Chapter Twenty Three
Daftar
(POV Abi)
Tangga belakang, pulang sekolah. Anak tangga ketiga — tempat kami, entah sejak kapan resmi jadi tempat kami.
Aku dateng duluan, nggak bawa es teh sesuai instruksi, dan nemuin diriku nggak tahu harus ngapain sama dua tangan sendiri. Biasanya kalau nunggu, tanganku selalu ada kerjaan: benerin ini, ngutak-atik itu. Sekarang instruksinya bawa kuping doang, jadi dua tangan ini nganggur total, dan baru kusadari nunggu tanpa kerjaan itu ternyata pekerjaan paling berat sedunia.
Dia dateng. Duduk di anak tangga yang sama, jarak satu orang — jarak lama, jarak sebelum jadian. Kuperhatiin itu, nggak kukomentarin.
Lama nggak ada yang ngomong. Lapangan kosong. Langit sore warna nanggung.
“Aku mulai dari yang paling jeleknya ya,” katanya akhirnya. “Biar cepet.”
“Iya.”
“Aku cemburu sama Laras.”
Kalimat itu keluar datar, cepat, kayak orang nyabut plester sekali tarik. Terus dia ketawa kecil — ketawa yang nggak lucu — dan ngelanjutin sambil natap lapangan:
“Jelek kan? Laras nggak salah apa-apa. NGGAK ADA. Dia baik dari sebelum aku dateng. Obat yang dia kasih itu bener, caranya bener, semuanya bener. Harusnya aku makasih. Aku udah makasih — beneran, dulu, di depan toko, aku pernah bilang makasih ke dia dan itu tulus.” Napasnya mulai nggak rata. “Tapi pas hari Kamis itu, pas aku berdiri megang termos bubur yang kumasak jam empat pagi, nontonin dia nyebutin ’yang kapsul kamu mual, dulu kelas sepuluh’ — Abi, kelas sepuluh. Aku bahkan belum tahu kamu ada di dunia pas kelas sepuluh.”
Dia berhenti. Ngatur napas. Aku megang lututku sendiri kenceng-kenceng biar tanganku nggak lari nyari solusi.
“Aku tuh di sekolah lama dijulukin macem-macem. Yang cantik lah, yang sempurna lah. Nggak ada yang tahu aku bisa se-kekanak-kanakan ini.” Suaranya makin kecil. “Seminggu ini aku benci banget sama diri sendiri. Cemburunya nggak ilang-ilang, padahal nggak ada yang salah. Kamu makin baik, makin perhatian — dan makin kamu hafal aku, makin kepikiran: yang hafal dia duluan kan bukan aku. Aku pacarmu, Bi. Tapi pas kamu tumbang, aku kayak... penonton yang dateng telat. Bawa termos.”
Kata terakhir itu pecah. Dikit. Dia buru-buru ngelap mata pakai lengan, kesel sama air matanya sendiri.
“Udah. Itu ceritanya. Jelek kan. Silakan kecewa.”
Hening.
Dan di hening itu, aku ngelakuin satu-satunya hal yang udah kusiapkan dari semalam — bukan solusi, bukan jadwal. Kubuka dompetku. Dompet butut, isinya nggak pernah tebel. Dari selipan paling dalam, di belakang kartu pelajar, kukeluarin kertas.
Sobekan kertas buram, dilipet delapan, pinggirnya udah lecek — udah lama banget di situ.
“Aku nggak bisa bales cerita kamu pakai cerita,” kataku, buka lipetannya pelan. “Nggak pinter nyusun kalimat panjang. Jadi kubacain aja ya. Ini... catetanku. Udah lama. Nambah terus soalnya, jadi tulisannya desek-desekan.”
Kubacain. Urut dari atas, apa adanya, tulisan tangan sendiri yang jelek:
“Satu. Es teh: manisnya dikurangin, apalagi kalau lagi banyak pikiran. Dua. Nggak suka diliatin pas makan, lima menit pertama pura-pura sibuk dulu. Tiga. Kalau bohong, nada ’papa’-nya turun. Empat. Kalau seneng banget, jam tangannya dicocokin dua kali padahal udah cocok. Lima. Takut kecoak tapi gengsi ngaku, jadi kalau ada kecoak dia bakal bilang ’eh itu apa ya’ sambil mundur teratur. Enam. Nulis pakai pulpen ijo kalau lagi semangat, item kalau biasa aja. Tujuh. Kalau hujan, sengaja jalan lambat. Delapan. Suka bagian pinggir telur gulung, yang gosong dikit. Sembilan. Kalau manggil ’Abimanyu’ lengkap, artinya gemes, bukan marah. Sepuluh—“
“Stop— stop dulu—“ Suaranya aneh. Aku noleh. Mukanya udah merah, matanya makin basah, dan dia natap kertas itu kayak natap makhluk hidup. “Itu... ada berapa?”
“Tiga puluh tujuh. Eh—“ kubalik kertasnya, “—empat puluh dua. Yang belakang nulisnya kecil-kecil.”
“Empat puluh...” Dia nutup muka pakai dua tangan. Suaranya keluar dari sela jari, berantakan: “Sejak kapan?”
“Nomor satu sampai sembilan itu... sebelum kamu ketahuan bekal. Sisanya nyicil.”
“KENAPA DICATET?!”
“Takut lupa.” Kulipet kertasnya lagi, hati-hati, masukin ke dompet. “Padahal nggak bakal lupa sih. Tapi tetep kucatet. Biar ada bentuknya. Soalnya...” — dan kalimat berikutnya keluar sendiri, nggak kususun, jujur langsung dari sumbernya: “...aku nggak hafal jadwalku sendiri, Cyn. Beneran. Kemarin aja aku lupa Jumat itu bengkel apa fotokopian, kutanya Laras dulu. Jadwal sendiri aku nggak hafal. Tapi kamu — kamu aku hafal. Nggak pakai usaha. Nempel sendiri.”
Hening lagi. Lapangan kosong. Langit makin oranye.
“Laras hafal aku bertahun-tahun,” lanjutku, pelan. “Itu bener, dan itu kebaikan yang gede, dan aku berutang banyak sama dia — nah kan, kebiasaan, maksudku... aku makasih banyak sama dia. Tapi Cyn, hafalnya Laras itu hafal yang kayak aku hafal rute koran. Peta. Berguna, rapi, disimpen di kepala.” Aku nunjuk dompet di sakuku. “Punyaku yang ini nggak disimpen di kepala.”
Dia nurunin tangannya dari muka. Pelan.
“...Disimpen di mana?”
“Di dompet,” jawabku, literal, refleks — terus sadar maksud pertanyaannya dua detik kemudian. “EH. Maksudnya— iya itu— kamu ngerti lah maksudku. Jangan suruh aku ngomongnya. Empat puluh dua catetan itu udah ngomong.”
Dan dia ketawa — akhirnya, ketawa yang bener, yang berantakan, yang keluar bareng sisa air mata, campur aduknya persis kayak sore jam tangan dulu — sambil geser duduknya, ngilangin jarak satu-orang itu, nyenderin kepala ke bahuku.
“Empat puluh dua,” katanya, masih setengah ketawa setengah sengal. “Aku dicatet empat puluh dua poin sama orang yang nggak hafal jadwal sendiri.”
“Nanti nambah.”
“Ih.” Dia nyubit lenganku. Pelan. “...Nomor empat itu ngarang ya? Aku nggak pernah nyocokin jam dua kali.”
“Tiap habis kamu ketawa gara-gara aku. Ngeceknya besoknya, coba aja.”
“...”
“Tuh kan diem.”
“DIEM ITU BUKAN NGAKU.”
Kami duduk di tangga itu sampai langitnya habis. Sebelum pulang, dia bilang satu hal lagi, nadanya udah bening:
“Bi. Cemburuku belum tentu langsung ilang ya. Kalau kapan-kapan kumat, aku bakal bilang. Nggak diem-dieman lagi. Capek ternyata diem-dieman.”
“Iya. Kalau kumat, bilang. Nanti kubacain daftarnya lagi.”
“NGGAK USAH NANTI AKU NANGIS LAGI—“
Dan itulah cara kami nutup minggu paling sumbang sebulan terakhir: bukan dengan solusi, bukan dengan jadwal, cuma dengan sebuah daftar lecek yang balik lagi ke selipan dompet — tempat dia udah lama tinggal, dan bakal tinggal lama banget lagi.
Empat tahun kemudian daftar itu masih ada. Poinnya udah nggak empat puluh dua.
Tapi itu cerita nanti.
- 1 Pagi yang Tak Pernah Menengadah
- 2 Murid Pindahan
- 3 Botol Air Dua Tahun Lalu
- 4 Bekal Misterius
- 5 Detektif Paling Salah Fokus
- 6 Alasan Fotokopi
- 7 Ketahuan
- 8 Tarif Berlangganan
- 9 Jam Tangan Papa
- 10 Nada ’Papa’-nya Turun
- 11 Payung yang Disembunyikan
- 12 Buku di Belakang Kasir
- 13 Laras
- 14 Keputusan
- 15 Struk Fotokopi
- 16 Hari Pertama
- 17 Lima Jari
- 18 Boncengan
- 19 Suap-suapan (Percobaan Pertama)
- 20 Papan Setrika
- 21 Obat dari Orang Lain
- 22 Peka ke Semua, Kecuali Ini
- 23 Daftar reading
- 24 Yang Mundur dengan Anggun
- 25 Rooftop Bintang Lima
- 26 Trigonometri
- 27 Hadiah yang Ditolak
- 28 Takut Tak Bisa Membalas
- 29 Kecup Kening
- 30 Dunia yang Berbeda
- 31 Memberi Sambil Mundur
- 32 Eyang Uti Tahu
- 33 Kalimat yang Terpotong
- 34 Pemberian Terakhir
- 35 Jangan Atas Nama Kebaikan
- 36 Cowok ke Cowok
- 37 Toga
- 38 Ritme Baru
- 39 Menghilang Pelan-pelan
- 40 Sketsa di Meja Kerja
- 41 Papan Nama
- 42 Empat Tahun Kemudian
- 43 Yang Dulu Papan Setrika
- 44 Sepeda
- 45 Tamu Lama
- 46 Pertanyaan Eyang
- 47 Bug Terakhir
- 48 “Kamu Masih Gitu.”
- 49 Memperbaiki yang Terakhir
- 50 Persiapan (Salah Sangka)
- 51 Lamaran Terbalik
- 52 Epilog: Kembalian yang Disimpan