Chapter Twenty Eight
Takut Tak Bisa Membalas
(POV Abi)
Kamis, kami sama-sama jelek.
Dia dateng sekolah dengan mata yang kurang tidur (kuhafal bedanya). Aku dateng dengan muka yang kata Dimas “kayak orang lupa naruh kunci di mana, tapi kuncinya perasaan”. Bekal tetap ada di mejaku — TETAP ADA, dia naruhnya pagi-pagi pas aku belum dateng, kayak jaman misi rahasia dulu — dan itu yang bikin dadaku makin nggak karuan: lagi marah pun, orang ini masakin.
Istirahat, kami makan di meja yang sama tanpa ngomong. Sekelas ngerti situasi dan pura-pura sibuk semua — bahkan Dimas, yang biasanya nggak punya fitur pura-pura, hari itu belajar mendadak.
Pas bel pulang, aku nyegat dia di pintu kelas.
“Cyn. Tangga belakang. Aku yang cerita sekarang.” Kutarik napas. “Ceritanya... panjang dikit. Sama jelek. Tapi kamu berhak denger.”
Dia natap aku sebentar. Terus ngangguk. “Kupingku kubawa.”
Tangga belakang. Anak tangga ketiga. Sore mendung, tapi nggak hujan.
Aku nggak tahu mulai dari mana, jadi mulai dari yang paling jauh:
“Bapakku tukang servis elektronik. Panggilan, keliling. Ibuku jahit di rumah. Kami nggak miskin banget — cukup, kalau kata Ibu, ’cukup itu kalau bersyukurnya rajin’.” Tanganku nyari kerjaan, mainin kerikil di anak tangga. “Terus pas aku kelas enam, Ibu sakit. Sakitnya panjang. Dan ’cukup’ itu... habis. Pelan-pelan. Mesin jahit dijual. Motor dijual. Alat servis Bapak — sebagian dijual juga, padahal itu tangannya dia.”
Cynthia nggak ngomong. Duduknya deket, dengernya kelihatan.
“Yang aku inget paling jelas dari masa itu bukan sedihnya. Tapi mukanya Bapak tiap ada yang nawarin bantuan. Tetangga patungan, saudara jauh ngirim, temen-temennya dateng — dan Bapak nerima, karena harus, karena buat Ibu. Tapi mukanya, Cyn. Tiap nerima, mukanya kayak... kayak ada yang dicopot dari dia. Satu-satu.” Kerikilnya kulempar pelan ke lapangan. “Ibu meninggal pas aku mau masuk SMP. Bapak nyusul dua tahun kemudian — sakit juga, tapi menurutku sih dia udah capek duluan dari sebelum sakit. Dan seminggu sebelum dia pergi, dia pesen itu: ’Jangan pernah merepotkan orang, Le.’ Itu kalimat terakhirnya yang bentuknya pesen. Sisanya udah nggak jelas.”
“...Bi.”
“Bentar. Bagian jeleknya belum.” Kutarik napas panjang. “Aku pegang pesen itu kayak megang baut terakhir mesin. Dua-duanya orang tuaku pergi dalam keadaan ngerasa jadi beban — jadi aku putuskan, umur tiga belas, nggak bakal pernah ngerasain itu. Caranya satu: jangan pernah butuh. Kalau nggak butuh, nggak nerima. Kalau nggak nerima, nggak ngutang. Kalau nggak ngutang, nggak akan pernah ada di posisi Bapak waktu itu — nerima amplop sambil mukanya dicopotin.” Kupaksa noleh ke dia. “Nah. Sepatu. Kamu nanya kenapa sepatu beda sama bekal.”
Dia ngangguk pelan.
“Bekal, jam, trigonometri — otakku bisa nemuin cara balasnya. Servis, jasa, tenaga. Ada jalurnya, jadi aman, jadi bisa kuterima. Sepatu setengah gaji itu...” tanganku kebuka-nutup sendiri, nyari kata, “...aku nggak nemu jalur balasnya, Cyn. Dan pas nggak nemu, yang muncul di kepalaku bukan ’wah dia sayang banget’. Yang muncul tuh muka Bapak. Refleks. Kayak alarm. Makanya keluarnya kemarin sekeras itu — itu bukan nolak kamu. Itu aku panik. Aku takut.”
“Takut apa?” Suaranya pelan banget.
“Takut nggak bisa balas.” Dan pas kalimat itu akhirnya keluar utuh, rasanya kayak baut karatan yang akhirnya kebuka — sakit, tapi longgar: “Takut jadi pihak yang cuma nerima. Karena seumur hidup yang kutahu, pihak yang cuma nerima itu... pelan-pelan dicopotin mukanya. Aku nggak mau kamu liat aku kayak gitu. Dari semua orang, jangan kamu.”
Lama nggak ada suara. Angin doang.
Terus Cynthia geser — ngilangin jarak — dan nyender ke bahuku. Nggak meluk, nggak drama. Nyender aja. Beratnya pas.
“Bi. Aku mau tanya satu. Jawab jujur.” Suaranya tenang. “Aku ngasih kamu bekal tiap hari, lima bulan lebih. Menurut kamu, selama itu... aku pernah ngerasa kamu bebanku, nggak?”
“...Nggak. Kamu keliatan seneng banget malah. Nggak masuk akal senengnya.”
“Nah.” Dia ngangkat kepala, natap aku. “Terus kenapa kamu pikir arah sebaliknya beda hukumnya? Kenapa kalau AKU yang ngasih gede, kamu langsung jadi ’beban’? Kok rumusnya cuma jalan satu arah? Trigonometri aja bolak-balik bisa, sin ke cos, cos ke sin.”
“...Itu bukan gitu cara kerjanya—“
“ITU PERSIS cara kerjanya!” Dia tegak, mode guru privatnya nyala, tapi matanya basah. “Dengerin. Pacaran tuh bukan utang-piutang, Abi. NGGAK ADA BUKUNYA. Nggak ada kolom debit kredit. Yang ada tuh dua orang yang gantian — kadang kamu yang kuat, kadang aku; kadang kamu yang ngasih, kadang aku. Kalau semua harus impas saat itu juga, itu bukan pacaran, itu TOKO.” Suaranya pecah dikit, dia terusin aja: “Dan aku nggak mau buka toko sama kamu. Aku maunya... ya ini. Yang nggak dihitung.”
“Bapakku—“
“Bapakmu nyuruh kamu jangan ngerepotin ORANG.” Dia megang tanganku, dua-duanya, kenceng. “Aku bukan ’orang’, Bi. Aku pacarmu. Beda kategori. Kamu aja yang belum bikin kategorinya di kepalamu — ya udah, mulai hari ini bikin. Namanya terserah. Kategori: Cynthia. Isinya satu aturan doang: BOLEH BUTUH.”
Aku natap dua tangannya yang megang tanganku. Tangan yang tiap subuh masak. Tangan yang nangkep tanganku di depan toko bangunan.
“...Kalau aku nggak bisa balas?”
“Kamu udah balas dari sebelum kita jadian, bego.” Dia ketawa-nangis, ngelap mata pakai bahu karena tangannya nggak mau ngelepas tanganku. “Botol air. Jam Papa. Empat puluh dua catetan. Lampu botol. KAMU nolongin aku duluan dua tahun sebelum aku bisa bales — terus sekarang kamu takut nggak bisa bales AKU? Telat, Abi. Utangnya udah kebalik dari 2 tahun lalu. Kalau mau itung-itungan, AKU yang nggak akan pernah lunas. Makanya kubilang dari awal: jangan diitung. Dua-duanya rugi kalau diitung. Dua-duanya untung kalau enggak.”
Mendung di atas lapangan buyar pelan-pelan. Nggak jadi hujan.
“...Sabtu,” kataku akhirnya, suaraku aneh, “toko sepatunya buka jam berapa?”
Dia bengong sedetik. Terus senyumnya mekar pelan-pelan, lebar, sampai matanya ilang.
“Jam sembilan.”
“Yang... yang harganya jangan yang setengah gaji tapi. Yang wajar aja. Aku— pelan-pelan ya, kategorinya baru dibikin, isinya baru satu aturan, sistemku masih nyesuaiin—“
“IYA. Iya. Pelan-pelan.” Dia ketawa, akhirnya ngelepas tanganku cuma buat meluk lenganku, nyender lagi. “Yang penting pintunya udah nggak dikunci. Sisanya bisa nyusul.”
Sabtu, kami beli sepatu. Dia milihin yang tahan air, sol tebel, jahitan kuat — dia riset semalaman, ada bookmark-nya, NIAT — dan pas bayar di kasir, tangannya megang tanganku terus. Bukan romantis. Ngunci. Biar aku nggak tiba-tiba nyodorin dompet. Dia hafal aku sampai ke situ.
Sepatu itu kupakai pertama kali Senin subuh, rute koran, dan Bu Sari — dari terasnya, sambil nyodorin pisang goreng yang kali ini KUTERIMA DUA tanpa perang — nyeletuk:
“Wah. Sepatu baru, Nak Abi.”
“Iya, Bu. Dikasih.”
Kata itu keluar sendiri. Dikasih. Nggak pakai keterangan, nggak pakai pembelaan, nggak pakai “nanti saya ganti”. Dan pas ngayuh sepeda abis itu, subuh-subuh, jalanan kosong, aku nyengir sendiri kayak orang nggak waras — soalnya baru sadar:
Nggak sakit.
Bilang “dikasih” itu ternyata nggak sakit.
Sepatunya awet, ngomong-ngomong. Sampai kapan? Sabar. Nanti kalian juga lihat sendiri sepatu itu terakhir muncul di mana, dan dipakai buat acara apa.