Chapter Eleven
Payung yang Disembunyikan
(POV Abi)
Musim hujan tahun itu datangnya nggak pakai pemanasan. Langsung babak final: sore-sore langit gelap total, terus tumpah.
Aku sendiri nggak pernah takut hujan — orang kerjaannya subuh-subuh, hujan itu cuma soal jas plastik dan koran yang dibungkus dobel. Tapi hari Rabu itu aku pulang sekolah bareng jadwal bengkel, dan hujannya jenis yang bikin Pak Yon pun pasti nyuruh neduh dulu: deras, angin, ditambah petir yang sesekali pamer.
Aku berdiri di teras depan sekolah bareng segerombolan anak yang senasib, ngitung-ngitung: nekat sekarang, atau nunggu setengah jam. Untung tasku selalu siap perang — kubuka, kukeluarkan payung lipat butut yang gagangnya udah kuganti sendiri pakai pipa aluminium.
Dan pas mau kubuka, ada yang narik-narik lengan seragamku.
“Abi.” Cynthia. Muncul dari arah kelas, muka ditekuk maksimal. “Payungku ilang.”
“Ilang?”
“Ilang. Tadi pagi bawa. Sumpah. Sekarang di tas nggak ada.” Dia menunjukkan tasnya yang setengah terbuka dengan ekspresi korban kemalingan. “Padahal aku harus pulang, dijemputnya di gerbang luar.”
Gerbang luar itu nggak jauh — tapi cukup jauh buat basah kuyup di hujan model begini.
“Ya udah.” Kusodorin payungku. “Pakai. Besok aja baliki— eh, nggak usah dibalikin juga nggak papa, itu payung udah tua—“
“Terus kamu?”
“Aku mah biasa. Lari juga nyampe.”
“Hujannya gede gini?!”
“Kan tinggal lari—“
“NGGAK.” Dia motong dengan tegas, terus — sebelum aku sempat memproses apa pun — dia narik payung dari tanganku, MEMBUKANYA SENDIRI, masuk ke bawahnya, dan natap aku dari sana kayak kondektur nungguin penumpang terakhir. “Bareng. Payungnya muat dua. Kamu anterin aku ke gerbang luar, abis itu payungnya kamu bawa ke bengkel. Semua kebagian. Selesai.”
“Cynthia, itu payungnya kecil—“
“MAKANYA BURUAN, MAKIN LAMA MAKIN BASAH.”
Dan begitulah aku, Abimanyu, untuk pertama kalinya dalam hidup, berjalan sepayung berdua dengan seorang perempuan yang bukan Eyang Uti.
Laporan situasi dari bawah payung: sempit. Sangat sempit. Payung lipat butut itu didesain untuk satu orang pelit tempat, jadi mau nggak mau jalannya rapat — bahunya nempel bahuku, dan tiap dia ngomong, aku bisa denger dari jarak yang nggak wajar. Wangi sampo yang biasanya cuma lewat sedetik itu sekarang stay. Hujan di luar payung bunyinya kenceng, tapi entah kenapa yang paling kedengeran justru detak— bunyi jam tangan papanya. Iya. Jam tangannya. Itu.
“Abi.”
“Hm.”
“Payungnya miring ke aku terus. Kamu basah tuh sebelah.”
“Nggak papa—“
“Nada ’papa’-nya turun.”
“ITU JURUSKU. Kok kamu yang pakai.”
Dia ketawa, puas banget, dan aku merasakan getar ketawanya dari bahu yang nempel itu, yang mana — oke. Fokus jalan. Fokus genangan. Ada genangan di depan, kugeser dia dikit lewat lengannya biar nggak nginjek, dia noleh, aku pura-pura sibuk natap jalan.
Setengah perjalanan, aku baru sadar satu hal teknis.
“Eh. Bentar. Tas kamu.”
“Kenapa?”
“Resletingnya kebuka setengah dari tadi. Bukumu bisa kena tampias.” Kuberhentiin jalan bentar, kugeser payung — otomatis, nggak pakai mikir — sepenuhnya ke arah dia dan tasnya, terus kubenerin resletingnya sambil badanku sendiri kena hujan sebelah. “Nah. Aman.”
Hening.
Kuangkat muka. Dia lagi natap aku dengan ekspresi yang susah dijelaskan — antara mau ketawa, mau marah, dan satu lagi yang nggak kukenal waktu itu.
“...Apa?”
“Abi. Kamu basah kuyup sebelah badan. DEMI RESLETING TAS.”
“Ya kan bukumu—“
“Bukunya bisa dijemur! Kamunya masuk angin gimana?!”
“Buku basah tuh susah, halamannya keriting semua, nyetrikanya lama—“
“KENAPA KAMU TAHU CARA NYETRIKA BUKU?!”
Kami sampai gerbang luar dalam kondisi: aku basah sebelah, dia kering total, dan dua-duanya ngos-ngosan bukan karena jalan tapi karena debat. Mobil jemputannya udah nunggu. Dia berhenti di bawah payung, nggak langsung keluar.
“Makasih ya,” katanya. Nadanya naik di belakang. Jujur.
“Iya. Hati-hati.”
“Payungnya—“
“Bawa aja dulu. Aku ke bengkel tinggal lari, deket.”
“ABI—“
“BECANDA. Kubawa. Sini.”
Dia nyerahin payungnya, tapi pas tanganku udah megang gagang, dia nggak langsung ngelepas. Sedetik. Dua detik. Hujan rame banget di atas kami.
“Rabu depan,” katanya, “katanya bakal hujan lagi. Aku liat ramalan cuaca.”
“...Terus?”
“Nggak. Info aja.” Dia ngelepas gagangnya, senyum, lari kecil ke mobil, dan dari balik kaca yang mulai naik, dia dadah dengan gaya orang yang baru menang sesuatu.
Aku jalan ke bengkel di bawah payung sendirian — yang mendadak kerasa luas banget — sambil mikir: info aja apanya. Emang kenapa kalau Rabu depan hujan.
Rabu depan, hujan. Payungnya “ilang” lagi.
Rabu depannya lagi, hujan. “Ilang” lagi.
Rabu KEEMPAT, pas dia bilang payungnya ilang dengan muka korban kemalingan yang udah mulai kurang latihan, aku nggak sengaja lihat — pas dia buka tas mau nunjukin “bukti” — ada benda lipat warna biru muda kelihatan nyelip di antara bukunya, ketutup setengah sama kotak pensil.
Payung. Payungnya. Di dalam tasnya. Dalam kondisi sehat walafiat.
Dan di sinilah aku harus jujur mencatat respons otakku saat itu, apa adanya, tanpa diedit demi harga diri:
Oh, kasihan. Dia nggak sadar payungnya kebawa. Anaknya emang suka lupa — kalkulator aja dikira rusak padahal masih ada plastiknya. Kalau kukasih tahu sekarang, dia pasti malu banget udah empat kali drama kehilangan. Udahlah. Nggak usah dibilang. Lagian sepayung berdua juga... nggak ada ruginya. Buat dia maksudnya. Nggak ada ruginya buat dia.
Jadi aku nggak bilang apa-apa. Kubuka payung butut itu, dia masuk ke bawahnya dengan kecepatan penumpang langganan, dan kami jalan nembus hujan sambil debat soal apakah nyetrika buku itu keterampilan yang normal.
Empat tahun kemudian — bocoran dikit, nggak papa ya — pas cerita ini kebongkar di depan Eyang Uti, Cynthia ngakak sampai nangis dengar versi “kasihan dia nggak sadar payungnya kebawa” itu.
“JADI KAMU TAHU?!”
“Jadi kamu SENGAJA?!”
Eyang Uti, sambil ngunyah, cuma bilang: “Yang satu pura-pura kehilangan, yang satu pura-pura nggak lihat. Cocok. Sama-sama nggak waras.”
Kami nggak bisa membantah.