← Chapters Ch. 38 / 52

Chapter Thirty Eight

Ritme Baru

(POV Abi)

Hidup kami yang baru bunyinya begini:

Subuh, aku tetap rute koran — udah kayak sikat gigi, nggak bisa lepas. Jam tujuh sampai jam lima: bengkel Pak Yon, sekarang resmi, gajian bulanan, plus aku pegang semua servis elektronik yang masuk (Pak Yon nyerah total soal barang beginian: “jaman sekarang motor aja isinya komputer, Le, itu wilayahmu”). Jam setengah tujuh sampai sembilan malam, Senin-Rabu-Jumat: kelas karyawan, teknik. Sabtu tetap fotokopian — Koh Aseng nolak ditinggal, “kamu itu udah kayak sparepart toko ini, dicabut ya mati tokonya.”

Cynthia: anak DKV. Kampusnya di pusat kota, empat puluh menit dari duniaku. Jadwalnya kebalikan jadwalku — dia padat pagi-sore, aku padat sore-malam — dan kalau digambar di kertas, dua jadwal itu kayak dua sisir yang giginya nggak pernah ketemu.

Hampir nggak pernah. “Hampir” itu yang kami tambang habis-habisan:

Selasa dan Kamis malam dia nggak ada kelas, aku nggak ada kuliah — jadi Selasa-Kamis itu suci, nggak boleh diganggu gugat: dia nongkrong di bengkel atau fotokopian bawa tugas, gambar-gambar di pojok sambil aku kerja, persis jaman kursi tunggu dulu, cuma sekarang yang digambar bukan aku doang — tugas kampus, poster, logo-logo latihan. (Bohong. Tetep ada akunya. Kupergokin tiga kali. “INI STUDI ANATOMI.” Anatomi kok pakai wearpack.)

Sabtu sore dia “kebetulan lewat” fotokopian. Empat puluh menit dari kampusnya. Lewat. Iya.

Minggu pagi boncengan ke pasar — belanja buat Eyang, sekalian jalan sawah, sekalian polisi tidur favoritnya yang sekarang kalau kulewatin pelan-pelan malah diprotes: “MANA GUNCANGANNYA.”

Sisanya: video call.


Soal video call ini, ada satu kejadian yang harus masuk catatan sejarah, karena kelakuannya sampai sekarang masih dipajang — literally dipajang.

Kamis malam itu aku lembur ngerjain servisan radio tua — orderan kolektor, duitnya bagus, masuk tabungan-yang-belum-boleh-diceritain — sambil video call dia yang lagi ngerjain tugas juga. Ini kebiasaan baru kami: nggak ngobrol, cuma nyambung. HP disenderin, masing-masing kerja, sesekali ada yang ngomong (“titik-titik ini maksudnya apa sih di soal kamu” — “itu bukan soalku, itu semutmu, Bi, di meja”), sisanya bunyi obeng dari sisiku, bunyi pensil dari sisinya.

Jam dua belas lewat, radionya kelar. Kupikir tinggal beresin meja bentar.

“Bentar”-nya berbahaya kalau badan udah dipakai sejak subuh.

Yang kuinget: naruh obeng. Yang kejadian: ketiduran. Di meja. Kepala di atas lengan, di sebelah radio tua yang barusan sembuh, lampu servis masih nyala, video call MASIH NYALA.

Dan dia — pengakuannya, dengan bangga, tanpa penyesalan sedikit pun — nggak nutup teleponnya.

“NGAPAIN DITUTUP? Sayang. Kamu tidur di situ anteng banget, lampunya bagus, ada radionya. Estetik. Anak DKV tahu barang bagus.” Dia nontonin aku tidur SAMBIL NGELANJUTIN TUGAS, katanya ditemenin suara napasku (“putih noise terbaik”), terus sebelum dia tidur, dia screenshot.

Screenshot itu jadi wallpaper HP-nya. Sampai sekarang. Udah ganti HP dua kali, wallpapernya ikut pindah, kayak barang warisan.

Aku protes keras pas tahu. Protesnya kalah sama satu kalimat:

“Kamu nyimpen struk fotokopi dua tahun. Diem.”

Ya sudah. Impas. Keluarga penyimpan barang memang nggak bisa saling menuntut.


Tapi biar jujur — dan bab ini kubikin jujur, soalnya dua bab ke depan kalian butuh versi jujurnya — di bawah semua yang manis-manis itu, ada bunyi lain yang mulai masuk. Pelan. Kayak denging kecil di mesin yang sehat.

Dunia dia melebar. Kelihatan dari ceritanya: nama-nama baru tiap minggu — anak studio, kating, dosen killer, klien UMKM pertama yang bayar desainnya pakai dua ratus ribu dan doa. Dia pulang bawa dunia yang gede dan berwarna, dan dia cerita SEMUANYA ke aku, nggak ada yang disembunyiin, dan aku dengerin sambil seneng beneran.

Dunia aku... mendalam. Bukan melebar — mendalam. Makin jago, makin dipercaya, makin banyak orderan aneh yang cuma aku yang mau nerima. Tapi ceritanya ya itu-itu: mesin, baut, pelanggan, tabungan. Kolom yang dulu, yang pernah kubikin perang sendiri, sekarang udah damai — tapi kolomnya masih ada. Kolom itu nggak pernah bener-bener dihapus; cuma udah nggak kusembah lagi.

Dan tabungan-yang-belum-boleh-diceritain itu makin gede, makin deket ke bentuk, makin makan waktu. Ruko depan pasar itu udah tiga kali kusurvei diam-diam. Proposal pinjaman udah dua kali kutulis ulang. Pak Yon udah kuajak ngomong serius — beliau diem lama, terus buka gudang belakang, nunjukin mesin-mesin tuanya: “Kalau jadi, ini bawa. Jangan nolak. Ini bukan dikasih, ini dititipin — beda kategori, kamu paham lah sekarang.”

Semua itu jalan di jam-jam yang nggak kelihatan siapa-siapa. Jam yang harusnya buat tidur. Kadang — dan ini yang mulai bahaya — jam yang harusnya Selasa-Kamis.

“Bi, Kamis ini bisa?”

“Kamis ini... aku ada janji sama orang, Cyn. Orderan. Maaf ya. Selasa depan pasti.”

Nggak bohong. Orangnya ada, orderannya ada. Yang nggak kubilang: orderan itu kuambil justru karena bayarannya gede, dan bayarannya gede itu buat... ya itu. Yang belum boleh diceritain.

Sekali, dua kali, nggak papa. Dia ngerti, dia sibuk juga.

Tapi denging kecil itu, kalau dibiarin — semua teknisi tahu — nggak akan ngecil sendiri.

Dan aku, yang tahu teorinya paling hafal, sekali lagi jadi orang yang telat dengerin mesin sendiri.