Chapter Four
Bekal Misterius
(POV Abi)
Hari Rabu, jam istirahat pertama, aku membuka tas untuk mengambil buku fisika dan menemukan sesuatu yang seharusnya nggak ada di sana.
Sebuah kotak bekal.
Bukan kotak bekal sembarangan. Kotaknya bagus — tipe yang ada kuncian di keempat sisinya, yang kalau di minimarket harganya bikin kamu pura-pura nggak lihat. Kubuka pelan-pelan, setengah curiga isinya kodok, karena kelasku isinya makhluk-makhluk yang mampu melakukan itu.
Bukan kodok.
Nasi putih yang masih hangat. Ayam suwir kecap yang wanginya langsung bikin dua-tiga kepala di sekitarku menoleh. Telur gulung yang dipotong rapi banget, rapinya kayak di video masak-masak. Tumis buncis. Bahkan ada buahnya, dipisah di sekat sendiri.
Aku menatap kotak itu.
Kotak itu menatapku.
“WOI.” Dimas, yang radarnya terhadap makanan lebih sensitif daripada radarnya terhadap ujian mendadak, sudah nongol di sebelahku. “Bekal siapa tuh?!”
“Nggak tahu.”
“Kok nggak tahu? Di tas lo?”
“Iya. Tapi bukan punyaku.”
“Berarti REZEKI—“ tangannya bergerak; kututup kotaknya.
“Bukan gitu cara kerjanya, Dim. Ini punya orang. Ketuker mungkin. Orangnya pasti nyariin.”
Aku berdiri, membawa kotak itu seperti membawa barang bukti, dan mulai bertanya dari meja ke meja. Ada yang merasa kehilangan bekal? Nggak ada. Ada yang tadi pagi naruh sesuatu di tasku, mungkin salah tas? Nggak ada. Kutanya kelas sebelah — siapa tahu ada yang titip lewat anak kelasku terus orangnya lupa. Nggak ada juga. Malah aku balik ditanya-tanya, “isinya apa, Bi? Enak nggak? Bagi dong,” yang sama sekali nggak membantu penyelidikan.
Satu-satunya petunjuk: nggak ada nama. Nggak ada catatan. Nggak ada apa-apa. Kotak bekal paling niat yang pernah kulihat, muncul di tasku, tanpa identitas.
“Bi,” kata Dimas, dengan nada orang yang sudah lelah. “Gue kasih tau ya. Di dunia ini, kalau ada makanan enak muncul di tas lo tanpa nama, itu artinya SATU: ada yang ngasih. Sengaja. Buat lo.”
“Nggak mungkin.”
“KENAPA NGGAK MUNGKIN?”
“Ngapain,” kataku, dan ini tulus, “ada orang repot-repot masak buat aku?”
Dimas menatapku lama. Lama banget. Kayak lagi mempertimbangkan untuk menjelaskan sesuatu, terus memutuskan bahwa hidupnya terlalu singkat.
“Udah. Makan aja.”
“Nggak bisa. Nanti kalau orangnya nyariin gimana? Masa kubalikin kotak kosong.”
“YA UDAH SINI GUE YANG—“
Kututup tasnya.
Sepanjang sisa hari itu, kotak bekal misterius duduk manis di tasku, dan aku makan siang seperti biasa: es teh. Beberapa kali aku membuka tas cuma buat memastikan kotaknya masih ada — masih — dan setiap kali itu juga wangi ayam suwirnya menguar keluar seperti sedang menertawakanku.
Laper? Ya laper. Tapi gimana. Ini bukan soal laper.
Ini soal: seseorang di luar sana mengeluarkan uang, tenaga, dan waktu — masak sepagi apa coba biar jam tujuh masih hangat? — dan aku nggak tahu siapa, jadi nggak bisa bilang makasih, nggak bisa ganti, nggak bisa balas. Kalau kumakan, aku resmi berutang ke orang yang nggak kukenal. Utang tanpa alamat itu jenis utang paling serem. Mau bayar ke mana?
Pulang sekolah, kotak itu kubawa ke fotokopian — bukan jadwalku, tapi mesin besar Koh Aseng masih perlu dicek — dan kuletakkan di meja kasir sambil mikir.
“Itu apa?” tanya Koh Aseng, melirik dari balik tumpukan kertas.
“Bekal, Koh. Nyasar ke tas saya.”
“Nyasar.” Koh Aseng membuka tutupnya, memeriksa isinya dengan mata ahli orang yang empat puluh tahun makan masakan rumah. “Abi. Ini bekal nggak nyasar. Ini bekal dikirim. Ayamnya disuwir searah. Telurnya digulung sabar. Yang masak ini niatnya lurus.”
“Terus saya harus gimana, Koh?”
“Dimakan, terus bilang makasih.”
“Bilangnya ke siapa?”
Koh Aseng menutup kotak itu lagi, menatapku, dan berkata dengan bijak, “Itu bukan urusan kamu. Urusan kamu itu makan. Rezeki kok dipikirin silsilahnya.”
Tetap nggak kumakan.
Malamnya, isi bekal itu kupindahkan rapi ke piring buat Eyang Uti — “dapat dari acara sekolah, Yang” — dan beliau makan sambil memuji ayam suwirnya searah, entah kenapa penilaian orang tua sama semua. Kotaknya kucuci sampai kinclong, kukeringkan, dan kumasukkan lagi ke tas.
Rencanaku sederhana: besok kotak ini kubawa, kutaruh di tempat yang kelihatan, dan cepat atau lambat pemiliknya bakal nongol. Nggak ada orang merelakan kotak semahal ini.
Rencana yang bagus. Logis. Rapi.
Besok paginya, waktu aku buka tas di kelas, kotak yang kucuci kinclong itu sudah nggak ada.
Digantikan kotak lain. Warna beda. Isinya baru: nasi hangat, rolade, orek tempe, potongan semangka.
Dan sejak detik itu, secara resmi, hidupku yang rapi antre punya satu kasus terbuka yang nggak masuk daftar tunggu — langsung nomor satu, menggeser mesin fotokopi Koh Aseng dan genteng dapur sekaligus:
Siapa. Kamu. Sebenarnya.