Chapter Thirteen
Laras
(POV Abi)
Kalau ditanya siapa orang paling bisa diandalkan di kelasku, jawabannya gampang: Laras.
Laras itu ketua kelas sejak kami kelas sepuluh, dan sebelum itu — kami satu SMP — dia ketua kelas juga. Bukan tipe ketua kelas galak; tipe yang kerjaannya beres duluan sebelum orang sadar ada kerjaan. Buku absen selalu rapi. Jadwal piket nggak pernah bentrok. Kalau ada guru nitip tugas, satu kelas taunya dari Laras, lengkap dengan “halaman berapa sampai berapa, dikumpul kapan, boleh kelompok apa nggak.”
Dan ke aku, Laras itu... gimana ya jelasinnya. Praktis.
Contoh: aku langganan telat masuk kalau habis rute koran molor. Nggak pernah sekalipun namaku bolong di absen — pas kutanya, jawabannya cuma, “Kamu kan telatnya kerja, bukan males.” Contoh lain: dia satu-satunya orang yang tahu aku alergi udang, gara-gara kelas sepuluh dulu aku pernah bentol-bentol habis acara makan-makan, dan sejak itu tiap ada acara kelas yang pakai katering, entah gimana caranya menu buatku selalu nggak ada udangnya. Nggak pernah dia umumkan. Tahunya juga aku belakangan.
Buatku itu Laras: orang baik yang caranya kayak petugas — rapi, senyap, nggak minta dilihat. Kubalas sebisaku: raknya yang goyang kubenerin, sepedanya kuservis tiap kali bunyi, payung besarnya yang patah dua ruji kubikin bagus lagi. Impas. Sehat. Nggak ada yang aneh.
Itu menurutku.
Menurut satu orang lain di kelas, ternyata pembacaannya beda.
Kejadiannya pas kerja kelompok bahasa Indonesia. Sekelompok berlima: aku, Cynthia, Laras, Dimas, Sinta — dan tugasnya bikin drama pendek, yang artinya nggak ada yang kerja, semuanya debat.
Debat pertama: judul. Debat kedua: siapa yang jadi pohon. Debat ketiga — nah ini dia — jadwal latihan.
“Jumat sore aja,” usul Sinta.
“Abi nggak bisa,” kata Laras, otomatis, tanpa mengangkat muka dari catatannya. “Jumat dia bengkel sampai maghrib. Sabtu dia fotokopian seharian. Minggu pagi dia anter koran juga, tapi jam sepuluh biasanya udah kosong. Minggu jam sepuluh aja.”
Hening sebentar.
Buatku itu hening biasa — hening orang lagi nyocokin jadwal. Kubilang, “Iya, Minggu jam sepuluh bisa,” dan kupikir urusan selesai.
Baru pas ngangkat muka, aku nangkep sesuatu: Cynthia lagi natap Laras. Bukan natap galak. Natapnya... kayak orang lagi baca tulisan kecil di kemasan. Terus dia noleh ke aku, senyum, terus balik nunduk ke kertas — dan seharian itu dia jadi lebih pendiam dua puluh persen. Nggak ada yang notice.
Ya, kecuali aku. Kan itu kerjaanku.
Sorenya, di fotokopian, dia nggak langsung nongkrong di kursi tunggu kayak biasa. Dia muter-muter dulu, pura-pura lihat-lihat pulpen, terus akhirnya nyender di ujung meja kasir dan nanya dengan nada yang disantai-santaikan:
“Bi. Laras itu... kalian temenan dari kapan?”
“SMP. Sekelas terus dari kelas delapan.”
“Ohh. Pantes.” Dia mainin pulpen display. “Dia hafal banget jadwal kamu ya.”
“Laras hafal jadwal semua orang. Kerjaannya emang gitu, ketua kelas.”
“Dia hafal jadwal Dimas?”
“...Eh?”
“Jadwal Sinta? Jadwal anak lain? Sampai level ’Minggu jam sepuluh biasanya udah kosong’?”
Aku buka mulut mau jawab “ya iya lah” — terus kututup lagi, karena pas dicek, aku nggak punya datanya. Nggak pernah kepikiran ngecek.
“Nggak tahu,” jawabku jujur. “Mungkin?”
Cynthia natap aku lamaaa banget. Terus dia senyum — senyum yang anehnya justru muncul pas orang lagi nggak pengin senyum — dan bilang, “Iya. Mungkin,” dengan nada yang jatuhnya di belakang.
Nah. Itu dia nada itu.
“Cynthia. Kamu kenapa?”
“Nggak papa.”
“Turun lagi tuh.”
“NGGAK TURUN.” Dia narik napas, buang muka ke rak kertas, terus — kayak nyerah sama dirinya sendiri — ngomong setengah gerutu, cepet banget, hampir nggak kedengeran: “Aku butuh dua bulan buat hafal jadwal kamu. Dua bulan, pakai acara fotokopi kamus segala. Dia tinggal buka mulut aja udah lengkap sama keterangan jam kosongnya. Sebel. Udah. Gitu doang. Jangan dibahas.”
“...Kamu sebel karena Laras lebih apal jadwalku?”
“JANGAN DIBAHAS.”
Aku nggak bahas. Tapi otakku — dasar otak — malah sibuk nyari solusi, karena begitulah settingan pabrikku: ada yang nggak beres, benerin. Dan solusi yang kuproduksi sore itu, yang menurutku waktu itu SANGAT MEMBANTU, adalah ini:
“Ya udah gini aja. Biar adil. Kamu mau jadwalku yang lengkap? Sini kutulisin. Sekalian sama catatan jam kosongnya, terus rute koranku lewat mana aja, sama nomor bengkel Pak Yon kalau darurat. Laras aja nggak punya yang selengkap itu. Kamu jadi pemegang data terlengkap. Menang.”
Hening.
Cynthia natap aku dengan tatapan kosong selama kurang lebih lima detik. Terus dia ketawa. Ketawa yang kayak kalah: nunduk, geleng-geleng, tepok jidat pelan.
“Ya ampun, Abi.”
“Kenapa? Kurang? Jadwal Eyang Uti sekalian?”
“NGGAK USAH.” Dia ngangkat muka, matanya udah bener lagi, dan dia nyodorin tangan. “Sini mana kertasnya. Tulis.”
Kutulis. Lengkap. Dia lipat kertas itu kecil, masukin ke saku depan tasnya — saku yang ada resletingnya, yang kuperhatiin cuma dipakai buat barang penting — terus nepuk-nepuk saku itu sekali, kayak nyimpen kwitansi.
“Bi.”
“Hm?”
“Kamu nggak ngerti kenapa aku sebel tadi, kan?”
“...Nggak,” ngakuku. “Tapi kayaknya udah nggak sebel. Berarti beres kan?”
“Beres.” Dia senyum, jenis yang bikin curiga. “Nanti juga kamu ngerti. Aku nggak buru-buru.”
Itu sisi cerita yang kutahu, hari itu.
Ada satu kejadian kecil lagi sore itu yang baru kuketahui artinya lama, lama banget setelahnya — jadi kuceritain di sini apa adanya, sebagaimana mata polosku merekamnya waktu itu:
Pas Cynthia pulang, di depan toko dia papasan sama Laras — yang mau fotokopi soal buat kelas, urusan ketua kelas biasa. Mereka berhenti, ngobrol sebentar di bawah kanopi. Dari dalam nggak kedengeran apa-apa; cuma kelihatan Cynthia ngomong sesuatu, Laras diem agak lama, terus Laras jawab pendek sambil senyum — senyum yang rapi, khas dia.
Terus dua-duanya nunduk dikit, hampir barengan, kayak saling kasih hormat.
Pas Laras masuk toko, mukanya biasa aja. Nitip fotokopi lima puluh rangkap, nanya kabar Eyang Uti, pulang.
“Cynthia tadi ngomong apa?” tanyaku, penasaran doang.
Laras — udah di pintu, tangannya di gagang — diem sebentar. Nggak noleh.
“Dia bilang makasih.”
“Makasih? Buat apa?”
“Nggak bilang.” Bel pintu bunyi. “Tapi anaknya sopan. Kamu... jaga baik-baik ya, Bi.”
“Jaga apanya— LARAS? Jaga APANYA?”
Pintu keburu nutup. Tinggal aku sama Koh Aseng, yang dari balik rak — seperti biasa, seperti sudah jadi profesinya — geleng-geleng pelan sambil ngucap sesuatu dalam bahasa yang nggak kupahami, tapi nadanya jelas: nada orang nonton sinetron yang jalan ceritanya ketebak, kecuali sama pemeran utamanya.