← Chapters Ch. 46 / 52

Chapter Forty Six

Pertanyaan Eyang

(POV Abi)

Eyang Uti tahun itu jalannya udah pelan.

Bukan sakit — Bu Bidan bilang semuanya wajar, “mesinnya sehat, cuma umurnya emang udah segitu, jangan digeber.” Tapi pelan. Naik teras sekarang pegangan. Sinetron nontonnya sambil ketiduran di tengah, kebangun pas iklan, protes ketinggalan, kuceritain ulang (aku hafal alur tiga sinetron sekaligus sekarang; keahlian yang nggak pernah kuminta). Masak tetep — bensin, kata Cynthia, dan bener: hari masak itu hari beliau paling tegak.

Dan makin pelan jalannya, makin cepet mulutnya soal satu topik.

“Le.”

“Iya, Yang.”

“Kapan?”

Nggak pakai konteks. Nggak butuh. Pertanyaan itu udah muncul dalam berbagai kemasan sepanjang tahun: pas kondangan tetangga (“tuh, Le, liat, pelaminannya bagus”), pas nonton sinetron (“yang di TV aja udah lamaran dua kali, kamu nol”), pas Cynthia pulang habis bantuin masak (“anak itu udah hafal dapur eyang melebihi kamu — mau nunggu dia hafal apa lagi?”), dan malam itu, paling langsung, tanpa kemasan:

“Kapan?”

“...Bentar lagi, Yang.”

“Bentar lagi versi kamu itu satuannya tahun, Le. Eyang udah pengalaman.” Beliau nyeruput teh. “Eyang nggak maksa loh ya. Eyang cuma... pengin nonton. Bukan nungguin cucu-cucuan, itu urusan kalian. Eyang cuma pengin duduk di depan, liat kamu di pelaminan, terus bilang ke bapak-ibumu dalam doa: nih, tugasku kelar, anakmu kuantar sampai ada yang jagain. Gitu doang maunya eyang. Nggak muluk kan.”

Kalimat model gitu tuh curang. Nggak bisa dibales pakai apa-apa selain “iya, Yang” dan tenggorokan yang mendadak sempit.


Malemnya, habis Eyang tidur, aku buka lemari kamarku. Laci paling bawah.

Laci itu... oke, kalian udah kenal aku dua puluh bab lebih, kalian pasti bisa nebak isinya, tapi kuinventaris aja biar resmi:

Kotak-kotak kecil hadiah Cynthia dari tahun-tahun awal — yang jaman itu nggak berani kubuka, sekarang udah kebuka semua, isinya kusimpen rapi lagi di kotaknya masing-masing. Gantungan kunci pertama. Kartu-kartu ucapan, urut tanggal. Struk fotokopi yang ASLI — yang fotokopiannya ada di dompet, yang asli di sini, dilapisin plastik (dilaminating; nurun ilmu dari seseorang). Kertas nota bekal jaman misi rahasia: “Nasi gorengnya enak. Tapi kamu pikir bisa bikin aku berhenti? Lucu.” Foto wisuda jepretan keempat. Kertas daftar — bukan yang di dompet; itu yang versi jalan. Ini buku salinannya, yang lengkap, yang poinnya sekarang 191.

Dan di pojok laci, satu kaleng bekas biskuit.

Isinya: gir-gir kecil, per, potongan logam kuningan — komponen sisa dari mesin fotokopi kecil Koh Aseng. Mesin kecil itu — mesin yang dulu ngeluarin struk bersejarah itu, mesin yang pertama kali kupegang jaman SMP pas mulai kerja di Sinar Jaya — dua tahun lalu akhirnya wafat total, nggak bisa diselamatkan, dan Koh Aseng mau buang bangkainya.

Aku minta. Dia nanya buat apa. Kubilang: “sparepart.” Bohong pertama ke Koh Aseng seumur hidup.

Bukan sparepart.

Dari dua tahun lalu, di kepala aku udah tahu logam mesin itu mau jadi apa. Kaleng ini nungguin doang. Sama kayak yang punya kepalanya: tahu, siap, nunggu — dan “nunggu”-nya nggak jelas nunggu apa.

Kuambil kaleng itu. Kugoyang pelan. Bunyi gir-gir kecil beradu.

Lo nunggu apa lagi? — Reno, minggu lalu.

Kapan? — Eyang, tadi.

Momen tuh nggak nunggu siap.


Besok sorenya, aku mampir Sinar Jaya.

Koh Aseng udah tua juga — tokonya sekarang lebih banyak dijaga keponakannya, beliau ngawas doang dari kursi, tapi kursinya tetep di posisi komando, dan matanya masih yang paling tajem se-jalan itu. Begitu aku masuk bawa kaleng biskuit, beliau ngeliat kalengnya, ngeliat mukaku, dan nggak nanya apa-apa.

Cuma senyum. Lebar. Pelan-pelan.

“...Koh. Aku belum ngomong apa-apa.”

“Nggak usah ngomong. Empat puluh tahun lebih saya jaga toko, Abi. Muka orang mau fotokopi, muka orang mau jilid, muka orang mau ngelamar — beda semua, saya apal.” Beliau bangkit dari kursi komando, jalan ke belakang, dan balik bawa sesuatu: mesin bubut mini, punya beliau jaman muda, buat servis jam dan barang kecil. “Nih. Buat ngerjainnya kamu butuh yang presisi, yang di workshop kegedean semua. Kerjainnya DI SINI. Jangan di tempatmu — di tempatmu ada dua magang yang mulutnya udah bocor duluan, jangan kira saya nggak denger gosip pasar.”

“...GALIH.”

“Rio juga. Dua-duanya. Ceritanya udah nyampe tukang bakso.” Beliau naruh mesin bubut mini di meja belakang, nyalain lampu servis — lampu yang sama, dari jaman aku SMP — terus nunjuk kursinya: “Sana. Mulai. Sinar Jaya buka sampai malem buat proyek ini. Gratis.” Jeda. Senyumnya berubah jadi yang jarang keluar, yang tua dan hangat: “Empat puluh tahun toko ini berdiri, Abi. Kamu dateng umur tiga belas, kurus, nanya ada kerjaan apa nggak. Sekarang kamu duduk di meja yang sama mau bikin cincin buat anak yang dulu fotokopi satu lembar tiap minggu.” Beliau geleng-geleng, ketawa kecil, jalan balik ke kursi komandonya. “Toko ini hidupnya udah kebayar lunas. Sisanya bonus.”

Malam itu, dan belasan malam setelahnya, jendela belakang Sinar Jaya nyala sampai larut.

Gir-gir mesin kecil itu kulebur pelan — nggak semua; tiga gir terkecil kupertahankan utuh, nanti kalian lihat kenapa — kuningan tua nyampur, dibentuk, dibubut, diamplas, dipoles, salah, diulang, salah lagi, diulang lagi. Tanganku bisa bikin apa aja seumur hidup; baru kali ini bikin barang yang tiap salah sepersekian mili rasanya kayak dosa.

Dan tiap pulang larut, lewat depan workshop yang udah gelap, aku dongak ke papan itu — kebiasaan — dan entah kenapa minggu-minggu itu bacanya beda.

TERIMA, katanya. Kayak biasa.

Tapi kupingku dengernya udah kayak pertanyaan:

Terima... nggak ya?

Sabar. Bentar lagi ditanyain beneran kok. Sama yang bikin papannya sekalian.