Chapter Forty Seven
Bug Terakhir
(POV Abi)
Hukum alam semesta: rencana besar itu magnet masalah. Makin gede yang lagi kamu siapin diam-diam, makin rame yang dateng ngetes.
Minggu itu, semuanya dateng barengan.
Senin: kontrak Reno resmi jalan — tiga ratus unit lampu, gelombang pertama seratus dua puluh, deadline-nya ketat karena launching serentak kafe-kafenya udah dipublikasi. Tanda tangan, jabat tangan, semangat. Kapasitas kami pas-pasan tapi masuk — ASAL semua normal.
Selasa: semua berhenti normal. Mesin bubut tua Pak Yon — raja workshop, tulang punggung produksi dudukan lampu — bunyi aneh pagi-pagi, terus jam sepuluh: mati. Kubongkar: spindle-nya kena, bearing hancur, dan karena mesin ini seumuran bapakku, part-nya... kalian udah hafal lagunya. Nggak diproduksi lagi. Bisa diakalin — AKU bisa ngakalin — tapi ngakalinnya butuh waktu, dan waktu lagi jadi barang paling mahal.
Rabu: Galih, panik ngejar setoran, motong pelat nggak pakai prosedur, tangannya kena. Nggak parah — tujuh jahitan, dua minggu nggak boleh kerja berat — tapi kupulangkan paksa dia yang nangis minta tetep bantu (“MAS INI SALAH SAYA MAS”), dan produksi kehilangan sepertiga tenaganya.
Kamis: Rio demam. DEMAM. Kayak diatur.
Jadi mari kita hitung posisi Abimanyu, dua puluh empat tahun, di titik itu: seratus dua puluh lampu, deadline dua minggu, mesin utama mati, dua magang tumbang, kontrak pertama dari investor pertama yang juga teman sendiri — plus, di jalur paralel yang nggak boleh ketahuan siapa-siapa: sebuah cincin setengah jadi di meja belakang Sinar Jaya yang tiap malam manggil-manggil.
Dan sekarang, pertanyaan ujiannya — pertanyaan yang sama yang udah gagal kujawab berkali-kali sepanjang hidup, tinggal ganti angka tahunnya:
Kamu cerita ke siapa?
Jawaban yang bener udah kuhafal di luar kepala. Tujuh tahun dilatih. Cerita ke Cynthia — partner, resmi, namanya ada di nota. Minta tolong Reno — deadline-nya bisa dinego, dia yang paling ngerti, sekali telpon. Minta Pak Yon turun gunung. Bilang Eyang biar nggak usah masak Jumat ini.
Yang kulakukan: kebalikannya. Semua. Satu per satu, dengan alasan yang masing-masing kedengeran masuk akal — dan justru itu bahayanya bug ini; dia nggak pernah dateng telanjang, selalu pakai kostum alasan bagus:
Cynthia? Jangan. Dia lagi ada proyek gede di kantor, minggu-minggu ini pulangnya aja jam sembilan. Masa kutambahin. Lagian kalau dia turun tangan, jadwalnya bakal nempel ke workshop — terus kapan aku nyolong waktu ke Sinar Jaya? Cincinnya bisa ketahuan. Dikit lagi jadi. Demi kejutan. Ini demi dia juga.
(Baca ulang paragraf itu. Perhatiin caranya: bug lama pakai lamaran sebagai sandera. Demi dia. Selalu, dari dulu, kostumnya “demi dia”.)
Reno? Kontrak pertama masa langsung minta kelonggaran. Nanti dia mikir aku nggak sanggup. Ini pembuktian.
Pak Yon? Beliau udah sepuh, pinggangnya kemarin kambuh. Jangan.
Eyang? JELAS jangan.
Jadi minggu itu jadwalku: subuh koran (masih; dua puluh tahun lagi juga masih), pagi-sore ngerjain produksi sendirian sambil nyicil ngakalin spindle, malem lanjut produksi, tengah malem nyolong sejam-dua jam ke Sinar Jaya ngerjain cincin, tidur... tidur diganti kopi. Cynthia kukirimin foto langit subuh tiap hari — biar keliatan normal, biar dia nggak curiga — dan chat-ku mulai pendek, mulai “iya”, mulai “udah makan kok”, mulai...
Mulai typo.
Iya. Aku tahu. AKU TAHU. Semua sinyal yang dulu, semua yang udah pernah bikin perang, semua yang udah ditagih di sidang ruko — nyala semua, satu-satu, dan aku ngeliatin sinyalnya nyala sambil terus jalan, kayak nyetir ngantuk yang bilang “bentar lagi nyampe kok”.
Sabtu malam — malam kesembilan — badanku mulai ngasih peringatan resmi: pusing pas berdiri cepet, tangan yang biasanya paling bisa dipercaya sedunia mulai meleset (dua dudukan lampu gagal, kuulang), dan tenggorokan mulai... nelen ludah terus.
Gejala yang ada di kertas Laras. Yang disimpen Cynthia di saku resleting. Tujuh tahun.
Kuminum obat — yang tablet, bukan kapsul, minimal itu udah hafal — terus lanjut kerja.
Minggu, Eyang nanya kok mukaku kusut, kujawab “proyek gede, Yang, seru,” pakai senyum yang...
Yang rapi.
Rapiii banget.
Senin malam — malam kesebelas — hujan gede. Workshop tinggal aku. Delapan puluh unit kelar, empat puluh lagi, spindle akalanku jalan tapi harus ditungguin terus, dan jam sebelas, pas lagi ngelas dudukan entah yang ke berapa, pandanganku goyang.
Kumatiin las. Duduk dulu, kataku ke diri sendiri. Lima menit.
Aku duduk di kursi kerja, nyender ke meja, kepala di atas lengan — posisi lama, posisi yang udah dua kali dalam hidup ini jadi posisi ketahuan — dan lima menit itu...
Lima menit itu nggak pernah selesai.
Yang kuinget terakhir: bunyi hujan di rolling door, lampu servis yang kelewat terang, dan satu pikiran kecil yang lewat sebelum gelap, pikiran yang jujurnya baru berani kuceritain sekarang, bertahun-tahun setelahnya, karena malu:
Untung nggak ada yang lihat.
Dua puluh empat tahun. Papan namanya TERIMA. Cincinnya tinggal dipoles.
Dan pikiran terakhirnya masih: untung nggak ada yang lihat.
Bug-nya sedalam itu, saudara-saudara. Sedalam itu.
- 1 Pagi yang Tak Pernah Menengadah
- 2 Murid Pindahan
- 3 Botol Air Dua Tahun Lalu
- 4 Bekal Misterius
- 5 Detektif Paling Salah Fokus
- 6 Alasan Fotokopi
- 7 Ketahuan
- 8 Tarif Berlangganan
- 9 Jam Tangan Papa
- 10 Nada ’Papa’-nya Turun
- 11 Payung yang Disembunyikan
- 12 Buku di Belakang Kasir
- 13 Laras
- 14 Keputusan
- 15 Struk Fotokopi
- 16 Hari Pertama
- 17 Lima Jari
- 18 Boncengan
- 19 Suap-suapan (Percobaan Pertama)
- 20 Papan Setrika
- 21 Obat dari Orang Lain
- 22 Peka ke Semua, Kecuali Ini
- 23 Daftar
- 24 Yang Mundur dengan Anggun
- 25 Rooftop Bintang Lima
- 26 Trigonometri
- 27 Hadiah yang Ditolak
- 28 Takut Tak Bisa Membalas
- 29 Kecup Kening
- 30 Dunia yang Berbeda
- 31 Memberi Sambil Mundur
- 32 Eyang Uti Tahu
- 33 Kalimat yang Terpotong
- 34 Pemberian Terakhir
- 35 Jangan Atas Nama Kebaikan
- 36 Cowok ke Cowok
- 37 Toga
- 38 Ritme Baru
- 39 Menghilang Pelan-pelan
- 40 Sketsa di Meja Kerja
- 41 Papan Nama
- 42 Empat Tahun Kemudian
- 43 Yang Dulu Papan Setrika
- 44 Sepeda
- 45 Tamu Lama
- 46 Pertanyaan Eyang
- 47 Bug Terakhir reading
- 48 “Kamu Masih Gitu.”
- 49 Memperbaiki yang Terakhir
- 50 Persiapan (Salah Sangka)
- 51 Lamaran Terbalik
- 52 Epilog: Kembalian yang Disimpan