Chapter Forty
Sketsa di Meja Kerja
(POV Cynthia)
Ruko depan pasar itu dari luar kelihatan mati: rolling door turun, lampu depan gelap, spanduk “DISEWAKAN” masih nempel miring.
Tapi di sela bawah rolling door-nya, bocor cahaya kuning.
Dan pintu kecil di sampingnya — pintu orang, bukan pintu toko — nggak dikunci. Kubuka pelan. Engselnya nggak bunyi sama sekali. Ya iyalah nggak bunyi. Yang di dalam kan orangnya engsel sedunia.
Aku masuk, dan berdiri di situ lamaaa banget, megang termos, lupa napas.
Ruko kosong itu nggak kosong.
Lantainya udah dibersihin — bekas sapuan masih kelihatan polanya, rapi, kayak semua yang dia kerjain. Di dinding kiri, rak-rak setengah jadi — kayu bekas, kelihatan dari uratnya, tapi pasangannya presisi. Di pojok, mesin-mesin tua diselimutin terpal: aku ngintip satu — mesin bubut, ada label kertas ditulis tangan Pak Yon: “titipan, bukan kado. — Y.” Kabel-kabel udah dijalurin di dinding, klem-nya rata jaraknya, kayak digaris.
Dan di tengah ruangan, di bawah satu-satunya lampu yang nyala — lampu servis tua yang kukenal — ada meja kerja.
Dan di meja kerja itu, kepala di atas lengan, obeng masih di sela jari, tidur kayak orang tenggelam:
Abimanyu.
Aku jalan mendekat pelan-pelan — dan tiap langkah, meja itu nyeritain semuanya, satu-satu, nggak pakai suara:
Buku tabungan, kebuka, angkanya... angka yang bikin dadaku sesek: itu angka bertahun-tahun subuh, bertahun-tahun lembur, bertahun-tahun “nggak usah, saya bawa sendiri”. Map proposal pinjaman — halaman depannya udah lecek, direvisi entah berapa kali, ada coretan pensil di margin: “bunga kegedean, cari koperasi”. Kalkulator. Kertas-kertas penuh hitungan biaya: sewa, listrik daya besar, alat, cadangan enam bulan — kolom-kolom yang kukenal cara nyusunnya, kolom khas dia, cuma kali ini kolom kiri dan kanan nggak lagi perang. Kali ini dua-duanya kerja bareng.
Denah ruko, digambar tangan. Skala. Rapi bukan main: area mesin, area servis elektronik, meja terima barang, ruang tunggu — RUANG TUNGGU, ada kursinya digambar, dan di sebelah gambar kursi itu ada catatan kecil yang bikin mataku langsung panas:
“kursi tunggu yang empuk. dia suka duduk lama.”
Dia. Di denah workshop-nya. Ada kursiku.
Dan sketsa-sketsa. Namanya-belum-ada. Tampak depan ruko dengan papan nama yang dikosongin — dia gambar papan namanya KOSONG, kotak kosong dengan tanda tanya kecil, kayak nungguin sesuatu. Tampak dalam. Detail meja kasir — meja kasir, dasar, ke mana-mana bawa-bawa kasir.
Terus, di pojok kanan bawah kertas denah, kecil, digambar pakai garis-garis cepet yang kuhafal dari buku sandera di lemariku:
Dua orang. Berdiri di depan ruko ini. Yang satu pakai wearpack. Yang satu kuncirannya miring.
Yang satunya lagi aku.
Di masa depannya yang dia bangun diam-diam pakai seluruh badannya, di kertas paling penting di meja ini, aku digambar udah di situ. Dari awal. Nggak pakai tanda tanya.
Termos di tanganku kuturunin ke meja pelan-pelan, soalnya tanganku udah nggak bisa dipercaya.
Jadi ini “yang belum jadi”-nya.
Ini yang bikin Kamis-Kamisku diambil. Ini yang bikin dia typo. Ini yang bikin mata capeknya nyala.
Dia nggak lagi nyusun kalimat perpisahan, Cynthia. Dia lagi nyusun RUMAH. Sambil, DASAR PENYAKIT LAMA, mikulnya sendirian — biar aku terimanya udah jadi, udah bagus, udah nggak keliatan beratnya.
Aku berdiri di sebelah orang yang tidur itu, di ruko setengah jadi jam sebelas malam, dan nggak tahu mau marah apa nangis, jadi kayak biasa: dua-duanya, pelan-pelan, sambil nutup mulut biar dia nggak bangun.
Marah — karena SUMPAH YA, sebulan aku mikir yang enggak-enggak, sebulan ketakutan lamaku dikasih makan, dan tinggal BILANG aja susahnya apa: “Cyn, aku lagi bangun workshop buat kita, doain.” Tujuh kata. TUJUH. Dia sanggup nulis proposal empat puluh halaman tapi tujuh kata itu nggak sanggup.
Nangis — karena ya lihat aja ini semua. Lihat kursi tunggu di denah itu. Lihat gambar di pojok itu. Gimana caranya marah lama-lama sama orang yang di dalam mimpinya yang paling dia perjuangkan, dia sisain tempat duduk paling empuk buat aku.
Kuputusin nggak bangunin. Besok aja perhitungannya — lengkap, dengan saksi, dengan pasal-pasal. Malam ini dia tidur dulu. Orang yang lagi bangun rumah boleh tidur.
Jaketnya nyampir di kursi. Kuambil, kuselimutin ke bahunya pelan — dari bahu, dibenerin dikit di lengan biar nggak melorot. Persis. Sengaja dipersis-persisin. Utang lama.
Terus poninya — poni yang makin panjang karena nggak sempet potong — kusingkirin dari matanya.
Terus aku nunduk, dan nyium keningnya. Lama. Lebih lama dari punyanya dulu. Biar menang.
“...Makasih ya,” bisikku. Nggak jelas makasih buat yang mana. Semuanya. “Tapi besok kamu tetep diadilin.”
Dia nggak bangun. Beneran nggak bangun — napasnya panjang-panjang, pules total, nggak ada akting-aktingan kayak seseorang-yang-dulu-pura-pura-tidur-di-kursi-tunggu. Orang ini kalau tumbang, tumbang jujur.
Sebelum pulang, kuambil pulpen dari meja — pulpen ijo; dia nyatet pakai ijo, berarti semua ini dikerjain sambil semangat, dan entah kenapa detail itu yang bikin mataku bocor lagi — dan di kertas denah, di sebelah kotak papan nama yang kosong bertanda tanya itu, kutulis kecil:
“Ketahuan. — C.”
Terus mikir bentar. Nambahin:
“P.S. Kursi tunggunya harus warna biru. Termos di meja, dimakan. Besok jam 4 aku ke sini. Siapin kuping.”
Kulipet perasaanku yang berantakan, kubawa pulang, dan di mobil aku nangis-ketawa sendirian kayak orang nggak waras sampai hampir nyasar.
Mama, pas aku sampai rumah, cuma ngeliat mukaku sekali terus bilang:
“Termosnya ketinggalan ya.”
“...Sengaja ditinggal, Ma.”
“Bagus.” Beliau balik ke kamarnya, dan dari lorong, pelan, kudengar beliau ngomong sendiri — atau mungkin ke foto Papa di dinding, beliau suka gitu: “Bener kan, Pah. Jam kamu nggak pernah salah milih.”