← Chapters Ch. 7 / 52

Chapter Seven

Ketahuan

(POV Abi)

Yang akhirnya membongkar kasus ini bukan kecerdasanku. Bukan jebakanku. Bukan analisisku.

Yang membongkar kasus ini adalah Bu Sari.

Pagi itu Bu Sari nggak keluar rumah pas korannya mendarat — kejadian langka, selangka gerhana — jadi rute koranku selesai lima belas menit lebih cepat dari biasanya. Lima belas menit itu kupakai mampir sekolah dulu sebelum ke rumah: naruh tas di kelas, biar nanti dari rumah tinggal bawa badan.

Jam enam kurang. Koridor masih sepi. Lampu kelas belum nyala semua.

Dan pas aku belok di pintu kelas, ada orang di dalam.

Berdiri di deretan bangku pojok. Di depan tasnya— eh, bukan. Di depan tas ku yang... loh, kok tasku udah di sini? Oh iya, kemarin sore aku pulang buru-buru dipanggil Pak Yon, tasnya nitip di— NGGAK PENTING. Fokus. Ada orang. Megang tasku. Megang KOTAK BEKAL. Tangannya persis lagi di posisi memasukkan kotak itu ke dalam tas, posisi yang nggak bisa dijelaskan dengan alasan apa pun di muka bumi ini.

Orang itu menoleh.

Cynthia.

Kami berdua membeku. Lama. Yang bergerak cuma jam dinding kelas, yang bunyi detiknya mendadak kedengeran kayak toa.

“...Ini,” katanya akhirnya, dengan kotak bekal masih di tangan, “bukan kayak yang kamu pikirin.”

“Aku mikirnya kamu lagi naruh bekal di tasku.”

“...Oke, ini persis kayak yang kamu pikirin.”

Ada jeda dua detik di mana kami sama-sama nggak tahu harus ngapain — terus dia, entah dapat ide dari mana, MASIH MENCOBA menyelamatkan diri: dia naruh kotak itu ke tasku, menepuk-nepuknya pelan, dan bilang, “Anggap aja kamu nggak lihat—“

“Cynthia.”

“Kamu kan belum tentu percaya sama mata kamu sendiri. Masih subuh. Cahayanya jelek.”

Cynthia.

“Iya.” Dia akhirnya menyerah, membuang napas, berdiri tegak menghadapku dengan gaya orang yang memutuskan untuk kalah secara terhormat. “Iya. Aku. Dari awal. Semuanya.”

Tiga minggu. Belasan bekal. Nota “lucu” itu. Polling sebelas tersangka yang nggak ada nama dia sama sekali. Teori ibu-ibu kompleks — YANG DIA SENDIRI YANG NGELEMPAR — semuanya berputar di kepalaku kayak rekaman di-rewind, dan bersama semua itu ikut juga pertanyaan-pertanyaan Sabtu sore: jam bengkel, alergi, manis apa asin.

Bukan anak baru yang ramah. Intel. Aku diintelin.

“Kenapa?” Cuma itu yang keluar dari mulutku.

“Kenapa apanya?”

“Ya semuanya. Kenapa aku? Kamu... kita bahkan belum lama kenal. Itu bekal tiap hari, itu — itu berapa habisnya? Aku ganti. Semuanya. Kamu catet nggak totalnya? Kalau nggak catet, kita hitung bareng, aku—“

“Abi.”

“—kalau kurang bisa nyicil, aku gajian dari Koh Aseng tiap—“

“ABI.”

Aku berhenti.

Dan anak itu — yang tiga minggu berhasil memperdayai satu sekolah, yang selalu kelihatan santai, selalu di atas angin — tiba-tiba kelihatan marah. Bukan marah drama. Marahnya pelan, matanya sedikit berkaca, dan justru itu yang bikin aku langsung diam total.

“Kamu denger ya.” Suaranya ditahan supaya nggak kedengeran sampai koridor. “Aku nggak akan kasih tahu totalnya. Nggak sekarang, nggak nanti, nggak pernah. Karena itu bukan utang.” Dia maju selangkah. “Kamu tiap hari jajan es teh doang. Es teh. Doang. Kamu bagi-bagi pisang goreng ke adik kelas padahal sarapan kamu aja aku nggak yakin bener. Terus sekali-sekalinya ada yang pengen kamu makan enak—“ suaranya sempat pecah sedikit, dikejar lagi, “—kamu malah sibuk ngitung cara balikinnya?”

“...”

“Emang salah ya, aku pengen kamu makan enak?”

Nah.

Sekarang, izinkan aku menjelaskan apa yang terjadi dalam tubuhku pada momen itu, karena ini penting untuk dicatat sejarah: nggak ada satu pun kata yang bisa keluar. Otakku — buku antrean paling rapi se-sekolah — putih total. Dan di tengah putih itu, ada satu sensasi asing yang menjalar dari leher naik ke atas: kedua telingaku panas. PANAS. Kayak habis dijemur. Aku bahkan sempat mikir apa aku demam mendadak.

Belakangan kuketahui: nggak, itu bukan demam. Itu penyakit baru. Dan bakal sering kambuh.

“...Nggak,” kataku akhirnya. Suaraku keluar setengah volume. “Nggak salah.”

“Terus?”

Aku menatap kotak bekal di tasku. Kotak ke sekian belas. Yang isinya nggak pernah sekalipun kumakan, tapi kotaknya selalu kucuci sampai kinclong — dan mendadak aku ngerti kenapa Dimas waktu itu frustrasi.

Ada satu kata yang selama ini gampang banget kuucapkan ke orang lain, atas nama mereka: makasih ya, Bi. Makasih, Nak. Makasih, Kak. Kata yang tiap hari kuterima berkarung-karung sampai nggak ada rasanya.

Ternyata pas harus keluar dari mulut sendiri, ke arah sebaliknya, beratnya minta ampun.

“...Makasih.”

Pelan banget keluarnya. Tapi keluar.

“Buat semuanya. Bekalnya... enak. Kata Eyangku.” Aku garuk tengkuk. “Aku belum pernah nyobain. Takut abis. Maksudnya— takut kalau kumakan terus orangnya nggak ketemu, aku nggak bisa— ya kamu ngerti lah maksudku.”

Hening.

Terus Cynthia ketawa. Ketawa beneran, sampai harus nutup mulut sendiri karena inget ini masih jam enam kurang. Dan sambil ketawa itu matanya yang tadi berkaca jadi ikut basah beneran, jadi dia ketawa sambil ngelap mata, yang mana membingungkan untuk ditonton dan lebih membingungkan lagi untuk dirasakan.

“Ya ampun,” katanya akhirnya, napasnya masih senggal sisa ketawa. “Tiga minggu. Kamu nggak makan SATU PUN?”

“Kotaknya kucuciin.”

“Iya. Aku tahu. Bersih banget. Wangi sunlight.” Dia geleng-geleng. “Aku sampe mikir kamu buang isinya terus cuciin doang.”

“NGGAK MUNGKIN. Itu makanan.”

“Iya. Sekarang aku tahu.” Dia narik napas, ngerapiin poni, mode santainya balik lagi terpasang — tapi ada senyum yang nggak berhasil dia lipat rapi. “Ya udah. Karena udah ketahuan, aturannya ganti.”

“Aturan— tunggu, siapa yang bilang ini lanjut? Kamu nggak perlu—“

“Besok bekalnya dua.” Dia menyambar tasnya sendiri dari bangku — jadi dari tadi tasnya udah di situ, ini anak niat banget datang jam berapa — dan berjalan melewatiku ke pintu. “Satu buat kamu, satu buat aku. Kita makan bareng. Biar kamu nggak bisa kasih-kasihin ke orang.”

“Cynthia—“

“Dan kamu harus makan sampai habis, di depan aku.” Dia berhenti di pintu, noleh, dan senyumnya itu — matahari pagi dari jendela koridor kena persis di mukanya, dan aku lupa apa yang mau kuprotes. “Perkenalkan. Aku Cynthia. Mulai besok jangan panggil aku ’anak baru’ lagi ya.”

Terus dia hilang di koridor.

Aku berdiri sendirian di kelas kosong, jam enam kurang, dengan telinga yang masih panas dan satu kesimpulan yang harus kuterima dengan lapang dada:

Kasus bekal misterius resmi ditutup. Pelakunya menyerahkan diri.

Terus kenapa ya, rasanya... aku yang tertangkap?