← Chapters Ch. 32 / 52

Chapter Thirty Two

Eyang Uti Tahu

(POV Abi)

Rumahku itu kecil. Kelebihannya: hangat, cepet beres-beresnya. Kekurangannya: nggak ada tempat sembunyi.

Terutama dari Eyang Uti.

Minggu-minggu itu aku di rumah makin pendiam — bukan sengaja; energi senyum-rapiku habis dipakai di luar semua, sampai rumah sisanya cuma diam. Makan malam jadi sepi. PR dikerjain di kamar, bukan di depan TV. Buku sketsa nggak kubuka — terakhir kubuka, yang keluar malah gambar mobil sedan dari belakang, wiper-nya gerak, dan habis itu bukunya kututup nggak berani buka lagi.

Eyang nggak nanya-nanya. Itu yang serem. Beliau cuma... naikin perawatan. Porsi makanku ditambah diam-diam. Teh anget muncul di meja kamar tanpa suara. Sinetronnya dikecilin volumenya — SINETRONNYA. DIKECILIN. Itu setara bendera setengah tiang.

Sampai Rabu malam.

Aku lagi di teras, ngelap rantai sepeda yang nggak kotor (kebiasaan baru: ngerjain kerjaan yang nggak ada, biar tangan nggak nganggur, biar kepala nggak kepakai), pas Eyang keluar bawa kursi kecil, naruh di sebelahku, duduk.

“Rantainya udah bersih dari kemarin, Le.”

“...Iya, Yang. Ngecek aja.”

“He-eh. Ngecek.” Beliau natap gang yang gelap. Lama. Terus, tanpa pemanasan: “Kamu lagi mundur ya, dari anak itu.”

Lap di tanganku berhenti.

“Nggak, Yang. Kami baik-baik aja. Nggak berantem, nggak—“

“Eyang nggak nanya berantem.” Suaranya tetap datar, tetap pelan. “Eyang bilang: mundur. Beda. Berantem itu rame. Mundur itu sepi. Kamu dari kecil kalau perang selalu pilih yang sepi.”

Aku nunduk ke rantai. Nggak ada yang bisa dijawab. Beliau hafal aku dari sebelum aku hafal diri sendiri.

“Cerita nggak usah lengkap. Eyang udah bisa nebak garis besarnya.” Beliau ngerapiin selendangnya. “Ada anak lain. Yang dunianya sama kayak dunia anak itu. Yang bisa kasih apa-apa yang kamu nggak bisa. Terus otakmu — otak warisan bapakmu itu — mulai ngitung, terus hasil itungannya: kamu kalah. Terus kamu mikir, kayak biasa, kayak SELALU: daripada aku ngerepotin, mending aku yang geser. Bener semua?”

“...Yang.”

“Bener semua,” simpulnya sendiri, dari mukaku. Beliau ngehela napas — panjang, capek, sayang, semua jadi satu. “Le. Sini eyang kasih tahu satu hal. Kamu itu pinter. Pinter beneran — tangan sama matamu itu nggak ada duanya, eyang nggak muji, eyang nyatet fakta. Kamu bisa benerin radio umur sembilan tahun. Kamu bisa benerin jam yang tiga tukang nyerah. Kamu bisa benerin apa aja.”

Beliau noleh, natap aku, dan matanya di lampu teras yang kuning itu tajem banget:

“Kecuali satu. Cara mikirmu sendiri. Yang itu rusaknya udah lama, bautnya karatan, dan tiap ada yang mau bantu buka — eyang, Dimas-mu itu, anak itu — kamu bilang: nggak usah, nggak papa, bisa sendiri.” Jeda. “Tukang servis kok nolak diservis. Mana ada mesin sembuh sendirian, Le. Kamu sendiri yang paling tahu itu.”

Angin gang lewat. Rantai sepeda kupegangin aja, nggak dilap.

“Aku takut, Yang,” — dan suaraku keluar kecil banget, kayak umur tiga belas lagi — “takut dia sadar. Suatu hari. Sadar kalau di sebelahnya ada pilihan yang lebih... lebih semuanya. Terus nyesel. Terus aku jadi... jadi barang yang dia nggak enak buangnya.”

Eyang diem lama.

Terus beliau ngomong, pelannn banget, tiap katanya ditaruh satu-satu kayak naruh gelas:

“Le. Kamu inget nggak, jam tangan bapaknya anak itu — yang kamu cerita, yang enam tahun mati, yang tiga tukang bilang ganti mesin aja.”

“...Inget.”

“Kenapa anak itu nggak mau ganti mesin? Kan lebih gampang. Lebih murah malah mungkin. Jamnya jalan lagi, sama-sama nunjuk angka.”

“Karena...” kalimatnya Cynthia sendiri yang keluar dari mulutku: “...karena itu artinya bukan jam papanya lagi.”

Hening.

Heniiing yang panjang, yang disengaja, yang dibiarkan Eyang kerja sendiri sampai kalimat itu muter balik dan nabrak aku dari belakang.

“Nah,” kata Eyang akhirnya, bangkit dari kursi kecilnya, ngangkat kursinya sekalian. “Pinter. Sisanya itung sendiri. Itung-itungan kan kesukaanmu.”

Beliau jalan masuk. Di pintu, berhenti. “Oh iya. Tadi sore anak itu ke sini.”

Aku noleh cepet. “Cynthia?! Ke sini?! Kok—“

“Nganter undangan. Ulang tahun mamanya, Minggu ini.” Eyang ngeluarin amplop dari saku daster, naruh di kursi kecil. “Ngobrol sama eyang sejam. Anaknya... ya, eyang udah bilang waktu itu. Matanya bagus.” Beliau buka pintu, terus — pukulan terakhir, dikirim tanpa noleh, tepat sasaran kayak biasa:

“Pas pamit, dia nitip pesen. Katanya: ’Eyang, Abi nggak harus dateng kok kalau sibuk. Saya ngerti.’” Jeda satu detik. “Le. Anak yang jauh-jauh nganter undangan sendiri, ngobrol sejam, terus pas pamit bilang ’nggak harus dateng’ — itu artinya apa, nggak usah eyang terjemahin ya. Kamu kan pinter. Katanya.”

Pintu nutup.

Aku duduk di teras sendirian, lampu kuning, rantai bersih, dan sebuah amplop putih di kursi kecil yang kupandangin lamaaa banget sebelum berani kuambil.

Undangannya dicetak bagus. Ulang tahun Mama Cynthia, Minggu sore, di rumah. Dan di pojok bawah, ada tulisan tangan — huruf bulat-bulat yang kukenal dari jaman nota bekal:

“Buat Abi & Eyang Uti. Dateng ya. Nggak dateng juga nggak papa.”

Kubaca dua kali. Tiga kali.

Nggak papa-nya ditulis. Nggak diucap. Kalau ditulis, nadanya nggak kedengeran.

Anak itu belajar dari yang terbaik cara ngumpetin nada.

Dari aku.