← Chapters Ch. 1 / 52

Chapter One

Pagi yang Tak Pernah Menengadah

(POV Abi)

Jam empat lewat lima belas, alarm di HP butut-ku bunyi sekali — cuma sekali, karena tanganku sudah lebih dulu mematikannya sebelum nada kedua sempat keluar. Bukan karena aku rajin. Karena kalau sampai bunyi dua kali, Eyang Uti bisa kebangun. Kalau Eyang Uti kebangun, beliau bakal maksa bikin teh. Kalau beliau bikin teh, artinya beliau kurang tidur.

Jadi aku bangun dalam senyap, seperti maling di rumah sendiri.

Lipat selimut. Cuci muka pakai air yang dinginnya kayak balas dendam. Menyelinap ke dapur. Nasi sisa semalam kugoreng cepat pakai kecap dan satu telur — telurnya kubagi dua. Setengah kumakan, setengahnya kutinggal di piring, kututup tudung saji, kutempeli kertas kecil: “Eyang sarapan dulu. Jangan nunggu Abi.”

Padahal kami berdua sama-sama tahu, Eyang selalu nunggu.

Sepedaku di teras kutuntun dulu sampai ujung gang baru kunaiki, biar rantainya nggak bunyi. Sepeda itu umurnya mungkin lebih tua dariku. Dulu kutemukan hampir jadi rongsokan di gudang Pak Yon, kurakit ulang dua bulan — ganti bearing, setel jari-jari, las ulang sambungan rangka. Sekarang jalannya halus. Lebih halus dari motor tetangga, menurutku. Tetangganya nggak terima, tapi juga nggak bisa membantah.

Langit masih gelap waktu aku sampai agen koran.

“Anak subuh datang,” sapa Bang Jali sambil melempar bundelan koran, yang kutangkap tanpa lihat. “Rute biasa. Eh, rumah nomor tujuh belas nitip salam. Katanya pagernya udah nggak bunyi krieeek lagi.”

“Kemarin cuma saya kasih oli, Bang.”

Cuma dikasih oli, katanya. Orang udah tiga tahun pagernya bunyi kayak kucing kejepit.” Bang Jali geleng-geleng. “Kamu itu nganter koran apa nganter berkah, sih.”

Aku cuma nyengir, lalu menggenjot sepeda masuk kompleks.

Rute koranku hafal di luar kepala, lengkap dengan bonus-bonusnya: rumah cat hijau korannya harus dilempar ke kursi teras karena bapaknya males mungut dari lantai; rumah pojok harus digulung kecil karena diselipkan di pagar; dan rumah Bu Sari — nah. Rumah Bu Sari ini medan perang.

Benar saja. Baru saja koran mendarat mulus di keset, pintu terbuka dan Bu Sari muncul membawa piring.

“Abi! Pas banget. Ini pisang goreng, masih anget—“

“Wah, nggak usah, Bu. Makasih banyak, saya buru-buru—“

“Buru-buru itu justru harus makan!”

“Saya udah sarapan, Bu, beneran—“

“Dua biji aja!”

Dan di sinilah terjadi fenomena yang nggak akan pernah bisa kujelaskan ke siapa pun: aku, yang bisa manjat pohon buat nurunin layangan, yang bisa benerin pompa air Bu RT setengah jam, yang seumur-umur nggak pernah kehabisan akal — berdiri kaku di depan sepiring pisang goreng dengan otak yang mendadak kosong melompong.

Gimana ya. Susah dijelaskan. Rasanya tuh kayak... ada yang nyodorin tagihan yang aku nggak yakin bisa bayar.

“Sa... saya bantu angkat galon aja ya, Bu? Itu galonnya kosong, kan? Kelihatan dari sini.”

“ABI. Pisangnya.”

“Galonnya dulu, Bu.”

Lima menit kemudian aku keluar dari rumah Bu Sari setelah mengangkat galon, membetulkan engsel jendela, dan — kalah telak — mengantongi dua pisang goreng yang dipaksa masuk saku jaket. Aku mengayuh sepeda sambil menghela napas panjang. Satu-satu. Menang urusan galon, kalah urusan pisang. Seri lah ya.

Pisang gorengnya, sesampai sekolah, mendarat di tangan dua adik kelas yang duduk di tangga.

“Loh, buat kita, Kak?”

“Iya. Masih anget.”

“Kok Kakak nggak makan?”

“Udah kenyang,” kataku.

Sarapanku tadi setengah telur. Tapi ya masa iya cerita.


Jam tujuh kurang, sekolah mulai ramai, dan aku sudah berdiri di atas meja kelas, memutar obeng di rumah kipas angin yang tiga hari ini bunyinya kayak helikopter mau jatuh.

“Bi, kalau kipasnya baik lagi, gue traktir lo cilok deh,” kata Dimas dari bawah, menyodorkan tangan menampung baut.

“Nggak usah.”

“Bakso deh.”

“Nggak usah, Dim.”

“Ya elah. Terus gue bayarnya pake apa? Doa?”

“Boleh,” kataku sambil memasang penutup kipas. “Doain nilai fisika gue.”

“Yah. Kalau itu sih kipasnya juga nggak bisa bantu.”

Kipas menyala. Halus. Sekelas bersorak kecil — sorakan malas, karena ini sudah kejadian keempat bulan ini — dan aku turun dari meja tepat ketika Laras lewat dan meletakkan sesuatu di mejaku tanpa berhenti melangkah.

Sebotol air mineral dingin.

“Habis manjat-manjat,” katanya singkat, sudah setengah jalan ke mejanya sendiri.

“Eh — Laras, nggak usah—“

“Udah kebeli.”

Aku menatap botol itu sebentar, lalu menggesernya hati-hati ke pojok meja, kayak barang titipan. Oke. Dicatat. Nanti dibalas. Entah gimana caranya — mungkin rak bukunya perlu dibenerin? Sepatunya perlu dilem? Pasti ada sesuatu. Selalu ada sesuatu.

Orang-orang suka bingung kenapa aku repot begini. Padahal sederhana: Bapak dulu cuma ninggalin satu pesan yang kuingat jelas, dan pesan itu pendek. Jangan pernah merepotkan orang, Le. Sudah. Itu saja. Dan menerima tanpa bisa membalas, buatku, rasanya persis seperti merepotkan — cuma pakai kemasan yang lebih sopan.

Memberi itu enak. Ringan. Selesai ya selesai.

Menerima itu... utang. Dan aku paling nggak bisa punya utang. Semenit pun.


Istirahat pertama, kantin, dan drama harian episode selanjutnya: seorang anak kelas sepuluh berdiri di depan etalase Bu Kantin dengan wajah yang sedang mengerjakan matematika paling menyedihkan sedunia — mandangin gorengan, mandangin uang dua ribu di tangannya, mandangin gorengan lagi.

Aku menepuk pundaknya. “Kamu duluan aja. Saya masih mikir.”

“Eh, nggak, Kak—“

“Lama mikirnya. Duluan aja.”

Dia akhirnya beli satu tahu isi. Waktu Bu Kantin menyodorkan kembalian lima ratus, uangku sudah nyelip duluan di nampan. “Sama risolnya satu, Bu. Buat dia. Kembaliannya nggak usah.”

“Kak, nggak enak—“

“Yang nggak enak itu tahu isi tanpa risol,” kataku, sudah berlalu bawa es teh.

Di belakang, samar-samar kudengar Bu Kantin geleng-geleng sambil ngomong sesuatu ke pelanggan sebelah. Biarin. Lima ratus perak doang. Kalau soal receh, aku memang nggak pernah itung-itungan.

Nah, kalau ada yang ngasih aku lima ratus? Itu beda cerita. Itu bisa kepikiran seminggu.

Aku juga nggak ngerti kenapa otakku begitu. Udah dari sananya.


Pulang sekolah, bengkel Pak Yon. Sorenya mampir fotokopian Koh Aseng sebentar — bukan jadwalku, cuma ngecek mesin besar yang katanya mulai narik kertas dobel. Malamnya: nemenin Eyang Uti nonton sinetron sambil ngerjain PR di lantai, dikomentarin (“Itu ditulis apa dicakar ayam?”), lalu tidur.

Begitulah hidupku. Penuh, pas-pasan, dan — sungguh, bukan sok tegar — nggak pernah kukeluhkan. Ada yang bilang hidupku berat. Aku nggak pernah merasa begitu. Berat itu kalau kamu mikul sambil berharap ada yang bantu. Aku nggak pernah berharap. Jadi nggak pernah kecewa.

Tujuh belas tahun aku pegang teori itu, dan tujuh belas tahun teoriku aman-aman saja.

Malam itu, pas aku sudah setengah tidur, HP-ku bergetar heboh. Grup kelas. Tujuh puluh dua pesan. Dimas mengirim kabar dengan huruf kapital semua:

“WOI. BESOK ADA ANAK BARU. CEWEK. PINDAHAN. KATA ANAK OSIS YANG LIAT BERKASNYA: CANTIKNYA NGGAK MASUK AKAL.”

Aku membacanya sambil rebahan, menguap, dan membalikkan HP ke bawah bantal.

Anak baru, pikirku. Berarti besok piket nambah satu kursi.

Itu. Cuma itu isi kepalaku malam itu. Satu kursi.

Waktu itu aku belum tahu apa-apa. Belum tahu siapa yang bakal duduk di kursi itu, belum tahu kenapa dia pindah, dan jelas belum tahu bahwa teori tujuh belas tahunku — yang katanya aman-aman saja itu — besok pagi mulai dihitung mundur.