Chapter Nineteen

Suap-suapan (Percobaan Pertama)

(POV Abi)

Ada satu aturan nggak tertulis yang kupegang sejak jadian: apa pun yang terjadi antara aku dan Cynthia, sebisa mungkin jangan jadi tontonan.

Bukan malu. Lebih ke... dia udah cukup jadi tontonan seumur hidupnya. Kubaca itu dari cerita-ceritanya — soal maskot barisan, soal topi tiga cowok, soal “eh anak baru kenapa tuh”. Jadi kalau bisa, bagian kami yang beneran, yang penting-penting, kusimpan di tempat yang aman: tangga belakang, jalan sawah, fotokopian.

Cynthia setuju sama prinsip itu.

Sayangnya, Cynthia juga punya prinsip kedua yang jauh lebih kuat, yaitu: kalau lagi gemas, semua prinsip gugur.


Kejadiannya Rabu, jam istirahat, dan salahnya — kalau mau adil — ada di Bu Kantin.

Hari itu bekal Cynthia menunya spesial: dia baru belajar bikin rendang. Belajarnya seminggu, katanya, sampai tiga kali gagal (“yang pertama keras, yang kedua KERAS BANGET, yang ketiga nggak usah dibahas”). Nah, percobaan keempat ini berhasil, dan dia dateng ke sekolah dengan aura juara satu lomba masak tingkat nasional.

Masalahnya, Rabu itu aku kena giliran bantuin Bu Kantin ngangkat-ngangkat kardus minuman — kebiasaan lama, jadwal tetap — jadi pas balik ke meja, jam istirahat sisa sepuluh menit dan tanganku baru selesai dicuci.

“Duduk,” kata Cynthia. Kotak rendang udah kebuka. Wangi. Ya ampun wanginya.

“Iya, bentar, tanganku—“

“Sepuluh menit lagi masuk. Kamu belum makan. Tangan kamu abis ngangkat kardus.” Dia ngangkat sendok, ngambil nasi plus rendang dengan komposisi yang diperhitungkan, terus nyodorin ke arah mulutku dengan muka paling santai sedunia. “Buka.”

Aku natap sendok itu.

Sendok itu natap aku.

Di belakang sendok, ada muka Cynthia yang nunggu. Di belakang muka Cynthia, ada KELAS. Satu kelas. Yang seketika, dengan insting kolektif yang mengerikan, sadar sedang terjadi sesuatu di meja pojok.

“Cyn,” bisikku. “Rame.”

“Terus? Aku nyuapin pacarku sendiri. Bukan nyolong sendal.”

“Iya tapi—“ mataku gerak kiri-kanan. Sinta udah megang HP dengan posisi mencurigakan. Dimas udah senyum SEBELUM ada yang lucu. Dua anak barisan depan muter badan seratus delapan puluh derajat, terang-terangan, nggak pakai disamarin. “—tuh kan. Penonton.”

“Abi.” Sendoknya maju satu senti. Nadanya masih santai, tapi matanya mulai menyipit. “Ini rendang. Percobaan keempat. Aku tusuk-tusuk daging seminggu buat ini. Kamu mau dia dingin?”

“Nggak, tapi—“

“BUKA.”

Dan di sinilah aku, Abimanyu, mengambil keputusan taktis terburuk sepanjang karier: aku noleh kiri-kanan dulu. NOLEH. KIRI. KANAN. Kayak orang mau nyebrang. Kayak maling. Di depan satu kelas yang semuanya udah nonton, aku masih sempat-sempatnya memastikan “aman nggak nih” — yang mana, sebagaimana kalian bisa bayangkan, justru itulah momen yang diabadikan.

cekrek. Sinta.

cekrek cekrek. Anak barisan depan.

“WOOOOO—“ Satu kelas. Kompak. Padahal AKU BELUM NGAPA-NGAPAIN. BARU NOLEH.

Cynthia — dan ini yang sampai sekarang nggak habis pikir — sama sekali nggak terganggu. Nol. Dia nunggu dengan sabar sampai gelombang “wooo” pertama reda, sendok tetap stabil di udara kayak tangan dokter bedah, terus bilang:

“Udah? Puas semua? Nah. Abi. Aaaa.”

Aku makan.

Ya gimana. Dia tusuk-tusuk daging seminggu.

“WOOOOOOO—“ Gelombang kedua, lebih kenceng, ada suara meja digebrak, ada yang nyebut nama Tuhan, Dimas berdiri sambil tepuk tangan kayak nonton wisuda anaknya.

Dan rendangnya — di tengah semua kehebohan itu, kunyahan pertama — rendangnya ENAK. Enak beneran. Empuk, bumbunya masuk sampai dalam, pedasnya nyusul di belakang. Sedetik itu aku lupa penonton, lupa harga diri, lupa semuanya:

“...Enak banget.”

Kelas hening sedetak.

“NAAAAH,” ledak Cynthia, ke seisi kelas, sambil ngangkat sendok kayak piala, “DENGER SEMUA? ENAK. BANGET. Percobaan keempat! Yang kemarin ngetawain rendang keras, MANA SUARANYA?”

“Kan yang ngetawain elo sendiri, Cyn—“ celetuk Sinta.

“DIEM.”


Sisa istirahat itu jadi setengah pertunjukan: dia nyuapin dua kali lagi (“penonton udah bubar kok” — BOHONG, penontonnya cuma pindah ke mode diam-diam), aku balas nyendokin lauk ke kotaknya biar adil (dianya kaget sendiri, gantian dia yang noleh kiri-kanan — TUH KAN, NGGAK ENAK KAN RASANYA), dan kelas pelan-pelan balik ke kehidupan masing-masing dengan satu materi gosip baru yang bakal awet seminggu.

Pas bel masuk, dia ngerapiin kotak-kotak sambil senyum-senyum puas — level puasnya kayak orang habis menang perkara — terus nyeletuk pelan, cuma buat kudengar:

“Maaf ya. Tadi rame.”

“Katanya kalau sama kamu nggak papa.”

Dia noleh cepet. “Eh, kamu inget aja.”

“Kamu sendiri yang bilang.” Kututup kotakku, mikir bentar, terus jujur aja sekalian: “Lagian tadi tuh... aku panik bukan karena ramenya.”

“Terus?”

“Panik karena...” aku nyari kata sambil masang resleting tas, nggak berani natap, “...selama ini yang nyuapin aku tuh terakhir Eyang. Itu pun pas aku sakit. Jadi tadi pas kamu nyodorin sendok santai gitu, di kepalaku rasanya kayak— kayak dikasih sesuatu yang harusnya mahal, tapi kamu ngasihnya kayak ngasih permen. Bingung nerimanya. Gitu.”

Hening.

Kuberaniin noleh. Dia lagi natap aku dengan muka yang merah pelan-pelan dari pipi ke telinga — kalah telak, padahal seharian ini dia yang pegang kendali penuh.

“...Kamu tuh ya,” katanya akhirnya, suara ketahan, sambil buru-buru bediri bawa kotak bekal, “kalau ngomong gitu tuh JANGAN PAS BEL. Nggak ada waktu buat aku bales!”

“Bales apa?”

“NGGAK TAU. POKOKNYA CURANG.” Dia ngeloyor ke mejanya sendiri, duduk, ngadep depan dengan punggung tegak — terus lima detik kemudian nunduk, nutup muka pakai buku paket.

Dari mejaku, aku nyatet satu temuan penelitian hari itu, penting, kusimpan baik-baik:

Ternyata dia juga bisa hang.

Sistemnya sama kayak punyaku. Cuma selama ini nggak pernah ada yang berani nyolok kabelnya.