Chapter Sixteen
Hari Pertama
(POV Abi)
Hal pertama yang kupelajari tentang pacaran: nggak ada buku manualnya.
Serius. Semua barang di dunia ini ada logikanya. Mesin fotokopi, ada diagramnya. Jam mekanik, ada urutan bongkarnya. Bahkan hati ibu-ibu kompleks ada polanya (tolak dua kali, terima sekali, bantu angkat galon). Tapi Senin pagi itu, hari resmi pertama, aku berangkat sekolah dengan satu pertanyaan teknis yang nggak ada jawabannya di mana pun:
Terus sekarang... ngapain?
Kemarin kan Minggu, jadi setelah kejadian kasir bersejarah itu kami cuma chat — chat yang isinya juga kacau: dia ngirim “met malem”, kubalas “iya, met malem juga”, terus dua-duanya online sampai jam sebelas tanpa ada yang ngetik lagi. DUA JAM. Online. Diem-dieman. Kalau dipikir sekarang, itu perilaku yang harusnya diperiksakan.
Sampai gerbang sekolah, pertanyaan terus ngapain itu langsung dijawab oleh pihak yang lebih berpengalaman.
“ITU DIA ORANGNYA.” Dimas, berdiri di gerbang kayak petugas penyambutan, langsung merangkul leherku. “Bapak Kembalian. Legenda. Lo tau nggak semalem video Koh Aseng nyebar sampe mana? SAMPE GRUP ALUMNI. ALUMNI, BI. ANGKATAN YANG UDAH PADA NIKAH IKUT KOMEN.”
“Video apa— DIA BENERAN NGEREKAM?!”
“Bagus lagi angle-nya. Stabil. Bakat tuh si engkoh.” Dimas nyengir lebar banget. “Selamat ya, Bi. Seriusan. Satu sekolah tuh sebenernya udah nungguin dari kapan tau. Cuma satu orang doang yang nggak sadar ditungguin.”
“...Makasih?”
“Nah gitu. Latihan nerima. Bagus.”
Di kelas, lebih parah. Aku masuk, dan kelas yang biasanya cuek langsung pada noleh sambil senyum-senyum kompak kayak paduan suara. Sinta udah duduk di sebelah Cynthia dengan posisi interogasi. Dan Cynthia sendiri—
Nah.
Cynthia sendiri, pas mata kami ketemu, melakukan hal yang sepanjang lima bulan kenal belum pernah kulihat: dia buang muka. Ke jendela. Kupingnya merah.
LOH. KOK DIA YANG SALTING. Kan yang nembak dia.
Aku jalan ke mejaku dengan kaki yang lagi-lagi nggak kompak, duduk, buka buku, nutup buku, buka lagi. Lima menit kemudian HP-ku getar.
Cynthia: “Jangan senyum2 sendiri. Keliatan.”
Aku: “Kamu juga dari tadi ngadep jendela mulu. Di jendela nggak ada apa2.”
Cynthia: “ADA. AWAN.”
Aku: “Oh iya. Bagus ya awannya.”
Cynthia: “ABI.”
Aku: “Iya?”
Cynthia: “...met pagi.”
Aku natap layar. Ngetik. “Met pagi juga.” Terus, setelah pertimbangan teknis yang panjangnya nggak masuk akal untuk satu karakter, kutambahin: “:)”
Dari barisan tengah kedengeran suara orang keselek. Sinta langsung heboh nanya kenapa. “Nggak papa,” jawab Cynthia. Nadanya naik. Jujur.
Istirahat pertama, kami makan bareng kayak biasa — bedanya sekarang ada penontonnya resmi. Bukan lagi ngintip-ngintip: beneran ada yang lewat depan meja cuma buat bilang “cie” terus kabur. Anak kelas sebelah. NGGAK KENAL PUN.
“Ini bakal berapa lama?” tanyaku.
“Kata Sinta seminggu. Abis itu ada gosip baru, kita pensiun.” Cynthia naruh ayam suwir ke kotakku — porsi gede, kayak hari tangga belakang dulu, bedanya sekarang sambil senyum. “Kenapa? Nggak betah jadi tontonan?”
“Biasa aja sih. Cuma mikirin kamu. Kamu kan nggak suka—“
“Sama kamu nggak papa.”
Nadanya lempeng. Sambil ngunyah. Nggak sadar barusan ngelempar granat.
Aku nunduk ke kotak bekal dan makan dengan khusyuk karena kalau nggak gitu telingaku bakal dilihat sekelas. Ternyata pacaran itu gini ya. Kayak biasa, tapi tiap lima menit ada serangan jantung kecil yang dijadwalkan acak.
Serangan yang beda datangnya sore, pas aku lagi mindahin galon di koperasi — bantuin Bu Yuli, kebiasaan lama.
“Abimanyu, kan?”
Aku noleh. Dan harus mendongak dikit.
Reno. Ketua OSIS. Semua orang kenal Reno — kapten basket, tinggi, rapi, wanginya kayak lorong mall. Dia tipe kakak kelas... eh, seangkatan deng, tapi rasanya kayak kakak kelas: tipe yang kalau lewat, koridor rapi sendiri. Kami pernah beberapa kali kerja bareng urusan acara sekolah — dia yang mimpin, aku yang benerin sound system — dan sejauh ini datanya: orang baik. Sopan. Kalau minta tolong, bilang tolong. Kalau selesai, bilang makasih. Nggak semua orang begitu.
“Eh. Reno. Kenapa? Sound aula rusak lagi?”
“Bukan.” Dia senyum, nyodorin tangan. “Cuma mau ngucapin selamat. Kamu sama Cynthia, kan? Beritanya... kenceng.”
Kusalamin. Tangannya mantap, salaman orang yang biasa mimpin rapat. “Iya. Makasih ya.”
“Dia...” Reno diem sebentar. Sebentaaar aja. “Dia orangnya baik. Dari les piano — oh, kami satu tempat les dari kecil, rumah juga searah kompleks. Udah lama kenal.” Dia senyum lagi. “Jaga baik-baik ya.”
“Siap. Eh — kamu les piano? Pantesan waktu itu pas acara perpisahan yang main piano bagus banget. Itu kamu kan? Grand piano aula tuh sebenernya ada dua tuts yang—“
“—yang F sama B-flat oktaf atas, agak telat balik. Iya. Kamu tahu?”
“Aku yang benerin. Tapi nggak sempurna, part-nya harusnya diganti. Kalau kamu mainnya sering ke oktaf atas pasti kerasa.”
“Kerasa banget.” Dia ketawa kecil, dan kami ngobrol tuts piano tiga menit — orangnya enak diajak ngobrol, ngerti barang, nggak sok tahu. Sebelum pergi dia nepuk bahuku sekali. “Bener kata orang-orang tentang kamu, Bi.”
“Apa?”
“Nggak. Udah, sana galonnya dituntasin. Selamat sekali lagi.”
Dia jalan pergi — langkahnya rapi, punggungnya tegak — dan aku balik ngangkat galon sambil mikir: baik banget ya anak itu. Repot-repot nyamperin cuma buat ngucapin selamat.
Itu. Itu doang isi kepalaku.
Bertahun-tahun kemudian, waktu semua cerita ini dibongkar rame-rame dan bagian ini kuceritain persis kayak gini, Dimas sampai berdiri dari kursinya: “SENYUMNYA DOANG? Lo nggak merhatiin MATANYA? Katanya lo detektif ekspresi!”
Ya gimana. Detektifnya lagi sibuk mikirin tuts piano.
Lagian waktu itu, sungguh, nggak ada data yang aneh. Reno senyum, salaman, muji, pergi. Kalau pun matanya sempat... entah, redup sebelah? — mana kepikiran. Orang sebaik itu.
Catat aja dulu ya, kalimat barusan. Orang sebaik itu. Nanti kita balik lagi ke sini.
Malamnya, Eyang Uti manggil pas aku lagi nyuci kotak bekal — dua kotak sekarang, resmi, punya dia satu punyaku satu.
“Le.”
“Iya, Yang?”
“Itu yang masakin kamu tiap hari.” Beliau nunjuk kotak pakai dagu, matanya nggak lepas dari sinetron. “Kapan disuruh mampir? Eyang pengin lihat orangnya. Masak ayam suwirnya bener, eyang mau ngecek orangnya bener juga apa nggak.”
“...Kok Eyang tahu itu—“
“Le. Kotaknya gambar bunga-bunga. Kamu nyucinya sambil senyum. Eyang tua, bukan buta.”
Aku nunduk, ngelanjutin nyuci, dan nggak bisa berhenti senyum — yang mana membuktikan poin beliau.
“Iya, Yang. Nanti kuajak.”
“Bagus.” Beliau naikin volume TV. “Bilangin, eyang nggak galak. Galaknya nanti aja kalau dia nyakitin kamu.”
“Dia nggak bakal, Yang.”
Kalimat itu keluar cepet banget, nggak pakai mikir, dan Eyang Uti akhirnya noleh dari sinetronnya — natap aku agak lama, dengan tatapan yang campur: geli, sayang, sama sedikit... lega? — terus balik nonton sambil ngedumel pelan:
“Cepet amat belanya. Ya udah. Berarti eyang nggak perlu nyiapin galak.”