Chapter Two
Murid Pindahan
(POV Abi)
Ada dua jenis kehebohan di sekolahku.
Yang pertama: kehebohan biasa. Guru killer nggak masuk, kucing nyasar ke lab biologi, kantin jual menu baru. Ributnya lima menit, habis itu bubar.
Yang kedua: kehebohan yang bikin anak-anak kelas sebelah mendadak punya urusan penting di depan kelasku — minjem penghapus lah, nanya jadwal lah, atau sekadar mondar-mandir pelan-pelan kayak satpam kebanyakan gaya.
Pagi itu, jenis yang kedua.
“Bi. Bi. BI.” Dimas mengguncang bahuku pas aku lagi menyalin PR fisika — bukan nyontek ya; punyaku yang lagi disalin tiga orang, aku cuma mindahin ke buku sendiri. “Lo denger nggak sih semalem gue chat apa?”
“Denger. Anak baru.”
“BUKAN SEKADAR ANAK BARU.” Dimas menarik napas kayak mau pidato kenegaraan. “Anak OSIS yang fotokopi berkasnya bilang, pas liat pas fotonya doang, dia sempet lupa cara ngeklik stapler. PAS FOTO, BI. Pas foto itu genre foto paling jelek sedunia. Kalau di pas foto aja begitu, aslinya—“
“Aslinya juga manusia,” kataku, tangan tetap nulis. “Dua mata, satu hidung.”
“Yaelah. Robot mah gitu ngomongnya.”
Bukannya sok cool. Otakku memang lagi penuh: sore ini jadwal bengkel, tapi mesin fotokopi besar Koh Aseng kemarin kucek memang mulai narik kertas dobel — kalau dibiarkan bisa mati total pas musim tugas. Belum lagi genteng dapur yang semalam bunyi tek-tek pas angin kencang. Kepalaku ini kayak buku antrean servis. Selalu ada nomor berikutnya. Anak baru secantik apa pun, maaf saja, belum dapat nomor.
Bel masuk. Bu Ratna masuk dengan senyum mencurigakan — senyum guru yang bawa pengumuman.
“Pagi, anak-anak. Sebelum mulai, kita kedatangan teman baru.”
Kelas yang tadinya berisik langsung senyap, dengan kecepatan yang seumur-umur nggak pernah berhasil dicapai bentakan guru mana pun.
“Silakan masuk, Nak.”
Pintu terbuka.
Aku masih nulis. Sumpah, aku masih nulis — tinggal dua baris lagi soalnya. Makanya yang kutangkap pertama bukan wujudnya, tapi efeknya: kelas mendadak hening total, lalu terdengar suara Dimas keselek udara, lalu suara pulpen seseorang jatuh dan nggak ada usaha mungutnya sama sekali.
Baru pas aku selesai nulis dan mengangkat kepala—
Oh.
Oke.
Jadi gini. Aku bukan tipe yang gampang kagum sama tampang; menurutku muka orang ya muka orang. Tapi kali ini otakku, yang biasanya rapi antre, sempat mengalami korsleting kecil selama kira-kira dua detik. Cewek itu berdiri di depan kelas dengan santainya — nggak ada gugup-gugupnya kayak anak pindahan pada umumnya — dan wajahnya itu tipe wajah yang bikin kamu ngerti kenapa anak OSIS bisa lupa cara ngeklik stapler.
“Halo. Nama aku Cynthia. Pindahan, karena keluargaku pindah ke sini.”
Suaranya jernih. Matanya menyapu seisi kelas dengan tenang — baris depan, baris tengah, terus ke arah pojok, ke arahku—
Mata kami ketemu. Sedetik. Dua detik.
Aku mengangguk sopan. Ya gimana, ditatap ya diangguki, ke semua orang juga aku begitu.
Ujung bibirnya berkedut sedikit. Entah mau senyum, entah... kesal? Perasaanku doang kayaknya. Orang baru kenal, masa kesal.
“Baik, Cynthia, silakan duduk di...” Bu Ratna mengedarkan pandangan. Satu-satunya kursi kosong — kursi yang kemarin malam sudah kupikirkan buat piket — ada di barisan tengah agak belakang. “...sebelah Sinta ya.”
“Baik, Bu.”
Dia berjalan ke kursinya, dan sepanjang lima meter itu aku bisa melihat delapan cowok memperbaiki posisi duduk dan dua orang merapikan poni. Dimas mendekat ke telingaku, berbisik dengan volume yang menurut dia doang pelan:
“Bi. Gue mau pindah agama jadi rajin sekolah.”
“Kamu emang harusnya gitu dari dulu.”
Sepanjang dua jam pelajaran, kelasku mengalami anomali: nggak ada yang tidur. Anak-anak yang biasanya ngitung menit ke jam istirahat mendadak duduk tegak semua kayak pelajar teladan — walaupun arah tatapannya jelas bukan papan tulis.
Aku sendiri balik ke urusanku. Pertengahan jam kedua, pulpen Dimas macet — pulpen kesayangannya, katanya pulpen keberuntungan, padahal isinya tinggal seperempat. Kubongkar di bawah meja: pernya melenceng, tinggalnya kotor di ujung. Tarik, betulin, tiup, pasang. Dua puluh detik, balik lagi ke pemiliknya. Dimas ngetes, ngangkat jempol.
Pas aku mengangkat kepala, nggak sengaja kena lagi — barisan tengah, anak baru itu, buru-buru nunduk ke bukunya.
“Bi,” bisik Dimas. “Perasaan gue doang atau anak baru dari tadi ngeliatin arah sini?”
“Ngeliatin kipas kali. Kita deket kipas.”
“...Bi. Nggak ada orang kagum sama kipas.”
“Kamu belum pernah liat kipas ini pas rusak.”
Dimas menatapku dengan tatapan yang susah diartikan, lalu menyerah.
Menjelang istirahat, proyektor kelas mati.
Bu Ratna memencet remote berkali-kali dengan gaya khas orang tua menghadapi teknologi: makin nggak nyala, makin kencang mencetnya. “Aduh. Padahal ibu mau menampilkan materi...”
Aku mengangkat tangan. “Bu, boleh saya lihat?”
“Oh — iya, Abi, coba.”
Naik ke kursi, buka penutup proyektor. Dalamnya kutengok beberapa detik — dan kayak biasa, mesinnya “ngomong” sendiri: lampu indikator hidup berarti bukan power, kipas muter berarti bukan overheat, tinggal satu tersangka. Kabel konektornya longgar, kendor karena sering ketarik gulungan layar. Cabut, tiup, pasang, tekan sampai bunyi klik.
Layar nyala.
“Kabelnya longgar aja, Bu. Nanti saya ganjel biar nggak kendor lagi.”
Nggak ada yang tepuk tangan — ini kejadian minggu keempat kalinya, sekelas udah bosen. Bu Ratna bilang “makasih ya, Nak” dengan nada yang sama kayak berterima kasih ke matahari karena terbit. Aku turun dari kursi.
Dan pas turun itulah aku nangkep lagi — sepersekian detik doang — barisan tengah, anak baru itu, yang kali ini nggak sempat nunduk.
Dia lagi natap aku. Bukan tatapan “eh keren” kayak anak-anak kalau lihat aku benerin barang. Beda. Tatapannya kayak... kayak orang nemuin barang yang udah lama dicari terus ketemunya di tempat yang nggak disangka-sangka.
Aneh, kan? Padahal baru hari ini kami sekelas.
Aku mengangguk sopan lagi — angguk yang sama kayak tadi pagi — dan balik ke tempat dudukku. Kalau ada yang salah sama mukaku, paling nanti juga Dimas kasih tahu. Biasanya keras-keras.
Bel istirahat. Kelas bubar ke kantin, bawa serta gosip anak baru yang dalam dua jam sudah nyebar ke tiga angkatan.
Aku merapikan buku, ngecek jam, ngitung: istirahat dua puluh menit, cukup nggak ya buat ngintip mesin fotokopi Koh Aseng lewat pagar belakang — nggak cukup. Sepulang sekolah aja sekalian.
Aku berdiri, gendong tas, jalan keluar lewat barisan tengah — lewat meja si anak baru yang lagi sibuk banget natain kotak pensil, sibuknya kayak orang yang sebenarnya nggak lagi ngapa-ngapain. Wangi sampo lewat sedetik. Terus ya udah. Di buku antrean dalam kepalaku, hari itu, namanya belum terdaftar di nomor mana pun.
Namanya Cynthia. Itu doang yang kucatat.
Dan sekarang, tiap kali aku ingat-ingat lagi hari itu, aku cuma bisa geleng-geleng sendiri. Delapan cowok sekelasku sadar dalam dua jam. Tiga angkatan sadar dalam sehari. Sementara aku — yang katanya paling peka se-sekolah, yang bisa tahu proyektor sakit apa cuma dari ngeliat dalemannya beberapa detik—
Aku jadi orang terakhir yang sadar lagi diincer.
Bukan diincer yang gimana-gimana. Diincernya... ah, gimana ya ceritanya. Kalian bakal ngerti sendiri. Soalnya mulai besok, hidupku yang rapi antre itu kedatangan pelanggan paling niat, paling sabar, dan paling nggak bisa ditolak yang pernah ada.
Dan dia bahkan nggak pernah ngantre.