← Chapters Ch. 36 / 52

Chapter Thirty Six

Cowok ke Cowok

(POV Abi)

Senin sore, habis semua panitia bubar, Reno nyegat aku di aula.

“Bi. Ada waktu? Sepuluh menit.” Dia nunjuk pojok aula pakai dagu — ke arah grand piano tua itu. “Sambil nemenin gue. Udah lama nggak mainan sama ini.”

Aku ngikut. Perasaanku campur — habis Sabtu itu, Cynthia cerita semuanya udah lurus di antara kami berdua, tapi nama Reno kan sempet kupakai jadi tokoh di kepalaku selama sebulan, tanpa sepengetahuan orangnya. Rasanya kayak mau ketemu orang yang fotonya pernah kucoret-coret diam-diam.

Dia buka penutup tuts, duduk, main pelan — lagu yang nggak kukenal, klasik kayaknya, jarinya jalan sendiri — dan di tengah main, tanpa noleh, dia mulai:

“Cynthia cerita ke gue. Sabtu malem. Chat panjang.” Nada pianonya nggak berubah, tetap rapi. “Intinya minta maaf — karena nama gue kepakai di perang kalian, padahal gue nggak ikut daftar perang. Dia sopan banget. Minta maafnya bener.” Jeda. Satu bar. “Terus gue mikir semalaman, dan gue putusin dateng ke lo. Soalnya ada dua-tiga hal yang harusnya lo denger dari mulut gue langsung. Biar nggak ada versi karangan lagi. Oke?”

“...Oke.”

“Pertama. Yang di dapur itu.” Jarinya pindah akord. “Nyokap lo denger— eh, nyokapnya Cynthia maksudnya. ’Reno memang cocok.’ Gue tahu dari Cynthia lo denger itu.” Dia akhirnya noleh, dan mukanya setengah geli setengah nggak percaya: “Bi. Tante Ratih mau buka kelas piano kecil-kecilan di rumah. Pakai piano almarhum Om — biar pianonya hidup lagi, biar rumahnya rame. Dan gue diminta jadi PENGAJARNYA. Tiap Minggu sore. Ngajarin bocah-bocah kompleks umur tujuh tahun main Twinkle Twinkle. ITU yang ’cocok’-nya, ITU yang ’minggu depan mulai’-nya. Gue. Guru les. Bocah. Twinkle Twinkle.”

Piano berhenti. Aula sepi. Aku berdiri di situ dan merasakan sebulan penuh penderitaan yang kubangun dengan tanganku sendiri runtuh jadi... jadi Twinkle Twinkle.

“...Gue,” kataku pelan, “sebulan. Gara-gara itu.”

“Gue tahu. Makanya gue ceritain langsung, bukan lewat siapa-siapa.” Dia muter di kursi piano, ngadep aku penuh. Dan senyum gelinya turun pelan, diganti muka yang lebih... lurus. “Kedua. Dan yang ini dengerin bener-bener, soalnya gue cuma mau ngomonginnya sekali seumur hidup, habis itu kita nggak pernah bahas lagi.”

Dia narik napas.

“Gue suka Cynthia. Dari SMP.”

Aula sepi banget. Kulkas aula aja nggak ada yang bunyi.

“Sepuluh tahun kenal, tujuh tahun sadar. Satu kompleks, satu les, keluarga akrab — semua ’searah’ yang bikin lo pusing itu, gue punya semuanya, dari dulu.” Nadanya tenang, nggak ada drama, kayak orang baca laporan. “Dan selama itu gue nunggu momen. Nyiapin diri. Jadi anak baik, jadi ketua ini-itu, jadi ’cocok’. Terus dia pindah sekolah — ke sekolah GUE, bayangin senengnya gue — dan dalam hitungan bulan, gue nonton dia jatuh sejatuh-jatuhnya... sama anak fotokopian yang nggak sadar diincer.”

“Reno—“

“Belum selesai.” Dia ngangkat tangan, senyum dikit. “Ini bagian pentingnya. Lo pikir gue nyerah karena kalah cepet? Karena lo duluan?” Dia geleng. “Bi. Gue nyerah bukan karena kalah dari lo. Gue nyerah karena dia nggak pernah — sekalipun — liat gue. Sepuluh tahun gue di sebelahnya, Bi. SEBELAHNYA. Dan matanya tuh kayak... kayak nyariin sesuatu terus, ke arah lain, dari dulu. Gue baru ngerti nyariin apa pas lo lewat bawa toolbox terus mata itu BERHENTI.” Dia ketawa kecil, pendek, ke arah tuts. “Sepuluh tahun gue nggak bisa bikin mata itu berhenti. Lo lewat doang. Bawa toolbox. Nggak mandi keringat lo kayaknya belum kering.”

“...Maaf.”

“NAH ITU.” Dia nunjuk aku. “Itu yang bikin gue nggak bisa benci lo. Lo minta maaf. BUAT APA COBA. Orang jatuh cinta kok minta maaf. Cynthia bener, lo tuh error di tempat yang aneh-aneh.” Dia berdiri dari kursi piano, nutup penutup tuts pelan, hormat sama barangnya. “Ketiga. Terakhir. Soal ’hidup lebih gampang sama Reno’.”

Dia jalan mendekat. Berdiri di depanku. Kami hampir sama tinggi kalau aku nggak lagi nunduk.

“Lo bener. Sama gue hidupnya lebih gampang. Mobil, les, liburan — gampang semua.” Nadanya datar, jujur, nggak sombong. “Tapi Bi, gue mau tanya balik, dan ini dari orang yang sepuluh tahun ngamatin dia: menurut lo, anak yang botol air bekas aja disimpen dua tahun, dibawa pindah kota — anak kayak gitu, hidupnya butuh GAMPANG?” Dia geleng pelan. “Dia tuh dari lahir udah gampang, Bi. Kenyang dia sama gampang. Yang dia cariin — yang matanya nyariin ke mana-mana itu — yang nggak bisa dibeli sama semua kegampangan gue: orang yang ngasih tanpa nunggu. Dan itu—“ dia nusuk bahuku pakai jari, sekali, nggak keras, “—stok-nya di dunia ini dikit banget. Kebetulan yang satu itu bego pula. Untung begonya lagi diservis.”

Kami berdua ketawa. Beneran ketawa. Dan habis ketawanya reda, dia ngulurin tangan.

“Jadi. Cowok ke cowok. Gue mundur — udah dari lama sih sebenernya, ini cuma... upacara peresmiannya.” Salamannya mantap, kayak biasa. “Jaga dia. Kalau lo ulangin yang model kemarin, yang nyusun-kalimat-tiga-hari itu — inget ya, gue searah rumahnya. Gue duluan yang tahu kalau dia nangis. Dan gue nggak akan sesopan ini dua kali.”

“Nggak bakal ada dua kali.”

“Bagus.” Dia nyambar tasnya, jalan ke pintu aula, terus berhenti — inget sesuatu: “Eh iya. Tuts F sama B-flat itu. Piano rumah Tante Ratih juga sama penyakitnya. Minggu depan gue mulai ngajar bocah-bocah — masa gurunya main di piano telat balik. Lo bisa dateng benerin nggak? Dibayar. Beneran dibayar, jangan ditolak, gue tahu kebiasaan lo.”

“...Bisa. Minggu pagi ya, sore aku ada acara.”

“Sip.” Dia buka pintu, terus nyengir dari ambang: “Acaranya boncengan ke sawah pasti. Dasar. Ya udah sana. Salam buat sepedanya.”

Pintu aula nutup. Tinggal aku, piano tua, dan sore.


Malamnya, di rumah, habis makan, aku duduk di sebelah Eyang Uti. TV nyala, sinetron jalan, dan aku matiin.

Beliau noleh. Ngangkat alis.

“Yang. Aku udah baikan sama dia. Udah beres semuanya — Reno juga, tadi sore.” Kutarik napas. “Eyang dulu bilang, pesen Bapak ada lanjutannya. Yang aku belum siap dengernya. Aku nanya sekarang. Kayaknya... kayaknya sekarang aku siap.”

Eyang natap aku lama. Terus beliau ngangguk pelan, betulin duduknya, dan matanya pergi jauh — ke arah yang cuma beliau yang bisa lihat.

“Seminggu sebelum bapakmu nggak ada,” mulai beliau, pelan, “dia manggil eyang. Kamu lagi di sekolah. Dia bilang: ’Bu. Aku udah pesen ke Abi, jangan pernah merepotkan orang. Biar dia kuat. Biar dia nggak ngerasain yang kurasain.’” Eyang berhenti. Nelen sesuatu. “Terus dia diem lama, Le. Lamaaa. Terus dia bilang lagi, pelan banget, eyang sampai harus ndeketin kuping: ’Tapi Bu... itu pesen yang salah. Aku tahu itu salah pas ngucapinnya. Yang bener itu: jangan merepotkan orang — kecuali yang sayang sama kamu. Sama yang sayang, ngerepotin itu bukan beban. Itu caranya bilang percaya. Ibumu— ’ “ suara Eyang goyah dikit, dikejar, “ ’—ibunya Abi dulu paling bahagia justru pas aku sakit dan nurut dirawat. Aku baru ngerti sekarang, telat. Bilangin Abi ya, Bu, kalau dia udah nemu orangnya. Jangan sekarang. Sekarang dia belum ketemu, nanti pesennya nggak ada gantungannya. Kalau udah ketemu — Ibu pasti tahu waktunya — bilangin: bapaknya minta maaf, pesennya cuma separuh.’”

Ruang tengah sepi. TV mati. Jam dinding jalan.

“Eyang nunggu lima tahun, Le, megangin separuh itu.” Beliau noleh ke aku, dan matanya basah — pertama kalinya seumur hidupku kulihat. “Tiap kamu nolak pemberian orang, eyang pengin ngomong. Tiap kamu bilang ’nggak usah, bisa sendiri’, eyang gatel. Tapi bapakmu bener: pesen itu butuh gantungan. Nggak ada gunanya dikasih ke anak yang belum ketemu orangnya.” Beliau megang tanganku — tangan tuanya kecil, anget, kuat: “Sekarang udah ketemu, kan. Yang matanya nggak minta apa-apa itu. Ya udah. Lunas tugas eyang. Sisanya tugasmu: pesen bapakmu yang separuh lagi itu, dijalanin. Bukan buat bapakmu. Buat kamu.”

Aku nunduk lama. Tangan Eyang kupegang dua tangan.

“...Yang.”

“He-eh.”

“Bapak tuh... nyusun kalimatnya berapa lama ya, yang pesen kedua itu.”

Eyang ketawa kecil — basah, tapi ketawa. “Seminggu kayaknya. Bapakmu kalau nyusun omongan lama. Persis kamu.”

“...Aku tiga hari kemarin. Nyusun yang salah.”

“Nah. Berarti kamu lebih cepet dari bapakmu.” Beliau nyalain TV lagi, ngelap ujung mata pakai selendang, suaranya balik normal: “Salahnya juga lebih cepet ketahuan. Itu namanya kemajuan, Le. Satu generasi, majunya segitu dulu. Udah, sana, cuci kotak bekal. Sambil senyum yang berantakan. Eyang mau nonton, ketinggalan dua episode gara-gara mikirin kamu.”

Aku ke dapur. Nyuci dua kotak bekal — punya dia satu, punyaku satu.

Senyumnya berantakan. Akhirnya. Sesuai standar.