← Chapters Ch. 26 / 52

Chapter Twenty Six

Trigonometri

(POV Abi)

Ada satu rahasia umum tentang aku yang jarang dibahas karena ketutupan reputasi: nilaiku biasa aja.

Bukan bodoh — rata-rata. Pas-pasan yang stabil. Guru-guru maklum (“anaknya kerja, wajar”), aku juga nggak pernah ambil pusing: ranking itu barang mewah, dan barang mewah bukan kelasku. Yang penting naik kelas, yang penting nggak remedial banyak-banyak.

Nah. Banyak-banyak.

Ujian tengah semester, hasil trigonometri dibagiin, dan di kertasku bertengger angka yang bahkan nggak sopan dibulatkan: 41.

“Remedial minggu depan,” kata Bu Ratna. “Yang di bawah 65.”

Aku ngelipet kertas itu kalem, masukin tas, urusan selesai — remedial ya remedial, tinggal dijalanin, kayak biasa. Yang nggak kuhitung: di barisan tengah ada intel yang bisa baca gerakan ngelipet kertas dari sudut mana pun.

Istirahat, dia geser kursi ke mejaku, nadanya manis, matanya interogasi: “Berapa?”

“Rahasia negara.”

“Abi.”

“...Empat satu.”

“EMPAT—“ dia nutup mulut sendiri, nurunin volume, “—empat puluh satu?! Kamu bisa bedah mesin fotokopi sambil merem, sin cos tan doang empat puluh satu?!”

“Sin cos tan tuh nggak ada bendanya, Cyn!” Ini keluhan tulus yang kupendam bertahun-tahun. “Mesin tuh kelihatan. Salah pasang, bunyi. Sin cos tan mana ada bunyinya. Segitiga doang, dikasih huruf Yunani, terus tiba-tiba aku salah.”

Dia natap aku lama, campuran gemas sama nggak percaya, terus ngeluarin kertas ujiannya sendiri dari tas — nggak sengaja kelihatan: 96 — dan naruhnya cepet-cepet ditelungkupin, kayak orang nyembunyiin senjata.

“Ya udah. Sabtu, tokonya kan sepi. Belajar. Aku yang ngajarin.”

“Nggak usah—“

“ITU DIA.” Dia nunjuk mukaku. “Kalimat itu. Kita bahas Sabtu.”


Sabtu, meja kasir disulap jadi meja belajar, dan dalam lima belas menit pertama kami menemukan masalah yang lebih besar dari trigonometri:

Aku nggak bisa diajarin.

Bukan nggak paham — nggak bisa diajarin. Beda. Tiap dia jelasin, refleksku motong: “eh bentar, aku coba sendiri dulu.” Tiap dia mau nunjukin caranya, tanganku duluan narik kertas: “bentar bentar, kayaknya aku bisa—“ (nggak bisa). Tiap dia benerin coretanku, dadaku nggak enak — bukan gengsi... oke, mungkin gengsi, tapi bukan gengsi ke dia. Gengsinya ke... duh, susah jelasinnya. Pokoknya tiap dibantuin, badanku protes.

Setengah jam, kemajuan: nol. Cynthia naruh pulpen.

“Abi. Berhenti dulu.” Dia natap aku dengan tatapan peneliti. “Kamu sadar nggak dari tadi ngapain?”

“Belajar?”

“Kamu NOLAK DIAJARIN. Setengah jam. Aku belum selesai satu kalimat pun. Kamu tuh—“ dia mikir, nyari perbandingan, terus nemu, dan matanya nyala jahat, “—kamu tuh persis kayak orang yang dikasih bekal terus sibuk nyariin pemiliknya buat balikin.”

“...”

“KENA. Muka kamu KENA.”

“Itu beda—“

“SAMA. Sama persis!” Dia gebrak meja pelan, semangat, kayak nemu rumus. “Kamu nggak bisa nerima barang, nggak bisa nerima pelukan— eh itu udah lumayan deng, latihannya jalan— DAN TERNYATA nggak bisa nerima diajarin juga! Ini penyakitnya satu, Bi! Cabangnya doang banyak!”

Aku mau protes. Nggak nemu bahannya. Soalnya... iya.

Dia narik napas, ngerapiin poni, terus ganti strategi — dan strategi barunya ini yang bikin aku sampai sekarang kalau inget masih geleng-geleng, soalnya liciknya tepat sasaran banget:

“Ya udah. Gini. Kita nggak belajar. Kita BARTER.” Dia nyodorin buku paket. “Kamu kan jago mesin. Nah, aku tuh dari dulu penasaran mesin fotokopi kerjanya gimana, nggak ngerti-ngerti. Kamu jelasin mesin ke aku, aku jelasin trigonometri ke kamu. Tukeran guru. Impas. Nggak ada yang ngutang.”

Sistem barter. Senjataku sendiri. Dipakai buat nembak aku.

Dan yang bikin kesel: LANGSUNG BERHASIL. Begitu framing-nya “tukeran”, badanku berhenti protes. Kubuka casing mesin kecil, kujelasin jalur kertas, drum, toner, sensor — dia nyimak beneran, nanya-nanya, kagum di tempat yang bener. Terus gantian dia buka buku, dan entah kenapa kali ini kupingku kebuka:

“Nih ya. Kamu bilang sin cos tan nggak ada bendanya. SALAH. Bendanya banyak.” Dia nunjuk ke luar jendela. “Tangga yang disenderin ke tembok — sudutnya, itu trigonometri. Tanjakan jalan sawah yang kamu genjot tiap sore — kemiringannya, trigonometri. Tiang lampu botol kamu di rooftop, kawatnya narik dari sudut berapa biar kuat — TRIGONOMETRI, ABI. Kamu tuh tiap hari PAKAI barangnya, kamu doang yang nggak kenalan sama namanya.”

Aku natap dia.

Natap segitiga di buku.

Natap dia lagi.

“...Kenapa guru nggak pernah bilang gitu.”

“Karena guru nggak tahu kamu mikirnya pakai tangan.” Dia nyodorin pulpen, senyum menang. “Sekarang: sepeda kamu nyender di tembok depan. Sudutnya kira-kira segini. Tinggi temboknya dua meter. Kakinya nyentuh tanah di jarak berapa? Itung. Pakai cara apa aja, bebas.”

Kuitung. Pakai logika bengkel, dicampur rumus yang barusan dia jelasin, coretannya berantakan — tapi lima menit kemudian ketemu, dan pas dia ngecek terus bilang “BENER”, rasanya kayak pertama kali berhasil ngidupin mesin mati: nggak masuk akal senengnya.

Dua jam berikutnya kami babat setengah bab. Ternyata kalau segitiganya dikasih badan — tangga, tanjakan, kawat, bayangan tiang — otakku jalan. Cynthia nyesuaiin semua soal jadi “bahasa bengkel”, sabar banget, nggak sekalipun ngetawain (oke, sekali, pas aku nulis “sin” jadi “sen”, itu wajar ditertawakan).

Pas toko mau tutup, dia ngerapiin buku sambil nyeletuk, santai:

“Enak ya.”

“Apanya?”

“Gantian.” Dia masukin pulpen ke tempatnya. “Dari kemarin-kemarin kan kamu terus yang benerin punyaku — jam, senter, boncengan, semuanya. Sekali-sekali aku yang benerin punyamu. Walaupun yang dibenerin cuma...” dia ngetuk jidatku pelan pakai ujung buku, “...cara masuknya ilmu.”

“Empat satu jadi berapa nih kira-kira minggu depan?”

“Enam lima aja udah lulus kan? Target tujuh puluh. Biar ada lebihnya.” Dia nyender ke kursi, senyum. “Kembaliannya nggak usah. Ditabung.”


Remedial minggu depannya: 78.

Bu Ratna sampai manggil aku ke meja guru, ngecek kertasku dua kali, natap aku curiga. “Kamu... belajar sama siapa?”

“Guru privat, Bu.”

“Bagus gurunya. Mahal ya pasti.”

“Bayarnya pakai penjelasan mesin fotokopi, Bu.”

Bu Ratna natap aku dengan tatapan yang memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut demi kesehatannya sendiri, dan nyuruh aku duduk.

Kertas nilai 78 itu nggak kubuang. Kukasihin ke “guru”-nya — dia yang minta, buat kenang-kenangan katanya — dan bertahun-tahun kemudian kutemukan lagi kertas itu di tempat yang nggak kusangka-sangka, dilaminating. DILAMINATING. Rapi banget pinggirannya.

Pas kutanya kapan ngelaminatingnya, jawabannya santai: “Sabtu itu juga. Pas kamu beresin mesin. Mumpung gratis, kan pacarku yang jaga.”

Dari dulu emang gitu orangnya. Nyolong momen tuh selalu di depan mataku, dan aku selalu taunya bertahun-tahun kemudian.