Chapter Eight
Tarif Berlangganan
(POV Abi)
Makan bareng pertama kami disaksikan oleh kurang lebih tujuh ratus pasang mata.
Oke, lebay. Tapi rasanya begitu. Karena begitu Cynthia menarik kursi ke sebelah mejaku pas jam istirahat, mengeluarkan DUA kotak bekal, dan menyodorkan satunya ke aku dengan santai kayak udah langganan bertahun-tahun — kelas XI-3 hening dengan jenis hening yang sama kayak pas dia pertama masuk kelas. Bedanya kali ini semua mata pindah-pindah antara dia, aku, dan kotak bekal, sambil otak mereka menyusun kesimpulan yang bunyinya pasti seragam.
“Woy,” Dimas berbisik horor dari sebelah. “Bekal misterius. Pelakunya. ANAK BARU?!”
“Iya.”
“KENAPA LO SANTAI?!”
“Udah dari kemarin tahunya.”
“TERUS KENAPA GUE BARU TAHU SEKARANG?!”
“Kamu bukan pihak berwajib, Dim.”
Cynthia membuka kotaknya sendiri, nunjuk kotakku pakai dagu. “Makan. Sampai habis. Perjanjiannya gitu.”
Dan aku makan.
Kalian harus tahu: itu suapan pertamaku dari belasan bekal yang selama tiga minggu cuma bisa kucium wanginya. Ayam suwir kecap — resep yang difotokopi satu lembar itu, yang kalau kuingat sekarang masih bikin pengin nutup muka — dan rasanya...
“...Enak.”
“Iya dong.”
“Enak banget. Ini yang selama ini kukasih-kasihin ke orang?”
“Iya. Tiga minggu. Belasan kotak.” Dia ngunyah dengan tenang. “Dosa kamu banyak.”
Sekelas masih nonton. Ada yang udah ngetik di grup angkatan — kulihat dari gerak jempolnya yang panik. Bu Kantin bakal kehilangan pelanggan es teh paling setia. Polling bekal misterius bakal ditutup dengan pemenang yang nggak ada di daftar. Dan Laras, di mejanya, natap sebentar ke arah kami, terus balik nulis sesuatu di buku absen dengan muka yang nggak bisa kubaca.
Dunia sedang heboh. Tapi di mejaku cuma ada satu masalah yang benar-benar penting:
“Cynthia. Soal bayarannya—“
“Mulai lagi.”
“Dengerin dulu. Aku tahu kamu nggak mau dibayar pakai uang. Oke. Aku terima.” Kuletakkan sendokku. Ini sudah kupikirkan semalaman — literally semalaman, sampai Eyang Uti nanya kenapa lampu kamar nyala terus. “Tapi aku nggak bisa terima terus-terusan tanpa bentuk apa-apa. Nggak bisa. Bukannya nggak menghargai — justru kebalikannya. Jadi aku mau nawarin sistem.”
“...Sistem.” Dia menyipitkan mata, waspada, kayak orang lagi disodorin asuransi.
“Barter. Kamu kasih bekal — itu keahlianmu. Aku bayar pakai keahlianku.” Kubuka tanganku. “Servis. Apa aja. Barang rusak, barang macet, barang bunyi aneh — bawa ke aku. HP, jam, sepeda, kipas, radio, apa pun. Gratis, prioritas, seumur hidup. Anggap kamu... pelanggan berlangganan.”
Hening sebentar.
“Jadi biar jelas,” katanya pelan-pelan, “tiap aku bawa bekal... aku dapat hak servis... barang apa aja... kapan aja.”
“Iya.”
“Dan itu bikin kamu bisa makan dengan tenang.”
“Sangat tenang.”
Dan di titik ini aku menyaksikan sesuatu yang waktu itu kubaca SALAH TOTAL: matanya berbinar. Binar yang kuartikan sebagai “wah, lumayan, ada tukang servis gratis”. Padahal — sekarang aku tahu, dan kalian nanti juga bakal tahu — binar itu artinya lain sama sekali. Binar itu artinya: dia baru saja dikasih izin resmi, legal, bertanda tangan, untuk datang ke aku kapan aja, bawa apa aja, tanpa perlu alasan fotokopi satu lembar lagi.
Aku, dengan dua tangan sendiri, membangun jalan tol menuju kehancuranku.
“Deal,” katanya, nyodorin kelingking.
Aku natap kelingking itu. “...Ini apa.”
“Perjanjian. Masa gitu aja nggak tahu.”
Kelingking kami nyantol sebentar — dan telingaku, penyakit baru itu, langsung anget. Padahal cuma kelingking. KELINGKING.
Minggu pertama sistem barter berjalan lancar dan wajar.
Senin: charger HP, kabelnya putus dalam. Kuganti, kubungkus ulang pakai selongsong bekas, lebih kuat dari aslinya. Wajar.
Rabu: jam weker, katanya bunyinya serak. Bener serak. Membrannya kotor. Kubersihkan. Wajar.
Jumat: kotak musik kecil, engselnya lepas. Kupasang lagi, sekalian kusetel pegasnya biar lagunya nggak ngos-ngosan. Masih wajar, walaupun mulai kupikir barang anak ini kok gampang rusak ya.
Minggu kedua, kewajaran mulai goyah.
Selasa dia bawa senter. “Mati,” katanya. Kubuka: baterainya kebalik. KEBALIK. Plus dan minusnya ketuker dua-duanya, yang mana secara statistik lebih susah daripada masang bener.
“Cynthia.”
“Hm?”
“Baterainya kebalik.”
“Oh ya? Kok bisa ya.” Mukanya lurus. Sangat lurus. “Untung ada kamu.”
Kamis dia bawa kalkulator yang “layarnya error”. Layarnya nggak error. Kalkulatornya masih ada plastik pelindungnya. MASIH ADA PLASTIKNYA. Baunya masih bau toko.
“Ini kalkulator baru.”
“Bekas. Beli bekas.”
“Struknya masih nyelip di kotak.”
“...Struknya juga bekas.”
Dan aku — tolong dicatat, demi keadilan — sebenarnya sadar ada yang aneh. Beneran sadar. Malam itu aku sampai bilang ke Dimas lewat chat: “Dim, perasaan barang Cynthia rusak mulu ya. Apa dia beli barang second semua? Kasihan, ketipu terus.”
Balasan Dimas cuma satu baris, dan baru bertahun-tahun kemudian kuakui itu balasan paling sabar dalam sejarah pertemanan kami:
“Bi. Gue tanya sekali. Yang rusak itu barangnya... apa lo?”
Kubaca. Nggak ngerti. Kubalas tanda tanya. Dia read doang.
Ya sudah. Kembali ke kesimpulan awal: anak baru itu memang kurang beruntung soal barang elektronik. Untung sekarang dia punya langganan servis gratis. Sistemnya bekerja. Semua orang senang. Aku bisa makan bekal dengan tenang, dia nggak rugi, dunia adil.
Itu — sungguh — isi kepalaku selama hampir sebulan penuh. Tiap istirahat makan berdua, tiap dua-tiga hari ada “barang rusak”, tiap sore Sabtu dia nongkrong di kursi tunggu fotokopian sambil komentarin cara kerjaku, dan aku masih dengan percaya diri menyebut semua itu: sistem barter.
Sampai suatu sore dia datang bawa “barang rusak” yang bukan barang.
Tapi itu cerita bab depan. Yang jelas, kalau kalian mau menertawakan kepolosanku, silakan, antre yang rapi — di barisan paling depan sudah ada Dimas, Koh Aseng, dan belakangan, setelah tahu ceritanya: Eyang Uti sendiri.