dan aku jawab dengan jawaban paling licik yang pernah kuproduksi, karena secara teknis bukan bohong:

“Nggak papa. Nadanya nggak turun kan?”

Dia ketawa. Lega. “Iya. Nggak turun.”

Emang nggak turun. Aku udah latihan.

Iya. Silakan. Itu bagian yang paling nggak bisa kumaafin dari diriku sendiri sampai sekarang: detektor satu-satunya yang dia punya buat baca aku, kupakai buat ngunci pintu dari dalam. Orang yang ngajarin dia dengerin nada, ngerapiin nadanya sendiri biar nggak kedengeran.


Puncak bulan itu — puncak versi senyap — kejadiannya di parkiran, habis rapat panitia terakhir sebelum hari-H.

Hujan gerimis. Aku udah standby sama sepeda, jas hujan udah kubukain buat dia. Terus dari pintu aula, rombongan panitia keluar rame-rame, dan mobil Reno — dia nyetir sendiri, udah punya SIM, ya iyalah — berhenti di depan, kacanya turun:

“Cyn! Hujan gini, bareng aja mobil, searah ini. Eh — Abi juga! Sepedanya masuk bagasi muat kok, ayo bareng, ngapain ujan-ujanan.”

Tulus. TULUS. Nggak ada nada apa-apa. Dia beneran nawarin, dua-duanya, sepedaku sekalian dipikirin.

Dan Cynthia noleh ke aku — nolehnya cepet, otomatis, nanya pakai mata: gimana? — dan di sepersekian detik itu ada dua jalur di kepalaku. Jalur satu: iya, bareng, hangat, kenalan lebih jauh, dunia-dunia dicampur, normal. Jalur dua:

“Kamu bareng mobil aja, Cyn. Hujan. Aku bawa sepeda, nggak muat lah bagasi sedan—“ (muat; aku tahu persis dimensi bagasi sedan) “—kalian duluan. Makasih ya, Ren!”

Senyum. Rapi. Tombol-tombol dipencet dengan benar.

Cynthia berdiri di antara mobil dan sepedaku, gerimis-gerimis, natap aku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya — dan sekarang, bertahun-tahun setelahnya, aku tahu persis nama tatapan itu, karena dia sendiri yang ngasih tahu, sambil marah, sambil nangis, di bab yang sebentar lagi kalian sampai:

Itu tatapan orang yang lagi didorong pelan-pelan, sama tangan yang sambil ngedorong sambil ngelus.

“...Ya udah,” katanya akhirnya. Pelan. “Aku bareng mobil.”

Dia masuk. Pintu nutup. Mobil jalan — wiper-nya gerak, lampu belakangnya merah di gerimis — dan aku berdiri di parkiran sama sepeda dan jas hujan yang udah terlanjur kubukain buat orang yang barusan kudorong masuk ke mobil lain.

Sepanjang jalan pulang, hujan makin deras, dan aku genjot sepeda pelan-pelan aja. Nggak buru-buru. Basah juga udah tanggung.

Ada satu suara kecil di kepalaku yang dari tadi ngomong — suara yang mirip suara Dimas, mirip suara Eyang, mirip suara Cynthia, campur — kamu sadar nggak sih kamu lagi ngapain?

Sadar.

Itu jawabannya, dan itu yang paling parah: sadar. Aku bisa lihat tanganku sendiri lagi ngedorong dia pelan-pelan ke arah dunia yang “lebih pantes”. Aku bisa denger nadaku sendiri makin rapi. Aku teknisi; kerusakan sistem sendiri kebaca di semua indikator.

Tapi tiap mau benerin, tanganku berhenti di satu pertanyaan yang nggak ada di buku manual mana pun:

Gimana kalau rusaknya bukan di sistem?

Gimana kalau dari sananya emang aku yang sparepart-nya nggak cocok — dan selama ini mesinnya cuma maksain jalan?

Hujan. Jalan sawah. Gelap. Boncengan di belakangku kosong, per-nya nggak ada beban, dan bunyi sepeda tanpa muatan itu — baru malam itu aku sadar — ringan banget.

Ringan yang salah.