← Chapters Ch. 15 / 52

Chapter Fifteen

Struk Fotokopi

(POV Abi)

Sabtu itu, dari pagi, firasatku sebenarnya sudah bunyi.

Bukan firasat mistis — firasat teknis. Data-datanya aneh. Pertama: Cynthia biasanya nongol jam sepuluh, ini sampai jam dua belas belum kelihatan. Kedua: Koh Aseng dari pagi senyum-senyum sendiri sambil sesekali ngelirik HP-nya, dan tiap kutanya kenapa, jawabannya “saham naik” — Koh Aseng nggak punya saham. Ketiga: Dimas tiba-tiba chat, “Bi lo jaga toko kan hari ini? Jangan ke mana-mana ya,” yang mana perhatian macam apa itu dari Dimas.

Jam satu, toko lagi sedang-sedangnya — dua orang antre jilid, satu ibu-ibu nunggu laminating — bel pintu bunyi.

Cynthia masuk.

Dan di sinilah data keempat, yang paling bikin sistem alarmku nyala semua: dia nggak nyelonong ke kursi tunggu. Dia BERDIRI DI ANTREAN. Ngantri. Cynthia. Ngantri. Di toko yang dia udah kayak pemilik sahamnya. Berdiri rapi di belakang ibu-ibu laminating, natap lurus ke depan, dua tangan megang satu map plastik, dan mukanya — mukanya serius kayak orang mau ujian SIM.

“Cyn? Kok ngantri? Sini aja—“

“Saya pelanggan,” katanya. SAYA. “Pelanggan antre.”

Ibu-ibu laminating noleh, ngelirik dia, ngelirik aku, terus senyum-senyum sendiri entah kenapa. Koh Aseng — yang harusnya bantuin jilid — mendadak menghilang ke balik rak sambil bawa HP dengan posisi yang, kalau kupikir sekarang, JELAS-JELAS MEREKAM.

Antrean maju. Jilid selesai, laminating selesai, dan sampailah giliran pelanggan terakhir.

Dia maju ke kasir. Naruh map plastik. Ngeluarin satu lembar kertas, dibalik, ditaruh di meja — mukanya lurus, tapi kuperhatiin jarinya pas ngelepas kertas itu gemeteran dikit.

“Fotokopi. Satu lembar. Jadi satu.”

“...Kamu terakhir fotokopi satu lembar tuh jaman kamus—“

“Bisa nggak?”

“Ya bisa.” Kuambil kertasnya, masih kebalik. “Tumben formal banget sih kam—“

“JANGAN DIBACA DULU.” Suaranya kepeleset satu oktaf. Dia berdehem, balik ke mode formal. “Maksudnya... langsung fotokopi aja. Bacanya nanti. Pas ngasih hasilnya.”

Aneh. Tapi ya sudah — pelanggan adalah raja, itu kata Koh Aseng, walaupun Koh Aseng sendiri sering ngeyel sama pelanggan. Kertas kutaruh di kaca mesin kecil, masih kebalik sesuai instruksi, tutup, tekan. Mesin nyala, cahaya hijaunya lewat — dan lembar hasilnya keluar pelan-pelan di penampung, menghadap ke atas.

Menghadap ke atas.

Tulisannya kebaca.

Tulisan tangan yang hurufnya bulat-bulat — huruf yang pernah kulihat di secarik nota belasan bekal yang lalu — gede, di tengah kertas, satu kalimat:

“Mau nggak, jadi pacar aku?”

Dan di bawahnya, kecil:

“(Bayarnya di kasir. Kembaliannya jangan pakai uang.)”

Aku berdiri di depan mesin fotokopi itu entah berapa lama. Mesin udah selesai dari tadi. Lampu hijaunya udah mati. Toko sepi — dua pelanggan tadi udah pulang — tinggal bunyi kipas angin, bunyi jam dinding, sama bunyi jantungku sendiri yang mendadak minta diservis.

Aku noleh.

Cynthia berdiri di depan kasir, tegak, dua tangan di sisi badan kayak lagi upacara. Mukanya merah sampai telinga. Matanya nantang, tapi bibirnya digigit. Lima bulan kenal dia, baru kali ini kulihat dia se-nggak santai ini.

“...Cyn.”

“Fotokopiannya,” katanya, suara ditegar-tegarkan, “udah selesai belum?”

Aku ngambil lembar hasil sama lembar aslinya, dua-duanya, bawa ke kasir dengan langkah yang kaki kanan-kirinya nggak kompak. Kutaruh di meja. Tanganku di meja kasir — meja yang udah ribuan kali jadi tempatku naruh kembalian orang — dan otakku, buku antrean paling rapi se-sekolah, sedang mengalami kebakaran total di semua lantai.

Dia nyodorin uang. Lima ratus perak. Pas. Tarif fotokopi satu lembar, dia hafal.

“Uangnya pas,” katanya. Suaranya makin kecil. “Tapi tetep minta kembalian.”

“Kembaliannya...” Suaraku sendiri kedengeran jauh. “...jangan pakai uang.”

“Iya.” Dia ngangguk. Sekali. “Jangan pakai uang.”

Kalian tahu, seumur hidup, kembalian itu perkara paling gampang buatku. Refleks. Nggak pakai mikir. Berapa pun angkanya, tanganku tahu sendiri jalannya.

Baru kali ini ada transaksi yang kembaliannya nggak ada di laci.

Kembaliannya harus keluar dari tempat lain — dari tempat yang pintunya seumur hidup kukunci rapat, kugembok, kutumpuki kardus, saking yakinnya nggak akan pernah ada yang belanja sampai situ. Dan sekarang pelanggannya udah di depan kasir. Ngantri dengan benar. Bayar dengan uang pas. Nungguin.

Ternyata gini rasanya. Pengin kabur, pengin muter balik ke bengkel, pengin bilang “nggak usah repot-repot” — semua jurus lamaku antre pengin keluar. Tapi di seberang meja ada anak perempuan yang lima bulan ini nggak pernah sekali pun nyerah sama semua jurus itu. Yang bekalnya kubalikin, dia masak lagi. Yang kotaknya kucuci, dia isi lagi. Yang kukasih sistem barter biar impas, malah dia pakai buat makin deket. Yang payungnya “ilang” empat kali.

Yang nembak pun, milih caranya lewat satu-satunya pintu yang nggak bisa kututup: kasir.

Licik.

Licik banget.

Kok bisa-bisanya aku disayang orang selicik ini.

“...Cynthia.”

“I-iya.”

“Kembalian tuh harusnya nilainya lebih kecil dari uangnya.” Kutarik napas. Tanganku di meja kasir udah nggak bisa diem. “Kalau kembaliannya aku... kamu rugi. Rugi banget. Kamu tuh— kamu bisa dapet yang lebih— yang jemputnya bukan sepeda, yang—“

“Abi.” Dia motong. Matanya lurus ke mataku, dan biarpun mukanya masih merah, suaranya keluar mantap — mantap yang kayaknya udah dilatih semalaman: “Aku pelanggannya. Yang nentuin kembaliannya cukup apa nggak itu aku. Dan aku bilang—“ napasnya goyang dikit, “—dari dua tahun lalu juga, cukupnya cuma yang ini.”

Dua tahun?

Dua tahun apanya— aku belum sempat nanya, nggak akan sempat, karena mulutku udah keburu jalan duluan, ninggalin semua pertimbangan, semua hitungan, semua kardus penumpuk pintu:

“Iya.”

Sedetik.

“...Iya?” Suaranya naik.

“Iya. Mau.” Telingaku panas sampai kayaknya bisa buat laminating. “Kembalian... aku. Semuanya. Buat kamu. Nggak pakai uang.”

Toko fotokopi “Sinar Jaya” sore itu mencatat sejarah: pelanggan dan kasir sama-sama berdiri mematung dengan muka merah, dipisahkan meja kasir selebar enam puluh senti, nggak ada yang berani gerak duluan — sampai dari balik rak kertas terdengar suara juragan tua, penuh kemenangan, jelas-jelas sambil masih merekam:

“AKHIRNYA! EMPAT PULUH TAHUN TOKO INI BERDIRI, BARU SEKALI INI KASIRNYA LAKU!”

“KOH ASENG!” — kompak. Pertama kalinya kami teriak kompak. Sebagai... sebagai apa ya. Sebagai itu. Yang baru jadi. Aduh.

Cynthia ketawa, ketawanya berantakan, matanya basah, terus dia ngeluarin tangannya nyodorin kelingking — kayak waktu perjanjian barter dulu, di meja yang sama.

“Perjanjian baru,” katanya. “Yang ini nggak ada sistem impas-impasannya. Nggak ada hitung-hitungan. Kamu nggak boleh nyuci kotaknya terus dibalikin. Ngerti?”

Kelingkingku nyantol ke kelingkingnya. “...Belum ngerti. Tapi mau belajar.”

“Bagus.” Dia senyum — senyum paling lebar yang pernah kugambar, eh, kulihat. Kulihat. “Jawaban paling bener.”

Struk transaksi sore itu — lembar asli sama fotokopiannya — nggak ada satu pun yang pulang ke dia. Dua-duanya kusimpan. Yang asli sampai sekarang masih ada, dan di mana nyimpennya, biar itu urusan bab-bab jauh di depan.

Yang jelas, sore itu, jam satu lewat entah berapa, di toko fotokopi yang lampunya setengah redup, untuk pertama kalinya dalam hidup aku menerima sesuatu — utuh, gede, nggak masuk akal — tanpa nyari cara balikinnya.

Dan langit nggak runtuh.

Malah cerah banget.