Chapter Fifty
Persiapan (Salah Sangka)
(POV Abi)
Minggu-minggu setelah itu, ada dua operasi rahasia berjalan paralel di kota kecil kami.
Operasi pertama: punyaku. Sederhana sekarang — rencana rooftop megah udah kubatalin total; yang tersisa cuma tiga urusan: cincin dipoles final, restu dua rumah, dan satu lembar kertas. Iya. Kertas. Kalian bisa nebak lah aku orangnya gimana kalau udah nyangkut kertas dan tempat tertentu.
Operasi kedua: BUKAN punyaku. Dan aku baru tahu keberadaannya belakangan, jadi kuceritain sesuai kejadian aja ya, biar kalian ngerasain persis kayak aku ngerasainnya: bingung dulu, ngakak belakangan.
Jadi gini. Galih — divisi mulut, digaji — ternyata udah bocor SEJAK BAB EMPAT PULUH LIMA. “Tutup mulut ya” versi Galih itu artinya: cuma cerita ke Rio, yang cuma cerita ke tukang bakso, yang istrinya langganan gosip sama juru parkir pasar, yang... pokoknya, dalam dua minggu, SEISI EKOSISTEM PASAR tahu bahwa “Mas Abi TERIMA mau ngelamar Mbak Cynthia.”
Seisi pasar. Kecuali dua orang: aku (yang nggak tahu bahwa orang tahu) dan... enggak deng. Satu orang. Karena Cynthia — tentu saja Cynthia, siapa yang kubohongi — udah nyium semuanya dari lama.
Dan di sinilah operasi kedua itu lahir. Yang kutahu belakangan dari interogasi silang: begitu dia yakin arahnya ke mana (bukti-buktinya, katanya: aku “aneh tapi anehnya seneng”, Koh Aseng senyum-senyum tiap dia lewat, Eyang mendadak nanya ukuran cincinnya PAKE ALASAN “buat arisan” — EYANG, ALASANNYA), dia mengambil keputusan yang sangat dia:
Pura-pura nggak tahu. Total. Profesional.
“Aku latihan muka kaget di kaca, Bi. LATIHAN. Ada tiga versi: kaget elegan, kaget nangis, sama kaget-nutup-mulut-dua-tangan kayak di video-video. Aku juga udah nyiapin kuku — KUKU, biar pas difoto cincinnya bagus — terus tiap weekend aku standby baju yang pantes, SIAPA TAHU HARINYA, masa aku dilamar pake daster.”
Dua bulan, saudara-saudara. Dua bulan dia standby baju bagus tiap weekend sambil pura-pura polos. Sementara aku mikirnya dia nggak curiga apa-apa. Rumah tangga ini kelak dibangun di atas dua operasi intelijen yang saling memata-matai dan sama-sama merasa menang.
Restu. Dua rumah.
Eyang — udah dari kapan tahu restunya; formalitasnya cuma aku sungkem dan beliau ngomong pendek: “Akhirnya. Bilangin bapak-ibumu udah kubilangin duluan tadi subuh, jadi kamu tinggal nyusul lapor.” Terus beliau ngasih satu benda: cincin kawin almarhum ibuku — kecil, tua, emasnya tipis. “Bukan buat dipakai dia; cincinnya kan kamu udah bikin. Ini buat kamu kantongin pas ngomong nanti. Biar ibumu ikut.”
(Kalian nggak perlu tahu berapa lama aku diem di teras habis itu. Lama. Udah.)
Mama Cynthia — ini yang bikin aku nggak tidur semalaman nyiapin. Kupilih hari Kamis, sengaja dateng sendiri, bawa... nggak bawa apa-apa. Itu keputusan paling sadar seumur hidupku: biasanya aku sembunyi di belakang barang — pigura, servis, kado. Kali ini tangan kosong. Sesuai kurikulum baru.
Beliau nerima aku di ruang tengah, di sofa deket piano yang tiap Minggu dimainin bocah-bocah, dan sebelum aku sempet ngeluarin kalimat yang kususun (JUJUR susunannya, bukan rapi — udah beda sekolah sekarang), beliau ngangkat tangan.
“Sebelum kamu ngomong. Tante mau cerita dulu. Duduk.”
Aku duduk.
“Sembilan tahun lalu, anak tante pulang dari sekolah barunya, minggu pertama, dan bilang: ’Ma, ketemu. Yang botol itu. Dia nggak inget aku.’” Beliau senyum tipis. “Tante waktu itu mikir: aduh, anak ini. Ngejar anak nggak dikenal, modal botol. Tante udah nyiapin diri buat patah hatinya — anak secantik itu, dikelilingin yang gampang-gampang, kok milih yang jauh.” Beliau natap jam dinding sebentar, terus balik ke aku: “Terus tahun demi tahun, tante nonton. Jam suami tante hidup lagi. Anak tante — yang dari kecil dikasih semua tapi matanya nggak pernah kenyang — pelan-pelan matanya... tenang. Pigura di dinding itu. Papan toko satu kata itu. Dan yang terakhir, dua minggu lalu, dia pulang jam tiga pagi habis nungguin kamu demam, capek, berantakan — dan pas tante tanya gimana, jawabnya sambil senyum: ’Ma, dia hampir sembuh total. Tinggal satu.’”
Beliau ngambil napas.
“Jadi pertanyaan tante satu aja, Abi. Yang ’tinggal satu’ itu — kamu ke sini mau ngasih dia sesuatu lagi, atau mau minta?”
Dan aku ngerti kenapa Cynthia sekolahnya di rumah ini.
“Minta, Tante.” Suaraku keluar lebih stabil dari yang kuduga. “Saya ke sini mau minta izin... buat minta. Ke anak Tante. Ditemenin. Seumur hidup. Saya nggak bawa jaminan apa-apa hari ini — nggak bawa barang, sengaja. Yang saya bawa cuma catatan sembilan tahun sama niat belajar seumur hidup. Itu... itu aja isi proposalnya.”
Hening. Jam dinding jalan.
Terus Mama Cynthia ngelap ujung matanya, cepet, satu gerakan — persis gerakan anaknya — dan bilang, suaranya udah beda:
“Diterima.” Beliau berdiri, jalan ke lemari, ngeluarin album, nyodorin satu foto: Cynthia umur SMP, di lapangan, megang botol air, celingukan. “Ini fotonya panitia dulu, tante baru nemu tahun lalu pas beres-beres. Liat mukanya. Sembilan tahun dia nyari kamu, Nak. Jangan bikin nunggu lebih lama — dan satu pesen dari tante, sebagai orang yang paling kenal dia:” beliau nunjuk aku, persis gaya anaknya juga, “jangan yang mewah-mewah. Dia bakal pura-pura kaget — iya, tante tahu dia latihan di kaca, satu rumah, kedengeran — tapi yang bakal bikin dia nangis beneran bukan yang megah. Kamu udah tahu dia nangisnya kapan aja. Sembilan tahun. Pakai datamu.”
Pakai datamu.
Instruksi paling jelas seumur hidup.
Jumat malam, semua siap: cincin di kaleng biskuit (dipoles final; tiga gir kecil utuh itu — sabar, besok kalian lihat), cincin ibu di saku, kertas... kertasnya udah di tempat yang seharusnya, nginep duluan di sana, dijagain satpam paling tepercaya sedunia yang empat puluh tahun jaga pos yang sama.
Tinggal satu chat. Kukirim jam sembilan, santai, standar, nggak mencurigakan:
“Cyn. Besok Sabtu tolong temenin ke Sinar Jaya ya, jam 4. Ada perlu bentar. Abis itu terserah kamu mau ke mana.”
Balasannya dateng dua menit kemudian:
“Oke. Jam 4.”
Pendek. Normal.
Yang nggak kelihatan dari layar: di kamarnya, malam itu, seseorang berdiri di depan lemari milih baju sambil komat-kamit “SINAR JAYA? kok SINAR JAYA? eh bentar— EH BENTAR—“, terus nyoba muka kaget versi dua di kaca, terus gagal karena senyumnya nggak mau turun-turun.
Dua operasi rahasia, sembilan tahun persiapan total gabungan, dan besok jam empat sore, dua-duanya bakal tabrakan di tempat yang sama:
Di depan sebuah mesin fotokopi.
Ya di mana lagi.