← Chapters Ch. 24 / 52

Chapter Twenty Four

Yang Mundur dengan Anggun

(POV Abi)

Bab ini agak beda.

Soalnya bab ini isinya kejadian-kejadian kecil yang waktu itu kulewatin gitu aja — kejadian yang baru nyusun dirinya jadi satu cerita utuh bertahun-tahun kemudian, pas aku udah cukup pinter buat baca ulang semuanya. Jadi kuceritain apa adanya, urut, persis kayak mata polosku ngerekamnya. Kalian yang nyusun maknanya. Kalian pasti lebih cepet dari aku. Semua orang lebih cepet dari aku.


Kejadian pertama: kantin, hari Selasa.

Aku lagi bayar es teh, ngeluarin uang dari dompet — dan karena dompetku isinya udah kayak laci serbaguna, pas narik uang, kertas lipetan delapan itu ikut kepancing keluar, jatuh, kebuka setengah di lantai kantin.

Yang mungutin: Laras. Kebetulan lagi antre di belakangku.

Dia ngambil kertas itu buat balikin — gerakan biasa, refleks orang sopan — dan pas ngangkat, matanya nggak sengaja lewat di tulisannya. Sedetik. Dua detik. Kulihat matanya gerak: baris pertama, kedua, mungkin sampai ketiga.

Terus dia lipet lagi kertasnya, rapi, sesuai bekas lipetannya, dan nyodorin ke aku dua tangan.

“Jatuh.”

“Eh— iya, makasih, Ras.”

“Tulisanmu makin jelek,” katanya datar, sambil noleh ke Bu Kantin, mesen teh anget. Terus, masih dengan nada datar yang sama, masih nggak natap aku: “Tapi isinya rapi.”

“...Isinya?”

“Es tehmu keburu cair, Bi.”

Dan dia bayar tehnya, terus pergi ke mejanya, duduk sama anak-anak cewek, ikut ngobrol kayak biasa. Kuperhatiin bentar — perasaan doang apa gimana, hari itu dia... nggak tahu ya. Kayak orang yang habis naruh barang berat. Bahunya beda.

Perasaan doang kali.


Kejadian kedua: Kamis, pulang sekolah, gerimis.

Laras nyegat aku di parkiran sepeda. Bawa payung besarnya — payung yang dulu pernah kubenerin dua rujinya.

“Bi. Nitip ini.” Dia nyodorin kotak kecil bekas kotak pensil. “Buat kotak P3K kelas. Isinya obat-obat standar. Udah kutulisin di tutupnya obat apa aja, sama catetan kecil: siapa alergi apa, siapa nggak cocok obat apa. Data seangkatan kelas kita. Biar kalau aku nggak ada, siapa aja bisa nanganin.”

“Wah. Niat banget. Emang kamu mau ke mana?”

“Nggak ke mana-mana.” Dia natap gerimis di ujung kanopi. “Cuma... ketua kelas kan nggak selamanya. Tahun depan belum tentu aku lagi. Data itu jangan cuma di kepalaku. Bahaya.”

Masuk akal. Sangat Laras: rapi, mikirnya jauh, sistemnya jalan tanpa dia. Kuterima kotaknya.

“Oh iya. Satu lagi.” Dia buka buku absennya, halaman belakang, nunjukin. “Mulai Senin, kamu kalau telat, izinnya langsung ya. Chat aku boleh, chat sekretaris boleh. Aku nggak nutupin otomatis lagi.”

“Eh— iya, harusnya emang gitu dari dulu sih. Maaf ya jadi ngerepotin bertahun—“

“Bukan ngerepotin.” Dia nutup buku absennya. Jeda dikit. “Dulu tuh... kamu nggak ada yang megangin. Jadi kupegangin yang bisa kupegang. Absen doang tapi, itu doang yang bisa.” Dia senyum — senyum rapi khasnya, yang kali ini entah kenapa agak lama dipasangnya. “Sekarang udah ada yang megangin kamu beneran. Semuanya, bukan absen doang. Jadi punyaku... udah, dikembaliin ke sistem.”

“...Kamu ngomongnya kayak serah terima jabatan.”

“Emang.” Dia buka payung besarnya, siap nerobos gerimis. “Serah terima tuh harus jelas, Bi. Biar nggak ada yang ngerjain kerjaan yang sama dua kali. Nggak efisien.”

Dia jalan dua langkah. Berhenti. Nggak noleh.

“Bi.”

“Iya?”

“Makasih ya.”

“Buat apa?”

Gerimis. Payungnya muter pelan sekali di tangannya, kebiasaan dia dari SMP kalau lagi milih kata.

“Banyak,” katanya akhirnya. Persis. Persis kayak jawaban Cynthia dulu, di depan toko, yang juga nggak pernah dijelasin. Terus dia nerobos gerimis, payung besarnya tegak, langkahnya rapi kayak biasa, dan dari belakang gitu — entah kenapa ya — punggung orang bisa kelihatan plong dan sepi di saat yang sama.

Aku pulang dengan kotak P3K di keranjang sepeda dan perasaan aneh yang nggak bisa kukasih nama. Kayak habis nutup buku yang aku nggak sadar lagi baca.


Kejadian ketiga: Senin depannya. Yang ini bukan aku saksinya.

Ini kutahu dari Cynthia — lama setelahnya, pas semua cerita ini dibongkar — jadi kuceritain versi dia:

Pagi itu, sebelum bel, Laras nyamperin meja Cynthia. Naruh satu lembar kertas terlipat. Isinya, kata Cynthia, tulisan tangan Laras yang rapi banget: dosis obat yang cocok buatku, obat yang bikin aku mual, gejala khasku kalau mulai demam (“dia nelen ludah terus, sama jawab chat jadi pendek”), plus satu baris paling bawah, yang bikin Cynthia — ceritanya sambil ketawa, tapi matanya sempet basah — nyimpen kertas itu sampai sekarang di saku resleting tasnya, sebelahan sama kertas jadwalku:

“Sisanya kamu pasti nemu sendiri. Kamu lebih teliti dari aku. — L.”

Nggak ada obrolan panjang, kata Cynthia. Laras cuma bilang “operan terakhir”, Cynthia cuma jawab “kuterima”. Dua-duanya nunduk dikit, hampir barengan — kebiasaan aneh mereka berdua yang sampai sekarang nggak pernah kupahami konteksnya.

Terus bel bunyi, dan semuanya jalan lagi kayak biasa.


Penutup: catatan dari masa depan.

Bertahun-tahun kemudian — bocoran dikit lagi ya, satu aja — di sebuah acara yang nanti kalian bakal sampai juga ke sana, Laras dateng. Udah sukses, udah jadi orang, senyumnya udah nggak pernah lama-lama lagi dipasangnya — udah lepas aja gitu, plong beneran.

Dan pas salaman, dia bilang ke aku, santai, sambil ketawa:

“Bi. Kamu udah ngerti belum sih, yang dulu-dulu itu?”

Aku jawab jujur: “Udah. Telat banget tapi.”

“Bagus. Nggak papa telat.” Dia noleh ke arah Cynthia yang lagi diserbu ibu-ibu, terus balik ke aku. “Yang penting kertas-kertas kalian awet. Punyaku juga masih disimpen dia loh, katanya.”

“Kamu tuh dari dulu... kenapa sih nggak pernah marah?”

Dia mikir. Lama. Terus jawabannya cuma satu kalimat, dan kalimat itu kayaknya bakal kubawa terus seumur hidup, kupakai buat ngukur diriku sendiri tiap kali aku ngerasa udah jadi orang baik:

“Soalnya sayang yang bener itu, Bi — kayak yang kamu ajarin ke satu sekolah bertahun-tahun — ngasihnya nggak nunggu kembalian.”

Terus dia ketawa, nyomot kue di meja, dan pergi nyalamin Eyang Uti.

Orang-orang baik di hidupku tuh gitu semua kelakuannya. Dateng nggak berisik, pergi nggak berisik, ninggalin bekasnya doang di mana-mana.

Kotak P3K-nya, ngomong-ngomong, sampai kelas kami lulus nggak pernah pindah tempat. Isinya selalu penuh. Nggak pernah ada yang tahu siapa yang ngisi ulang.

Ya. Sekarang sih kalian udah bisa nebak siapa.

Aku juga. Akhirnya.