← Chapters Ch. 6 / 52

Chapter Six

Alasan Fotokopi

(POV Abi)

Sabtu. Jadwalku jaga fotokopian Koh Aseng, dari pagi sampai sore.

Fotokopian “Sinar Jaya” itu posisinya strategis: seberang jalan agak serong dari gerbang sekolah, diapit warung bakso dan toko ATK. Pelanggannya ya anak-anak sekolahku, ibu-ibu yang fotokopi KTP, dan bapak-bapak misterius yang selalu fotokopi dokumen sambil celingukan. Sabtu biasanya sepi. Aku biasanya jaga sambil nyicil servis: mesin besar yang narik kertas dobel itu akhirnya kubongkar — rol karetnya sudah licin, minta diganti, tapi sambil nunggu barangnya aku akalin dulu pakai...

Bunyi bel pintu.

“Permisi. Bisa fotokopi?”

Aku menoleh dari balik mesin, dan di depan kasir berdiri anak baru kelasku. Cynthia. Baju bebas — kaos putih, celana jins, tas kecil — dan entah kenapa fotokopian Koh Aseng yang lampunya setengah redup ini mendadak kelihatan seperti kurang layak ditempati.

“Eh. Cynthia? Kok tahu tempat ini?”

“Nggak tahu. Lewat doang.” Dia menyodorkan selembar kertas. “Ini bisa?”

Selembar. Satu lembar. Kuterima: resep masakan, kayaknya di-print dari internet. Resep Ayam Suwir Kecap.

“...Difotokopi berapa?”

“Satu.”

“Jadi kamu mau fotokopi satu lembar, jadi satu lembar.”

“Iya.”

“Ini kan bisa di-print lagi di rumah—“

“Printernya rusak,” katanya cepat. “Kenapa? Nggak boleh?”

“Boleh. Boleh banget.” Kumasukkan kertasnya ke mesin kecil. “Dua ratus perak.”

Dia membayar pakai uang lima puluh ribu.

Aku menatap uang itu. Menatap dia. Dia balas menatapku dengan muka polos maksimal, dan dari balik rak kertas, kudengar Koh Aseng — yang dari tadi pura-pura ngitung stok — mengeluarkan suara seperti orang menahan bersin, padahal aku yakin seratus persen itu bukan bersin.


Itu Sabtu pertama.

Sabtu kedua, dia datang lagi. Fotokopi halaman kamus — SATU halaman kamus — katanya buat tugas. Terus minta laminating kartu pelajar. Terus nanya jilid spiral itu gimana caranya, kujelasin, dia manggut-manggut, terus nggak jadi jilid apa-apa.

Selasa sorenya dia muncul pas aku lagi shift tambahan, fotokopi jadwal pelajaran yang SUDAH DITEMPEL DI KELAS, alasannya “buat cadangan di rumah”.

Kamis: print foto kucing. Bukan kucingnya. “Kucing tetangga. Lucu kan?” Iya sih lucu.

Sabtu ketiga, dia bahkan nggak fotokopi apa-apa. Dia beli pulpen — di fotokopian, padahal sebelah persis toko ATK yang jelas-jelas lebih lengkap — terus duduk di kursi tunggu, dan ngobrol.

Ngobrolnya yang bikin aku sekarang, kalau ingat-ingat lagi, pengin balik ke masa itu buat ngeplak kepala sendiri. Karena pertanyaannya tuh begini:

“Kamu tiap hari ke sini abis dari bengkel ya? Bengkelnya sampe jam berapa?”

“Jam istirahat kamu biasanya di kantin atau di kelas?”

“Kamu alergi apa? Eh, nanya doang. Temenku ada yang alergi udang soalnya, serem.”

“Kalau makanan, kamu lebih suka manis apa asin?”

Dan aku — detektif yang enam hari nggak berhasil menemukan pelaku bekal misterius — menjawab SEMUANYA dengan lancar dan senang hati, karena kupikir: wah, anak baru ini ramah banget ya, cepet banget membaurnya.

Iya. Kupikir gitu.

Satu-satunya yang sempat bikin aku heran cuma satu momen. Waktu itu dia lagi mainin pulpen barunya, terus nanya, dengan nada yang tiba-tiba lebih pelan:

“Abi. Kamu kalau dikasih orang, kenapa sih nggak mau?”

Aku sampai berhenti ngelap mesin. “...Kata siapa?”

“Kata anak-anak. Katanya kamu nggak pernah mau nerima apa-apa dari siapa-siapa.”

Kupikir dulu jawabannya. Bukannya nggak pernah ditanya begini — Dimas nanya, Bu Sari nanya, Koh Aseng bahkan pernah ceramah setengah jam. Biasanya kujawab bercanda. Tapi entah kenapa sore itu, mungkin karena tokonya sepi dan hujan mulai turun kecil-kecil di luar, jawabanku keluar setengah jujur:

“Bukan nggak mau. Nggak bisa.” Kuteruskan ngelap mesin biar nggak perlu natap orang. “Kalau dikasih tuh rasanya kayak... dikasih tagihan. Terus aku sibuk mikir bayarnya gimana. Capek sendiri, kan. Mending nggak usah dari awal.”

Hening sebentar. Cuma bunyi hujan sama mesin laminating yang lagi manasin.

“Emang semua pemberian itu tagihan?”

“Selama ini sih gitu.”

“Hmm.” Dia manggut-manggut pelan, mainin pulpennya, terus bilang — dan sumpah, nadanya santai banget, kayak lagi komentar cuaca: “Berarti belum pernah aja dikasih sama orang yang nggak butuh dibayar.”

Aku noleh. Dia udah berdiri, naruh uang pas — UANG PAS, untuk pertama kalinya dalam sejarah — di meja kasir.

“Pulang dulu. Makasih pulpennya.”

“Itu beli, bukan dikasih.”

“Sama aja,” katanya nggak nyambung, terus keluar nerobos gerimis, ninggalin aku yang bengong sama Koh Aseng yang muncul dari balik rak sambil geleng-geleng.

“Abi.”

“Iya, Koh?”

“Kamu tahu nggak, toko ini empat puluh tahun berdiri, baru kali ini ada pelanggan fotokopi satu lembar tiap minggu.”

“Rajin ya, Koh, anaknya.”

Koh Aseng menatapku dengan tatapan yang nggak bisa kuartikan waktu itu — sekarang bisa: itu tatapan orang yang lagi nyaksiin kecelakaan pelan-pelan dan memutuskan untuk nggak menolong karena kecelakaannya bagus.

“Iya,” katanya akhirnya, balik ke rak kertas. “Rajin.”


Malamnya, sambil ngerjain PR di lantai ditemani sinetron Eyang Uti, aku kepikiran omongan anak itu.

Dikasih sama orang yang nggak butuh dibayar.

Emang ada, orang kayak gitu? Eyang Uti — iya, itu beda, itu keluarga. Selain itu?

Di sinetron, tokoh utamanya lagi ketimpa masalah dramatis entah apa. Eyang Uti berkomentar heboh. Aku manggut-manggut nggak nyimak, terus balik nulis, dan pelan-pelan pikiran itu kugeser ke belakang antrean, ditumpuk urusan yang lebih jelas: PR, rol karet mesin, genteng.

Belum ngeh juga.

Bekal misterius di tasku. Ayam suwir kecap. Resep ayam suwir kecap yang difotokopi satu lembar.

Bulat-bulat hurufnya sama.

Nggak, waktu itu aku beneran belum ngeh. Silakan tertawa. Aku juga, tiap ingat ini, pengin ketawa — sambil nutup muka.