Chapter Twenty
Papan Setrika
(POV Abi)
Sebulan. Nggak kerasa — eh, bohong. Kerasa banget. Tiap harinya kerasa.
Aku nggak pernah bilang-bilang ke siapa pun kalau aku ngitung. Tapi ya ngitung. Tanggal jadian kami gampang diinget soalnya: tanggalnya sama kayak tanggal di nota servis pertama yang pernah kucatat buat dia — kebetulan yang baru kusadari pas iseng bongkar buku nota, dan setelah sadar, kok ya jadi pengin ngasih sesuatu.
Masalahnya: ngasih apa?
Beliin? Bisa, tapi uangku terbatas dan dia... dia tipe yang barang-barangnya udah bagus semua. Terus aku inget prinsip dagang Koh Aseng: kalau nggak bisa menang di harga, menang di barang yang nggak dijual di mana-mana.
Barang yang nggak dijual di mana-mana. Oke.
Dua minggu, tiap malam habis PR, aku ngerjain proyek rahasia kedua — kali ini di kamar, di meja belajar, pakai lampu servis kecil. Bahannya sisa-sisa: silinder musik dari kotak musik rusak yang dulu pernah kuservis terus dikasih pemiliknya karena “udah beli baru” (kusimpan bertahun-tahun, kebiasaan orang nggak bisa buang barang), rangka dari kayu bekas penggaris papan tulis yang patah, engsel kecil, per tipis, dan gir-gir jam bekas yang kupasang di sisi-sisinya — bukan buat fungsi, buat bagus aja. Biar kelihatan isinya. Aku suka mesin yang kelihatan isinya.
Silinder musiknya cuma bisa satu lagu, bawaan pabrik, nggak bisa kuganti — lagunya lagu pengantar tidur lama, yang mana kupikir: ya cocoklah, dia kan susah tidur kalau lagi kepikiran.
Malam terakhir, pas kuputer dan kotak kecil itu bunyi ting... ting-ting... pelan di kamar, Eyang Uti — yang ternyata dari tadi berdiri di pintu bawa teh — cuma bilang:
“Le.”
“Eh— Eyang. Iya?”
“Bapakmu dulu,” beliau nyeruput tehnya, matanya ke kotak musik, “ngelamar ibumu modal radio rakitan.”
Terus beliau pergi, GITU DOANG, ninggalin aku megang obeng dengan muka panas sendirian jam sebelas malem. EYANG. ITU INFORMASI APA MAKSUDNYA. KONTEKSNYA APA.
Sabtu sore, fotokopian, jam tutup toko.
Ini bagian yang kuatur: Koh Aseng udah pulang duluan (pamitnya sambil senyum lebar mencurigakan — aku curiga Eyang Uti sama beliau ada grup chat), toko udah rapi, tinggal kami berdua sama gerimis kecil di luar. Cynthia lagi duduk di kursi tunggu kesayangannya, dagu di lutut, persis pose di buku sketsa yang disandera itu.
“Cyn.”
“Hm?”
“Sini bentar. Ke kasir.”
“Ngapain?” Tapi dia udah jalan. “Kok formal. Mau nagih utang fotokopi? Perasaan aku bayarnya pas ter—“
Dia berhenti ngomong pas kutaruh kotak itu di meja kasir. Di tempat yang sama kayak struk waktu itu. Sengaja. Aku belajar dari yang terbaik.
“Sebulan,” kataku. Udah kususun kalimatnya dari kemarin, tapi tetap aja keluarnya belepotan: “Yang tanggalnya— pokoknya sebulan. Terus aku nggak bisa beli apa-apa yang pantes, jadi... jadi kubikin. Dari barang sisa sih. Tapi mesinnya sehat. Kalau bunyinya mulai lambat, kasih ke aku, tinggal disetel.”
Dia natap kotak kecil itu. Kayu yang kuamplas halus, gir-gir jam di sisinya, engsel yang kubikin nggak bunyi. Tangannya pelan banget pas ngangkat, pas muter kenopnya—
ting... ting-ting... ting...
Lagu pengantar tidur itu bunyi di toko fotokopi yang sepi, kecampur suara gerimis, dan Cynthia berdiri diam sekali — lama — dengerin sampai putarannya habis. Terus dia puter lagi. Dengerin lagi. Nggak ngomong apa-apa. Kepalanya makin nunduk.
“...Cyn? Kalau lagunya nggak suka, silindernya emang nggak bisa diganti sih, itu kekurangannya, harusnya kubilang dari awal—“
Dia naruh kotak musik itu ke meja. Hati-hati banget narunya. Terus dia maju.
Dan meluk aku.
Bukan pelukan yang kayak di bab-bab... maksudnya, bukan yang kayak biasa orang cerita. Ini pelukan yang niat: dua tangannya ngelingker di punggungku, mukanya nempel di bahuku, kenceng, kayak orang nyimpen sesuatu biar nggak jatuh.
Dan aku—
Oke. Laporan teknis. Jujur, apa adanya, demi keakuratan sejarah:
Aku nggak gerak.
SAMA SEKALI. Dua tanganku tetap di sisi badan, lurus, kaku, kayak lagi upacara. Sistem sarafku bukan cuma hang — mati listrik total, satu gedung. Otakku sempat mengeluarkan beberapa opsi: tepuk punggungnya? tangannya taruh mana? boleh gerak nggak? ini berapa lama? napas — NAPAS DULU — tapi nggak ada satu pun yang berhasil dieksekusi. Aku berdiri di situ, dipeluk orang yang paling kusayang sedunia, dengan postur sempurna sebuah papan setrika.
Lama-lama, dari bahuku, kedengeran suara ketawa kecil. Tertahan. Makin lama makin nggak tertahan.
“Bi.”
“...Iya.”
“Kamu kaku banget. Kayak papan setrika.”
“...Sarafku lagi mati listrik.”
“Pelukan tuh dibales. Tangannya di punggung. Gitu doang.”
“Aku tahu TEORINYA—“
Dia ngakak beneran sekarang, masih sambil meluk, badannya guncang-guncang di pelukan— di... di posisi itu, dan getarannya nular, dan entah gimana caranya ketawa orang bisa bikin sistem nyala lagi pelan-pelan: tangan kananku akhirnya berhasil naik — pelan, patah-patah, kayak mesin abis diservis nyala pertama — nempel di punggungnya. Terus yang kiri.
Dua-duanya.
Dan pas dua-duanya udah di sana, pas akhirnya kubales beneran — dia berhenti ketawa.
Gerimis di luar. Lagu kotak musik udah habis dari tadi. Toko sepi. Nggak ada yang ngomong. Kami berdiri di belakang kasir kayak dua orang yang baru nemu cara berdiri yang baru, dan aku inget mikir — pikiran yang polos banget, yang cuma bisa diproduksi otakku: ooh. Gini. Pantesan orang-orang rebutan.
“Bi,” suaranya kecil, dari bahuku.
“Hm.”
“Makasih ya. Kotak musiknya.”
“Iya.”
“Sama ini.”
“...Ini apa?”
“Ini.” Pelukannya kenceng sedikit. “Kamu nggak kabur.”
Aku diem bentar.
“Hampir sih tadi,” ngakuku. “Tiga detik pertama, kakiku udah nyusun rencana.”
“Aku tahu.” Dia ketawa lagi, pelan. “Kerasa. Makanya kupeluknya kenceng.”
Dia dijemput jam tujuh. Kotak musik dipeluknya sepanjang nunggu mobil, dan pas pamit, di depan pintu toko, dia noleh:
“Bi. Minggu depan, sebulan-satu-minggu ya.”
“...Itu bukan hitungan yang dirayain.”
“Sekarang jadi dirayain. Soalnya—“ dia senyum, jenis senyum penuh rencana yang harusnya bikin aku waspada, “—pelukanmu masih jelek. Kaku. Butuh banyak latihan. Jadwal latihannya aku yang atur.”
Mobilnya jalan. Aku ngunci toko sendirian sambil senyum-senyum kayak orang nggak waras.
Papan setrika, katanya.
Nggak papa. Papan setrika juga, kalau dipakai tiap hari, lama-lama panasnya stabil.
...Perumpamaannya salah ya. Ya pokoknya gitu. Kalian ngerti lah.
- 1 Pagi yang Tak Pernah Menengadah
- 2 Murid Pindahan
- 3 Botol Air Dua Tahun Lalu
- 4 Bekal Misterius
- 5 Detektif Paling Salah Fokus
- 6 Alasan Fotokopi
- 7 Ketahuan
- 8 Tarif Berlangganan
- 9 Jam Tangan Papa
- 10 Nada ’Papa’-nya Turun
- 11 Payung yang Disembunyikan
- 12 Buku di Belakang Kasir
- 13 Laras
- 14 Keputusan
- 15 Struk Fotokopi
- 16 Hari Pertama
- 17 Lima Jari
- 18 Boncengan
- 19 Suap-suapan (Percobaan Pertama)
- 20 Papan Setrika reading
- 21 Obat dari Orang Lain
- 22 Peka ke Semua, Kecuali Ini
- 23 Daftar
- 24 Yang Mundur dengan Anggun
- 25 Rooftop Bintang Lima
- 26 Trigonometri
- 27 Hadiah yang Ditolak
- 28 Takut Tak Bisa Membalas
- 29 Kecup Kening
- 30 Dunia yang Berbeda
- 31 Memberi Sambil Mundur
- 32 Eyang Uti Tahu
- 33 Kalimat yang Terpotong
- 34 Pemberian Terakhir
- 35 Jangan Atas Nama Kebaikan
- 36 Cowok ke Cowok
- 37 Toga
- 38 Ritme Baru
- 39 Menghilang Pelan-pelan
- 40 Sketsa di Meja Kerja
- 41 Papan Nama
- 42 Empat Tahun Kemudian
- 43 Yang Dulu Papan Setrika
- 44 Sepeda
- 45 Tamu Lama
- 46 Pertanyaan Eyang
- 47 Bug Terakhir
- 48 “Kamu Masih Gitu.”
- 49 Memperbaiki yang Terakhir
- 50 Persiapan (Salah Sangka)
- 51 Lamaran Terbalik
- 52 Epilog: Kembalian yang Disimpan