Chapter Three
Botol Air Dua Tahun Lalu
(POV Cynthia)
Malam pertama di kamar baruku, di antara kardus-kardus yang belum dibongkar, aku duduk bersila di atas kasur sambil memandangi satu benda yang kukeluarkan paling pertama dari semua barang pindahan.
Sebuah botol air mineral. Kosong. Merknya merk murah. Labelnya sudah pudar.
Kalau Mama sampai tahu botol ini ikut dikardusin, menyeberang kota, dan sekarang dapat tempat terhormat di rak meja belajar — mungkin Mama bakal menjadwalkan konsultasi ke psikolog. Untung Mama nggak tahu.
Aku merebahkan diri, menatap langit-langit yang masih asing, dan membiarkan ingatanku memutar ulang — untuk yang mungkin keseribu kalinya — hari terpanas dalam hidupku, dua tahun lalu.
Lomba baris-berbaris antar-SMP se-kota. Agustusan. Lapangan kecamatan yang nggak punya satu pun pohon.
Waktu itu aku kelas tiga SMP, dan sudah dua tahun menjabat sebagai “yang cantik itu loh” — jabatan yang kedengarannya enak, sampai kamu benar-benar menjalaninya. Ditunjuk jadi maskot barisan bukan karena barisku bagus, tapi “biar juri seneng ngeliatnya.” Dipinjamkan topi sama tiga cowok berbeda, yang semuanya berharap topinya kukembalikan sambil kenalan. Difoto diam-diam. Dibicarakan kencang-kencang.
Dan hari itu, di bawah matahari jam sebelas siang, setelah dua jam berdiri buat gladi yang molor, aku belajar satu hal penting: pingsan itu ternyata ada aba-abanya.
Mula-mula suara sekitar menjauh, kayak ada yang ngecilin volume dunia. Lalu pinggiran lapangan berubah putih. Lututku mendadak jadi milik orang lain.
Aku ingat berpikir, dengan sisa-sisa logika yang mulai meleleh: jangan jatuh di sini. Kalau aku jatuh di sini, fotonya beredar sampai aku kuliah.
Aku keluar barisan — entah gimana caranya — sampai di pinggir lapangan, jongkok di sebelah tumpukan tas, nunduk dalam-dalam. Nggak ada yang ngikutin. Semuanya sibuk. Atau mungkin ada yang lihat tapi mikir aku lagi benerin tali sepatu. Orang secantik itu mana mungkin kenapa-kenapa, kan.
Terus, sebuah botol muncul di depan wajahku.
Bukan disodorkan dengan gaya. Nggak pakai “eh, kamu nggak papa?” yang nadanya pengin ditanya balik. Botol itu cuma... muncul. Segelnya sudah dibuka, tapi isinya masih penuh. Dingin. Ada embunnya.
“Minum dulu. Pelan-pelan.”
Aku mendongak sedikit. Yang kutangkap cuma potongan-potongan: seragam SMP lain, lengan digulung, tangan yang kurus tapi urat-uratnya kelihatan kayak tangan orang kerja, dan wajah yang — sialnya — mataharinya pas di belakang kepala. Silau. Samar. Yang tersisa cuma garis rahang dan rambut berantakan.
“Kamu duduk aja dulu di tas-tas itu. Nggak bakal ada yang marah.”
Aku nurut. Minum pelan-pelan. Dunia yang tadi dikecilin volumenya pelan-pelan nyala lagi.
Dan waktu aku sudah cukup hidup buat bilang makasih — buat nanya nama, minimal, atau sekolahnya, atau apa kek — cowok itu udah nggak ada. Bukan pergi slow motion sambil noleh terakhir kali kayak di film. Bener-bener nggak ada. Menguap. Yang tersisa cuma botol dingin di tanganku dan, di kejauhan, barisan SMP lain yang lagi dipanggil masuk lapangan.
Aku bahkan nggak sempat lihat nama sekolah di badge seragamnya.
Sepanjang sisa acara aku celingukan kayak orang kehilangan dompet.
Nggak ketemu.
Dua tahun. DUA TAHUN.
Kalau diceritain ke orang, kedengarannya pasti gila: nyariin cowok nggak dikenal, bermodal ingatan garis rahang yang silau dan sebotol air mineral. Aku sendiri kadang merasa gila. Tapi ada satu hal yang bikin aku nggak bisa berhenti, dan hal ini susah dijelasin ke orang yang nggak pernah menjabat sebagai “yang cantik itu loh”:
Seumur hidupku, semua orang ngasih sesuatu ke aku sambil nunggu. Dikasih cokelat — ditunggu nomorku. Dikasih pujian — ditunggu senyumku. Ditolongin — ditunggu, minimal, ucapan makasih yang bisa dipamerin: tadi gue nolongin Cynthia, loh. Setiap pemberian ada kailnya. Aku udah hafal banget rasanya kail. Kadang dari cara nyodorinnya aja udah ketahuan.
Cowok botol itu satu-satunya orang yang ngasih terus pergi. Nggak nunggu. Nggak nengok. Nggak tahu — dan kelihatannya nggak peduli — bahwa yang barusan dia tolongin itu “yang cantik itu loh”.
Dia nggak minta apa-apa. Botolnya aja nggak diminta balik.
Dan justru karena itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku yang jadi orang berutang. Aku yang nggak bisa bayar.
Ternyata nggak enak ya, ada di posisi itu. Sekarang aku ngerti kenapa orang-orang rese banget pengin dibales.
Pencarianku dua tahun sebenarnya nggak berbuah apa-apa — sampai tiga bulan lalu, waktu keputusan pindah rumah sudah bulat dan aku ikut Mama survei sekolah di kota ini.
Sore itu kami lewat depan sebuah SMA, dan di pinggir jalannya ada bapak-bapak dengan motor mogok yang lagi ditolong seorang murid. Aku nggak lihat wajahnya — lagi-lagi cuma punggung, lengan seragam digulung, dan gerakan tangan yang cepat dan yakin itu.
Bukan. Aku nggak langsung yakin itu orangnya. Aku bukan tokoh sinetron.
Tapi waktu Mama nanya, “Gimana, sekolah yang tadi atau yang ini?” — entah kenapa mulutku udah jawab duluan sebelum otakku rapat.
“Yang tadi.”
Anggap aja intuisi. Anggap aja spekulasi paling nekat yang pernah kulakukan. Kalau salah, ya udah, toh sekolahnya juga bagus. Gitu doang kok pembelaanku waktu itu, ke diri sendiri.
Dan tadi pagi, waktu pintu kelas XI-3 kebuka dan mataku nyapu ruangan dan berhenti di pojok dekat jendela — di cowok yang lagi nunduk sama PR-nya sendirian, yang ngangkat wajah paling terakhir se-ruangan, yang garis rahangnya sekarang nggak silau lagi karena mataharinya nggak di belakang kepalanya—
Spekulasi paling nekat dalam hidupku resmi jadi keputusan terbaik dalam hidupku.
Ketemu.
Dua tahun. Dan yang bersangkutan... mengangguk sopan. Kayak ngangguk ke tukang parkir.
DIA. NGGAK. INGET.
Aku berguling menelungkup, membenamkan wajah ke bantal, dan mengeluarkan suara tertahan yang untungnya nggak kedengeran sampai kamar Mama. Kesal. Lega. Gemas. Pengin ketawa. Semuanya sekaligus, berantem di dada.
Oke. Tarik napas, Cynthia.
Aku bangkit, duduk lagi, dan menatap botol pudar di rak itu kayak jenderal menatap peta perang.
Fakta di lapangan, hari pertama. Sumber: pengamatan pribadi plus laporan intelijen bernama Sinta, teman sebangkuku yang baru kenal lima jam tapi sudah membocorkan data seisi sekolah.
Satu: target bernama Abimanyu. Katanya sih anak paling baik satu sekolah — “serius, bukan lebay, nanti kamu tahu sendiri.”
Dua: nolongin siapa aja, kapan aja. Benerin apa aja. (Yang ini sudah kuverifikasi sendiri: satu pulpen dan satu proyektor, dalam sehari.)
Tiga — dan ini bagian pentingnya, yang Sinta sampaikan sambil nyengir misterius: “Saran ya, jangan naksir. Bukan karena dia jahat, justru kebalikannya. Naksir Abi itu kayak ngasih makan kucing liar yang sopan. Dikasih apa juga nggak mau nerima. Udah banyak yang nyerah.”
Aku waktu itu cuma jawab “oh gitu” dengan muka anak baru yang polos.
Padahal dalam hati: kebetulan banget.
Orang-orang itu nyerah karena mereka ngasih sambil pengin diterima. Kasih cokelat biar dilirik. Kasih perhatian biar dibalas. Kail, kail, kail. Pantes ditolak — radar cowok itu kayaknya bisa mendeteksi kail dari jarak satu kilometer.
Kebetulan, aku nggak lagi mancing.
Aku cuma mau bayar utang dua tahun. Sama bunga-bunganya sekalian. Tanpa ketahuan, tanpa kail, tanpa nunggu — persis kayak cara utang itu dikasih ke aku.
Kamu nggak bisa nolak pemberian yang kamu nggak tahu dari siapa, kan, Abimanyu?
Aku meraih ponsel dan membuka aplikasi catatan. Judul catatan baru kuketik dengan jari yang mantap:
MISI: BALAS DENDAM (versi baik)
Aturan nomor satu: jangan sampai ketahuan. Aturan nomor dua: mulai dari yang paling dasar. Orang itu jam istirahat beli es teh doang. ES TEH DOANG.
Kutatap catatan itu. Puas. Terus, pelan-pelan, sambil senyum sendiri, dengan kejujuran yang cuma berani muncul jam sebelas malam, aku nambahin satu baris lagi:
Aturan nomor tiga: kalau nanti misinya selesai... boleh nggak sih aku nggak berhenti?
Kuhapus.
Kutulis lagi.
Kusimpan.