Chapter Ten
Nada ’Papa’-nya Turun
(POV Abi)
Sejak kejadian jam tangan, ada yang berubah — kecil-kecil, tapi kelihatan kalau kamu tipe yang memperhatikan. Dan sialnya, memperhatikan itu satu-satunya bakatku selain obeng.
Cynthia sekarang pakai jam tangan papanya tiap hari. Kegedean di pergelangannya, mencolok, sama sekali nggak cocok sama seragam — dan dia pakai terus dengan bangganya, sampai ditegur guru BK dan besoknya tetap dipakai lagi. Tiap pagi, hal pertama yang dia lakuin di kelas: nyocokin jam itu sama jam dinding, terus — ini bagian yang selalu pura-pura nggak kulihat — ngelirik ke arahku sebentar, terus senyum sendiri ke mejanya.
Bekal jalan terus. Barter jalan terus (senin kemarin: “headset sebelah kanan bunyinya lebih pelan” — bener sih, tapi bedanya cuma bisa didengar kelelawar). Sabtu sore dia nongkrong di fotokopian udah kayak inventaris toko; Koh Aseng bahkan mulai nitip toko ke KAMI BERDUA kalau dia ke bank, yang mana secara struktur organisasi nggak bisa kujelaskan.
Pokoknya, hidupku sedang dalam kondisi paling aneh sekaligus paling... ya. Paling itu lah. Sampai hari Kamis itu.
Kamis itu, dari pagi, ada yang salah sama Cynthia.
Bukan salah yang kelihatan. Justru sebaliknya: dia lebih normal dari biasanya. Senyumnya lengkap, ketawanya keluar di semua tempat yang seharusnya, jawabannya di kelas tetap benar. Sama Sinta bercanda, sama anak-anak ngobrol. Semua datanya normal.
Tapi mesin itu — maaf, kebiasaan — orang itu bunyinya beda.
Dia nggak nyocokin jam pagi ini. Dia megang pulpen kayak megang, bukan kayak nulis — diputer-puter terus tanpa nyatet apa-apa padahal Bu Ratna lagi diktein rumus. Ketawanya keluar tepat waktu tapi berhentinya kecepetan, kayak lagu yang di-cut sebelum not terakhir. Dan pas istirahat, makan bareng kayak biasa, dia naruh porsi ayam suwir lebih banyak di kotakku — biasanya dia protektif banget sama jatah ayamnya, ini indikator paling mengkhawatirkan dari semuanya.
“Cynthia.”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apanya?” Senyum. Lengkap. “Nggak papa.”
Dan di situ kedengeran. Jelas banget, buatku: kata itu keluar dengan nada yang jatuh di belakang. Nggak pa–pa. Suku kata keduanya turun, kayak tangga yang anak tangganya terakhirnya lebih rendah sebelah.
Aku nggak bilang apa-apa dulu. Nggak enak, rame. Tapi sepanjang sisa istirahat kuperhatiin dia dari balik kotak bekal, dan makin diperhatiin makin jelas: ini anak lagi bawa beban, dan dia lagi kerja keras banget biar nggak ada yang tahu.
Kenapa aku bisa se-yakin itu? Karena caranya persis kayak aku. Aku hafal triknya. Aku yang nemuin trik itu duluan.
Pulang sekolah, harusnya dia langsung dijemput — Kamis jadwal dijemput Mamanya. Tapi kulihat dia jalan ke arah tangga belakang, yang nggak ke mana-mana kecuali ke lorong lab yang sepi.
Aku nyusul. Bukan ngendap-ngendap; bawa dua es teh dari Bu Kantin, satu manisnya dikurangin.
Dia duduk di anak tangga ketiga, sendirian, natap lapangan kosong. Denger langkahku, kepalanya noleh cepat dan senyum lengkapnya udah setengah terpasang — terus batal, pas lihat yang datang aku.
“...Kok kamu tahu aku di sini.”
“Nggak tahu. Nebak.” Kusodorin es teh yang manisnya dikurangin. “Nih. Kamu kalau lagi banyak pikiran nggak suka yang terlalu manis.”
Dia natap es teh itu. Natap aku. “...Kok kamu tahu?”
“Kamu pernah bilang, dua bulan lalu. Pas fotokopi halaman kamus.” Aku duduk di anak tangga yang sama, ninggalin jarak satu orang. “Sama satu lagi. Kamu boleh nggak cerita — beneran, aku nggak akan maksa. Tapi jangan bilang nggak papa. Kamu kalau bohong bilang ’nggak papa’, nada ’papa’-nya turun. Dari tadi siang turun terus.”
Hening.
Heningnya lama. Aku sempet mikir kejauhan — mungkin harusnya nggak usah sok tahu, mungkin ini yang namanya lancang. Baru pas aku mau minta maaf, dia ngomong, pelan:
“...Nada papa-nya turun?”
“Iya. Dikit. Tapi kedengeran.”
“Kamu... merhatiin sampai segitunya?”
Dan baru di situ aku sadar kalimatku barusan kedengerannya kayak apa. “Eh— bukan— maksudku bukan merhatiin yang gimana. Aku emang gitu ke sem—“
Aku mau bilang ke semua orang. Kalimat andalanku. Kalimat yang selalu benar.
Tapi kali ini berhenti di tengah, karena aku ngecek dulu — dan hasil ngeceknya bikin aku diam sendiri: aku nggak tahu nada ’nggak papa’-nya Dimas. Nggak tahu Laras kalau banyak pikiran sukanya minum apa. Nggak hafal Sinta megang pulpen model apa pas lagi kosong pikirannya.
Ternyata nggak ke semua orang.
“...Ke sembarang orang nggak gini juga sih,” ralatku akhirnya, pelan, sambil natap lapangan biar nggak perlu natap dia. Telingaku mulai anget. Bagus. Penyakitnya kambuh di saat paling nggak strategis.
Cynthia nggak bales. Tapi dari ujung mata kulihat dia nunduk, mainin sedotan, dan senyum — senyum kecil yang beda dari senyum lengkap seharian ini. Yang ini nggak rapi. Yang ini bocor.
Terus dia cerita.
Ternyata kemarin malam Mamanya beres-beres gudang rumah baru, dan nemu sekardus barang Papa yang selama ini dikira hilang pas pindahan. Bukan kejadian sedih — malah harusnya senang. Tapi Mamanya jadi kepikiran semalaman, jadi diem-dieman sedih versi orang tua yang nggak mau kelihatan anaknya, dan Cynthia jadi ikutan nggak bisa tidur, mikirin Papa, mikirin Mama, mikirin kenapa rasa kehilangan itu bisa nagih lagi kayak cicilan padahal udah enam tahun.
“Capek, Bi,” katanya, suaranya kecil. “Kalau lagi gini tuh capek. Sama semua orang aku harus kelihatan baik-baik aja, soalnya kalau kelihatan sedih dikit aja, besok satu sekolah tahu, terus jadi tontonan. ’Eh anak baru kenapa tuh.’ Udah gitu dari dulu.”
“Sekarang juga lagi jadi tontonan sih.”
“Hah?”
“Itu.” Kutunjuk pakai dagu: di kejauhan, di koridor lantai dua, dua adik kelas lagi ngintip ke arah kami sambil dorong-dorongan. Begitu ketahuan, dua-duanya langsung ngibrit.
Cynthia ngeliat, bengong, terus ketawa. Ketawa beneran — yang berantakan, yang keluar semua sampai harus nunduk — dan bunyi ketawanya di tangga kosong itu, ditambah es teh yang tinggal setengah, sama jam tangan gede yang muter tenang di pergelangannya, entah kenapa bikin dadaku rasanya kayak habis benerin sesuatu.
Padahal aku nggak ngapa-ngapain. Cuma duduk. Cuma bawa es teh.
“Bi.”
“Hm?”
“Kok kamu nggak nanya-nanya? Nggak nasihatin? Biasanya orang kalau aku cerita gini langsung sibuk kasih solusi.”
Kupikir bentar. “Yang rusak kan bukan kamu. Kamu cuma lagi berat. Barang berat itu nggak diservis.” Kuhabisin es tehku. “Diangkatnya barengan.”
Hening lagi. Jenis hening yang beda.
“...Kamu tuh ya,” katanya akhirnya, suaranya aneh, “ngomong gitu sambil muka lurus. Nyebelin banget.”
“Loh, kok nyebelin—“
“Nyebelin.” Dia berdiri, ngangkat tasnya, ngelap ujung matanya cepet-cepet — pura-pura benerin poni, kayak aku nggak lihat. “Udah sana pulang. Kamu ada jadwal bengkel kan. Nanti Pak Yon nyariin.”
“Kamu hafal jadwalku?”
“Kamu hafal nada bicaraku. Impas.”
Dia jalan duluan nurunin tangga, terus di bawah noleh sekali — matanya masih agak merah, senyumnya udah bener — dan bilang “makasih es tehnya” dengan nada yang naik di belakang, nada yang jujur, sebelum ngibrit ke gerbang depan.
Aku duduk sendirian di tangga belakang sekolah, megangin dua gelas kosong, dengan telinga anget dan satu pertanyaan yang kubawa sampai malem:
Kenapa ya, dari semua servisan yang pernah kukerjain, yang paling nggak ngapa-ngapain justru yang paling kerasa... kepake?
Oh iya. Satu lagi, biar catatan babak ini lengkap.
Bertahun-tahun kemudian — jauuuh setelah hari itu — Cynthia pernah bilang bahwa sore di tangga belakang itu adalah harinya dia “tamat”.
Waktu itu aku nggak ngerti tamat apanya. Kupikir maksudnya tamat sedihnya.
Kalian yang udah nyimak dari bab satu pasti lebih pinter dariku soal ini. Ya. Sampai titik itu pun, aku masih. Belum. Ngeh.