← Chapters Ch. 42 / 52

Chapter Forty Two

Empat Tahun Kemudian

(POV Abi)

Empat tahun kemudian, jam setengah enam pagi, dan hal pertama yang kulakukan tiap hari masih sama: buka rolling door, dongak, baca papan.

TERIMA.

Catnya udah dua kali kuulang. Lampunya kuganti model hemat tapi warnanya kupertahankan — kuning anget, nggak boleh ganti, ada yang ngamuk nanti. Dan di bawah tulisan besar itu, papan kecil tambahan yang... eh. Belum. Yang papan kecil itu nanti dulu, belum waktunya di bab ini.

Workshop TERIMA umur empat tahun sekarang. Isinya: area mesin (bubut tua Pak Yon masih jadi raja, ditemani dua mesin baru hasil nyicil), meja servis elektronik yang antriannya nggak pernah kosong, rak barang jadi, dan produk yang nggak pernah kurencanakan bakal jadi tulang punggung: lampu botol.

Iya. Lampu botol itu.

Ceritanya Cynthia — dua tahun lalu, buat portofolio — motoin lampu-lampu rooftop, bikinin katalog kecil, upload. Seminggu kemudian ada kafe nanya harga. Sebulan kemudian ada tiga kafe. Sekarang “Lampu TERIMA” udah nyala di entah berapa kedai kopi dan ruang tamu se-kota, tiap unit dari botol bekas, tiap unit ada nomor serinya, dan di kartu kecil yang nyantol di kabelnya ada satu kalimat yang dia yang nulis: “Barang bekas, kalau ada yang telaten, nyalanya bisa lebih lama dari barang baru.”

Orang-orang kira itu filosofi produk. Padahal itu sindiran buat pemiliknya. Aku terima aja. Udah bisa nerima sekarang, empat tahun latihan.

Tim TERIMA: aku, dua anak magang dari SMK — Galih yang tangannya bagus tapi teledor, Rio yang teliti tapi lemot, digabung jadi satu teknisi lumayan — dan satu partner yang secara jadwal cuma ada Rabu sore dan Sabtu, tapi secara kehadiran ada di mana-mana: di logo, di nota, di kursi tunggu biru yang sekarang jadi dua biji (yang lama nggak boleh dibuang), di daftar putar radio toko, di kuping para pelanggan tetap yang kalau dia nggak kelihatan seminggu pasti nanya, “Mbak Cynthia mana?”

Mbak Cynthia, resminya, sekarang: desainer di agensi tengah kota, Senin sampai Jumat, kerjaannya branding beneran, gajinya bagus, dan portofolio yang bikin dia keterima — halaman pertamanya — adalah satu toko servis di depan pasar dengan papan satu kata. Dosennya dulu kasih A. Klien pertamanya seumur hidup nggak bisa dipecat, katanya, soalnya kliennya ngelamar— eh. BELUM. Itu juga belum. Sabar ya, aku juga belajar sabar nyeritainnya.


Rabu sore itu dia dateng jam lima, masih pakai baju kantor, langsung ganti sepatu ke sandal jepit yang emang standby di laci meja kasir — lacinya ada dua sekarang, satu punyaku, satu punya dia, itu perkembangan empat tahun yang paling akurat kalau mau dirangkum satu benda.

“Laporan,” katanya, naik ke kursi biru, buka jepit rambut. “Kafe yang di jalan kenari mau nambah dua puluh unit lampu, tapi minta warna kabelnya custom. Kubilang bisa, tambah biaya. Terus nota kita stoknya tipis, udah kupesenin ke percetakan. Terus—“ dia nyipitin mata ke arah meja servis, “—GALIH. Solderannya jangan ditinggal nyala kalau ke belakang. Berapa kali.”

“SIAP MBAK. MAAF MBAK.”

Dua magang itu takutnya sama dia, bukan sama aku. Wajar. Aku juga.

“Terus yang terakhir.” Dia noleh ke aku, nadanya turun jadi nada rumah: “Eyang gimana tadi pagi?”

“Bagus. Tensinya normal, kata Bu Bidan. Cuma disuruh jangan capek-capek — yang mana artinya perang, soalnya Eyang ngeyel mau tetep masak buat anak magang tiap Jumat.”

“Ya biarin. Masak itu bukan capek buat Eyang, itu bensin.” Dia ngeluarin sesuatu dari tas: kotak kecil. “Nih. Titipan Mama buat Eyang. Balsem yang kemarin dibilang enak itu. Jalur logistik jalan terus.”

Jalur logistik dua nyonya itu, empat tahun, nggak pernah libur. Kadang aku sama Cynthia cuma jadi kurir di antara dua kekuatan besar.

Sisa sore itu jalan kayak biasanya sore-sore kami: aku nyervis, dia gambar di pojok sambil sesekali motret kegiatan toko buat konten (“konten itu penting, Bi, jangan protes, follower kita naik gara-gara video kamu benerin radio sambil ngomel”), magang pulang jam enam, terus jam tujuh kami tutup bareng — dia yang matiin lampu area depan, aku yang gembok rolling door, pembagian tugas yang nggak pernah dirapatkan tapi nggak pernah ketuker.

Di sepeda — masih sepeda; motor udah kebeli dari tahun lalu buat operasional, tapi Rabu sore itu sepeda, nggak bisa diganggu gugat, ada yang ngamuk nanti (orangnya sama) — dia meluk dari belakang kayak biasa, dan di jalan sawah yang sekarang sebagian udah jadi perumahan tapi polisi tidur favoritnya masih selamat, dia ngomong ke punggungku:

“Bi. Sadar nggak, kita udah tujuh tahun.”

“Sadar. Bulan depan tujuh tahun dua bulan.”

“Yang ngitung sekarang kamu ya.” Dia ketawa, pelukannya kenceng dikit. “Dulu aku yang ngitungin. Sekarang kebalik.”

“Banyak yang kebalik,” kataku. “Dulu kamu yang ngejar-ngejar aku pakai fotokopi satu lembar. Sekarang aku yang tiap Rabu jam empat udah ngelirikin jam nungguin kamu dateng.”

Hening di belakang. Terus suara kecil: “...Kamu ngelirikin jam?”

“Galih yang laporan. Katanya tiap Rabu jam empat aku bolak-balik ke depan kayak kucing nunggu pintu.”

“GALIH BOCOR.” Tapi dari getaran di punggungku, dia lagi senyum kenceng banget. “Ya udah. Bagus. Pertahankan.”

Matahari turun di kiri, sawah sisa-sisa di kanan, dan hidup — hidup versi dua puluh empat tahun ini — rasanya kayak mesin yang akhirnya di-setel bener: semua bagian kerja, bunyinya halus, ada iramanya.

Cuma ada satu baut, satu doang, yang masih belum pernah kusentuh sejak dulu. Baut paling dalem. Aku tahu dia ada — tiap hari baca papan sendiri, masa nggak tahu.

Aku aja yang masih terus bilang: nanti.

Empat tahun bilang nanti.

Bab-bab depan ini isinya tentang bagaimana kata “nanti” itu akhirnya ditagih. Sama hidup. Sama Eyang. Sama dia.

Sama satu malam di mana semuanya hampir kebablasan — lagi — sebelum akhirnya, YA, AKHIRNYA, baut itu kubuka juga.