← Chapters Ch. 35 / 52

Chapter Thirty Five

Jangan Atas Nama Kebaikan

(POV Abi)

Dia jalan ke meja kasir. Berdiri di seberangku — posisi lama, posisi struk, enam puluh senti — dan naruh dua tangannya di meja itu.

“Pertanyaan pertama.” Suaranya masih datar, tapi di bawahnya ada yang gemuruh, kayak mesin gede baru dinyalain. “Empat puluh detik barusan, kamu nyebut Reno, nyebut Jepang, nyebut piano, nyebut tabungan, nyebut payung. Ada SATU hal yang nggak kamu sebut sama sekali. Sadar nggak?”

“...”

“AKU.” Meja kasir digebrak. Sekali. Kaca etalase getar. “Nggak ada satu pun ’Cynthia maunya apa’ di empat puluh detik itu! Kamu ngitung SEMUANYA — hidupku lima tahun lagi, duniaku, pilihanku, nyeselku — kamu itung semua SENDIRIAN, di kepalamu, tiga hari, terus hasilnya kamu bawa ke sini udah jadi barang mateng: ’nih, keputusannya, kamu bebas.’ KAMU PIKIR AKU APA? Mesin yang bisa kamu diagnosa dari luar?! AKU BISA NGOMONG, ABI! Dari dulu aku SELALU ngomong! Yang nggak pernah ngomong tuh KAMU!”

Gerimis di luar makin rapat. Aku berdiri mematung, dan dia baru mulai.

“Pertanyaan kedua. Reno.” Dia ketawa — pendek, pahit, sekali. “Reno lagi, Reno lagi. Kamu tahu nggak sih, ini yang paling bikin aku pengin jedotin kepalamu ke mesin fotokopi: DUA TAHUN, Abi. Dua tahun aku nyariin kamu. Kamu tahu ceritanya. Botolnya masih di rak kamarku. Aku pindah SEKOLAH — pindah HIDUP — modal punggung sama garis rahang yang silau. Reno tuh udah di sebelahku dari kecil! Satu kompleks! Satu les! Kalau mau, kalau ADA rasanya, SEPULUH TAHUN aku punya waktu! Terus kamu dateng belakangan dan mutusin di kepalamu sendiri kalau aku— kalau aku bakal—“ napasnya patah, dikejar, “—NGGAK. Aku nggak akan biarin kamu selesaiin hitungan itu. Hitunganmu SALAH. Dari koma pertama udah salah.”

“Cyn, aku cuma nggak mau kamu susah—“

“SUSAH?!” Dan di kata itu, tanggulnya jebol — air matanya turun, deras, tapi suaranya malah makin kenceng, nggak peduli dua-duanya jalan barengan: “Kamu mau tahu susah?! Susah itu BUKAN boncengan sepeda! Bukan nunggu tabungan! Bukan pura-pura kehilangan payung — AKU SENENG SETENGAH MATI TIAP RABU HUJAN, ABI, aku cek ramalan cuaca TIAP MALEM!” Dia ngelap muka pakai lengan, kasar, terus nunjuk aku: “Susah itu YANG SEKARANG! Susah itu disayang sama orang yang tiap aku deket selangkah, dia mundur selangkah sambil SENYUM! Yang aku dikasih makan, dikasih jam, dikasih lampu botol, dikasih SEMUANYA — kecuali satu: dikasih tahu isi kepalanya! Kamu ngasih seluruh dunia sambil ngumpetin dirimu sendiri! ITU yang susah! Udah sebulan aku nelen itu tiap hari sambil senyum, sambil nunggu kamu cerita, sambil mikir ’sabar, Cynthia, dia pasti cerita’—“

Suaranya pecah total di situ. Dia berhenti, megang pinggir meja kasir, nunduk, bahunya guncang. Aku maju refleks — tanganku kebuka —

“JANGAN.” Satu kata, tajem, tanpa ngangkat muka. “Jangan sentuh dulu. Belum selesai.”

Tanganku berhenti di udara. Turun.

Dia ngangkat muka. Merah, basah, berantakan — dan matanya nyala dengan sesuatu yang lebih tua dari marah:

“Pertanyaan terakhir, Abimanyu. Ini yang paling penting, jadi mikirnya yang bener.” Dia narik napas panjang, goyah, terus ditembakkannya pelan-pelan, sekata-sekata:

“Kamu — selama ini — ngasih ke semua orang — apa pun yang mereka butuhin. Bu Sari butuh galon, kamu angkat. Adik kelas laper, kamu traktir. Laras, Dimas, Koh Aseng, Pak Yon, SATU SEKOLAH, SATU KOMPLEKS — semua yang mereka butuh, kamu kasih, nggak pake mikir, nggak pake tiga hari nyusun kalimat.”

Langkahnya muter meja kasir. Sekarang nggak ada apa-apa di antara kami.

“Terus sekali — SEKALI — aku berdiri di depan kamu dan bilang: yang aku butuhin cuma kamu. Bukan Reno. Bukan gampang. Bukan Jepang. KAMU. Sepeda-koran-bengkel-fotokopian-kamu. Empat puluh dua catetan kamu. Papan setrika kamu.” Suaranya turun jadi hampir bisikan, dan justru itu yang paling kenceng kedengerannya: “Kok kamu nggak percaya? Ke semua orang kamu percaya mereka butuh bantuanmu. Ke aku doang — yang paling teriak paling jelas — kamu nggak percaya. Kenapa, Bi? Aku kurang teriak apa lagi?”

Dan sistemku — sistem yang bertahan tujuh belas tahun, yang tiga hari nyusun kalimat rapi, yang seumur hidup jago mundur sambil senyum — sistem itu, di depan pertanyaan itu, mati total.

Nggak ada kalimat tersusun. Nggak ada urutan bongkar. Yang keluar cuma yang paling bawah, yang paling karatan, suara umur tiga belas dari lorong rumah sakit:

“...Takut.” Suaraku sendiri kedengeran asing. “Aku takut, Cyn. Semua orang yang kubantu — mereka butuhnya jelas, kelihatan, bisa kukerjain, selesai. Kamu bilang butuhnya AKU — dan aku nggak pernah... nggak ada yang pernah... aku nggak tahu ’aku’ itu barang layak kasih apa nggak. Yang kutahu seumur hidup cuma: orang yang cuma bisa nerima, lama-lama dicopotin mukanya. Kayak Bapak. Jadi tiap kamu makin deket, makin sayang, aku makin— kalau suatu hari kamu sadar barangnya nggak sebagus yang kamu kira, aku— mending kulepas sekarang selagi kamu masih bisa—“

“ABIMANYU.”

Nama lengkap. Dan sesuai catatan poin nomor sembilan — kalau manggil lengkap artinya gemes, bukan marah — kecuali malam itu artinya dua-duanya, sekaligus, ditambah semua yang nggak ada namanya:

“Dengerin aku. Sekali ini aja, dengerin sampai tembus.” Dua tangannya naik, megang mukaku — maksa mataku lurus ke matanya, nggak boleh kabur ke mana-mana. “Jangan. Pernah. Mutusin aku. Atas nama kebaikan. NGGAK ADA kebaikan yang bentuknya ninggalin orang yang lagi sayang-sayangnya! Itu bukan kado, itu KABUR! Kamu boleh takut — takut aja, takut bareng-bareng, tiap hari juga nggak papa! Tapi larinya KE SINI—“ tangannya nunjuk dadanya sendiri, kenceng, “—BUKAN ke sana! Ngerti nggak?! Sekali lagi kamu nyusun kalimat model tadi, aku sobek di depan mukamu, mau disusun tiga hari kek, tiga tahun kek! NGERTI?!”

“...Ngerti.”

“NGGAK KEDENGERAN.”

“Ngerti.” Dan di kata kedua itu suaraku ikut pecah — akhirnya, tujuh belas tahun telat — dan entah siapa yang gerak duluan, kayaknya dia, kayaknya aku juga, nggak penting: dia nubruk, aku nangkep, dan untuk pertama kalinya sejak papan setrika, sejak semua latihan itu, dua tanganku nggak nanya dulu ke sistem. Langsung meluk. Kenceng. Bales. Dia nangis di bahuku sejadi-jadinya — jenis nangis yang ditabung sebulan — dan aku megangin, nggak ngitung, nggak nyusun, nggak mikir cara ngembaliin.

Lama. Gerimis di luar jadi hujan beneran. Lampu toko setengah redup. Jam dinding jalan.

Terus, pas nangisnya udah landai, dia narik muka dari bahuku — deket, masih di dalam pelukan, matanya bengkak, hidungnya merah, berantakan total, dan tetap aja, tetap, paling — dan dia bilang, serak:

“Poin empat puluh empat. Catet.”

“...Apa?”

“Aku nggak pernah, sedetik pun, nyesel milih kamu. Catet. Nomor empat puluh empat. Jangan sampe ilang.”

“...Kucatet.”

“Pake tinta.” Suaranya makin pelan. Mukanya makin deket. “Bukan pensil.”

“Pake tinta,” bisikku.

Dan yang nutup kalimat itu bukan kata-kata.

Ciuman pertama kami rasanya asin — air matanya, mungkin punyaku juga, nggak penting punya siapa — dan pelan, dan lamaaa, dan di tengahnya kepala ini, yang seumur hidup nggak pernah berhenti ngitung, akhirnya bener-bener kosong. Nggak ada kolom kiri. Nggak ada kolom kanan. Nggak ada kembalian yang harus disiapin.

Cuma hujan di luar, lampu setengah redup, dan orang yang kupeluk di toko tempat semuanya dimulai — yang pas akhirnya lepas, natap aku sebentar, terus nyender lagi ke dadaku sambil ngedumel pelan, capek, lega:

“...Papan setrikanya udah sembuh ternyata.”

“Yang nyervis galak banget soalnya.”

Dia ketawa. Di dadaku. Getarnya nyampe ke mana-mana.

Dan malam itu, jalan pulang nembus hujan — sepayung, payungnya beneran ketinggalan kali ini, dua-duanya basah, dua-duanya nggak peduli — aku megang satu hal yang nggak akan kulepas lagi:

Ternyata selama ini aku salah baca pesan Bapak. Salahnya tujuh belas tahun.

Dan dua bab lagi, kalian bakal tahu salahnya di mana. Eyang yang megang kuncinya. Dari dulu.