Chapter Forty Four
Sepeda
(POV Abi)
Kalian sadar nggak, ada satu kejanggalan yang belum pernah kujelasin?
Bab kemarin aku cerita: Rabu sore itu sepeda, nggak bisa diganggu gugat. Sepeda yang mana? Sepeda tua itu, yang kurakit dari rongsokan gudang Pak Yon, yang boncengannya kubikin dua minggu.
Padahal — dan ini yang janggal — sepeda itu pernah kujual.
Cerita lengkapnya baru kebongkar bulan itu, di satu makan malam Jumat di rumah Eyang. Dan karena kalian udah nemenin dari bab satu, kalian berhak dapet versi lengkapnya juga.
Mundur lima tahun, ke masa paling gelap era merintis — sebelum papan TERIMA naik, pas semua masih angka di buku dan ruko masih kontrakan kosong.
Waktu itu ada satu mesin yang harus kubeli cepet: mesin gerinda duduk plus perlengkapan las yang layak. Ada yang jual murah, kondisi bagus, tapi harus tunai minggu itu — lewat, barangnya lepas ke orang. Tabunganku kurang delapan ratus ribu. Pinjem? Bisa, banyak yang mau minjemin. Tapi kalian kenal aku. Jaman itu apalagi.
Jadi kuinventaris barangku sendiri, dan satu-satunya yang nilainya nyampe cuma satu.
Sepeda itu.
Kujualnya diam-diam — dari SIAPA-SIAPA. Eyang kubilang “sepedanya dititip di bengkel, lagi servis besar” (bohong ke Eyang, dosa yang kubayar mahal belakangan: beliau tahu dari hari kedua, pura-pura percaya dua bulan, “nungguin kamu ngaku, nggak ngaku-ngaku, ya udah eyang capek nunggu”). Cynthia — pacarku, partnerku, yang harusnya tahu duluan — kubilang hal yang sama. Terus dua bulan aku ke mana-mana jalan kaki atau nebeng motor Pak Yon, sampai kebeli motor bekas operasional, dan cerita sepeda itu kututup rapat: dijual ke pengepul barang bekas ujung pasar, delapan ratus lima puluh ribu, mesin kebeli, hidup jalan terus.
Sepedanya? Kupikir udah jadi rongsokan lagi. Dilebur, mungkin. Aku sengaja nggak pernah lewat lapak pengepul itu lagi. Ada barang-barang yang kalau udah dilepas, jangan ditengok.
Terus enam bulan kemudian — kalian mungkin inget kalau baca teliti — sepeda itu “balik”. Waktu itu Cynthia bilang: “Nemu di lapak barang bekas, mirip banget punyamu yang lagi diservis lama itu, kubeli aja buat kejutan, eh pas dicek beneran punyamu! Kebetulan gila kan?” Dan aku — capek, sibuk, bahagia sepedanya balik — nelen cerita itu bulat-bulat. KEBETULAN GILA. Kuaminin. Bertahun-tahun.
Iya. Silakan. Ketawain aja. Detektif macam apa aku ini, jilid dua.
Nah. Makan malam Jumat itu.
Pemicunya sepele: Eyang lagi cerita ke anak-anak magang (Jumat itu Galih-Rio ikut makan, tradisi) soal jaman aku kecil, terus nyerempet: “...dulu sepedanya itu loh, dijual diem-diem sama dia, dikira eyang nggak—“
“EYANG.” Aku keselek.
“Loh, udah lama, cerita aja—“
“DIJUAL?” Galih noleh. “Sepeda yang legendaris itu, Mas? Kok sekarang ada?”
Dan di detik itu, aku noleh ke Cynthia — mau minta bantuan ganti topik — dan nemuin dia lagi SANGAT SIBUK sama tempe di piringnya. Sibuk level mencurigakan. Sibuk level natain-kotak-pensil jaman kelas sebelas.
“...Cyn.”
“Hm? Apa? Tempenya enak, Yang.”
“Cynthia.” Semua mata di meja pindah ke dia. Eyang udah senyum-senyum — BELIAU TAHU, ternyata semua orang di meja itu tahu KECUALI AKU. “Sepeda itu. ’Kebetulan nemu di lapak’. Bener kebetulan?”
Dia naruh sendok. Ngelap mulut. Narik napas kayak terdakwa yang udah nyiapin pledoi dari lama.
“...Oke. Kadaluarsanya kayaknya emang udah lewat ya. Fine.” Dia ngadep aku. “Nggak ada kebetulan. Aku tahu kamu jual sepedanya DARI MINGGU PERTAMA. Kamu pikir ’servis besar dua bulan’ itu alasan yang masuk akal? SEPEDA. Servis dua bulan. Kamu sendiri nyervis sepeda orang sejam kelar. Aku pacaran sama teknisi, Abi, masa nggak bisa ngitung.”
Meja hening. Rio berhenti ngunyah.
“Terus minggu itu juga aku ke pengepul ujung pasar. Nanya-nanya, pura-pura nyari barang. Sepedamu masih di situ, disenderin di tumpukan, belum diapa-apain.” Suaranya mulai nggak selurus tadi. “Kubeli. Sejuta — bapaknya naikin harga pas liat aku niat banget, dasar. Terus kutitipin di gudang rumah, kututupin kain, ENAM BULAN, Abi. Nungguin momen yang kamu-nya udah nggak malu kalau sepedanya balik. Soalnya kalau baliknya kecepetan, kamu pasti ngitung: dia beli berapa, gantinya gimana — kambuh. Jadi kutunggu. Sampai kamu cukup kuat buat nerima ’kebetulan’.”
“...”
“Sama satu lagi sekalian, biar tuntas dosanya.” Dia nunduk, mainin ujung taplak. “Alasan aku beli... bukan cuma biar kamu punya sepeda lagi. Waktu itu aku mikir — kamu lagi jual satu-satunya barang yang kamu sayang, demi mimpi yang kamu bangun buat kita, dan kamu nggak bilang siapa-siapa, mikulnya sendirian kayak biasa. Aku nggak bisa maksa kamu cerita, belum jamannya, kamu masih gitu orangnya. Ya udah. Yang bisa kulakuin cuma... jagain barangnya. Diem-diem. Biar pas kamu nengok lagi, dia masih ada.” Dia ngangkat muka, matanya basah, senyumnya miring: “Kayak yang selama ini kamu lakuin ke semua orang, kan. Nolong tanpa jejak. Sekali-sekali rasain jadi yang ditolong tanpa tahu.”
Meja makan Eyang Uti, Jumat malam, hening total. Galih pura-pura ngelap mata pakai alasan sambel. Rio nggak pakai alasan, ngelap aja terang-terangan.
Dan aku duduk di situ, natap orang di seberang meja, sambil di kepalaku enam tahun kejadian nyusun ulang dirinya: sepeda yang “kebetulan balik”. Boncengan yang untung nggak ikut kujual (nggak tega; kulepas, kusimpen — dia tahu itu juga, ternyata, makanya yakin aku bakal nerima sepedanya balik). Rabu-Rabu sepeda yang dia pertahankan mati-matian bertahun-tahun, “nggak bisa diganggu gugat” — BUKAN nostalgia doang. Dia jagain barang yang pernah dia selametin.
“...Cyn.”
“Udah. Jangan bilang apa-apa dulu. Nanti aku—“
“Sejuta itu—“ mulutku jalan, refleks purba, SATU detik kalkulatorku nyala—
“NAAAH KAN.” Satu meja kompak. SATU MEJA. Eyang sampai nunjuk pakai centong: “Le! Papan tokomu bacanya apa! BACA!”
“...Terima.”
“YANG KENCENG.”
“TERIMA, YANG.”
“Nah. Habiskan tempenya.”
Dan malam itu ditutup dengan Cynthia ketawa sampai nangis, Eyang menang telak, dua magang dapet cerita yang bakal mereka bocorin ke seisi pasar besoknya, dan aku — di jalan pulang, boncengin dia pakai sepeda yang ternyata dua kali diselametin orang yang sama —
Aku genjot pelan-pelan aja. Lamain dikit.
“Bi. Kok pelan?”
“Sepedanya,” kubilang, “lagi kuajak terima kasih.”
Dia diem. Terus pelukannya dari belakang kenceng banget, mukanya nempel di punggungku, dan sisa jalan sawah itu nggak ada yang ngomong lagi. Nggak butuh.
Poin 188: dia jagain barang-barangku dari diriku sendiri. Udah lama. Diem-diem.
Tinta. Digarisbawahi.