Chapter Thirty Four
Pemberian Terakhir
(POV Abi)
Tiga hari aku nyusun kalimatnya.
Itu bagian yang paling bikin ngilu kalau diingat sekarang: niatnya. Rapinya. Aku nggak meledak, nggak gelap mata — aku nyusun. Kayak nyusun urutan bongkar mesin: mulai dari mana biar nggak ada yang patah, kalimat mana dipasang duluan, nada mana yang dipakai biar dia nggak ngerasa dibuang tapi ngerasa... dilepas baik-baik. Kupikir itu bedanya. Kupikir ada bedanya.
Tiga hari itu juga aku jadi pacar paling sempurna sedunia — versi museum: jemput paling tepat waktu, bekal dipuji paling detail, dengerin cerita panitia paling khusyuk. Ngasih yang banyak-banyak dulu, sebelum narik yang paling gede. Logika maling yang sopan.
Sinyalnya kebaca sama dua orang.
Dimas, Kamis, di kantin, tiba-tiba: “Bi. Lo lagi aneh. Anehnya kayak orang mau pindahan tapi belum bilang-bilang.” Kujawab ketawa. Dia natap aku lama, terus bilang pelan, “Bi. Apapun itu... jangan yang bego ya,” dan itu pertama kalinya Dimas ngomong ke aku tanpa satu pun bercandaan.
Eyang Uti, Jumat subuh, pas aku pamit rute: nggak ngomong apa-apa. Cuma megang lenganku pas mau keluar pintu — megang aja, dua detik, lebih lama dari biasanya — terus ngelepas. Kayak orang ngecek terakhir kali sebelum barang dikirim.
Sabtu sore, habis tutup toko, kubilang ke Cynthia: “Jangan pulang dulu. Ada yang mau kuomongin.”
Dan dari caraku ngomongnya — atau dari tiga hari museum itu, atau dari radar yang dia emang selalu punya — mukanya langsung berubah. Senyumnya turun pelan. Dia duduk di kursi tunggunya, tegak, dua tangan di pangkuan.
“...Oke. Ngomong.”
Toko udah sepi. Lampu setengah redup — lampu yang sama kayak sore penembakan, di ruangan yang sama, meja kasir yang sama di antara kami. Aku yang milih tempat ini. Kupikir biar... entah. Nggak ada alasannya yang masuk akal. Orang mau ngerusak sesuatu kok milih tempat paling banyak kenangannya. Mungkin bagian diriku yang waras sengaja milih medan yang paling berat buat bagian yang lagi gila.
“Cyn.” Kalimat pembuka yang kususun tiga hari, keluar juga: “Aku mau ngomongin kita. Pelan-pelan ya. Dengerin dulu sampai habis.”
Dia nggak jawab. Matanya udah mulai — dia udah tahu arah anginnya, orang ini selalu tahu — tapi dia diem, nunggu, ngasih aku panggung yang kuminta.
“Aku sayang kamu.” Mulai dari yang paling bener, biar sisanya kedengeran bener. “Itu nggak bakal berubah, mau apapun yang terjadi habis ini. Dan justru karena itu... aku mikir. Lama. Soal kamu, lima tahun lagi. Sepuluh tahun lagi.” Napas. Urutan kalimat berikutnya, pasang: “Kamu tuh... kamu bisa ke mana aja, Cyn. Dunia kamu gede. Jepang, Eropa, piano, kampus bagus, semuanya kebuka buat kamu. Dan aku— duniaku dari subuh sampai malem ya segini: koran, bengkel, toko ini. Aku nggak ngeluh, aku sayang dunia ini. Tapi tiap kamu masuk ke duniaku, aku nggak bisa berhenti mikir: dia harusnya lagi di tempat yang lebih...”
“Abi.” Suaranya pelan. Getar. “Ini mau ke mana.”
Kalimat puncaknya udah di lidah. Yang kususun paling lama. Yang kupilih kata-katanya satu-satu biar kedengeran kayak kado, bukan kayak pintu dibanting.
Dan pas keluar, keluarnya persis kayak yang kulatih:
“Kalau kamu sama Reno... hidup kamu lebih gampang, Cyn. Sama dia, kamu nggak perlu nurunin apa-apa. Nggak perlu nunggu tabunganku, nggak perlu bohong soal payung biar aku nggak minder, nggak perlu—“ suaraku sempet goyah, kukejar, kupasang lagi rapinya: “Aku nggak mau jadi orang yang bikin kamu susah. Aku nggak mau suatu hari kamu bangun terus sadar kamu kejebak sama pilihan yang kamu buat pas SMA. Jadi... jadi sebelum makin jauh, sebelum makin susah lepasnya. Kamu bebas, Cyn. Dari aku. Anggap ini... anggap ini yang terakhir dari aku. Yang paling gede yang bisa kukasih.”
Selesai.
Tiga hari nyusunnya. Empat puluh detik ngucapinnya.
Dan di empat puluh detik itu aku nyaksiin — dengan mata yang kulatih bertahun-tahun buat baca orang, mata yang hafal empat puluh tiga poin tentang dia — wajah orang yang paling kusayang retak pelan-pelan di tempat yang biasa: bukan langsung nangis. Dulu-dulu juga gitu. Matanya dulu. Terus rahangnya, ngeras, nahan. Terus tangannya di pangkuan, ngepal.
Terus, yang nggak pernah kulihat sebelumnya: semuanya berhenti.
Retaknya berhenti di tengah. Mukanya... nutup. Kayak toko. Satu-satu lampunya dimatiin dari dalam, dan yang tersisa natap aku dari kursi tunggu itu bukan Cynthia yang mana pun yang kukenal — bukan yang ngambek, bukan yang gemas, bukan yang nangis-ketawa.
Yang ini diem.
Lamaaa.
Jam dinding toko bunyi. Kulkas es krim Koh Aseng ngung. Gerimis mulai di luar, pelan, kayak ragu-ragu.
“...Udah?” katanya akhirnya. Suaranya datar. Datar yang belum pernah kudengar. “Kalimatnya udah habis? Yang disusun berhari-hari itu — udah keluar semua? Nggak ada lagi?”
“Cyn—“
“JAWAB.” Volume naik satu — cuma satu, dan itu lebih serem dari teriakan. “Udah habis apa belum. Soalnya kalau udah...” dia berdiri dari kursi, pelan, dan matanya yang nutup tadi kebuka lagi — tapi yang keluar dari sana bukan yang kuduga, bukan sedih —
“...sekarang giliranku. Dan kamu yang dengerin sampai habis.”