← Chapters Ch. 30 / 52

Chapter Thirty

Dunia yang Berbeda

(POV Abi)

Tiap tahun, sekolah kami punya satu acara besar: pentas seni plus bazar, dua hari, satu lapangan penuh. Dan tiap tahun, jauh sebelum poster acaranya nempel, ada satu orang yang udah pasti kebagian kerja duluan: aku. Sound system aula itu barang tua yang cuma mau nurut sama dua orang — teknisi sewaan yang mahal, atau anak kelas sebelas yang dibayar pakai nasi kotak.

Tahun ini ada yang beda: Cynthia ditarik jadi panitia.

Sie dekorasi-dokumentasi. Yang narik anak-anak OSIS sendiri — “anak baru tapi selera fotonya bagus, feed-nya rapi” — dan dia semangat, dan aku ikut seneng. Beneran ikut seneng. Ini penting kucatat, karena artinya nggak ada satu pun bagian dari cerita berikut yang berangkat dari niat jelek siapa-siapa. Semuanya berangkat dari hal-hal baik. Makanya jadinya susah.

Rapat panitia itu tiga kali seminggu, sepulang sekolah, di aula. Dan karena aku juga tiap sore di aula — ngurus kabel, nge-tes mic, manjat rigging — otomatis aku jadi... penonton tetap.

Penonton dari jarak yang pas buat lihat, kurang buat ikut.

Hari pertama, biasa aja. Hari ketiga, aku mulai denger. Bukan nguping — aula itu gemanya bagus, suara rapat nyampe sendiri ke rigging. Dan yang nyampe tuh potongan-potongan begini:

“Konsep panggungnya kayak yang di festival Jepang itu loh— eh Cynthia pernah ke Jepang kan?”

“Pernah, tapi kecil dulu. Yang kuinget cuma dingin sama vending machine.”

“YAAA. Aku belum pernah huhu. Reno lo kan abis dari Eropa kemarin—“

“Bukan liburan, nemenin bokap kerja doang. Tapi konsep panggung gini banyak di sana, ntar kukirim referensinya. Cyn, lighting-nya enaknya warm apa putih?”

“Warm lah. Putih tuh kayak lampu UKS.”

Ketawa serempak. Ketawa panitia. Ketawa orang-orang yang duduk melingkar di kursi yang sama.

Aku di atas, di rigging, ngencengin klem lampu — lampu warm, kebetulan, yang bakal mereka pakai — dan nyadar satu hal yang bunyinya pelan tapi jelas: dari semua kata yang lewat barusan — Jepang, Eropa, festival, referensi — nggak ada satu pun yang bisa kusambung. Bukan nggak ngerti. Nggak punya. Beda itu. Kalau nggak ngerti, bisa belajar. Kalau nggak punya, mau belajar dari mana.

Hari kelima, pas turun dari rigging mau ngetes mic, aku papasan sama mereka bubar rapat. Cynthia langsung nyamber lenganku, cerita heboh soal konsep dekor — dan Reno, di belakangnya, nyapa dengan ramah yang tulus:

“Bi! Pas banget. Sound buat band tamu gimana, aman? Oh iya — band tamunya temen les piano gue dulu, anaknya rewel soal monitor, ntar gue kenalin biar kalian ngomong teknis langsung.”

“Aman. Mixer-nya udah kuservis, tinggal setting.”

“Gila sih lo. Panitia tuh harusnya bayar lo pake gaji, bukan nasi kotak.” Dia ketawa, nepuk bahuku — tulus, lagi-lagi tulus — terus noleh ke Cynthia: “Cyn, jangan lupa besok survei percetakan bareng anak-anak, sekalian gue anterin, searah rumah kita.”

Searah rumah kita.

Kalimat biasa. Fakta geografis. Rumah mereka memang searah — udah kutahu lama, dari mulut Reno sendiri, nggak ada yang baru.

Tapi malam itu, di kamar, sambil ngelap obeng yang nggak kotor, kalimat itu muter terus dengan lampu sorot yang beda. Searah. Reno searah rumah Cynthia. Reno se-tempat-les sama Cynthia. Reno se-Jepang-Eropa, se-warm-bukan-putih, se-band-tamu, se-dunia sama Cynthia. Kalau dunia itu peta, rumah mereka satu halaman. Rumahku di halaman lampiran.

Dan otakku — yang kerjanya emang nggak bisa disuruh berhenti — mulai ngitung hal yang nggak pernah kuitung: dianter mobil vs boncengan sepeda. Referensi Eropa vs referensi jalan sawah. Les piano vs les... nggak ada. Kolom kiri panjang. Kolom kanan pendek.

Nggak ada kejadian apa-apa loh ya. Nggak ada yang salah. Reno baik — makin kenal makin kelihatan baiknya, itu masalahnya. Cynthia biasa aja — pulang rapat selalu nyariin aku, cerita panjang, bekal jalan terus. Semua sehat.

Yang sakit cuma hitungan di kepalaku. Dan hitungan itu nggak kukasih lihat siapa-siapa.


Minggu itu aku nambah jam.

Bilangnya ke semua orang: nabung buat servis besar sepeda, buat ini, buat itu — alasan yang masuk akal, aku emang selalu nabung. Bang Jali kukasih tahu aku ambil rute tambahan hari Minggu. Pak Yon kutawarin lembur Kamis. Koh Aseng malah nanya duluan, “kamu nggak papa? kok nyari-nyari kerjaan,” dan kujawab sambil ketawa, “biasa Koh, anak rajin.”

Cynthia? Cynthia kukasih versi paling halus: “Minggu ini agak padet ya, banyak orderan.” Nggak bohong. Kan aku yang bikin padet.

Dan sisanya... sisanya kututup pakai satu-satunya keahlian yang nggak pernah gagal: jadi baik. Bekalnya kuhabisin sambil muji. Ceritanya kudengerin sampai titik. Pulang rapat kujemput di depan aula — senyum, gandeng, boncengin. Semua tombol kupencet dengan benar.

Cuma ada satu orang yang sistemnya lebih tua dari sistemku, yang udah baca polaku dari sebelum aku lahir.

Jumat malam, pas aku pulang jam sepuluh lewat — lembur Pak Yon — Eyang Uti masih di ruang tengah. TV mati. Beliau duduk aja, nungguin, teh dua gelas di meja.

“Le.”

“Eyang belum tidur? Maaf pulang malem, tadi—“

“Duduk.”

Aku duduk. Teh disodorin. Kami minum. Lama nggak ada yang ngomong — Eyang emang gitu, beliau bisa nunggu lebih lama dari siapa pun, senjatanya sabar.

“Minggu ini,” katanya akhirnya, matanya ke gelas, “kamu nyuci kotak bekal sambil senyum. Tiap hari. Nggak bolong.”

“...Iya? Bagus dong, Yang.”

“He-eh.” Beliau nyeruput teh. “Senyumnya rapi banget, Le. Rapiii banget.”

Terus beliau berdiri, ngelus kepalaku sekali kayak aku masih lima tahun, dan jalan ke kamar. Di pintu, tanpa noleh:

“Orang senyum beneran itu berantakan, Le. Yang rapi itu namanya kerjaan.”

Pintu kamar nutup pelan.

Aku duduk sendirian sama dua gelas teh, jam sepuluh malem lewat, dan untuk pertama kalinya minggu itu, nggak ada yang perlu disenyumin.

Capek juga ternyata. Rapi-rapi terus.