← Chapters Ch. 12 / 52

Chapter Twelve

Buku di Belakang Kasir

(POV Abi)

Ada satu kebiasaanku yang nggak pernah kuceritakan ke siapa pun. Bukan rahasia gelap — cuma... punyaku sendiri.

Aku suka gambar.

Mulainya dari mana, aku juga lupa. Kayaknya dari kecil, dari kebiasaan bapak dulu nggambar sketsa mesin di kertas bungkus rokok kalau lagi jelasin sesuatu. Yang jelas, di laci bawah meja kasir fotokopian, ada satu buku tulis bekas — bekas buku stok yang salah cetak, dikasih Koh Aseng daripada dibuang — yang halaman belakangnya penuh coretanku. Pensil doang. Digambar kalau toko sepi.

Isinya acak: tangan Pak Yon pas megang kunci inggris (tangan orang bengkel itu bagus, urat sama bekas lukanya kayak peta). Eyang Uti ketiduran di depan TV. Mesin fotokopi besar dibedah, kugambar dari ingatan. Kucing toko sebelah yang hobi tidur di atas kertas HVS. Bel pintu. Hujan dari balik kaca etalase.

Dan — ini bagian yang bakal jadi masalah — sejak beberapa bulan terakhir, di antara semua itu, mulai sering muncul satu objek baru.

Bukan sering deng. Sering banget.

Anak baru yang lagi nunduk natain kotak pensil dengan kesibukan palsu. Anak baru dari belakang, jalan di koridor, kuncirnya miring sebelah. Anak baru ketawa sampai nunduk di tangga belakang, gelas es teh di tangan. Anak baru duduk di kursi tunggu fotokopian, dagu di lutut, merhatiin aku kerja — yang ini kugambar dari ingatan, malemnya, karena pas kejadian mana bisa aku gambar, orangnya di depanku.

Kenapa dia terus? Waktu itu, kalau ditanya, jawabanku bakal sepolos ini: ya soalnya dia gampang digambar. Ekspresinya banyak. Gerakannya jelas. Objek yang menarik, secara teknis.

Iya. Secara teknis. Silakan, ketawa dulu. Kutunggu.


Sabtu sore itu toko lagi ramai-ramainya — musim tugas, antrean jilid — dan Cynthia, sebagaimana inventaris toko pada umumnya, ikut sibuk: dia udah hafal harga, hafal cara motong kertas pakai alat potong, dan Koh Aseng dengan riangnya memperbudak kami berdua sambil duduk ngipas-ngipas.

“Bi, kertas A4 abis!”

“Ambil di laci bawah kasir, Cyn! Yang rim-nya masih kebungkus!”

Kalimat itu. Kalimat biasa. Kalimat logistik.

Baru tiga detik kemudian otakku selesai memproses apa lagi yang ada di laci bawah kasir, dan pada detik keempat aku sudah melompati mesin laminating.

Telat.

Cynthia berdiri di belakang kasir, rim kertas A4 kepeluk di satu tangan, dan di tangan satunya — terbuka di halaman yang salah, di halaman yang paling salah dari semua halaman — buku stok salah cetak itu.

Halaman anak baru duduk di kursi tunggu, dagu di lutut.

Toko masih rame. Mesin masih bunyi. Tapi di area dua meter persegi belakang kasir itu, waktu berhenti total.

“...Cynthia. Itu—“

Dia ngangkat satu jari. Tanda jangan ngomong dulu. Matanya nggak lepas dari buku. Terus, pelan banget, dia balik ke halaman sebelumnya. Anak baru di koridor. Sebelumnya lagi. Anak baru ketawa di tangga. Sebelumnya lagi — makin mundur makin lama tanggalnya, dan aku cuma bisa berdiri di situ, megang tang entah buat apa, menyaksikan riwayat kebiasaanku dibedah halaman per halaman.

Dia berhenti di satu halaman. Yang paling lama. Pojok kanan bawah, kecil, di sela gambar mesin: anak perempuan berdiri di depan kelas, garis cepat, tanggalnya — dia baca tanggalnya dua kali — minggu pertama dia masuk sekolah.

“Ini aku.”

Bukan pertanyaan.

“...Objeknya mirip kamu—“

“Abi.” Suaranya datar. Datar yang berbahaya. “Ini. Aku. Semuanya. Ada berapa— “ dia ngitung cepat, balik-balik halaman, “—SEBELAS?”

“Kucingnya juga sebelas kok kalau dihitung—“

“AKU DISETARAKAN SAMA KUCING?”

“BUKAN— maksudku secara statistik kamu nggak istimewa— EH BUKAN GITU JUGA—“

Kalimat itu, saudara-saudara, adalah kalimat terburuk yang pernah diproduksi mulutku sepanjang hidup. Cynthia menutup buku itu pelan. Naruh rim kertas. Melipat tangan. Dan menatapku dengan ekspresi yang selama beberapa detik nggak bisa kuklasifikasikan — sampai akhirnya aku sadar dia lagi berjuang mati-matian menahan sesuatu, dan sesuatu itu bukan marah.

Ujung bibirnya goyang.

“Jadi.” Suaranya mulai nggak stabil. “Aku. Digambar. Diam-diam. Sebelas kali. Dari minggu pertama aku masuk. Sama orang yang bahkan waktu itu belum kenal aku. Yang katanya nggak merhatiin aku. Yang ngakunya cuma hafal aku ’kayak ke semua orang’.”

“Sembarang orang,” ralatku otomatis, “waktu itu aku bilangnya nggak ke sembarang—“

“IYA ITU MAKSUDKU. ITU. YANG ITU.” Dia nunjuk-nunjuk aku, terus nunjuk buku, terus nunjuk aku lagi, kayak jaksa kehabisan kosakata. “Kamu tuh— sama— buku ini— AAAAH.”

Dan dia jongkok di belakang kasir, muka dibenamkan ke rim kertas A4, mengeluarkan suara yang cuma bisa kudeskripsikan sebagai teriakan yang disensor mandiri.

“Cyn?! Kamu marah?! Maaf, harusnya aku ijin dulu, itu emang lancang sih gambar orang diem-diem, bukunya kamu sobek aja halaman yang ada kamunya, atau semuanya juga boleh—“

“JANGAN.” Kepalanya nongol lagi secepat kilat, mata melotot, dan DIA MELUK BUKUNYA. Meluk. Bukuku. “Nggak boleh disobek. Nggak boleh dibuang. Nggak boleh dihapus. Ini—“ dia nyari kata, nafasnya masih berantakan, mukanya merah sampai ke leher, “—ini disita. Barang bukti. Kamu punya hak untuk tetap diam.”

“Itu bukunya ada catatan stok toko di depannya, Koh Aseng butuh—“

“KOH ASENG!” teriaknya ke arah rak. “BUKU STOK YANG LAMA SAYA BELI YA! BERAPA?”

Dari balik rak, tanpa jeda, tanpa nanya konteks, terdengar suara juragan tua yang sudah empat puluh tahun tahu kapan harus jualan: “Buat kamu gratis! Sekalian sama yang jaga kasirnya!”

“KOH!”

“Becanda! Yang jaga kasir mah udah punya yang antre!”

KOH ASENG!

Sisa sore itu toko tetap ramai, antrean tetap panjang, dan kami berdua kerja bersebelahan dengan koordinasi yang kacau balau: dia senyum-senyum sendiri tiap ngelirik tasnya (bukuku, disandera di dalamnya), aku salah motong kertas dua kali, dan telingaku panasnya nggak turun-turun sampai toko tutup — sampai-sampai Koh Aseng, pas gulung terpal, nyeletuk santai:

“Abi, kuping kamu merah dari jam empat. Kalau rusak, bilang. Siapa tahu Cynthia bisa benerin. Dia kan langganan servis.”

Dua-duanya ketawa. Aku memutuskan untuk mengelap mesin yang sudah bersih.

Malamnya, HP butut-ku bunyi. Chat dari Cynthia. Foto: halaman buku itu, yang gambar dia lagi ketawa di tangga. Di bawahnya:

“Ini bagus banget. Kayak beneran. Kamu belajar di mana?”

Kubalas jujur: “Nggak belajar. Kebiasaan aja dari kecil.”

“Ohh. Terus kenapa yang digambar aku mulu?”

Aku natap layar itu lama. Ngetik. Hapus. Ngetik lagi. Hapus lagi. Jawaban teknis — objek yang menarik, ekspresinya banyak — udah nggak berani kukirim, karena entah kenapa malam itu, habis kejadian sore tadi, kalimat itu kebaca bohong bahkan sama diriku sendiri.

Akhirnya yang kukirim:

“Nggak tahu.”

Lama nggak dibalas. Kupikir dia udah tidur. Pas balasannya masuk, cuma satu kalimat, dan kalimat itu sukses bikin aku natap langit-langit kamar sampai jam dua belas:

“Ya udah. Nggak usah tahu dulu. Tapi jangan berhenti ya.”